BAB 6 : MAU KAH KAU MENCINTAIKU?

1143 Kata
Jantungnya terasa berhenti saat ia melihat seseorang yang baru saja dipikirkannya turun dari mobil sembari memegang lengannya yang seperti sedang diperban. Ia tidak bisa melihat dengan jelas kondisi lengan lelaki itu. Kemeja putih yang dikenakannya memang sengaja menyembunyikan luka yang ia torehkan seminggu yang lalu. Tak berapa lama kemudian, lelaki itu mendongak ke atas, ke arah kamar Rania dengan tatapan penuh harap, lalu membisikkan sesuatu kepada pengawalnya. Ahh.. ia sudah bisa menebak apa yang dikatakan lelaki itu! Sekian menit kemudian, seorang pengawal mengetuk pintu kamar, membuat jantungnya berdesir pelan. Dibukanya pintu itu, lalu seorang pengawal mengatakan bahwa sang bos sudah menunggunya di bawah. Rania bergegas mengambil selendang putih di sofa untuk menutupi bagian dadanya yang terbuka, lalu keluar kamar dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata – kata. Tak butuh waktu lima menit, Rania telah sampai di ruang depan yang membuatnya sedikit trauma. Terlihat sosok Noah berdiri gagah dengan tangan kanan di saku celana. Rania tahu, itu semua dilakukan Noah hanya untuk menutupi keadaannya yang sedang rapuh. Namun, yang membuatnya heran adalah, tatapan lelaki itu menyiratkan rindu yang tak terbantahkan. “Ikut aku.” ucapnya datar. Tanpa bertanya, Rania pun mengikuti langkah lelaki itu keluar bangunan utama menuju pekarangan luas di samping bangunan. Rania terkesiap saat melihat helikopter terparkir di halaman luas bersamaan dengan pilot yang siap menerbangkannya. Hatinya sedikit cemas. Mungkin kah mafia itu akan balas dendam dan mengubur mayatnya di tanah pribadinya? Sebenarnya belum terlambat melarikan diri. Tapi ia urungkan niat itu. Karena perasaan bersalah yang menjalar di hati tak bisa ia tolak. “Yang penting aku minta maaf, setelah itu aku pergi dari sini.” serunya dalam hati. Sang pengawal yang sedang berjaga membuka pintu helikopter, dan tak berapa lama Noah mempersilahkannya masuk. Setelah mereka berdua duduk di dalam helikopter, Noah bergegas mengambil penutup telinga dan menyematkannya di telinga Rania, membuat hatinya yang sedari tadi cemas berubah sedikit lega. Ini bukan pertama kalinya dia menaiki helikopter, tapi ini pertama kalinya dia diperlakukan seperti ratu oleh lelaki yang disebutnya mafia. Bahkan Taka yang terkenal dermawan tidak pernah memperlakukannya seromantis itu. Tak berapa lama kemudian, helikopter yang mereka tumpangi telah sampai tujuan. Mereka pun turun dari helikopter yang suaranya memekikkan telinga. Dress selutut yang Rania kenakan tidak berhenti terkibas oleh baling – baling besar. Membuat Noah yang melihatnya harus memalingkan muka, agar hatinya yang sedang menggebu tidak semakin bergejolak. “Tempat apa ini?” “Lihat saja nanti.” Rania menggerutu kesal mendengar jawaban tanggung itu. Ia pasrah mengikuti langkah Noah yang menaiki bukit rerumputan hijau. Tampak Noah terus –menerus memegang lengannya. Rasa sakit bekas operasi tidak membuat lelaki itu bergeming. Yang penting tujuannya mengajak Rania ke sini berhasil. Sesampainya di atas bukit, Rania melongo tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Matanya terpana melihat hamparan kebun bunga tulip berwarna – warni. Hatinya membuncah bahagia, seakan lupa peristiwa pahit yang beruntun menamparnya. Untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, Rania menyunggingkan senyum bahagia. Tapi tunggu dulu.. tidak ada seorang pun yang tahu kalau dia suka bunga tulip. Bahkan almarhum suaminya juga tidak mengetahuinya. Lagi – lagi, lelaki itu membuatnya heran. Sementara itu, kedua bola mata Noah terus melekat pada wajah takjub Rania. Ada perasaan bangga pada diri seorang lelaki berkuasa itu karena telah membuat wanita yang paling ditunggu – tunggunya menyunggingkan senyum. Hatinya mulai berharap, agar Rania segera melupakan masa lalunya. “Dari mana kamu tahu aku suka bunga tulip?” tanya Rania mendadak. Membuat Noah yang masih menikmati wajahnya seketika salah tingkah. “Sudah ku bilang, aku mengenalmu sejak dulu.” lelaki itu bingung memilih jawaban yang tepat. Tentu saja Rania yang mendengarnya tidak puas. Ditatapnya lamat – lamat wajah lelaki itu, berharap menemukan jawaban dari raut wajahnya. Tapi yang didapat malah ia semakin terpesona. “Maafkan aku karena telah melukai lenganmu.” kata Rania tertunduk lesu. Sementara itu, Noah menyunggingkan senyum tipis. Perasaannya bermekaran mengetahui Rania menyesali perbuatannya, dan tidak ada lagi raut kebencian di wajah bidadari itu. “Nggak usah minta maaf. Aku tahu kamu sedang kalut.” ucapnya lembut. Tangannya mulai meraih tangan lentik Rania, tak sabar mengutarakan maksud dan tujuannya mengajak wanita itu ke sini. Namun tiba – tiba saja, “Astaga.. ada darah di bajumu!” “Nggak apa – apa, ini cuma semen –“ belum juga menyelesaikan kalimatnya, Noah terdiam terpaku saat Rania melepas selendang putih yang dikenakannya. Dipakainya selendang itu untuk menekan lengan kiri kekarnya agar darah berhenti mengalir. Paras bidadari itu terlihat sangat cemas, ekspresi yang membuat Noah luluh tak berdaya. Namun, yang membuat lelaki itu semakin tak kuasa berdiri adalah pemandangan indah di hadapannya. d**a Rania yang terbuka lebar dan lehernya yang jenjang mampu mencundangi jiwanya yang tak bisa menahan gejolak cinta yang membara. Baginya, melihat d**a wanita lain yang lebih terbuka belum tentu memantik nafsunya. Namun jika wanita itu adalah seseorang yang sangat ia cintai, itu lain cerita. Rania yang menyadari Noah terus – terusan melihat bagian dadanya tersipu malu dan mencoba mengalihkan matanya ke lain arah. Namun, usahanya sia – sia saat Noah mendekatkan wajah pada dirinya dengan tatapan yang begitu dalam. “Ran.. mau kah kau mencintaiku?” Rania terdiam terpaku mendengarnya. Hatinya sungguh tersanjung, tapi secepat kilat bayangan Taka terlintas di pikirannya. “Maafkan aku, aku ...masih mencintai Taka.” Noah terpaku tak percaya. Tangannya mengepal amat keras. Lututnya yang melemas hampir tidak bisa menopang tubuhnya yang kekar. Untuk pertama kalinya, lelaki berkuasa itu merasakan sakit hati yang begitu hebat. “Aku masih heran, kenapa Taka menulis surat wasiat seperti itu? dan apa hubungan kalian berdua –“ “Kami teman lama.” Noah memotong kalimat Rania dengan suaranya yang parau, membuat Rania kembali bungkam. “Taka nggak pernah cerita apapun tentang kamu kepadaku.” “Karena dia sadar dengan apa yang telah dilakukannya.” kata Noah dengan nafas tersengal. Matanya memerah oleh sakit hati yang menguasai jiwa. Rania yang menyadari mulai berasumsi, apakah lelaki itu benar – benar mencintainya? Namun, senyata apapun perasaan Noah, Rania tetap tidak bisa melupakan Taka. “Tujuh tahun aku menikah dengannya. Aku tahu persis bagaimana sifat Taka. Tidak ada yang dirahasiakan antara kita berdua.” ucap Rania gemetar. Semburat kabut di matanya muncul begitu saja, membuat wanita itu bergegas membalikkan badan. “Tunggu Ran.. ” pinta Noah mengiba. Matanya semakin memerah oleh rasa sakit yang tak pernah tergerus jaman. Rania membalikkan badan, dengan pipi yang basah oleh memori tentang almarhum suaminya. Membuat Noah merasa semakin tidak dihargai sebagai suami sahnya saat ini. “Ada satu hal lagi yang mau ku sampaikan. Besok malam, aku akan mengadakan pesta untuk memperkenalkan kamu kepada seluruh rekan bisnis dan karyawanku sebagai istriku.” “Nggak.. aku bukan istrimu. Lagipula, bagaimana kamu menyebut ini pernikahan sedangkan tidak ada persetujuan dariku?” tetes pertama air mata Noah mengalir begitu saja. Bibirnya yang kokoh bergetar, tidak sanggup berkata apa – apa selain mencoba menahan sesak yang menguasai dadanya. “Aku pergi.. jangan pernah cari aku lagi.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN