Chapter 16 Goes to Korea

3019 Kata
Hari-hari berlalu begitu cepat, tak terasa kini mereka sudah berada di penghujung tahun. Tidak ada perayaan special yang mereka lakukan, hanya Ayu dan Vino yang mengundang teman-temannya untuk bergabung makan-makan di rumah sebelum hari natal tiba. Dan untuk menghormati Vino dan Ayu, Arumi dan teman-temannya yang lain pun ikut serta datang memenuhi undangan. Saling menghormati adalah kunci utama bagi mereka hingga kini tetap bersama. Kampus tempat Arumi mengajar sudah libur sampai awal tahun karena para mahasiswa pun sudah melaksanakan Ujian Akhir Semester. Arumi berniat menyusul kedua orang tuanya yang berada jauh darinya. Ia mengadakan rapat keluarga bersama kedua adikya di ruang keluarga dengan TV yang mereka sambungnya video call bersama kedua orang tuanya. “Gimana, kalian mau ikut kakak kah ke Korea?” tanya Arumi pada kedua adiknya. “Kampus memang libur Rumi?” tanya Yannie. “Libur Mah, nambah 1 minggu doang mah gak masalah untuk aku.” Jawab Arumi. “Aku gimana?” tanya Ara dengan wajah cemberut. “Ya kamu kan juga sedang libur, kita beli tiket untuk jalan besok saja. Gak usah bawa baju banyak, disana kan juga bisa beli yang kita perlukan.” Arumi memberikan ide untuk kedua adiknya. “Papah setuju! Papah sudah kangen sekali dengan anak-anak papah.” Arka pun menyetujui ide sang anak sulung. “Aku kan awal tahun sudah masuk!” sahut Ara. “Ya gak apa-apa, izin 2 sampai 3 hari. Nanti aku izinin!” sahut Aksa dengan lantang menyahuti sang adik. “Aduh izin-izin deh ah… sebel Mamah dengarnya.” Keluh Yannie. “Gak apa-apa Mah, anak-anak kan juga kangen sama kita pasti.” Bela Arka. “Iya Mah, kan kita kangen Mamah dan Papah!” Ara mengeluarkan rajukan andalannya untuk merayu sang Mamah. “Baiklah, tapi kalian harus hati-hati. Oke!” Yannie akhirnya menyetujui keinginan putra dan putrinya. “Yess!” Ara senang dengan jawaban sang Mamah yang memperbolehkannya ikut sang kakak ke Korea menyusul Arka dan Yannie. Ara bergegas ke kamarnya, sedangkan Aksa langsung memesan tiket untuk penerbangan mereka. “Kak! Gak ada nih yang besok. Yang besok hanya tersedia 2 kursi.” Ujar Aksa memberitahukan sang Kakak. “Ya udah besok lusa coba, ada gak.” Sahut Arumi. “Oke!” Arumi pun langsung menyiapkan koper untuk ia bawa menemui kedua orang tuanya dan juga neneknya di Korea. Ia membawa sedikit baju, hanya baju tidur, 2 baju santai dan 3 jaket tebal karena disana sedang musim dingin. Karena tidak ingin ketiinggalan momen, Arumi pun membawa kameranya yang siap untuk menemaninya ngevlog di negara sang Papah. Arumi mengirim pesan singkat ke teman-temannya di group w******p mereka. Whatsapp Group Arumi Guys, aku pamit!   Ayu Ih! Pamit kemana kamu?   Reno Ngeledek   Arumi Ih serius!!! Aku mau nyusul Mamah sama Papah hahaha   Okto Gila! Ke Korea?   Reno Korea?   Arga Kapan? Arumi Yes! I’m go to Korea, 2 Hari lagi   Arga Cepet banget   Arumi Kalau ada besok, malah mau besok.   Vino Astaga!! Dadakan banget kaya tahu bulat.   Okto Ikut!   Arumi Boleh! Hehe   Ayu Ihh, mau ikut! Sayang boleh ikut gak? @Vino   Vino Jangan ngaco!! Anak Aku kesian!   Arga Boyonglah anak mah   Ayu Ide bagus Arga I Love You, dukung aku!   