Hari-hari meyedihkan bagi Arumi dan teman-temannya pasti selalu ada, dan mereka semua dapat melaluinya dengan baik tanpa paksaan siapapun. Hubungan keenamnya masih sangat erat dan saling mengandalkan satu sama lainnya.
Perasaan yang tersembunyi masih terus tersembunyi rapat hingga kini. Begitu pula dengan Okto dan Argita yang menjalin hubungan tanpa ada yang tau. Ketika Papah Arga yang juga adalah Papah Argita meninggal, Okto tetap menenangkan Argita tanpa ada yang curiga satu sama lain. Bahkan saat Argita menangis dan Okto yang menenangkannya di dalam pelukannya pun tidak ada yang mencurigai hubungan keduanya. Rapih dan rapat, itu kata yang tepat untuk hubungan keduanya.
“Bagaimana keadaanmu? Sudah lebih baik?” tanya Okto saat ia dan Argita sedang bertemu di luar untuk makan siang Bersama.
“Sudah lebih baik dari pada sebelumnya kak.” Jawab Argita.
“Baguslah kalua begitu! Mamah dan Arga bagaimana?”
“Kak Arga masih menghadapinya dengan tenang, Mamah masih sama seperti hari sebelumnya. Ia masih sering menangis melihat foto Papah.” Jelas Argita.
“Kamu harus selalu menghibur Mamah. Aku tau betul rasanya di tinggal orang terkasih.” Ujar Okto dengan wajah sedih mengingat tentang kepergian sang ayah.
“Kakak kehilangan yang terkasih siapa?” tanya Argita dengan mengrenyitkan dahinya curiga dengan penuturan Okto.
“Maksudku, aku tau betul rasanya kehilangan sosok Papah. Bukan orang terkasih yang aneh-aneh.” Jelas Okto langsung pada pokok masalahnya. Ia tidak ingin Argita curiga dengannya terlalu jauh.
“Oh.. kirain!” sahut Argita.
“Kamu cemburu?” ujar Okto dengan wajah menyelidik.
“Tidak, aku hanya bertanya.” Jawab Argita dengan wajah memerah.
Keduanya sama-sama saling menghibur karena kehilangan orang yang sama-sama mereka sayangi.
***
Usai makan, Okto membawa Argita jalan-jalan menikmati waktu mereka berdua. Menghibur Argita yang masih sedih karena kehilangan orang yang ia sayang adalah salah satu misinya hari ini. Ia sengaja meliburkan diri hari ini untuk membuat Argita tarsenyum, paling tidak ketika keduanya bersama.
Okto membawa Argita ke taman hiburan untuk bersenang-senang bersama. Seraya bergandengan tangan keduanya menikmati wahana-wahana yang ekstrim atas permintaan Argita.
“Kamu yakin mau main ini?” ujar Okto saat keduanya sudah berada di depan wahana Tornado. Wahana yang dilihat dari bawah saja sudah menyeramkan menurut Okto. Okto yang tidak terlalu suka dengan ketinggian pun berkali-kali menelan ludah.
“Ya, aku ingin wahana ini!” sahut Argita dengan semangat.
“Baiklah!” jawab Okto yang pasrah dengan keputusan Argita yang sudah mutlak.
Keduanya pun menaiki wahana tersebut dengan Okto yang sudah dingin dan wajahnya yang sedikit pucat.
“Kamu kenapa?” tanya Argita saat dilihat wajah Okto yang sudah mulai tidak enak.
“Aku gak kenapa-kenapa!” Okto yang tidak mau mengecewakan Argita pun hanya mengatakan bahwa dirinya dalam keadaan baik-baik saja.
Usai menaiki wahana tersebut, Okto merasa dirinya pusing namun masih tetap dapat dikendalikan. Okto tetap stay cool di hadapan Argita agar kekasihnya itu tidak ilfiell dengan dirinya.
“Kita duduk sebentar disana ya!” Okto mengajak Argita duduk sejenak setelah menaiki wahana yang ekstrim itu.
Okto membelikan minuman dingin untuk dirinya dan Argita agar mereka dapat sejenak menenangkan diri. Walau sebenarnya Oktolah yang paling deg-degan karena menaiki wahana ekstrim itu.
“Setelah ini kita naik kora-kora ya!” ajak Argita.
Okto sudah berfikir wahana yang di sebutkan Argita adalah wahana yang sama menyeramkannya dengan wahana sebelumnya. Ia segera mengalihkan Argita dengan menaiki wahana-wahana yang santai seperti istana boneka. Untunglah Argita mau diajak untuk naik wahana di istana boneka hingga Okto tidak perlu merasa was-was dengan menaiki wahana kora-kora.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Keduanya bemain hingga matahari mulai menghilang.
“Mau makan dulu?” tanya Okto pada Argita.
“Boleh!” keduanya melaju keluar dari taman hiburan itu dan mencari makan di pinggir jalan. Dan pilihan keduanya jatuh pada pecel ayam yang menggiurkan.
Baik Okto maupun Argita, keduanya tidak saling malu memakan makanan di pinggir jalan. Dimana mereka nyaman, maka tempat itu akan menjadi pilihan keduanya.
“Pulangnya mau kemana?” tanya Okto saat keduanya usai makan.
“Ke kontrakan saja.” Jawab Argita.
Akhirnya Okto pun mengantar Argita ke kontrakannya karena hari juga sudah mulai malam. Okto tidak ingin kekasihnya itu menjadi bahan omongan orang karena pulang larut malam.
“Hati-hati di jalan!” pesan Argita pada Okto yang akan pulang sendiri dengan berkendara.
“Oke!” Okto pun melajukan mobilnya menjauh dari kontrakan Argita. Sedangkan Argita masuk ke dalam rumahnya dan beristirahat.
***
Mentari pagi bersinar cerah, aspal basah menambah kesegaran di pagi hari ini. Semalam Jakarta di rundung hujan lebat, yang menjadikan pagi hari ini menjadi sangat segar udaranya. Arumi sudah bangun dari pagi dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Kini ia sedang duduk di bangku taman belakang dengan laptop di tangannya.
“Pagi kak!” Ara turun dari kamarnya dan menghampiri Arumi di taman belakang.
“Pagi!” sahut Arumi.
“Kakak gak masak pagi ini?” tanya Ara menanyakan makanan yang tidak tersedia di meja makan, tidak seperti biasanya.
“Tidak de, kakak sedang tidak ingin masak. Kamu kalua lapar makan sereal atau roti saja. Ada kok di kulkas.” Sahut Arumi.
“Oh, iya sudah gak apa-apa kak, aku juga Cuma tanya. Soalnya tumben banget meja makan belum ada makanan jam segini gitu.” Jelas Ara.
“Oh, Ya makanya kamu makan gih, mau makan roti ada, makan sereal banyak. Tinggal pilih aja.”
“Oke!”
Akhirnya Ara pun ikut duduk di samping Arumi seraya melihat apa yang kakaknya kerjakan. Ia tak berniat kemana-mana di akhir pekan seperti ini. Hanya ingin meluangkan waktu bersama dengan kedua kakaknya.
“Kak, gak masak ya?” tanya Aksa saat ia juga baru turun dari kamarnya.
“Ya, kamu kalua sudah lapar ambil roti atau sereal di kulkas gih. Kakak lagi malas masak.” Ujar Arumi pada sang adik.
“Kalau gitu akum mau beli makan keluar, kakak dan Ara mau?” tanya Aksa.
“Terserah, kakak ikut saja apa yang akan kamu beli.”
“Oke! Ara?”
“Aku juga ikut kakak saja. Aku masih ingin meihat kak Rumi mengetik.” Jawab Ara dengan jujur.
“Okelah kalua gitu.” Aksa pun pergi sendiri karena kedua saudaranya tidak ada yang ingin ikut dengannya.
“Hati-hati!” teriak Arumi saat Aksa sudah melangkah pergi.
Arumi masih tetap dengan kerjaan kampusnya yaitu membuat materi dan soal untuk kuis dan ujian semester. Ia saengaja membuatnya lebih awal karena tidak ingin membuatnya secara dadakan. Ia takut jika ada keadaan-keadaan yang membuatnya tidak dapat membuat saat waktunya sudah hamper tiba.
“Kak, susah gak sih mejadi dosen?” tanya Ara ingin tau.
“Hmm.. Ya susah jika kamu hanya main-main. Tapi kalua niatan kamu memang ingin mejadi pengajar dari awal ya gak akan susah.” Jawab Arumi dengan baik.
“Kalau aku jadi guru atau dosen juga gimana kak?” tanya Ara ingin tau pendapat sang kakak jika ia mengikuti jejaknya.
“Ya gak apa-apa lah kalua kamu mau. Tapi kamu harus tau dulu passion kamu dimana. Jadi jangan asal ingin pilih jadi guru namun kamu gak tau diri kamu inginnya apa sebenarnya.” Nasihan Arumi pada sang adik.
“Kalau aku sih mau yang kerjanya tuh happy gitu kak, aku gak mau capek!”
“Ya gak adalah sang kerjaan yang gak capek. Jadi ibu rumah tangga saja capek, apa lagi bekerja di luar.” Sahut Arumi.
“Kalau gitu apa aku gak usah kerja saja?” tanya Ara.
“Terserah, balik lagi ke kamu. Tapi kalau tidak bekerja, kamu mau apa? Gak menghasilkan uang dong berarti? Lalu kalau mau jajan gimana?” tanya Arumi.
“Iya juga ya kak!”
“Iyalah! Kamu kan gak mungkin minta kakak atau kak Aksa terus. Kamu harus belajar mandiri dan menghidupi diri kamu sendiri. Paling tidak saat kamu ingin jajan, kamu punya uang sendiri.” Ujar Arumi dengan baik menasihati sang adik.
Ara memikirkan dengan baik-baik yang kakaknya nasihati. Ia tidak ingin salah jalan nantinya karena tidak memikirkan dengan baik.
Sementara Arumi dan Ara yang masih berdiskusi, Aksa masih mencari makanan yang menurutnya enak. Sambil berjalan-jalan olahraga, Aksa melihat-lihat sekelilingnya. Ia lalu menemukan bubur dan ketoprak. Akhirnya ia membeli ketoprak dan bubur untuk kedua saudaranya.
Saat Aksa membeli bubur dan ketoprak, ia bertemu dengan Arga yang sedang menaiki sepeda motor menuju ka nad rumahnya. “Kak Arga!” Aksa memanggil Arga dengan suara yang cukup lantang.
Arga yang mendengar seseorang memanggilnya pun berhenti. Ia melihat sekelilingnya, dan menemukan Aksa yang sedang berlari menghampiri Arga yang berhanti agak jauh dari tempat Aksa.
“Eh kamu kok disini?” tanya Arga heran melihat Aksa sedang berada di pinggir jalan.
“Aku aturan yang tanya kakak ada apa ke daerah rumahku?” Aksa bertanya balik pada Arga karena ia heran melihat Arga berada di daerah rumahnya bersama dengan Putri, anaknya.
“Aku mau ke rumahmu emang.” Sahut Arga.
“Oh, mau ketemu kak Arumi ya? Aku sedang beli bubur nih, kakak mau?” tanya Aksa.
“Iya aku mau ketemu Arumi. Ya sudah, ayo bareng saja!” Arga pun menawarkan Aksa untuk bareng dengannya.
“Sebentar kak!” Aksa Kembali ke tempat bubur dan ketoprak yang ia beli dan membayarnya. Setelah itu Aksa pun ikut dengan Arga ke rumahnya.
“Assalamualaikum Kakak, ada kak Arga datang!”
“Wa’alaikumusalam.”
Arumi menghampiri Aksa dan Arga yang sudah duduk di meja makan.
“Eh, ada apa?” tanya Arumi pada Arga.
“Gak apa-apa. Aku mau nitip Putri sebentar, karena aku mau mengantar Mamah ke makam Papah dan Argita sedang tidak bisa di titipi Putri.” Ujar Arga.
“Oh, ya ampun kenapa tidak menghubungiku saja, agar aku yang datang ke rumahmu.” Sahut Arumi.
“Ya gak apa-apa, masa aku yang minta tolong malah kamu yang ke rumah.” Ujar Arga.
“Ya sudah kalua gitu, Putri mau makan?” tanya Arumi pada Putri, Anak Arga. Putri yang merasa dirinya sudah kenyang pun menggelengkan kepalaya.
“Putri sudah makan Rum sebelum kesini.” Ujar Arga saat melihat Putrinya menolak tawaran Arumi.
“Oke kalau itu, nanti aku suruh Ayu kesini deh.” Ujar Arumi pada Arga.
“Nanti Aunty panggil Kak Gio dan Gia ya!” ujar Arumi pada Putri.
Putri menganggukan kepalanya dengan senang dengan pernyataan Arumi yang ingin memanggil Gia dan Gio ke rumahnya.
“Maaf aku merepotkan ya!” ujar Arga tidak enak dengan Arumi.
“Gak apa-apa, biar nanti aku dan Putri yang datang ke rumahmu.” Sahut Arumi menawarkan.
“Oke, kalau gitu aku pergi dulu ya!”
“Ya, hati-hati!”
“Putri, Ayah berangkat dulu ya nak! Putri baik-baik disini sama Aunty ya nak!” nasihat Arga.
“Ayah Bay bay!” Putri pelambaikan tangannya.
“Kiss Ayah!” Arga merentangkan tangannya untuk menggapai Putri yang ingin mencium wajahnya.
Usai perpisahan antara ia dan Putri, Arga pun pulang ke rumah untuk menjemput sang Mamah yang ingin pergi ke pemakaman sang Papah.
Arumi yang memang suka dengan anak-anak dapat cepat berbaur dengan semua anak-anak dari teman-temannya. Setelah ia menghubungi Ayu untuk segera ke rumahnya membawa anak-anaknya untuk bermain degan Putri di rumah Arumi.
“Aunty, kak Gio dan kak Gia mana?” tanya Putri dengan polos.
“Kakak Gio dan Gia sedang di jalan sayang, sabar ya!” ujar Arumi dengan perlahan.
“Iya Aunty!”
Putri dengan sabar menunggu Gia dan Gio bersama dengan Arumi dan Ara seraya menonton film kartun yang di setel Arumi.
“Kak!” Ara memanggil Arumi yang masih asik dengan tontonannya.
“Hmm?” gumam Arumi.
“Kenapa kakak tidak menikah saja dengan Kak Arga?” tanya Ara.
“Heh!” Arumi memplototi Ara yang asal saja jika berbicara. “Kamu kalua bicara suka ngaco ya!” ujar Arumi pada sang adik.
“Aku benar kan! Dari pada Putri terus di titip ke kakak sebagai temannya, langsung saja menjadi ibunya hingga kakak dan kak Arga tidak harus bolak balik mencari siapa yang akan menjaga Putri jika salah satu dari kalian tidak ada di rumah.” Jelas Ara dengan lugas.
“Ade ya kalau ngomong! Aku dan Arga adalah teman, jadi wajar jika kami saling membantu dalam hal apapun de.
“Aunty, menikah itu apa?” tanya Putri yang mendengarkan perkataan Ara dan Arumi.
“Menikah itu artinya Putri punya Ayah dan Mamah di rumah.” Sahut Ara ka nada al.
“Astagfirullah, Ade ngacok ih kamu!” Arumi menutup mulut Ara yang asal memberi penjelasan pada Putri.
“Aku punya Ayah dan Mamah!” ucap Puti dengan polos.
“Iya sayang Putri punya Mamah dan Ayah, Aunty Ara yang tidak tau ya!” ujar Arumi.
“Tapi Mamah pergi, Mamah gak ka nada di rumah lagi!”
“Tidak, Ayah pasti akan mengantar Putri jika ingin bertemu dengan Mamah sayang.” Sahut Arumi dengan kosa kata yang dapat Putri pahami sebagai anak kecil.
“Tidak mau!” ujar Putri dengan tegas.
“Aku tidak akan bertemu dengan Mamah, jika Mamah tidak ingin menemuiku.” Tegas Putri lagi.
“Baiklah, sekarang Putri habiskan saja makanannya ya sayang.” Arumi kembali mengalihkan obrolan mereka ke makanan yang berada dihadapan Putri.
“Untunglah anak ini dapat di alihkan perhatiannya!” batin Arumi.
~Ting tong
Bell rumah Arumi berbunyi, menandakan ada tamu yang datang. Aksa membukakan pitu rumah dan ternyata itu adalah Ayu yang datang bersama Gia dan Gio. Dengan senang Arumi menyambut mereka yang datang untuk membantunya menemani Putri bermain.
Hingga waktu menunjukan pukul 12 siang. Ayu dan Arumi memberikan anak-anak makan seraya makan siang bersama degan anak-anak juga dengan Aksa dan Ara. Usai makan, Arumi berencana pergi ke rumah Arga untuk mengantar Putri juga sekalian menjenguk keluarga Arga yang masih dalam keadaan berduka.
Bersama dengan Ayu dan kedua anaknya, Arumi mengemudikan mobilnya. “Kita akan lama dirumah Arga kah?” tanya Ayu saat mereka berada dalam perjalanan.
“Mungkin! Why?” tanya Arumi.
“Tidak, aku akan suruh Vino ke rumah Arga saja agar kita dapat bertemu bersama dan bermain dengan anak-anak disana. Sekalian menghibur mamahnya Arga juga kan? Sudah lama tidak bertemu dengan mereka.” Jelas Ayu.
“Oke!” jawab Arumi dengan senyum merekah di wajahnya. Sedangkan Ayu menghubungi semua teman-temannya untuk memberitahu bahwa mereka akan ke rumah Arga untuk bermain bersama anak-anak sekaligus menjenguk keluarga Arga.
Okto yang mendapat kabar dari Ayu pun langsung bergegas menyelesaikan pekerjaannya dan dengan bersemangat langsung menghapiri rumah Arga. Tak lupa ia mampir ke restoran sebelum menuju rumah Arga agar dapat membawa sesuatu untuk keluarga orang yang terkasih, yaitu Argita. Dengan wajah seyum Bahagia dan sesekali bersiul, Okto melajukan mobilnya degan santai.
“Assalamualaikum..” Okto mengucapkan salam saat ia masuk ke dalam rumah Arga yang pintunya tidak ditutup.
“Wa’alaikumusalam.” Arumi, Ayu, Arga dan Mamahnya menjawab salam Okto.
“Maaf terlambat.” Ujar Okto pada semua orang yang sedang berbincang di ruang tamu.
“Malah kamu yang paling cepat! Ada apa gerangan?” tanya Ayu dengan nada menyelidik.
“Ini aku bawa makanan buat tante dan Arga juga Putri.” Sahut Okto mengabaikan Ayu dan memberikan plastic yang ada di tangannya.
“Terimakasih Okto, kamu baik sekali mau repot-repot kesini bawa makanan segala!” Mamah Arga menerima pemberian Okto dengan senang hati dan memuji kebaikannya.
“Sama-sama tante, gak usah sungkan.”
Saat semua orang sedang berbincang, Argita datang dari dapur membawa nampan berisikan camilan untuk Arumi dan teman-temannya juga minum untuk Okto yang baru saja datang. Argita sudah diberitahu Okto sebelumnya jika ia akan mampir ke rumah. Hingga Argita sudah menyiapkan minum untuk Okto sebelumnya.
“Kok kamu tau Okto datang? Kan kakak belum beritahu kamu untuk ambilkan minum.” Ujar Arga curiga dengan sang adik yang sudah lebih dulu datang dengan minuman untuk Okto sebelum ia beritahu.
“Itu… Kedengeranlah suara mobilnya.” Argita mencoba senetral mungkin.
“Gita kapan pulang?” tanya Arumi.
“Tadi pagi kak, aku tadi pagi kesini untuk lihat keadaan Mamah juga mau menginap.” Jawab Argita dengan santai.
“Ohh..”
Satu persatu teman-teman Arga datang ke rumahnya, hingga rumah Arga kini ramai. Semua turut berpartisipasi untuk membuat Arga dan keluarganya tersenyum dan menemani Putri bermain bersama.
Tanpa sadar hari sudah mulai gelap, Arumi dan teman-teman bergegas pulang dari rumah Arga. Setelah yang lain pulang ke rumahnya masing-masing, Okto dan Argita mencuri kesempatan kembali untuk keluar bersama.
Okto menjemput Argita di depan rumah Arga setelah dirasa semua teman-temannya sudah pulang.
***