Cuaca hari ini masih dingin seperti hari-hari sebelumnya. Hari ini Arumi dan adik-adiknya berencana pulang ke Indonesia juga bersama dengan semua teman-temannya. Mereka sudah harus pulang karena pekerjaan yang sudah menanti. Terutama bagi para dokter yang sudah terlalu lama cuti.
“Aku pamit pah, mah, Halmeoni.” Arumi menyalimi satu persatu keluarganya seraya berpamitan pulang kembali ke Jakarta.
“Kamu hati-hati ya nak, jaga adik-adikmu baik-baik.” Ujar Akra pada putri pertamanya itu.
“Iya pah.”
“Aku juga pamit ya Pah, Mah, Halmeoni.” Aksa dan Ara bergantian pamit pada Mamah dan Papahnya. Mereka berjalan bersama beriringan naik mobil dengan di antar oleh Arka dan dan teman-temannya naik mobil bersama Yannie.
Sesampainya mereka di bandara, Arumi, Aksa, Ara dan semua teman-temannya mereka berjalan menuju keberangkatan. Sambil melambaikan tangan pada kedua orang tuanya, Arumi dan adik-adiknya berjalan menuju keberangkatan.
Di temani awan-awan indah di langit, perjalanan mereka menuju Indonesia menjadi lebih berwarna. Ada kenangan-kenangan indah yang mereka ukir bersama walau jalan mereka semua berbeda.
“Annyonng!” Gumam Arumi seiring pesawat meninggalkan Korea.
“Aaahhhhh…..” Arumi kaget karena baru teringat dengan hal yang ia terus ingat beberapa hari ini dan mendadak terlupakan saat mereka ingin pulang ke Indonesia.
“Kenapa kak?” tanya Ara yang berada di sebelah Arumi. Ia kaget dengan teriakan kecil sang kakak di sampingnya.
“Aku melupakan sesuatu!” gumam Arumi dengan mata melotot teringat ucapan Arga yang meminta jawaban sebelum mereka pulang ke Indonesia.
“Enggak, bukan apa-apa.” sahut Arumi mengalihkannya.
“Ih, bikin kaget saja.” ujar Ara kesal.
“Haduh, aku belum punya jawaban. Gimana dong? Lagi pula aku pun sudah punya komitmen dengan Sigit.” batin Arumi.
Arumi memikirkan jawabannya di sepanjang penerbangannya hingga ia tidak dapat tidur dengan nyaman hingga ketika ia sampai ubuhnya sangat kelelahan. Sesampainya di rumah Arumi langsung masuk ke kamarnya karena lelah ia langsung tertidur.
***
Hari sudah mulai gelap, Arumi baru terbangun dari tidurnya. Tanpa sadar ia tidur hampir setengah hari penuh. Arumi melangkahkan kakinya menuruni tangga dengan perlahan karena kepalanya masih agak pusing.
“Kakak sakit?” tanya Aksa saat melihat Arumi memegangi kepalanya.
“Tidak, hanya pusing sedikit saja karena baru bangun. Mungkin aku sedikit jet leg, tapi gak apa-apa kok.” jelas Arumi.
“Ya udah duduk nih disini, aku sudah belikan kakak makan. Nanti jam 9 atau jam 10 saat jam tidur kakak minum obat tidur, biar bisa tidur dan tidak jet leg lagi.” Ujar Aksa memberi nasihat pada sang kakak.
“Ya, Thank you!”
“Kak, aku punya pertanyaan. Boleh?” tanya Aksa saat mereka sedang duduk bersama di meja makan.
“Apa?”
“Kenapa kakak tidak mencoba berhubungan dengan kak Arga?”
“Hah? Maksudnya?”
“Ya kenapa kakak tidak terima pernyataan cinta kak Arga?” Aksa mempertegas pertanyaannya.
“Bagaimana kamu tau?” tanya Arumi bingung.
“Aku mendengarnya saat kalian sedang bicara di pintu. Aku mau panggil kakak saat itu, tapi karena kakak sedang bicara serius dengan kak Arga, jadi aku tidak jadi memanggil kakak. Aku diam sesaat disitu, lalu pergi.” Jelas Aksa.
“Jadi kamu menguping pembicaraan kakak?” tanya Arumi kesal.
“Begitu kira-kira.” Sahut Aksa dengan senyum mengejeknya.
“Tidak mau kakak fikirkankah? Sepertinya kak Arga orang yang sangat baik. Walau dia duda, kita juga sudah kenal keluarganya.”
“Aku masih memikirkannya kok. Aku tidak bisa langsung menerimanya, kami sudah berteman lama. Rasanya agak canggung jika kami harus bersama dengan status pertemanan.”
“Ya dicoba saja kak, kalau memang kak Arga serius kenapa enggak kan?”
Arumi dengan serius mencoba mendengarkan sang adik.
“Perlukan aku yang bicara?” tanya Aksa pada Arumi dengan sungguh-sungguh.
“Tidak usah, aku akan mencoba memikirkanya dengan baik.” Jawab Arumi dengan sungguh-sungguh.
“Pastikan dengan sungguh-sungguh ya kak. Kasihan kak Arga jika harus menunggu. Kalau terlambat, kakak akan menyesal nantinya.”
Ucapan Aksa mengusik Arumi sekarang. “Apakah aku akan menyesal? Apa aku bisa bersama dengannya? Apa aku bisa jadi ibu sambung yang baik bagi Putri?” tanya Arumi pada dirinya sendiri.
***
Waktu terasa beitu cepat untuk Arumi. Kini ia sudah masuk bekerja seperti biasanya dan sudah kembali menyusun waktu bersama teman-temannya untuk berkumpul. Arumi masih terus berfikir tentang ucapan Arga. Ia masih menimbang yang terbaik untuk dirinya dan semua orang.
“Permisi bu, ibu ada kelas sekarang.” Seorang mahasiswi mengetuk ruangannya dan memanggilnya untuk masuk kelas.
“Oke, saya kesana.”
Arumi pun membawa buku-bukunya untuk mengajar hari ini. Ia kembali memfokuskan dirinya untuk mengajar dan mengenyampingkan soal Arga nanti.
Setelah usai mengajar Arumi pulang ke rumahnya, dalam perjalanan pulang Arumi menjemput Ara seperti biasa. Karena ia sudah mulai sekolah kembali dan jadwalnya semakin padat karena menjelang ujian sekolah.
“Aku sudah di depan sekolah ya, jangan lama kalau sudah pulang langsung kesini.” Gumam Arumi seraya mengetik pesannya untuk sang adik, Ara.
Seraya menunggu Ara yang keluar, Arumi menyetel lagu di ponselnya dan mengenakan earphone agar tidak mengganggu orang.
“Sepertinya ini bagus jika di nyanyikan sabtu nanti.” Gumam Arumi pada dirinya sendiri.
“Aku kasih tau yang lain kalau gitu.” Gumam Arumi seraya mengirimkan pesan pada teman-temannya di group.
“Kak!” Panggil Ara ketika ia masuk ke mobil Arumi.
“Hmm, kita pulang sekarang ya!” ajak Arumi seraya melajukan mobilnya menuju ke restoran terdekat untuk membeli makan malam, setelah itu ia melajukan kembali mobilnya menuju rumah.
“Oke!, Oh iya kak, besok aku ada les. Aku pulang sendiri sajakah?” tanya Ara saat keduanya sudah mulai memasuki rumah.
“Ya sudah bilang saja sama kakak kalau mau pulang. Ada kak Aksa juga, jadi ya lihat nanti siapa yang akan jemput kamu. Oke?”
“Oke!”
“Sekarang ganti baju, mandi, sholat , makan, lalu belajar lagi ya.” Ucap Arumi saat keduanya sudah memasuki Rumah.
“Oke!” Ara pun mematuhi kata-kata sang kakak.
“Assalamualaikum..” Arumi memberi salam ketika ia sudah sampai di ruang keluarga dan melihat Aksa sedang menonton berita.
“Wa’alaikumusalam, sini biar aku yang siapkan makanannya kak. Kakak bebersih diri saja dulu.” Ujar Aksa meminta makanan yang ada di tangan Arumi untuk ia siapkan.
“Oke, kakak masuk dulu ya.” Arumi melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.
Sudah beberapa hari sejak kepulangannya dari Korea dan Arumi belum bisa memutuskan apapun. Malam ini ia ada janji bertemu dengan Sigit di rumah, untuk itu Arumi sengaja membeli makanan agak lebih. Agar ia dapat menjamu Sigit juga di rumah sekalian.
Usai membersihkan dirinya dan menunaikan kewajibannya, Arumi melangkahkan kaki menuju meja makan. “Kakak mau pergi?” tanya Ara saat ia melihat sang kakak sedang menuruni tangga dari kamar.
“Tidak, nanti ada Mas Sigit datang. Makanya kakak pakai pakaian rapih. Kamu juga jangan pakai baju santai banget gini. Ganti sana dengan celana panjang!” titah Arumi saat ia melihat sang adik bungsunya hanya memakai celana pendek dan kaos oblong kebesaran.
“Oke!” Ara kembali menaiki tangga menuju kamarnya untuk berganti baju.
“Ada yang akan datang kah kak?” tanya Aksa saat sang kakak sudah ada di depan meja makan.
“Hmm, Mas Sigit akan datang.” Sahut Arumi.
“Kok dadakan?” tanya Aksa bingung.
“Entah, katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan.”
“Oke kalau gitu.”
Ting tong
Suara bell di luar membuat Arumi melangkahkan kakinya menuju pintu untuk membukanya. Saat ia buka pintu yag terlihat adalah wajah lelaki yang sudah beberapa minggu ini tidak terlihat wajahnya karena sibuk liburan masing-masing. Dia lelaki yang ingin berkomitmen namun belum pasti kapan tanggal komitmen itu harus di akhiri, dan dia juga yang membuat Arumi bimbang memutuskan antara temannya yang melamarnya atau dia yang lebih dulu berkomitmen.
“Assalamualaikum” Sigit memberi salam saat mereka saling berhadapan.
“Wa’alaikumusalam, masuk.” Dengan ramah Arumi menyambut Sigit.
“Di sini saja kita bicara boleh?” tanya Sigit seraya meminta izin agar mereka bicara di ruang tamu saja lebih dulu.
“Boleh, mau bicara apa?” tanya Arumi dengan wajah santai.
“Aku mau minta maaf sama kamu.” Ujar Sigit langsung to the poin.
“Maaf? Untuk apa?” Arumi bingung dengan perintaan maaf Sigit saat itu.
“Aku minta maaf, karena aku berselingkuh dari kamu.”
“Hah?” Arumi kaget mendengar pengakuan dari Sigit.
“Selingkuh?” tanya Arumi untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
“Iya aku sudah menjalin hubungan dengan wanita lain, aku baru sekali seperti ini. Maafkan aku!” Sigit dengan lantang mengakui kesalahannya dihadapan Arumi malam itu.
Arumi bingung harus berkata apa. Ia terdiam dan tak dapat berbicara apapun, apa yang di ungkapkan Sigit terlalu mendadak untuk disebut pengakuan dosa.
“Terserah padamu mau berhubungan dengan siapapun juga, toh kita tidak punya ikatan apapun kecuali kamu yang mengatakan ingin menikahiku karena ingin berkomitmen. Jadi jika kamu punya perempuan yang lebih baik karena kamu mencintainya. Silahkah! Aku tidak masalah.” Arumi mengungkapkan fakta yang ada tentang diri mereka.
“Kamu memaafkanku?” tanya Sigit lagi.
“Tuhan saja maha pemaaf, aku pasti akan memafkanmu. Tapi maaf itu hanya sebatas pengakuanmu bukan terusan dari hubungan kita. Nanti aku yang akan bicara dengan kedua orang tuaku jika kamu dan aku tidak akan pernah menikah.” Arumi panjang lebar memberi penjelasan pada Sigit saat itu.
“Sekarang pulanglah, aku lelah.” Ujar Arumi pada Sigit untuk megusirnya secara halus.
“Aku pamit, Assalamualaikum.” Sigit pun melajukan mobilnya menjauh dari rumah Arumi saat itu.
Sedangkan Arumi kembali ke dalam rumah untuk makan malam bersama kedua adiknya.
“Loh, Mas Sigitnya mana kak?” tanya Ara penasaran karena ia tidak melihat Sigit ikut bersama Arumi ke ruang makan.
“Tidak ikut, dia tidak akan kesini lagi de.”
“Kenapa kak?” tanya Ara bingung dengan jawaban Arumi.
“Dia sudah punya kekasih.” Satu kelimat dari Arumi tentang Sigit sukses membuat Ara dan Aksa kaget. Terlebih Aksa yang kesal dengan ungkapan sang kakak. Karena ia tau fakta dari sang kakak, jika Sigit yang berjanji akan menikahinya telah berselingkuh.
“Kakak baik-baik saja?” tanya Aksa.
“I’m fine”
Semua terdiam karena tidak ingin membuat Arumi lebih kepikiran. Ketiganya makan dengan tenang dan tidak membahas Sigit lagi di meja makan.
Arumi masuk ke kamarnya tanpa berkata apapun usai makan. Aksa dan Ara bingung harus berbuat apa untuk kakaknya. Karena mereka tidak mengerti apa yang saat ini kakaknya inginkan. “Kita harus apa kak?” tanya Ara pada Aksa.
“Biarkan saja kak Rumi sendiri. Mungkin ini yang terbaik.” Sahut Aksa dengan senyum getirnya. Dalam hatinya ia ingin sekali memukul orang yang menyakiti sang kakak, namun ia tak ingin membuat sang kakak malu dan lebih sedih karena perbuatannya.
Esok paginya, cuaca sangat cerah dan matahari bersinar sangat terang. Arumi dengan perasaan yang lebih baik pun berangkat ke kampus untuk mengajar. Begitu juga dengan Aksa dan Ara yang pergi ke tempat tujuannya masing-masing.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Ayu ketika keduanya sedang bercengkarama di kantor Arumi. Ia sengaja menemui Arumi karena mendengar perselingkuhan Sigit.
“Aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan.” Ujar Arumi pelan dan santai.
“Oke, kalau gitu kenapa tidak kamu memutuskan saja untuk menerima lamaran seseorang?” tanya Ayu dengan terang-terangan.
“Sungguh kamu memang menyebalkan ya!” ujar Arumi dengan wajah datar namun tidak menyimpan amarah sama sekali.
“Aku dengan serius mengatakannya, toh kalian sudah sama-sama berumur. Tidak ada salahnya jika kalian langsung meresmikannya. Hubungan kalian juga bukan dari sehari dua hari.” Jelas Ayu.
“Aku memikirkan kalian! Apa tanggapan kalian jika kami bersatu? Terlebih akan ada yang tersakiti nantinya.” Ujar Arumi tanpa mengatakan siapa yang akan sakit hati dengan hubungannya dengan Arga nanti.
“Aku baik-baik saja, kami baik-baik saja dan akan menerima tentunya. Kamu lihat aku dengan Vino? Kami baik-baik saja di antara kalian semua. Lagi pula siapa yang akan tersakiti?” ujar Ayu saat memberi penjelasan tentang dirinya dan Vino yang menjalin hubungan bersama di antara teman-teman mereka yang lainnya.
Arumi berfikir keras untuk jawabannya terhadap Arga. Sudah beberapa minggu sejak Arga menyatakan cinta padanya dan ia selalu memikirkan jawaban yang tepat. Pertemanan mereka yang sudah terlampau jauh membuat Arumi penuh pertimbangan untuk menerimanya.
“Baiklah akan aku fikirkan kembali, aku mau ngajar dulu.” Ujar Arumi seraya membereskan bukunya untuk ia bawa ke kelas.
“Jangan hanya di fikirkan, tapi di realisasikan hubungannya.” Ayu berkata untuk terakhir kalinya sebelum Arumi masuk ke dalam kelasnya untuk mengajar. Sedagkan Ayu pulang ke rumah untuk menemui anak-anaknya yang ia tinggal hanya dengan asisten rumah tangga.
***
Usai mengajar, Arumi pulang lebih dulu dari pada yang lainnya. Banyak fikiran yang ia fikirkan dan membuatnya igin berada di rumah.
Arumi membuat mie rebus super pedas dengan campuran kimchi untuknya hari ini. Arumi merasa dirinya butuh makanan pedas untuk menyegarkan pikirannya. Ia ambil minuman cola dingin dari kulkas dan beberapa kerupuk untuk menambah cita rasa makanan pedasnya.
“Hmmm....” gumam Arumi menikmati hasil makanannya dengan bersemangat. Ia merasa matanya melek dalam seketika karena pedasnya makanan yang ia buat.
Seraya menikmati makanannya, Arumi menyetel televisi dengan mode Netflix dan menonton serial drama triller korea. Ia sangat ingin menghilangkan stressnya hari ini dengan pedas dan ketakutan serta ketegangan yang sangat.
Alunan musik terdengar indah keluar dari handphone Arumi. Menandakan telpon masuk.
“Assalamualaikum, Nee Appa!” ucap Arumi saat iya melihat yang menghubunginya adalah papahnya.
“Wa’alaikumusalam, bagaimana keadaanmu Putriku?” tanya Kim dari kejauhan saat menghubungi sang putri via vidio call dan menampakan wajahnya.
“Aku dalam keadaan baik Appa, Appa sendiri bagaimana keadaannya? Aku sedang makan mie super pedas, Appa sedang apa?” tanya Arumi dengan riang seraya menikmati makanannya.
“Jangan makan terlalu banyak pedas Putriku, nanti perutmu akan sakit. Appa baik-baik saja, Appa ingin bicara hal penting denganmu.” Kim mulai serius dengan ucapannya pada sang Putri.
“Bicara tentang apa?” tanya Arumi mulai serius juga dan mninggalkan makanannya agar dapat fokus pada pembicaraannya bersama sang Papah.
“Appa ingin kamu pertimbangkan kembali untuk menikah di tahun ini. Baik kamu atau Appa tidak akan ada yang tau kan akan berpulang kapan. Appa ingin menghadiri pernikahanmu nak.” Ujar Kim menasihati sang Putri.
“Sebenarnya sudah ada lelaki yang datang padaku untuk melamarmu. Maukah kamu pertimbangkan dia? Appa rasa dia orang yang baik dan bertanggung jawab walau masa lalunya membuat Appa ragu pada awalnya.” Kim kembali bercerita tentang pertemuannya dengan seseorang yang berani melamar Arumi langsung ke orang tuanya.
Dengan eksprasi kaget Arumi mendengarkan kata demi kata yang sang Papah bicarakan. Ia cukup terkejut mendengar masih ada lelaki yang ingin melamarnya.
“Siapa lelaki itu Appa?” tanya Arumi terkejut.
“Beberapa hari lalu ia ke Korea, ia mengajakku dan Mamahmu untuk bicara secara intens. Kami tidak menyangka jika yang ia ingin bicarakan dengan kami adalah hal yang sangat penting tentang kamu.” Kim menceritakan lagi pertemuannya dengan seseorang yang melamar Arumi, namun ia tetap tidak memberitahukan siapa orang yang melamar Putrinya itu.
“Beberapa hari lalu berarti saat aku juga ada di Korea Appa?” tanya Arumi untuk meyakinkan dirinya.
“Hmm...”
“Appa, siapa? Apakah dia orang yang aku kenal?” tanya Arumi lagi penuh penasaran.
“Hmm, amado (Mungkin).”
“Appa, jangan buat aku penasaran.” Rengek Arumi pada sang Papah.
“Arga nak.”
Deg~ satu kalimat singkat tentang siapa yang melamarnya membuat Arumi melotot dan tidak menyangka itu akan terjadi. Hal yang sebelumnya tidak pernah ia fikirkan bahwa Arga akan berani mendatangi kedua orang tuanya untuk meminangnya.
“Kamu tau? Dia datang dengan gentle melamarmu di hadapan kami berdua dan meminta kami merestuinya agar ia dapat segera meminangmu. Arga lelaki yang baik, ia juga langsung memintamu pada kami. Appa setuju dengannya jika memang kamu mau nak. Appa dan Mamahmu kembalikan lagi kepadamu.”
“Sasil Appa (Sebenarnya Ayah), Arga sudah menemuiku dan mengatakan niatnya padaku. Tapi aku masih bingung harus mengatakan apa pada Arga.” Arumi bercerita degan sedikit ragu-ragu.
“Fikirkanlah baik-baik Putriku. Dia orang yang baik yang mau menemui kami, walau dia seorang duda. Tapi itu bukan ingin dia kan menjadi duda. Aku dan Mamahmu akan menerima semua keputusanmu.” Kim menasihatinya Arumi dengan penuh kasih sayang.
“Iya Appa, aku akan memikirkannya baik-baik. Beri aku waktu sedikit lagi untuk berfikir ya Appa.” Sahut Arumi meyakinkan sang Papah.
“Jangan terlalu lama ya nak, jika dia berubah fikiran kamu akan menyesal nantinya.” Untuk yang terakhir kalinya Kim memberikan nasihat pada sang Putri.
“Nee Appa, aku akan memikirkannya baik-baik.” Ujar Arumi dengan senyum getirnya.
“Dan soal Sigit, Appa akan menutup mata untuk itu. Namun jika dia ingin kembali, katakan padaku agar Appa dapat membalas rasa sakitmu ya nak. Berani sekali dia menyakiti Putriku yang berharga.” Ujar Kim dengan nada serius menyiratkan kekesalannya terhadap lelaki yang menyakiti Putrinya.
“Nee, Gomawoyo Appa (Terimakasih Ayah). Salanghaeyo Appa! (Aku mencintaimu Ayah!)”
“Geulee nado neoleul salanghae nae ttal. (Ya, Aku juga mencintaimu Putriku) Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumusalam Appa.” Arumi dan Kim sama-sama mengakhiri perbincangan vidiocall mereka.
Arumi mulai kembali berfikir tentang yang sang papah bicarakan. Ia cukup kagum dengan Arga. Baru kali ini Arumi merasa kagum dan terhanyut dalam haru mendengar sang Papah mengungkapkan jika Arga melamarnya langsung dihadapan kedua orang tuanya. Ia mejadi semakin memikirkan kata-kata Arga dan sang Papah. Ia memang orang yang acuh, namun bukan berarti dia berniat tidak ingin menikah. Ia sangat ingin menikah dan memiliki keluarga harmonis seperti semua teman-temannya. Namun ia masih sangat nyaman dengan kesendiriannya.
Terlebih ada sosok lelaki yang masih menjadi bayang-bayang kenanganya. Ia masih memikirkan lelaki itu hingga keduanya di pisahkan dalam takdir. Namun kini lelaki yang menjadi bayang-banyang masa lalunya yang indah kembali hadir dan menghantui perasaan dan pikirannya.
“Eonni, Jib-e wasseo! (Kakak, aku pulang!)” Ara langsung berteriak menandakan dirinya sudah pulang setelah sampai di rumah.
“Hus, ucapin salam orang mah!” ujar Aksa menyentil adiknya yang suka seenaknya jika sudah di rumah.
“Hehe, Assalamualaikum.” Ara mengucapkan salam ketika sudah di tegur.
“Wa’alaikumusalam.” Dari belakang Ara, Aksa menjawab salamnya.
“Kak Arumi sudah pulang! Tapi kok gak jawab?” gumam Ara bingung melihat mobil Arumi di garasi namun tidak ada yang jawab saat ia memanggilnya.
“Mungkin sedang di kamar.” Sahut Aksa.
“TV nyala kak!”
“Ayo lihat!” ujar Aksa mengajak adiknya ke ruang keluarga.
Aksa dan Ara bingug melihat sang kakak hanya melamun dan tidak memperhatikan TV yang ia setel dengan suara besar. “Kakak baik-baik saja?” tanya Ara seraya menghampiri sang kakak dan duduk di sampingnya.
“Kakak ada masalah?” tanya Ara dengan hati-hati dan memeluk sang kakak dengan hangat.
Dalam keadaan seperti saat seperti ini biasanya sang mamah yang akan memeluk anak-anaknya yang dalam keadaan bermasalah. Sama seperti sang kakak yang juga akan memeluknya jika ia sedang sedih. Kini mereka seperti saling bertukar, karena sang mamah tidak ada Ara lah yang menggantikannya.
“Aku tidak apa-apa de, hanya banyak fikiran yang mengganggu.” Ujar Arumi dalam pelukan sang Adik.
“Karena Mas Sigit ya kak?” tanya Ara dengan terang-terangan.
“Bukan kok! Sudah sana kalian ganti baju. Hari ini beli makan saja ya, aku sedang tidak ingin masak.” Ujar Arumi pada kedua adiknya.
“Oke, aku pesan saja.” Aksa menawarkan diri untuk memesan manakan dari sebuah aplikasi.
Ara dan Aksa menggunakan waktu mereka sebelum makan malam untuk bersih-bersih diri dan mengenakan pakaian yang santai. Arumi masih stay di ruang keluarga dengan tontonannya yang masih tidak ia tonton.
“Aku akan bilang besok deh.” Gumam Arumi saat teringat jika ia besok akan bertemu dengan teman-temannya untuk makan bersama.
***