Vino Jangan macem-macem deh! -_- @Ayu Kamu juga jangan mancing si Ayu @Arga   Arumi tersenyum bahagia melihat chatannya bersama dengan teman-temannya. Ia senang jika meledek teman-temannya yang sudah pasti akan menjadi pertengkaran kecil nantinya. “Kak!” Aksa mengetuk pintu kamar Arumi. “Masuk De!” Arumi mempersilahkan Aksa untuk masuk. “Kak, yang besok lusa sisah 1 kursi kak ekonomi, tapi yang bisnis ada 5 yang kosong.” Lapor Aksa yang bertugas membeli tiket untuk keberangkatan mereka. “Ya sudah beli saja yang bisnis.” Jawab Arumi dengan santai. “Ada kakak uangnya?” tanya Aksa. “Tenang saja, InsyaaAllah ada kok!” sahut Arumi dengan percaya diri. “Oke!” Aksa keluar dari kamar Arumi dan kembali membeli tiket untuk keberangkatan mereka. Sedangkan Arumi masih sibuk dengan group chatnya bersama dengan teman-temannya.   Group Whatsapp Arumi Fix aku jadi jalan lusa guys! Jangan pada kangen ya!   Ayu Pulang dengan selamat ya Rumi.   Okto Masih mau ikut!! Arumi @Okto Ya sudah ikut lah, besok ada 2 kursi dan lusa masih 5 kursi bisnis Kurang aku deng 3, jadi ada 2 bisnis 1 ekonimi guys Just info hahaha   Okto OMG! Langsung pesen!     Reno Me Too   Ayu Ihhh apa-apaan kalian! Gercep banget woy   Vino Boongan kalian semua!   Okto Ihh Aku beneran jadi ya! Ini lagi taken hahaha Bisnis abis gilak   Vino Anjriiitt!!!!!!!! Siapa yang ngabisin?   Reno Oranglah! Yakali yang lain.   Arumi selamat bersenang-senang guys! Aku akan merindukan kalian selama 1 minggu kedepanya!   Arga Me too Jangan rindu aku dan Putri ya!   Ayu Mau kemana kamu? @Arga   Arga Korea     Vino Gilak!! Serius kamu?   Arga Maybe yes   Ayu Arga Gercep banget Astaga!   Ayu Jangan-jangan itu bisnis 2 dia yang pesan?   Reno Bener Ga?   Arga Mungkin   Arumi Sudah ah, aku mau packing dulu ya. Bye~   Reno Ehh, rumah Nenekmu dimana? Soul bukan?   Arumi Yes, betul!   Reno Oke! Aku besok BERANGKAT!   Ayu Ayang, Ayoo kita nyusul juga! @Vino   Vino Astaga! Duitnya banyak banget! @Ayu   Okto Anjrit CEO belaga miskin!   Vino Jangan mancing kamu ya _-   Ayu Ayang please Aku order sekarang! Atau No jatah   Okto Mampussss! Puasa lo hahahaha   Arga Aduuhh, jajan dah diluar biar PUAS!   Vino Ehh, k*****t kalian!   Pembahasan ke Korea masih terus berlanjut. Arumi tertawa Bahagia melihat chat teman-temannya yang segala rupa kata-kata keluar. Arumi tidak tahu jika perkataan teman-temannya benar, mereka bahkan sudah beli tiket secara terpisah. Tanpa main-main Arga membawa sang anak untuk ikut serta, sedangkan Mamahnya akan tinggal bersama Argita di rumah Arga untuk sementara waktu. Karena sang Mamah tidak mau di ajak ikut serta pergi ke Korea bersamanya dan Putri. Kondisinya yang sudah menua membuat Mamah Arga enggan ikut bepergian jauh. Tidak kalah dengan Arga dan Okto yang sudah mengumumkan keseriusan mereka untuk pergi ke Korea menyusul Arumi, Ayu pun dengan sigap memesan tiket untuknya dan Vino juga kedua anaknya. Dengan bermodal nekat Ayu memesan tiket itu, setelah dia sudah memesan tiket, giliran ia merayu Vino untuk membayarnya dan mengizinkan mereka pergi bersama. “Ayolah sayang…” Ayu bergelendot manja di tangan Vino. “Kita akan menyusahkan keluarga Arumi nantinya yang.” Vino tidak mau merepotkan Arumi dan keluarganya jika mereka datang ke Korea. Secara Anak mereka kembar, dan sedang sudahnya di atur. “Ya ampun, kan ad akita sebagai orang tuanya yang. Lagi pula ada Putri juga, anak-anak bisa bermain bersama Putri disana.” Ujar Ayu masih memelas memohon pada Vino. “Baiklah, kamu atur saja! Aku pusing mendengar rengekan kamu.” Pada akhirnya Vino menyerah dan mengikuti keinginan Ayu yang ingin sekali ke Korea. *** Tiba dihari dimana Arumi dan kedua adiknya akan meninggalkan Jakarta menuju Korea. Arumi dan kedua adiknya hanya membawa masing-masing 1 koper. Ia sengaja tidak membawa banyak koper, karena mereka hanya sementara disana. Arumi juga sudah menukarkan uangnya untuk disana, hingga mereka tidak perlu lagi repot memikirkan biaya selama mereka berada di Korea. Aksa sudah meliburkan semua karyawannya di restoran agar mereka dapat berlibur sejenak dari penatnya aktivitas dapur. Beberapa orang yang ia percaya di tugaskan untuk menjaga restoran agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan. “Sudah semua kak?” tanya Aksa pada sang Kakak. “Sudah de, Ara juga sudah semua kan?” tanya Arumi memastikan semuanya beres. “Oke kalau gitu, yuk berangkat!” Arumi mengajak adik-adiknya untuk berangkat menggunakan taxi online. Rumahnya di tinggalkan bersama dengan satpam yang jaga. Arumi sudah siapkan juga keperluan satpam sementara mereka harus lembur berjaga di rumah. Dalam perjalanan, Arumi, Aksa dan Ara tidak berhenti tersenyum Bahagia. Mereka sudah tidak sabar ingin menemui kedua orang tuanya di Korea. Aksa sudah menghubungi kedua orang tuanya dan memberitahukan bahwa mereka sudah berangkat dengan taxi menuju bandara. Sesampainya di bandara, Arumi dan kedua adiknya pun melangkahkan kaki menuju pintu keberangkatan. Disana Arumi melihat sosok-sosok yang ia kenal sedang berdiri di pintu keberangkatan pesawat menuju Korea. Mereka adalah Arga dan Putri juga Okto yang sudah stay cool dengan kacamata hitamnya. “Kalian benar akan mengikutiku?” tanya Arumi. “Yap!” Okto dengan wajah riang mengiyakan pertanyaan Arumi. “Ya sudah terserah kalian saja!” Arumi melanjutkan langkahnya masuk ke dalam pesawat bersama dengan kedua adiknya juga bersama Okto, Arga dan Putrinya. Keberangkatan mereka hari itu sangat membuat Arumi geleng-geleng kepala. Pasalnya ia tidak menyangka jika pesannya akan membuat teman-temannya benar-benar melakukan yang mereka katakan. Arumi cukup takjub dengan pengaruh dirinya terhadap teman-temannya itu. Pertemanan mereka yang membuat semua sampai seperti sekarang. *** Aean-awan putih menemani penerbangan mereka hari itu. Arumi memandang takjub dengan ciptaan Tuhan. Ia terus mengabadikan momen itu di ponselnya sampai kurang lebih 7jam mereka berada di pesawat hingga mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional Incheon. “Kalian sudah tau akan menginap dimana?” tanya Arumi pada kedua temannya yang membuntutinya setelah mereka sampai di korea. “Belum!” dengan wajah santai Okto menjawab pertanyaan Arumi. “Astaga!” Arumi menggelengkan kepalanya, ia tidak habis piker teman-temannya benar-benar mengikutinya tanpa tujuan. “Ya sudah kita bagi saja ya de naik taxinya. Jadi kedua orang yang tidak tau apa-apa ini dapat ikut kita bersama.” Ujar Arumi berkata pada kedua adiknya. “Oke”jawab Aksa dan Ara dengan kompak. Akhirnya Arumi membagi 2 tim untuk mereka naik taxi. Arumi bersama Arga juga Putri, sedangkan Aksa akan bersama dengan Ara dan Okto di taxi yang satunya lagi. Mereka berangkat bersama menuju rumah neneknya Arumi yang berada di Distrik Mapo, di Korea. Dengan Bahasa Arumi dan adik-adiknya yang lancer berbahasa Korea, Okto dan Arga tidak perlu khawatir lagi. Mereka hanya tinggal mengikuti arahan Arumi, Aksa dan juga Ara hingga mereka sampai di kediaman keluarga Kim di Korea. Yannie dan Kim Young Hwang kaget melihat putrinya datang bersama dengan kedua temannya. Mereka tidak menyiapkan apapun untuk kedatang Arga dan putrinya serta Okto. Karena memang Arumi juga tidak mengatakan apapun pada kedua orang tuanya. “Jauh juga ya!” ujar Okto pada Arumi saat mereka turun dari taxi. “Yes, makanya jangan ikut aturan mah!” sahut Arumi. “Yakan sekalian lah, lagi juga mau tau kalau disini tahun baruan bagaimana.” “Ya sudah ayo masuk.” Arumi pun mengajak teman-temannya masuk dan beristirahat. Karena perjalanan dari Indonesia ke Korea bukan waktu yang sebentar, Yannie menyiapkan kamar dadakan untuk teman-teman Arumi. Untunglah rumah nenek Arumi lumayan besar, hingga teman-temanya akan bisa ketampung dengan baik. Arumi lupa jika semua teman-temannya mengatakan mereka akan datang semua ke Korea. Ia hanya menatap kedua temannya yang sudah ada di depan matanya saja. “Rum!” panggil Okto saat ia teringat dengan Reno yang akan kesini di hari sebelumnya. “Kenapa?” tanya Arumi. “Coba minta wifi kamu. Reno kan kemarin berangkat kesini!” ujar Okto saat teringat Reno. “Astagaaa… dia benar-benar datang? Lalu dia dimana sekarang?” tanya Arumi. “Entah!” Okto hanya menjawab acuh kekhawatiran Arumi terhadap Reno. Akhirnya Arumi memberikan wifi yang sudah ia sewa untuk perjalanannya ke Korea. Okto pun menghubungi Reno via w******p, ia berharap Reno juga tidak lupa membawa wifi untuk kepergiannya ke Korea. “Rumi!” panggil Okto lagi. “Apaan lagi?” tanya Arumi saat ia sedang duduk di bangku depan rumah sang Nenek. “Reno katanya ada di Itaewon.” “Ya ampun jauh sekali, suruh dia kesini saja. Kamu share lokasinya sama dia, kasih tau juga nomor rumahnya tuh di depan lihat.” Sahut Arumi menunjuk dinding di pagar depan rumah sang nenek. “Oke!” Okto pun mengikuti langkah yang Arumi beritahukan. “Ayo anak-anak makan dulu!” Yannie menyiapkan makanan untuk anak-anaknya dan juga Okto dan Arga yang sudah datang jauh-jauh ke Korea. Nenek Arumi juga senang banyak yang mengunjunginya di akhir tahun ini. Ia tidak menyangka bahwa cucu-cucunya akan datang mengunjunginya. Musim dingin di Korea adalah musim yang di sukai banyak orang, termasuk Arumi dan teman-temannya yang berkunjung ke Korea lengkap dengan para anak-anak yang mereka boyong. Dari hari pertama Arumi menginjakan kakinya di Korea mengunjungi sang nenek, tiada hari tanpa dirinya keluar. Ayu dan Vino serta kedua anak-anaknya datang saat hari kedua Arumi berada di rumah sang Nenek di Korea. Ia menjemput Ayu dan Vino seraya berjalan-jalan bersama kedua adiknya dan juga kedua temannya juga Putri, anak Arga. Sebagai anak yang lahir dari kedua orang tua yang berbeda Negara membuat Arumi dan Aksa memiliki SIM Internasional sendiri. Hingga mereka tidak lagi menyusahkan kedua orang tuanya jika ingin keluar rumah menggunakan mobil. Selama di Korea, terkadang Arumi mengajak teman-temannya pergi ke temppat-tempat wisata musim dingin seraya mengajak anak-anak bermain salju di luar. Jika keadaan tidak memunginkan untuknya membawa mobil, ia akan mengajak teman-temannya menikmati indahnya Korea dengan menaiki Bus atau kereta bawah tanah. Sesekali mereka juga mengunjungi tempat-tempat ibadah. Yang muslim akan berkunjung ke masjid yang ada di soul, sedangkan Vino dan keluarganya pergi ke Gereja. Arumi juga tidak lupa mengajak kedua adiknya untuk mengunjungi makam sang Kakek yang sudah tiada. *** Kini Arumi sedang duduk di pendopo depan rumah sang nenek seraya melihat foto-foto yang sudah mereka abadikan bersama. “Sedang apa?” tanya Arga seraya duduk di sebelah Arumi dan memperhatikan laptop yang menampakan foto-foto mereka. Hari ini sudah masuk bulan Januari di awal tahun 2021. “Lagi lihat foto-foto kita.” Jawab Arumi dengan senang, Seraya melihat foto-foto mereka bersama dengan para anak-anak dan kedua orang tua Arumi juga sang Nenek yang bergabung dalam perayaan tahun baru yang mereka buat sederhana. Membuat pesta baberque di halaman rumah Nenek Arumi seraya bakar-bakar daging juga ikan yang sudah mereka beli di pasar sebelumnya. Wajah bahagia tampak dari wajah Arumi juga teman-temannya dan kedua orang tuanya. Arumi dan Arga sama-sama teringat dengan tingkah laku mereka saat pergantian tahun. Arga yang membawa Arumi sedikit menepi menghindari semua orang mendengarkannya bicara pada Arumi. “Arumi, dengar baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya lagi dan aku tidak mau menyesal dikemudian hari.” Ujar Arga saat itu. Ia menatap Arumi dengan tatapan penuh makna yang Arumi sendiri bingung harus mengartikannya seperti apa. “Aku dulu, beberapa tahun lalu pernah menyukai perempuan. Dia adalah temanku, teman baik yang selalu ada saat kami butuh. Hingga suatu ketika kami tidak sama sekali kontakan, hanya sesekali namun tidak intens. Sekarang rasa itu muncul kembali. Aku sendiri tidak tau sejak kapan, namun aku sadar bahwa rasa itu ada hingga kini. Aku berniat untuk meminangnya, menjadikan dia separuh dari hidupku, membuat dia menjadi wanita yang tidak akan pernah menyesal tinggal dan hidup bersamaku, juga menjadikan dia ibu bagi Putri kecilku.” Dengan penuh keyakinan yang matang Arga mengungkapkan isi hatinya. Arumi tau teman yang Arga maksud saat itu adalah dirinya bukan Ayu atau yang lain. Namun Arumi ragu harus menjawab apa pada teman dekatnya itu. Tiba saatnya pergantian hari, petasan yang sudah di beli oleh teman-temannya di nyalahkan dan membuat fokus Arumi juga Arga jadi terpecah. Keduanya sudah tidak lagi saling tatap, Arumi memilih untuk melarikan diri dari Arga. Ia berlari kecil menemui teman-temannya yang sedang bermain kembang api bersama anak-anak mereka. Arga pun menyusul Arumi tanpa ragu. Keduanya bersikap seperti tidak ada yang terjadi saat itu. Hingga kini Arumi duduk bersebelahan dengan Arga, ia masih tidak ingin membahas apapun. Jantungnya berdegup kencang namun tak ingin membuatnya tampak bodoh di hadapan Arga saat itu. Arumi masih melanjutkan melihat foto-foto mereka yang tersenyum lebar. “Rumi!” Arga memanggil namanya. “Tidak aku belum siap, kumohon jangan mengatakan apapun Arga.” Batin Arumi. “Gak usah buru-buru menjawabnya. Kita masih punya kesempatan sampai kembali ke Jakarta nanti. Aku harap kamu bisa menjawabnya saat itu.” Ujar Arga dengan lembut. Arga bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Arumi yang masih bingung dengan ungkapan Arga. Ia bukan bingung untuk menolak atau menerimanya. Namun ia bingung kerena mereka adalah teman, teman yang sangat dekat dari mereka kuliah hingga kini sudah hidup masing-masing dengan keluarganya. Arumi masih terpaku melihat foto kebersamaan mereka yang menampilkan foto Arumi, Arga, Reno, Okto, Ayu dan Vino bersama. Ia kembali teringat perkataan Arga namun ia juga teringat dengan teman-temannya yang lain. “Bagaimana harusnya aku bersikap pada Arga ya?” batin Arumi. “Aunty!” Putri datang menghampirinya di luar rumah bersama dengan Ayu yang menggandeng Gia dan Gio bersama. “Ya sayang? Kenapa?” tanya Arumi saat Putri mengampirinya dan duduk disampingnya. “Aunty, aku mau sandwich.” Putri meminta sandwich dengan matanya yang berbinar dan pakaian dingin yang membalut badannya yang mungil. “Oke, tapi kita beli dulu rotinya ya. Gak apa-apa kan?” dengan wajah ramah Arumi menanggapi ingin Putri. “Kamu mau ke minimarket?” tanya Ayu. “Yes, why?” “Aku ikut, tapi kasih Gia dan Gio dulu ke bapaknya ya.” Ayu menggandeng Gia dan Gio masuk ke dalam rumah. “Aku ikut!” Putri menggandeng tangan Arumi agar ia di ajak ke mini market bersama. “Oke!” Dengan erat Arumi menggandeng Putri di sampingnya seraya menuju minimarket bersama dengan Ayu. “Rum, aku boleh tanya sesuatu?” Ayu mulai membuka suara dengan ragu-ragu. “Kenapa? Mau tanya apa?” tanya Arumi dengan wajah penasaran. “Aku mau tanya bagaimana perasaanmu dengan Arga?” tanya Ayu. “Hah? Kok tanya itu?” Arumi mengerutkan dahinya bingung dengan pertanyaan Ayu. “Hmm, aku hanya tanya. Jawab saja pertanyaanku.” Ayu mendesak Arumi untuk menjawab pertanyaannya. “Perasaanku?” Arumi bergumam pada dirinya sendiri. Ia bingung menjawab pertanyaan dari Ayu. “Kamu suka dengan Arga?” tanya Ayu lagi. “Hah? Aku rasa sama saja dengan perasaan aku denganmu. Kalian semua teman baikku, orang yang selalu bergabung denganku disaat apapun. “Yakin?” tanya Ayu meyakinkan. “Oh, kita sampai!” Arumi mengalihkan obrolan mereka karena mereka sudah sampai di minimarket yang mereka tuju. Arumi membeli roti, keju, telur dan beberapa dus s**u untuk teman makan sandwich Putri, Gia dan Gio. Sepanjang jalan dari rumah sampai mereka di dalam minimarket Arumi masih memegang tangan Putri dengan hangat. Ayu yang melihat Arumi sangat perhatian dan hangat terhadap Putri pun perlahan menarik bibirnya membentuk senyum. Ia tahu jika temannya itu sangat menyukai anak kecil, namun sikapnya terhadap Putri begitu berbeda. Hingga sampai di rumah kembali, Arumi tetap menggandeng Putri dengan hangat. Arumi membuatkan sandwich untuk semua orang di rumahnya, bukan hanya untuk Putri. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN