Keluarga Kim sudah siap menyambut kedatangan Halmeoni dan Harabeoji dari Korea. Yannie sudah bersiap dengan makanan yang harus ia sajikan untuk kedua mertuanya. Arka juga sudah menyiapkan mobil untuk menjemput kedua orang tuanya bersama kedua Putrinya.
“Sarapan dulu yuk, Halmeoni dan Harabeoji kan datang nanti agak siangan.” Yannie mengajak serta anak-anaknya untuk ikut sarapan bersama di meja makan sebelum akhirnya kedua Putrinya akan berangkat bersama suaminya untuk menjemput mertuanya.
“Nanti Halmeoni dan Harabeoji masih ingat sama aku gak ya Mah, Pah?” tanya Ara dengan polos.
“Ingatlah sayang, Papah selalu memberikan perkembangan kamu sejak kami pindah ke Indonesia. Papah juga selalu memberikan foto keluarga kita ketika lebaran Idul Fitri tiba.” Jawab Arka dengan lembut.
“Wah! Memangnya Halmeoni dan Harabeoji juga merayakannya Pah sama seperti kita?” tanya Ara ingin tahu.
“Tidak, mereka tidak merayakannya. Tapi Papah tetap harus memberi mereka kabar kan. Walau bagaimanapun, Halmeoni dan Harabeoji adalah kedua orang tua Papah.” Jelas Arka lagi.
“Ooh..” Ara mengangguk mengerti dengan penjelasan sang Papah.
Keluarga Kim yang hangat, baik Arka maupun Yannie masih terus berhubungan dengan orang tua mereka yang berada jauh di Negara lain. Keduanya selalu menceritakan semua yang selalu ingin di dengar oleh anak-anak mereka tentang kehidupan mereka sebelum atau sesudah menikah. Baik itu tentang keluarga satu sama lain, atau tentang masa lalu yang baik yang harus mereka beritahukan pada ketiga anaknya.
“Yuk berangkat!” Ajak Arka pada kedua Putrinya.
“Yuk!” Jawab Arumi dan Ara berbarengan. Sedangkan Yannie dan Aksa akan tinggal dirumah, menantikan mereka semua pulang.
Arka dan kedua Putrinya pergi menuju bandara untuk menyambut Halmeoni dan Harabeoji yang akan mendarat di Indonesia.
***
Sesampainya Arka, Arumi dan Ara di bandara, mereka menunggu di pintu kedatangan. Menantikan kedua orang tua yang mereka panggil Halmeoni dan Harabeoji. Rasa kangen yang menggebu-gebu membuat Arumi tidak sabar menanti kakek dan neneknya itu.
“Appa, itu Halmeoni dan Harabeoji.” Teriak Arumi saat melihat kakek dan neneknya yang sudah berjalan menghampiri mereka.
“어머니, 아버지! (Eomoni, Abeoji!)” Arka memanggil kedua orang tuanya seraya melambaikan tangan pada keduanya.
“Young Hwang!” Kim Yoo Sub memanggil anaknya yang sudah lama tidak ia temui.
“부모님이 정말 그리워요!” Ujar Arka mengatakan teramat rindu dengan kedua orang tuanya dan menyambut keduanya dengan pelukan hangat.
“내 아들도 그리워” Jawab Lee Choon Hee yang juga merindukan putranya.
“Halmeoni dan Harabeoji!” Arumi memeluk kakek dan neneknya bergantian. Begitu juga dengan Ara.
Kebahagiaan terpancar dari wajah Arumi, Ara dan Arka, begitu juga dengan Lee Choon Hee dan Kim Yoo Sub. Mereka senang dapat bertemu dengan anak dan cucunya di Indonesia. Arka melajukan mobilnya dengan santai, seraya mendengarkan kedua orang tuanya berbincang santai dengan kedua Putrinya dengan sesekali ia timpali.
Sesampainya di rumah kediaman Kim, Yannie dan Aksa menyambut mereka di depan pintu. Aksa memberi salam dan membantu Halmeoni dan Harabeoji menurunkan koper mereka. Sedang Yannie dan kedua Putrinya mengantarkan Lee Choon Hee dan Kim Yoo Sub kedalam rumah untuk beristirahat dan menyuguhkan mereka makanan.
Beruntungnya baik Aksa, Arumi maupun Ara mereka dapat berbahasa korea dengan fasih. Itu karena Arka dan Yannie memberi mereka kursus bahasa Korea sendiri. Dan menjadi bahasa kedua yang harus mereka bisa selain bahasa Indonesia. Hingga kini ketiganya dapat berbicara dengan Lee Choon Hee dan Kim Yoo Sub dengan lancar.
“많은 음식! 이게 다 요리 했나요? (Banyak sekali makanannya nak. Ini semua kamu yang memasak?)” tanya Choon Hee pada menantu kesayangannya, Yannie.
“네 시어머니. 나를 돕는 아이들. (Iya Mah, di bantu anak-anak.)” Jawab Yannie dengan lembut.
“엄마의 요리는 맛있어 할머니 할아버지. (Masakan Mamah enak loh Halmeoni dan Harabeoji).” Arumi memuji sang Mamah soal masakan.
“그래요? 제 손자가 건강하게 자란 것도 당연합니다 (Begitukah? Pantas saja cucuku tumbuh dengan sehat).” Choon Hee ikut memuji menantunya itu.
Yannie sengaja menyuguhkan makanan berat di meja makan dan menyuguhkan makanan ringan di ruang keluarga. Kini mereka semua sedang duduk santai di ruang keluarga. Seraya bercaerita sesekali tentang sekolah Arumi, Aksa dan juga Ara. Ara yang exited sekali dengan kehadiran Halmeoni dan Harabeoji hingga ia tidak berhenti bercerita tentang dirinya. Memamerkan keahliannya dalam menari hingga memperlihatkan kue yang ia buat bersama sang Mamah.
“Sudah-sudah, sekarang biarkan Halmeoni dan Harabeoji istirahat dulu ya. Bersih-bersih dulu, oke!” Arka menghentikan aktivitas ceritanya anak-anak pada kedua orang tuanya dan mempersilahkan keduanya untuk bersih-bersih diri dan istirahat. Sedangkan Arka mengajak keluarganya untuk bersiap sholah dzuhur bersama.
“Papah tunggu di mushola ya!” Arka mengintrupsi ketiga anaknya untuk segera bergabung ke mushola bersamanya. Arumi, Arka dan Ara pun langsung bergegas menuju tempat wudhu dan sholat berjamaah bersama Arka dan Yannie.
Setelah Sholat, Yannie mengintrupsi anak-anaknya untuk makan bersama di meja makan. Sedangkan Arka memanggil kedua orang tuanya untuk ikut serta bergabung di meja makan.
Semua sudah siap, Yannie sudah menyiapkan semuanya. Kimchi, pun sudah ia sajikan di meja makan lengkap dengan beberapa lauk pendukung. Sungguh makan siang yang mewah untuk keluarga besar Kim hari itu.
Arka dan keluarga bersenang-senang bersama sepanjang siang hari ini. Kini mereka semua masih larut dalam pertemuan malam yang hangat. Kedua orang tua Yannie pun datang ke kediaman mereka. Bertemu dan menyambut besan mereka dari negeri jauh.
Perbedaan bahasa bukanlah penghalang bagi kedua keluarga untuk saling berkomunikasi. Anak-anak dan cucu yang dengan senang hati menerjemahkan pada mereka satu sama lain.
Saling bertanya kabar, membicarakan kehidupan sehari-hari dan menceritakan masa depan yang terbaik bagi anak dan cucu mereka adalah hal yang selalu mereka bicarakan. Mereka semua sampai menggelar pesta barberque di halaman belakang. Canda tawa menghiasi halaman belakang keluarga Kim malam itu. Lee Choon Hee dan Kim Yoo Sub tersenyum senang setiap kali mereka melihat tingkah laku cucu-cucu mereka. Bahagia terhias sempurna di wajah semua orang malam itu.
Usai menghabiskan segala macam makanan yang mereka bakar, semuanya bubar menuju kamar masing-masing untuk istirahat dan melanjutkan kegiatan esok hari lagi. “Ayoo, sekarang biarkan Halmeoni dan Harabeoji istirahat ya. Kalian juga tidur, kita bisa lanjutkan temu kangennya besok!” Yannie mengintrupsi anak-anaknya untuk masuk ke kamar mereka masing-masing dan beristirahat.
Begitu juga dengan kedua orang tua Arka dan Yannie. Mereka semua istirahat dengan perasaan dan wajah gembira.
***
Setelah mereka semua bersenang –senang di halaman belakang, Arumi, Aksa dan Ara bangun lebih siang. Setelah subuhan ketiganya kembali terlelap di kamar masing-masing. “Ayoo anak-anak bangun!” Yannie meneriaki ketiga anaknya dari depan kamar mereka.
“Arumi, Ara, Aksa ini sudah jam 9 pagi. Kalau kalian tidak bangun juga Mamah akan siram kalian dengan air ya!” membangunkan anak ala Yannie adalah mengancam mereka semua dengan air. Dan hasilnya memuaskan.
“Ya Mah aku bangun!” ketiganya berteriak dari kamar seraya menjawab ancaman Yannie.
“Mamah tunggu 10 menit kalau tidak turun ke bawah, jangan salahkan Mamah kalau kasur kalian basah ya!” setelah membangunkan putra dan putrinya, ia pun turun ke ruang keluarga, bergabung bersama suami dan orang tua mereka.
“Sudah bangun anak-anak Mah?” tanya Arka.
“Tadi sih sudah nyaut, tapi kita lihat dalam 10 menit. Jika mereka tidak keluar juga, maka akan aku siram.” Jawab Yannie dengan semangat ingin menyiram anaknya.
“Jangan terlalu keras dengan anakmu!” Teguran keras dari Desy yang melihat anaknya senang sekali menghukum cucu-cucunya.
“Hehehe, habis kalau tidak begitu susah mah!” wajah Yannie tertarik membentuk sebuah senyuman penuh makna.
Tepat 10 menit Yannie menunggu dan siap untuk menyiram anak-anaknya. Tapi ternyata rencananya gagal. Arumi, Ara dan Aksa datang tepat 10 menit yang ia janjikan.
“샤워 안해요? (Kalian tidak mandi?)” tanya Lee Choon Hee.
“물론 할머니 샤워를했는데 빨리 샤워를 했어요. 10 분이면 샤워 할 시간이 아니거든요 (Tentu saja kami mandi Halmeoni, tapi mandi bebek karena 10 menit tidak cukup untuk mandi).” Keluh Ara seraya melirik Yannie dengan sinis.
“그러므로기도 후에 다시 잠들지 마십시오! (Makanya selepas sholat jangan tidur lagi!)” Yannie pun menjawab dengan santai keluhan Ara.
Wajah Ara sudah tidak lagi senang. Ia menekukan wajahnya karena merasa dikerjai oleh sang Mamah. “Sudah, cucu Oma tidak usah cemberut lagi. Sekarang makan dulu sana!” dengan lembut Desy menenangkan Ara dengan lembut.
“Iya Oma!” Ara bangkit dari duduknya dan berjalan menuju meja makan.
“누나 먹자! (Ayo kak makan!)” rengek Ara pada kedua kakaknya.
“Ya!” Aksa dan Arumi serempak menghampiri Ara.
Ara memang anak yang spesial dan tersayang bagi keluarga Kim. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat semuanya senang. Termasuk Arumi dan Aksa yang selalu menjaga Ara dari ia kecil hingga kini ia sudah menjadi anak remaja yang cantik dan pintar.
“Rumi, hp mu bunyi terus nih!” Yannie memberikan ponsel Arumi pada pemiliknya.
Arumi melihat siapa yang menghubunginya di minggu pagi ini. Ternyata itu ulah Ayu yang tidak membiarkan sedetik pun hp nya diam. “Hah? Kenapa sih vidio call nya gak ada berhentinya.” Arumi kesal dengan panggilan dari temannya itu. Hingga ketika panggilannya terjawab, Arumi langsung memberinya omelan keras.
“Ya ampun langsung marah sih!” jawab Ayu dengan santai.
“Kenapa telfon?” tanya Arumi dengan nada kesal.
“Ini nih kita tuh mau nunjukin yang sudah kita beli!” Ayu menjukan wajah teman-temannya yang lain dengan segala perlengkapan yang ada.
“Lokasi dimana?” tanya Arumi penasaran dengan lokasi barang-barang yang sudah di beli berada.
“Rumah baru!” jawab Ayu dengan wajah yang gembira.
“Ya ampun! Rumah baru siapa lagi?” tanya Arumi bertambah kesal dengan kelakuan teman-temannya yang seenaknya menjawab.
“Di rumah Reno, rumah doi kosong Mi. Jadi kita akan jadikan rumah ini basecamp baru.” Vino merebut ponsel Ayu dan menjawab pertanyaan Arumi dengan cepat.
“Ya ampun kalian ngerampok rumah orang?” Arumi asal bicara.
“Sembarangan congor! Ini rumahku yang tidak pernah dipakai. Jadi kalian bisa memanfaatkannya dengan baik.” Reno membanggakan dirinya dan rumahnya.
Arumi akhirnya hanya mengikuti ingin kawan-kawannya saja. Mereka yang merencanakan semuanya dan membeli perlengkapan yang di butuhkan. Arumi hanya menerima beres karena ia harus berada di rumah sabtu dan minggu ini.
“Ya udah, besok lihat ya!” Ayu kembali merampas ponselnya yang sudah di ambil alih oleh teman-temannya yang lain.
“Ya!” jawab Arumi dengan singkat.
“Oke kalau gitu, lanjut makannya!” Ayu meledek Arumi yang terputus acara makan paginya karena sambungan telfonnya.
“Ya!” Jawab Arumi dengan singkat.
“Bye!” Ayu melambaikan tangannya seraya melepas sambungan telfonnya dengan Arumi.
Arumi kembali fokus dengan acara makannya. “Kakak beli peralatan band?” tanya Aksa dengan semangat.
“Iya, temen-temen kakak mau ngeband katanya.” Jelas Arumi.
“Wah, kaya ya kalian beli-beli begituan!” Ara dengan ceplas-ceplosnya meledek sang kakak.
“Ngacok! Itu semua gak beli, mereka memindahkan alat band dari rumah mereka masing-masing. Hanya kamera dan alat-alat printilan kecil saja yang kami beli dari uang tabungan.” Jelas Arumi pada kedua adiknya.
“Oh kirain kalian menguras habis uang orang tua.” Sahut Ara sekenanya.
“Ade ya kalau ngomong gak pakai di saring dulu. Kalau mau sesuatu kita harus nabung dulu, gak bisa gitu aja minta sama orang tua!” Arumi menasihati kedua adiknya.
“Iya kak!” Aksa paham dan menurut dengan perkataan Arumi.
Dari kecil baik Arka atau Yannie mengajarkan anak-anak mereka untuk menabung jika menginginkan sesuatu. Beruntungnya Arumi pun bertemu dengan teman-teman yang mandiri dan tidak mengandalkan orang tua untuk membeli segala keperluan kecil mereka. Walau sebagian dari mereka adalah orang dengan kategori sangat mapan orang tuanya. Namun tidak menjadikan mereka orang yang manja dengan membeli segala sesuatunya dengan uang orang tua.
“Anak-anak, Mamah dan Papah mau pergi dulu ya. Kami mau ngajak Halmeoni dan Harabeoji jalan-jalan. Kalian mau ikut?” tanya Yannie mengajak ketiga anaknya.
“Aku ikut!” Ara yang lebih dulu mengangkat tangannya untuk ikut serta.
“Aku gak deh mah!” jawab Arumi menolak.
“Aku juga gak mah, aku sama kakak aja di rumah.” Ujar Aksa menimpali.
“Ya sudah kalau gitu!”
“Mah! Aku mau ke tempat temen-temen ya!” Arumi ijin pada sang mamah untuk keluar rumah juga.
“Loh Aksa gimana?” tanya Yannie bingung dengan permintaan sang anak.
“Kan Aksa ingin di rumah karena ada kamu.” Ujar Yannie menimpali lagi.
“Ya kan dia bisa ikut aku mah! Lagi Aksa sudah dewasa mah!” sahut Yannie.
“Dia kan tetap adikmu!”
“Aku ikut kakak saja mah, tidak apa.” Sahut Aksa yang mengalah di tengah keributan sang Mamah dan Kakaknya.
“Baiklah kalau begitu, tapi kalian harus sampai di rumah lagi sebelum kami sampai rumah ya.” Ujar Yannie memperingati.
“Yeeh, Mamah pergi aja berapa lama aku gak tau!”
“Ya paling ba’da magrib juga sudah sampai rumah lagi.” Ujar Yannie.
“Ya sudah kalau gitu, aku juga gak sampai magrib kok paling.”
“Mau ngapain sih emang?”
“Mau ngasih kamera doang mah!”Arumi berusaha memberikan penjelasan. Akhirnya Yannie dan Arumi pun mempunyai kesepakatan.
Yannie pun pergi bersama suami dan kedua orang tua mereka, juga Ara yang ikut serta. Sedangkan Aksa dan Arumi pergi naik taksi menuju rumah Reno. Sebelumnya Arumi sudah menghubungi teman-temannya dan mengatakan jika ia akan mempir kesana untuk memberikan kameranya.
***
“Assalamualaikum!” Arumi sampai di rumah Reno, yang kini sudah mereka jadikan basecamp.
“Wa’alaikumusalam!” Arga membukakan pintu untuk temannya itu.
“Waah, Aksa juga ikut.” Arga menyambut Aksa dengan baik.
“Guys, ini kameranya, tripod sama lighting.” Arumi memberikan alat kamera yang ia punya pada teman-temannya.
“Wah.. lebih canggih dari yang kita punya.” Reno memuji kamera yang Arumi punya.
“Gak usah norak deh!” sahut Ayu.
“Yeh, aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya.” Ujar Reno memanyunkan bibirnya.
“Sudah aah, mending langsung pasang saja.” Ajak Arumi.
“Sama siapa kamu kesini?” tanya Ayu.
“Sama Aksa, Mamah sama Papahku lagi ngajak Halmeoni dan Harabeoji keluar sama Ara dan Oma, Opa.” Jelas Arumi.
“Terus Aksa mana sekarang?” tanya Ayu penasaran.
“Di belakang kayanya sama Arga.”
“Oh..”
Arumi membantu teman-temannya yang lain membereskan segalanya. Karena rumah itu bukan rumah yang terbangkalai. Hingga rumah itu tidak butuh banyak pembenahan, hanya sedikit sentuhan untuk dibersihkan dan semua tuntas. Setelah membantu teman-temannya menyelesaikan menyusun perangkat dengan baik ia pun menuju ke dapur untuk membuatkan sedikit makanan dari bahan yang sudah ia minta belikan Ayu sebelumnya. Makanan sederhana berupa nasi goreng ala Arumi.
"Guys makan!" Teriak Arumi dari meja makan.
"Yoih... Aku lapar sekali!" Vino senang melihat makanan dihadapannya. Perutnya dari tadi sudah keroncongan minta di isi.
"Ya... Pelan-pelan makannya! Keluh Ayu saat melihat Vino yang makan seperti orang kelaparan. Sedang yang lain terbengong melihat makannya Vino yang banyak namum tubuhnya tidak gemuk.
***
Sore hari, setelah menemui teman-temannya Arumi pun pulang ke rumah bersama Aksa. Tepat pukul 5 ia sampai di rumahnya. Sesampainya di rumah Arumi bebersih diri, dan menanti kembalinya Mamah, Papah, Ara dan juga nenek dan kakeknya, baik dari Mamah ataupun Papah. Mereka semua jalan-jalan ke mall, membeli beberapa perlengkapan untuk Halmeoni dan Harabeoji yang tidak mereka bawa atau tidak ada di rumah.
Saat magrib tiba, Aksalah yang menjadi imam untuk Arumi di rumah. Rumah masih dalam keadaan sepi. Hanya mereka berdua dan juga satpam di depan rumah.
"Nonton yuk kak!" Ajak Aksa.
"Nonton apa?" Tanya Arumi bingung, ketika hanya ada mereka berdua di dalam rumah.
"Gak tau, kakak maunya nonton apa?" Tanya Aksa lagi.
"Yeeh gimana sih, ngajakin nonton tapi gak tau!" Keluh Arumi. Sedangkan Aksa hanya tersenyum jahil.
"Ya udah nonton drakor saja ya!" Arumi menyetel tv nya dengan mode tonton dari aplikasi dan memilih drakor yang bagus untuk di tonton saat itu.
Di tengah-tengah tontonan mereka, para orang tua pulang dengan berbagai belanjaan. Arumi dan Aksa menyambut mereka semua dengan senang.
"Mandi dulu Mah, Pah!" Ujar Arumi pada kedua orang tuanya.
"Iya, kami mandi dulu ya!" Yannie pamit untuk bebersih diri.
"Aku juga!" Ara pun ikut serta masuk ke kamarnya. Disusul dengan kakek dan neneknya yang lain.
Melihat lelahnya sang mamah, Arumi dan Aksa berinisiatif untuk pesan makanan dari luar. Aksa memesan beberapa lauk pauk seperti sate, pecel ayam & lele. Sedangkan Arumi memasak nasi di magicjar dan menyiapkan kimchi untuk Halmeoni dan Harabeoji.
"Sudah pesen?" Tanya Arumi memastikan.
"Sudah kak!" Jawab Aksa.
Arumi pun menghampiri kamar Mamah dan Papahnya, "Mah, Pah!" Arumi mengetuk pintu keduanya.
"Ya?" Yannie pun muncul dengan rapi sudah berpakaian santai.
“Mah aku sama Aksa sudah pesan makanan, kita makan di ruang keluarga saja ya mah!”
“Oke gak apa-apa kalau gitu, kita makan di ruang keluarga saja. Tapi tetap tolong siapkan sumpit ya untuk Halmeoni dan Harabeoji.” Ujar Yannie mengingatkan putrinya.
“Oke!” hormat Arumi pada sang mamah seperti ketika seorang tentara yang hormat pada atasannya. Seraya mengacungkan jempolnya, Yannie kembali masuk ke kamar sebelum akhirnya ia kembali keluar untuk makan malam bersama.
Sementara Aksa menyiapkan segalanya di ruang keluarga, Arumi memanggil seluruh keluarganya di kamar. Mulai dari memanggil kedua orang tuanya, oma dan opanya, Halmeoni dan Harabeoji dan juga adiknya, Ara.
“Ara ayo turun makan, tidurnya nanti!” Arumi meneriaki lagi adik perempuannya itu.
“Iya iya!” Ara mengeluh namun tetap turun dari kamarnya.
Keluarga Kim makan dengan khikmat sambil sesekali Aksa dan Arumi menjelaskan makanan apa yang mereka pesan pada Halmeoni dan Harabeojinya.
***