Chapter 3 Band And Vlog

2568 Kata
Pagi harinya, Arga sudah siap dengan perangkat kuliahnya karena ia ada kelas pagi. “Sarapan siap den!” ujar Bi Ipeh memberitahu Arga bahwa sarapan sudah ia siapkan di meja makan. “Makasih Bi! Oh ya, si Reno menginap semalam. Tolong bangunkan ya Bi.” Pinta Arga. “Den Reno sudah bangun Den, sedang mandi setelah berolahraga.” Jawab Bi Ipeh dengan sopan. “Oke kalau gitu Bi, Terimakasih.” Sahut Arga dengan sangat sopan. Arga sejak kecil sudah di urus oleh Bi Ipeh, hingga kini Bi Ipeh ikut dengannya di rumah yang ia tinggali sendiri. Sudah sejak SMA Bi Ipeh ikut dengan Arga berpisah dari keluarganya. Keluarga Arga suka sekali berpindah tempat, karena orang tuanya yang berpindah dinas pekerjaan. Hingga tidak mungkin Arga terus berpindah tempat dan berpindah sekolah seperti saat ia kecil. “Selamat pagi!” Reno menyapa Arga yang sedang menyantap sarapannya di meja makan. “Aku ada kelas pagi, diem-diem kamu di rumah ku!” pinta Arga dengan sekit mengancam Reno, sahabatnya itu. “Aku ikut!” Reno dengan langsung meminta Arga untuk membawa serta dirinya ke kampus. “Mau kemana?” tanya Arga bingung. “Kampuslah!” ujar Reno acuh. “Pergi sendiri!” sahut Arga seraya bangkit dari duduknya. “Aku ikut!” Reno membuntuti Arga sampai masuk ke dalam mobilnya. “Keluar!” “Aku numpang, mobilku di cafe.” Pinta Reno dengan acuh. “Haaah~” Arga hanya mengelakan nafas berat mendengar kelakuan temannya sang satu ini. “Numpang tidur, ngambil baju, dan sekarang numpang mobil. Ini hutang ya, hutang! Kau harus kembalikan.” Ujar Arga dengan wajah dibuat kesal. “Baiklah! Aku ganti semuanya, aku belikan bensin.” Setelah perdebatan panjang keduanya, Arga akhirnya melajukan mobilnya menuju kampus. Dengan Reno yang berada di sampingnya untuk menumpang sampai kampus. ***   Di lain tempat Arumi sedang menikmati sarapannya di meja makan bersama sang Mamah. Adik-adik dan Papahnya sudah lebih dulu berangkat ke sekolah dan restoran. Hanya tinggal Arumi yang masih di rumah karena ia ada kelas siang nanti. “Mah!” panggil Arumi saat mereka sedang menikmati makanannya. “Kenapa?” tanya sang Mamah. “Gak apa-apa, gak jadi.” Ujar Arumi mengurungkan niatnya untuk bicara pada sang Mamah. “Anak Mamah kenapa? Sedang jatuh cinta kah?” pertanyaan sang Mamah tepat pada sasarannya. “Bagaimana Mamah tau?” tanya Arumi mendadak seperti tertembak langsung. Dengan senyum penuh makna Yannie menatap sang putri yang sudah beranjak dewasa itu. “Tentu saja Mamah bisa merasakannya. Kamu kan anak mamah.” Arumi hanya mendengarkan apa yang Mamahnya katakan. “Cinta sesama manusia itu wajar nak. Toh kamu sudah besar sekarang, jadi sangat wajar. Cinta itu kan fitrah setiap manusia.” Panjang lebar Yannie menasihati sang putri. “Iya mah.” Arumi hanya mengiyakan penjelasan sang mamah. “Tapi nanti saja ya lanjut ke jenjang lebihnya. Untuk sekarang, selesaikan dulu saja kuliahmu. Setidaknya Mamah ingin melihat anak mamah lulus kuliah S1. Jadi nanti kalau kamu punya anak, kamu bisa bangga dengan anakmu jika kamu sudah lulus kuliah.” Nasihat Yannie pada sang anak. “Iya mah.” “Mau dengar gak kisah mamah sama papah dulu?” tanya Yannie pada sang putri. “Bagaimana mah?” tanya Arumi dengan semangat karena penasaran. “Mamah bertemu papah sewaktu mamah belajar kursus di Korea. Papahmu dulu mendekati mamah dan mengajak mamah menjalin hubungan. Tapi mamah dengan tegas menolaknya waktu itu. Karena mamah tidak menyukai papah dan sama sekali tidak mengenal papah waktu itu. Dulu kami berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris yang sesekali di timpali bahasa Korea.” Yannie menceritakan kisahnya. “Terus, kok bisa Papah sama Mamah menikah?” tanya Arumi semakin dibuat penasaran. “Ya karena Papah terus deketin Mamah waktu itu. Terus mamah bilang sama Papah, bahwa di agama Mamah tidak ada yang namanya berhubungan kecuali hubungan yang menikat seperti pernikahan. Langsung deh Papah bilang bahwa Papah akan menikahi mamah.” “Lah, udah gitu aja Mamah langsung mau nikah sama Papah?” tanya Arumi merasa cerita Yannie tidak seseru kedengarannya. “Ya enggak lah, Pas papah bilang gitu malah Mamah semakin marah dengan Papah. Mamah bilang pernikahan itu bukan sebuah permainan yang bisa dengan lugas dikatakan begitu saja. Lalu Papah bertanya apa yang harus dilakukannya untuk membuktikan bahwa ucapan pernikahan yang terlontar dari mulut Papah adalah keseriusan.” Yannie melanjutkan kisah pertemuannya dengan Kim. “Lalu Mamah bertanya pada Papah apa keyakinannya/ agamanya saat itu. Karena Papah bilang saat itu ia tidak percaya dengan agama yang ada. Maka Mamah meyakinkan Papah, bahwa Mamah adalah seorang muslim yang memiliki keyakinan terhadap Tuhan dan agama yang Mamah anut. Mamah juga tidak bisa sembarangan menikah dengan orang yang tidak punya keyakinan pasti terhadap Tuhan. Terlebih Agama Islam, seperti yang Mamah anut.” “Terus? Papah setuju masuk Islam?” tanya Arumi, sangat ingin tahu kisah kedua orang tuanya. “Enggak, Papah saat itu terdiam. Mungkin Papah memikirkan apa yang Mamah katakan. Tapi ya gak tau pasti sih. Akhirnya, Papah sudah tidak pernah lagi menemui Mamah saat itu. Sempat beberapa kali teman Mamah bilang kalau Papah menanyakan keseharian Mamah. Tapi setelah itu gak ada kabar dari papah. Kira-kira sekitar 3 bulanan deh kalau gak salah.” Yannie berusaha mengingat apa yang terjadi padanya dan Kim saat itu. “Loh terus gimana ceritanya Papah bisa masuk Islam mah?” “Nah disitu tuh yang mamah kaget. Soalnya Papah tiba-tiba datang saat itu dan mengajak Mamah untuk makan bersama dan keliling kota Soul, Itaewon waktu itu. Nah Mamah taunya Papah sudah masuk Islam karena waktu itu sudah waktunya sholat Ashar, dan kita mampir di Soul Central Mosque. Papah ikut bersama Mamah ke dalam. Mamah pikir, Papah hanya melihat-lihat Masjid itu. Tapi ternyata Papah ikut sholat juga.” Jelas Yannie saat mengetahui pertama kalinya sang suami sudah masuk Islam. “Dari mana Mamah tau Papah masuk Islam? Siapa tau Papah boong.” Canda Arumi saat mendengar penjelasan sang Mamah. “Hus kamu ini, masa meragukan Papahmu sendiri!” omel Yannie mendengar penuturan anaknya itu. “Hehe, kan kali aja gitu. Waktu itu kan Papah belum jadi Papahku.” Arumi membela dirinya sendiri. “Mamah melihatnya masuk Masjid waktu itu Rumi. Makanya Mamah percaya bahwa dia sudah memeluk agama Islam.” Jelas Yannie. “Terus?” “Ya dari situ Mamah tau bahwa Papahmu membuktikan omongannya. Mamah juga melihat sertifikat tanda Papah masuk Islam. Beberapa hari kemudian Papah datang lagi menghampiri Mamah, dia melamar mamah.” “Waaahh Papah sweet!” puji Arumi. “Bukan itu saja, Papah juga mengajak Mamah untuk ke Indonesia dan bertemu Oma dan Opa mu di Jakarta. Papah membawa teman dekatnya yang mengajarkannya tentang Islam, dan Mamah mengajak sahabat Mamah juga yang tau bagaimana usaha Papah selama ini mendekati Mamah. Agar Oma dan Opa mu percaya.” Jelas Yannie secara lengkap menceritakan kisahnya. Cukup lama keduanya berbincang hingga tanpa sadar waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi. Arumi bergegas berganti pakaian dan menyiapkan keperluannya untuk ke kampus. Ia tidak ingin terlambat masuk kelas, bisa-bisa ia akan di suruh keluar dan mendapatkan nilai jelek. “Mah, aku berangkat ya! Makasih udah ceritain masalalu Mamah sama Papah!” Arumi menyalami tangan sang Mamah dan melaju pergi dengan supirnya. “Iya, hati-hati.” Pesan sang Mamah. Rasa sayang Yannie pada Arumi dan kedua anak lainnya sangatlah besar. Ia tidak menyangka bahwa hari dimana ia akan menceritakan kisahnya pada sang anak tiba pada hari ini. Kini Putrinya yang ia nanti setelah pernikahan sudah beranjak dewasa. Anak yang ia perjuangkan dengan susah payah di negara asing tanpa orang tuanya disampingnya. Setelah melewati semua itu, rezeki yang Tuhan kasih padanya bertambah. Hingga kini ia dapat hidup bahagia dengan ketiga anaknya dan suami yang bekerja keras demi keluarga. “Annyonng!” Arumi menyapa Ayu seraya memeluknya dengan senang ketika ia baru saja datang sampai kelas. “Hoy anak Korea!” sapa Ayu dengan semangat menyambut sahabatnya itu. “Bukan Korea aja dong, aku anak Korea Indo loh! Hahaha.” Sahut Arumi dengan bangga bahwa ia anak yang di lahirkan dari kedua orang tua yang hebat dari beda Negara. “Ya... Ya... gak usah nyombong!” ketus Ayu. Keduanya tertawa bersama di kelas. Beruntungnya dosen belum datang, hingga mereka masih bisa tertawa bersama. Keduanya berhenti tertawa dan bercanda saat dosen sudah masuk kelas. Menunrut keduanya saat dosen tiba di kelas itulah saatnya mereka harus fokus dengan apa yang akan disampaikan oleh dosen. *** Waktu berlalu begitu cepat, hingga tidak terasa mata kuliahnya hari itu telah usai. Matahari sudah mulai menghilang dari pandangan. Sore telah tiba, Arumi dan teman-temannya sudah berkumpul bersama di sebuah cafe tempat mereka biasa berkumpul. “Okto mana?” Tanya Ayu pada para lelaki. “Masih di lab dia!” jawab Arga. “Reno?” tanya Ayu lagi. “Ngambil mobil!” jawab Arga lagi. “Lah kamu gak ke lab juga?” tanya Ayu ingin tau. “Udah tadi siang. Aku dari pagi sudah ada kelas, kalau si Okto kan baru ngambilnya siang dia mah.” Jalas Arga. “Reno ngambil mobil dimana?” “Di cafe, semalem dia mabok dan jadi gila. Ninggalin mobilnya di cafe gitu, tadi pagi ke kampus sama aku dari rumah.” Jelas Arga panjang lebar. “WOW!” Vino kaget dengan penuturan Arga. “Astaghfirullah ‘aladzim.” Sahut Arumi kaget mendengar penjelasan Arga. Ia tau betul kenapa Reno bersikap seperti itu. “Begitulah!” “b**o ya dia! Kan kalian gak boleh mabok!” ujar Ayu. Walau Ayu berbeda agama dari Reno, namun ia sangat memahaminya. Ia paham apa yang di perbolehkan atau tidak di agama para sahabatnya itu. “Sudah, dia sudah bertaubat semalam. Mungkin dia hanya sedang gila saja.” Arga menenangkan temannya yang lain agar tidak memaki Reno saat ia tiba. Pada akhirnya semua mengikuti perkataan Arga untuk tidak membahasnya. Walau begitu, Arumi masih merasa bersalah. Karena dia sahabatnya itu menjadi seperti itu. Setelah Reno datang, semua berjalan seperti biasanya. Mereka tertawa, makan dan bersenang-senang bersama termasuk Arumi. Ia tidak ingin kegaduhan yang ia dan Reno buat mempengaruhi pertemanan mereka yang sudah terjalin lama. “Wohoo.. kalian bersenang-senang tanpa aku?” Okto datang setelah ia menyelesaikan semuanya urusannya. “Anjda Ppalli!” dengan bahasa Koreanya Arumi mengajak Okto untuk duduk di sampingnya. “Ahhh, dia mulai lagi ngomong yang gak kita mengerti! Indonesia saja Indonesia!” keluh Vino pura-pura kesal. Semua tertawa bersama saat mendengar keluhan Vino tentang cara Arumi berbicara. Seiring berjalannya waktu, mereka semua memahami kebiasaan satu sama lainnya. Arumi yang sering bicara menggunakan bahasa Koreanya, Arga yang cuek tapi cool, Reno yang introvert namun jika sudah bertemu Arumi dan yang lainnya ia seperti anak kecil. Terutama jika sudah bertemu dengan Vino. Tidak jarang keduanya akan memperdebatkan hal yang tidak penting, Ayu dan Vino yang suka mengumbar kemesraan mereka, Okto yang dingin dan kadang tidak sopan. “Oh, pesananmu datang!” ujar Arumi. “Kalian juga belum makan?” tanya Okto heran dengan pesanan makanan yang datang sedang meje mereka sudah kosong. “Enggak, kami sudah makan. Tadi kami pesankan kamu, minta di antar jika kamu sudah terlihat datang ke meja. Jadi, makanlah!” jelas Arumi. “Oh, Thank You!” Ucap Okto tulus. Okto menyantap makanannya yang sudah di pesankan khusus untuknya. “Setelah ini kemana?” tanya Okto pada kelima sahabatnya. “Kita sepertinya butuh kegiatan yang pasti deh!” tiba-tiba Reno bersuara. “Iya, kalau sudah selesai kuliah begini saja kegiatannya.” Keluh Vino. “Yang berfaedah tapi ya!” ujar Arumi menasihati temannya yang lain. “Gimana kalau kita bikin Band, terus bikin Vlog!” Okto memberikan ide menarik pada teman-temannya yang lain. “Boleh juga!” Arga menimbang ide yang diberikan Okto. “Pertanyaannya pada bisa emang main alat musik?” tanya Arumi. “Enggak!” Ayu yang paling pertama bersuara. “Aku bisa!” sahut Reno bersemangat. “Bisa apa?”Arga meragukan pengakuan Reno. “Keyboard!” jawab Reno dengan pede. “Kita coba?” tanya Vino. “Boleh!” Arumi ikut menyetujui usulan yang lain. “Oke kita mulai sabtu ini untuk beli yang kita butuhkan gimana?” usul Ayu. “Di rumahku ada Keyboard dan Drum. Arga juga punya Gitar kan ga?” Reno bersuara. “Iya aku punya Gitar sama Bass kok, ada beberapa koleksi di rumah orang tua ku juga.” Ujar Arga mengiyakan. “Kalau gitu kita tinggal beli kamera dan perlengkapan yang lainnya untuk Vlog. Gimana?” tanya Ayu bertanya pada yang lain. “Boleh! Aku juga punya kamera DSLR di rumah. Punya tripodnya juga, tinggal tambah memori aja sama 1 kamera lagi biar pengambilan dari 2 sudut.” Usul Arumi menimpali yang lainnya. “Oke kalau gitu sabtu ini ya!” tanya Ayu pada yang lain. “Eh, sorry guys. Aku tidak bisa sabtu ini. Halmeoni dan Harabeoji datang guys dari Korea. Aku harus menemani mereka dirumah.” Ujar Arumi tidak dapat menghadiri pertemuan dengan para sahabatnya untuk membeli peralatan kegiatan Vlog mereka. “Haduh, ini anak!” Keluh Vino. Sedang yang di keluhkan hanya tersenyum seraya meminta maaf pada teman-temannya yang sudah mengusulkan kegiatan itu. Akhirnya telah di putuskan bersama apa yang akan mereka lakukan. Mereka akan membentuk sebuah Band dan membuat Vlog untuk band mereka dan beberapa kegiatan yang akan di konsepkan kedepannya. Karena kegiatan organisasi di kampus juga tidak terlalu sibuk untuk mereka, pada akhirnya kegiatan band ini akan membuat mereka melakukan kegiatan yang bermanfaat selain berorganisasi di kampus. Setelah memutuskan bersama kegiatan tambahan mereka, Arumi dan teman-temannya pulang. Kali ini Arumi diantar oleh Arga, bersama dengan Okto yang menumpang di mobil Arga. Ia terlalu lelah untuk membawa mobilnya sendiri. Hingga kini ia memutuskan untuk ikut bersama Arga dan Arumi pulang bersama. *** “Makasih ya kalian sudah mau mengantar aku!” ucap Arumi dengan tulus berterimakasih pada Arga dan Okto. “Sama-sama! Salam ya buat nyokap bokap. Kita gak bisa turun karena harus nganter si kunyuk 1 ini.” Ujar Arga dengan santai. “Yeh, songong ye si kunyuk ngatain orang aja.” Sahut Okto pada Arga. Arumi hanya tertawa dan mengangguk untuk menyetujui ucapan keduanya. Ia melambaikan tangan pada keduanya untuk menghantarkan keduanya pergi. “Assalamualaikum!” Arumi mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah. “Wa’alaikumusalam!” Yannie menyambut putrinya yang setelah seharian kuliah. “Mandi sana! Sudah makan belum?” tanya Yannie. “Sudah Mah, tadi sama teman-teman. Tadi Arga dan Okto titip salam buat Mamah sama Papah. Mereka tidak bisa mampir karena Arga harus mengantar Okto juga.” Jelas Arumi. “Wa’alaikumusalam!” “Ya sudah, mandi sana! Sholat, istirahat.” Pinta Yannie. “Oke boss!” Arumi hormat pada Yannie, lalu melangkah pergi dari hadapan Yannie menuju kamarnya. Ia lalu mandi dan melaksanakan ibadah. Duduk bersimpuh di depan sajadah dan berdoa setelahnya. Rutinitas ini yang membuat Arumi bersemangat. Karena saat seperti sekaranglah ia dapat memohon apapun pada Tuhan. Memohon yang terbaik untuk keluarganya dan semua sahabatnya. Setelah melakukan kewajibannya, Arumi melangkah turun menuju ruang keluarga. Tempat dimana keluarganya sedang bersantai jika sedang tidak ada kegiatan. “Appa, besok Halmeoni dan Harabeoji sampaikah?” tanya Arumi dengan bersemangat. “Yee, mereka akan datang besok Insyaa Allah. Kamu mau menjemput Halmeoni dan Harabeoji?” tanya Arka pada Putrinya itu. “Aku mau ikut aku!” Ara berseru senang mendengar sang Papah memberika penawaran menarik untuk menjemput kakek dan nenek mereka di bandara. “Boleh, kakak dan Ara yang akan jemput ya?” ujar Arka pada kedua putrinya. “Oke!” Ara berseru senang menyambut kakek dan neneknya yang sudah lama tidak ia temui. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN