Chapter 2 Pengakuan Cinta Reno

1933 Kata
  Malam berlalu dengan cepat, suasana pagi yang tenang. Keluarga Kim usai melaksanakan ibadah bersama di musholah yang mereka bangun di belakang rumah untuk tempat beribadah. Usai ibadah, Ara dan Aksa bergegas menuju kamar untuk berganti pakaian seragam sekolah mereka. Sedangkan Arumi berganti pakaian olah raga dan melakukan peregangan bersama Arka di taman belakang rumah mereka. “Kakak, Papah, ayo sarapan!” Ara memanggil kakak dan sang papah untuk bergabung bersama ia, Aksa dan sang Mamah untuk makan sarapan bersama. “Hooh!” Arumi mengiyakan permintaan Ara untuk bergabung bersama mereka untuk makan bersama di ruang makan. Arumi berjalan mengekori Ara menuju ruang makan bersama sang Papah. “Banyak banget mah!” ujar Arumi mengeluh saat melihat banyaknya makanan yang ada di meja makan. “Masa sih? Perasaan Mamah buatnya sedikit deh!” jawab santai Yannie. “Hmmm... dikit versi mamah itu banyak ya menurut aku.” Sahut Arumi. “Sudah, makan saja! Mamahmu sudah membuatkan makanan enak setiap hari.” Ujar Arka menghentikan percakapan tidak penting antara ibu dan anak itu. “Aku duluan ya! Aku ada ulangan hari ini, jadi harus buru-buru.” Ucap Aksa pamit. “Bawa makan nih!” Yannie menyodorkan kotak makan yang sudah ia siapkan. “Ya ampun!” Walau dengan keluhannya, Aksa tetap mengambil bekal yang sudah sang Mamah buatkan untuknya. Sedang Arumi, Ara dan Akra masih tetap di posisi duduknya dan menikmati makanan yang sudah di buat Yannie dengan istimewa. *** Matahari pagi mulai menampakan cahayanya. Ara sudah berangkat sekolah setelah menyelesaikan makanannya. Kini hanya tinggal tersisa Yannie, Arka dan Arumi di rumah. “Hari ini aku akan pulang terlambat ya Mah, Pah. Aku pulang nanti paling sama teman-temanku di antar seperti biasanya.” Sahut Arumi saat ketiganya sedang menikmati suasana pagi seraya berjemur di bawah sinar matahari pagi. “Jangan terlalu malam, tidak baik anak perempuan pulang malam dengan lelaki.” Yannie menasihati putri sulungnya itu. “Biarkanlah, Arumi sudah dewasa ini.” Arka membela Arumi dengan bersikap santai. “Ya gak bisa begitu dong pah. Kan Arumi anak perempuan dan kita tinggal di Indonesia, bukan di Korea.” Yannie kesal dengan jawaban suaminya itu. “Iya, tau!” jawaban Arka tidak membuat Yannie senang. “Oke oke Mah, Pah. Rumi akan patuhi apa yang Mamah dan Papah larang ya. Arumi mengerti kok kalau harus berhati-hati.” Jawab Arumi dengan tenang dan menenangkan kedua orang tuanya. “Ya, Papah percaya denganmu!” Arka tersenyum hangat pada sang putri. Arumi pun beranjak dari duduknya dan menuju ke dalam kamar untuk bersiap menuju kampus. Hari ini Arumi ada janji untuk ikut rapat bersama dengan organisasi kampusnya. Karena ia ikut organisasi di kampus, Arumi bertanggung jawab untuk ikut serta dalam rapat-rapat. “Aku berangkat ya Mah, Pah!” Arumi menyalami kedua orang tuanya untuk berpamitan berangkat menuju kampus. Arumi terbiasa di antar supir atau di antar sang papah. Jika papahnya tidak dapat mengantarkan, maka Arumi akan di antar supir atau di jemput oleh para sahabatnya. Di kampus Arumi mempunyai 5 sahabat yang selalu mensuportnya. Sahabat Arumi adalah Ayu, Vino, Okto, Reno, dan Arga. Ayu dan Vino adalah sepasang kekasih yang jurusannya sama dengan Arumi, sastra Indonesia. Mereka berteman sejak ketiganya berkenalan bersama di acara ospek kampus. Sedangkan Okto dan Reno adalah teman Arumi sejak mereka SMA dan baru bertemu kembali saat tidak sengaja bertemu di kampus. Yang terakhir adalah Arga, ia adalah teman SMA Vino. Mereka semua dekat sejak ke enamnya saling mengenalkan temannya satu sama lain dan bergabung dalam organisasi kampus yang sama. Kini ke enam sahabat itu duduk bersama di sebuah organisasi kampus. Jabatan mereka cukup berpengaruh satu sama lainnya. Maka dari itu kenapa Arumi suka sekali pulang bersama dengan para sahabatnya jika pertemuan rapat mereka sampai larut malam. “Rumi!” panggilan namanya membuatnya mencari sumber suara. “Hoy!” sapa wanita yang memanggilnya itu. “Baru dateng?” tanya Arumi dengan santai. “Enggak sih, tadi selesai dari perpus.” Jawabnya santai. “Uuuuhhh... mainannya perpus.” Ledek Arumi seraya keduanya berjalan menuju kelas. “Yeh, Aku abis pinjem buku untuk kelas nanti. Aku lagi males banget bawa-bawa kamus gede.” Ujar Ayu menanggapi ledekan sahabatnya itu dengan santai. “Dasar pemalas!” keduanya saling bercengkrama dengan akrab hingga sampai di dalam kelas. Arumi mengikuti kelas dengan tenang bersama kedua sahabatnya, Ayu dan Vino. Sedangkan ketiga sahabatnya yang lain berbeda jurusan dengannya dan pergi ke kelasnya masing-masing. *** Hari ini kelas berakhir dengan lancar, Arumi bersiap pergi karena Reno menghubunginya via chat w******p. “Aku duluan ya!” Arumi berpamitan dengan Vino dan Ayu. “Eh mau kemana?” tanya Ayu ingin tahu. “Mau pergi sebentar, nanti aku akan datang menemui kalian lagi.” Arumi pergi dan melambaikan tangan pada Ayu dan Vino seraya tersenyum hangat. Tanpa memberitahu kedua sahabatnya, Arumi pergi menemui Reno yang saat itu memintanya untuk bertemu tanpa memberitahu yang lain jika mereka janjian bersama. Arumi dengan senang hati menerima tawaran dari sahabatnya itu, tanpa ia tahu apa yang di rencanakan Reno sebelumnya. “Hay!” Arumi melambaikan tangannya pada Reno yang sudah menunggunya di meja restoran yang sudah di pesan. Reno menyambut Arumi dengan senyum gembira. “Mau pesan apa?” tanya Reno dengan ramah. “Apapun!” jawab Arumi dengan ramah. “Oke kalau gitu aku pesankan ya.” Reno memanggil waitters dan memesan makanan untuk keduanya santap. Setelah makanan itu datang, keduanya makan dengan tenang. “Sebenarnya ada apa sih?” tanya Arumi penasaran dengan apa yang ingin dikatakan Reno padanya sampai Reno ingin bertemu tanpa mengatakan apapun pada temannya yang lain. “Hmm... aku sebenarnya..” Reno bingung ingin bicara dari mana, namun ia harus mengatakannya sekarang agar tidak ada penyesalan kedepannya. “Aku menyukaimu!” ujar Reno dengan lantang. Arumi terkejut dengan pernyataan cinta Reno saat itu. Ia tidak menyangka teman dekatnya mempunyai perasaan lebih dari pada sahabat padanya. Pengakuan yang tiba-tiba membuat Arumi bingung harus menjawab apa. Ia tidak memiliki perasaan lebih pada Reno, justru ada orang lain yang mengisi hatinya tanpa siapapun ketahui. Bahkan sahabatnya, Ayu, Vini, Okto dan Arga sekalipun tidak mengetahuinya. Sadar atau tidak salah satu dari para sahabat lelakinya itu telah mengisi hatinya dengan semua waktu yang mereka lakukan besama. “Maaf Reno, aku tidak menganggapmu lebih dari teman. Kita bersahabat, dan aku menyukai orang lain.” Arumi dengan lugas menolak pengakuan cinta Reno. Reno terdiam membisu, ia bingung ingin berkata apa. Karena ia tak ingin memaksakan kehendaknya pada Arumi. Cukup mengungkapkannya saja sudah membuat Reno senang. Handphone Arumi berdering menampakan nama Arga disana. Tak butuh waktu lama untuknya mengangkat sambungan telfon tersebut. “Halo!” jawab Arumi. “Kamu dimana? Kami sedang menunggumu, cepat kemari!” ujar Arga dari sebrang sambungan telfon. “Ya, aku kesana!” Arumi mengiyaka ajakan Arga yang sudah menunggu bersama teman-temannya yang lain. Sambungan telfon keduanya terputus setelah Arumi mengiyakan ajakan Arga untuk datang bergabung bersama yang lainnya. “Siapa?” tanya Reno penasaran. “Arga, mereka sedang menunggu kita. Dia pasti juga chat kamu. Yuk pergi!” jelas Arumi dan mengajak Reno untuk pergi menemui Arga dan teman-teman lainnya. “Ayo!” Reno mengajak Arumi dan kembali menjadi temannya, teman terbaik yang ia miliki selain Arga, Ayu, Vino dan juga Okto. Perasaannya hari itu kacau, namun semua ia redam agar tidak ada hal buruk yang merusak hubungannya dengan sahabatnya, Arumi. Tawa bersama yang mereka lakukan saat ini membuat apa yang terjadi sebelumnya terlupakan, walau hanya sesaat. Malamnya, Arga dan Reno menggalau bersama. Reno menemui Arga di rumahnya, perasaannya masih kacau setelah patah hati di tolak oleh Arumi. Walau sesaat sebelumnya hubungan mereka dalam keadaan baik, namun hati Reno masih saja merasa sakit. Pertama kalinya ia merasakan perasaan suka pada seorang perempuan, dan perempuan itu menolaknya karena sudah memiliki perasaan pada orang lain. “Kenapa lo kesini?” Arga dengan ketidak tahuannya pun merasa sikap Reno menyebalkan. Reno datang dengan keadaan kecau, baju yang berantakan dan setengah mabuk. “Oh ini bukan seperti dirimu saja!” keluh Arga dalam gumamnya. “Aku... Aku di campakkan! Aku di tolak!” Reno berteriak di hadapan Arga. Ia merancau dirinya di tolak dan di campakan oleh Arumi karena Arumi sudah menyukai orang lain. Arga kaget dengan pernyataan Reno malam itu. “Dia menolakku, dia bilang suka dengan lelaki lain!” “Aku harus apa?” “Dia seperti orang yang tidak tahu malu dan gila!” gumam Arga beranjak dari hadapan Reno dan mengambil air dingin di kulkas. “Aiiiisshhhh! Kamu gila!”Reno marah karena ia di siram air dingin oleh Arga. “Kamu yang gila!” Arga meneriaki Reno dengan sangat tegas. “Kalau kamu di tolak artinya selesai, the end. Gak usah ngancurin diri sendiri begini. Mabok! Dosa Ren! Udah dosa gila juga kamu jadinya kan!” Arga marah dengan perilaku Reno saat ini. “Mandi sana! Tobat! Pake yang kamu butuhin dikamar.” Arga menyuruh Reno untuk kembali menjadi dirinya sendiri. Ia membiarkan Reno sendiri menenangkan dirinya dan bertaubat. Sedangkan Arga keluar rumah untuk mencari udara segar. Ia cukup sesak dengan pengakuan Reno yang di tolak oleh Arumi begitu saja. Sementara Arga keluar, Reno mulai membersihkan dirinya. Ia sholat taubat, mengakui semua yang ia lakukan adalah hal yang salah. Ia menangis mengadu pada Tuhan, karena kekacauannya ia sempat menjadi orang yang lalai dengan hal yang tidak boleh ia lakukan. ***   Arga masih menenangkan dirinya. Ia pergi ke atas gedung tinggi di sebuah hotel. Hotel itu milik keluarganya, hingga ia dengan bebas datang kesini untuk sekedar mampir ke rooftop sendiri atau bersama dengan teman-temannya. Ia memandang langit dari tempatnya berdiri. Langit malam dengan angin dingin menyegarkan yang dapat mendinginkan suasana hatinya. “Dia sudah menyukai orang lain ternyata.” Arga bergumam pada langit. Mengetahui bahwa cinta yang ia pendam untuk Arumi hanya perasaan sepihak, sama seperti perasaan Reno saat ini. Sesaat Arga melamun, memandang kosong keatas langit gelap dimalam hari. Angin sepoy malam itu semakin membuatnya merasa semakin dingin, seperti hatinya yang terisi namun tak ada harapan. Setelah puas dengan lamunannya yang kosong, Arga bangkit dan meninggalkan gedung hotel dan pulang menuju rumah. “Apa makhluk itu sudah sadar?” gumam Arga memikirkan Reno dalam perjalanannya. Ia mampir dahulu ke sebuah minimarket sebelum sampai rumah. Dengan mengendarai mobil Pajero sportnya, ia turun dari mobil dan membeli beberapa camilan dan minuman penyegar untuk sahabatnya yang berada di rumah. “Assalamualaikum!” Arga memasuki rumahnya yang sudah sepi. Karena sudah malam, asisten rumah tangganya sudah kembali ke rumah yang berada di sebrang rumahnya. Arga terlahir sebagai anak orang kaya, namun hidup mandiri adalah sesuatu yang ia lakukan sejak ia masih duduk di bangku sekolah SMA. Karena itulah asisten rumah tangga dirumahnya hanya ada 3 orang. Dan mereka adalah orang yang sudah berkerja dengan keluarganya sejak ia kecil. Asisten Arga di sediakan 1 rumah untuk pulang di waktu magrib dan datang di waktu pagi hari. Hingga dirumahnya hanya ada satpam dan dirinya saat malam hari. “Dari mana saja kau?” tanya Reno saat menemukan sahabatnya itu tidak ada di rumah setelah ia selesai dengan kekacauannya. “Oh sudah sadar ternyata anda?” sahut Arga dengan menampakan wajak kesal. “Iya, berkatmu.” Reno hanya menjawab dengan acuh. “Baguslah! Ini minum dan makan yang kau mau. Dirumah sudah tidak tersedia makanan.” Arga menaruh kantong belanjaan di atas meja, dihadapan Reno. “Thank you!” dengan senang hati Reno menerimanya. “Tidurlah setelah itu. Pilih saja kau mau tidur dimana.” Arga melambaikan tangannya menjauh dari Reno dan pergi tidur dikamarnya. “Oke!” Malam itu ditutup dengan kekacauan yang panjang di antara keduanya. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk mengubah semua kekacauan itu menjadi hal yang berlalu begitu saja. Keduanya istirahat dengan tenang malam itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN