Chapter 14 Kecelakaan

3877 Kata
Sesuai dengan apa yang di bicarakan Aksa sebelumnya dengan Arumi. Hari ini Arumi dan Aksa pergi ke restoran bersama. Arumi yang sedang libur dari rutinitas mengajarnya dan Aksa yang sudah keluar dari pekerjaannya. Arumi berniat mengecek restoran sesuai dengan janjinya pada sang adik. “Arumi!” Arumi kaget karena seseorang memanggil namanya saat ia baru saja masuk restoran. Orang itu adalah Boby, ia sudah sering datang menemui Arumi baik di restoran atau di kampus. Banyak hal yang Boby bawa untuk Arumi, namun itu masih tahap wajar menurut Arumi. “Sedang apa kamu disini?” tanya Arumi bingung. “Untuk menemuimu! Aku fikir kamu akan kesini karena kampus sedang libur.” Sahut Boby dengan santai. “Boby!” “Hmm?” gumam Boby. “Jangan bilang kamu menyukaiku?” tanya Arumi menebak perasaan Boby padanya. “Hah? Hmm..” Boby agak terbata menjawab pertanyaan Arumi. “Jangan! Jangan lakukan hal itu. Jangan suka padaku.” Ujar Arumi menolak perasaan Boby padanya. “Ini bukan hal yang dapat aku kendalikan Rumi. Aku tidak dapat membatasi hatiku ingin menyukai siapa.” Jawab Boby dengan yakin. “Jangan lakukan, aku tidak bisa membalas perasaanmu dan tidak akan pernah bisa. Jangan suka padaku, maaf!” Arumi menjelaskan apa yang ia rasakan. Ia tidak bisa menerima perasaan Boby karena memang ia tidak ingin. Perasaannya pun tidak ada sedikit pun untuk Boby. Baginya Boby adalah teman yang dapat di andalkan di seituasi apapun walau umur keduanya berbeda jauh. “Aku tinggalkan ini disini ya!” Boby punmeninggalkan sebuket bunga di meja restoran tempatnya menunggu Arumi. Arumi tidak ingin menyakiti perasaan siapapun sebenarnya. Namun kali ini ia tidak dapat diam lagi jika Boby menyukainya. Ia tak ingin perasaan Boby padanya semakin dalam dan akan menyakitinya nanti. “Kakak menolaknya?” tanya Aksa saat melihat sang kakak sedang menolak lelaki yang membawakannya sebuket bunga. “Hmm” Arumi hanya bergumam menjawab sang adik. “Ya ampun, kasihan kak.” “Lalu Sigit dikemanain? Kakak gak mau menyakiti orang lain.” sahut Arumi. “Kakak sudah menyakitinya kan!” “Sudah ah, sudah selesai?” tanya Arumi pada sang adik. “Hmm, kakak mau ke dapur?” tanya Aksa pada sang kakak. “Ya, kakak mau cek bahan makanannya. Harus yang masih segar.” Arumi pun meninggalkan Aksa dan berjalan menuju dapur. Ia melihat bahan-bahan makanan dan memberikan tips untuk para karyawan dapur dalam menyimpan pengelolaan bahan seperti kimci. Ia tidak ingin cita rasa dari restoran yang papahnya dirikan akan berubah rasa. “Kak, aku pergi dulu ya! Aku mau cek gedung yang temanku katakan. Nanti kalau oke, aku jemput kakak.” Ujar Aksa dengan santai pada sang kakak. “Kenapa gak sekalian saja kita jalan berdua.” Sahut Arumi. “Tidak kak, aku sendiri saja dulu ya.” Aksa pun keluar dengan mengendarai mobilnya sendiri, sedangkan Arumi menunggu Aksa di restoran. Sesekali Arumi memesan makanan dan melihat cara penyajiaannya, sesekali ia juga masuk ke dapur langsung untuk membantu. “Mba, ponselnya bunyi terus dari tadi.” Saat Arumi sedang duduk seraya melihat kas keuangan restoran, seorang karyawan memberikan tas Arumi yang sengaja ia simpan di bawah meja kasir. “Makasih ya!” dengan ramah Arumi meraih tasnya. “Siapa nih?” gumam Arumi dengan milihat layar ponselnya. Saat Arumi ingin menghubungi nomor yang menghubunginya, nomor itu menghubunginya lagi. “Hallo!” Arumi mengangkat sambungan telfonnya. “Maaf ini dengan keluarga mas Aksa?” tanya seorang perempuan yang menghubunginya itu. “Ya benar, dengan siapa ya?” tanya Arumi bingung karena ada yang mencari sang adik. “Saya ingin menyampaikan bahwa Mas Aksa mengalami kecelakaan dan sekarang sedang berada di rumah sakit.” Ujar wanita yang menghubunginya itu. “APA?” Arumi kaget dengan informasi yang di dengarnya. Sontak saja ia langsung berdiri dan meninggalkan restoran menaiki taxi. Ia langsung melaju menuju rumah sakit tempat Aksa berada. Arumi berusaha tenang dengan terus berdoa jika adiknya dalam keadaan baik-baik saja. Ia meminta supir taxi melaju secepat mungkin. Sesampainya di rumah sakit Arumi langsung menuju UGD dan menanyakan keberadaan sang adik. Ternyata keadaan adiknya parah dan membutuhkan operasi. Arumi menghubungi semua teman-temannya untuk minta bantuan. Reno, Okto dan Arga pun langsung menghampiri Arumi di UGD. “Bantu adikku! Hiks.. Hiks.. Hiks..” Arumi menangis melihat kondisi sang adik yang kritis. Ia meminta ketiga teman-temannya untuk membantu menyembuhkan sang adik. “Kami tidak bisa Rumi, serahkanlah ini pada yang ahli di bidangnya.” Okto merangkul Arumi untuk menenangkannya. “Gak kamu bisa kan!” ujar Arumi pada Arga di hadapannya. “Aku gak bisa Rumi. Aku ada operasi penting.” Sahut Arga. “Jadi maksud kamu Aksa gak penting?” Arumi berteriak marah karena ucapan Arga saat itu. “Bukan gitu Rumi.” Arga berusaha meluluhkan Arumi. “Lepas!” Arumi melepas tangan Arga yang berusaha membujuknya. Arumi melenggang pergi mengurus sang adik yang harus di operasi. “Kamu tuh ya! Orang lagi bingung dan stress malah ngucap yang enggak-enggak!” Okto menegur Arga karena kesalahannya bicara. “Aku bukannya mau mengucap yang tidak-tidak, tapi aku memang ada operasi. Tolong ya!” Arga pun melenggang pergi seraya berlari menuju ruang operasi. Sedangkan Okto dan Reno menyusul Arumi yang masih sedih dan marah secara bersamaan. Untunglah keduanya sedang tidak ada operasi dan janji temu pasien. Meraka menemani Arumi hingga operasi Aksa selesai. *** Arumi terus menunggu sang adik dari masuk ruang operasi sampai keluar dari ruang operasi dan masuk ICU. Dengan khawatir ia terus melafalkan doa untuk Aksa agar dapat pulih sepenuhnya. Sama khawatirnya dengan Arumi, Arga pun terus mengupdate status keadaan Aksa dari masuk ruang operasi hingga masuk ke ruang ICU. Okto dan Reno masih dengan setia mendampingi Arumi secara bergantian ketika keduanya harus mengurus kewajiban mereka sebagai dokter. “Ada apa sih kak sebenarnya?” Tanya Ara saat dirinya di jemput Ayu menuju rumah sakit. “Tenang, tidak ada apa-apa. Aku hanya menjemputmu agar dapat bicara denganmu. Dengar baik-baik ya.” Ayu dengan perlahan mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada Aksa. Seraya menyetir dengan tenang di samping Ara. “Sekarang Aksa berada di rumah sakit Ra, dia kecelakaan tadi. Sekarang Arumi sudah di rumah sakit untuk menunggu Aksa yang sedang operasi. Kakak jemput kamu agar kamu tidak kaget nantinya dan dapat bantu menenangkan Arumi ya.” Dengan baik dan perlahan Ayu memberikan pengertian pada Ara. “Lalu bagaimana keadaan kak Aksa?” Tanya Ara dengan khawatir. “Aku belum tau bagaimana keadaannya sekarang. Yang jelas, nanti Ara jangan ikut bingung ya. Karena Arumi sekarang pun sedang menunggu dengan khawatir dan terus menangis.” Ayu menjelaskan keadaan sahabatnya itu pada sang adik. “Iya kak.” Dengan wajah yang masih tertera bahwa ia juga khawatir dengan sang kakak, Ara mengikuti arahan Ayu. Sesampainya mereka di rumah sakit, Ara menggandeng tangan Ayu seperti kakaknya sendiri. Dengan erat ia menggandeng Ayu, ia takut suatu hal yang parah terjadi pada sang kakak. “Kakak!” Ara memanggil Arumi yang masih duduk di ruang tunggu. Arumi dan Ara saling berpelukan untuk saling menguatkan. Di kondisi seperti saat ini keduanya hanya bisa saling menguatkan satu sama lain. Dengan berpegangan tangan erat, Ara dan Arumi menunggu Aksa sadar dari efek operasinya. “Kalian sudah datang?”  Okto menghampiri Ayu setelah ia memeriksa pasiennya. “Iya, gimana Aksa?” tanya Ayu. “Operasinya berhasil, tinggal nunggu sadar dan lihat apa ada efek dari kecelakaannya.” Okto menjelaskan pada Ayu keadaan Aksa sekarang ini. “Reno dan Arga mana?” tanya Ayu. “Reno ada persalinan, Arga baru selesai operasi tadi.” Jawab Okto dengan santai. “Baiklah.” “Aku ke kantin dulu sebentar ya.” Okto pamit sejenak untuk membelikan teman-temannya minum agar mereka semua lebih tenang. “Keluarga Aksa.” Suster memanggil Arumi sebagai keluarga dari Aksa. “Saudara Aksa sudah dapat di pindahkan ke kamar perawatan biasa. Silahkan di urus administrasinya mba.” Begitulah kira-kira suster meminta Arumi untuk mengurus Aksa yang akan pindah kamar. “Baik sus.” Dengan di temani suster Arumi mengurus administrasi Aksa, sedangkan Ara bersama Ayu menunggu Arumi selesai mengurus administrasinya. “Ayo!” Arumi mengajak adik dan sahabatnya itu untuk ikut ke ruang rawat Aksa. Arumi sudah mengurus ruang rawat Aksa di ruang VIP agar ia dapat leluasa menjaga Aksa dengan baik. “Ya Allah de.” Arumi mendekati Aksa yang sedang terbaring lemah di kasurnya. “Saudara Aksa masih harus di pantau untuk perawatannya dan saat ini masih ada pengaruh obat bius pasca operasi. Panggil saja suster dengan memencet tombol ini ya mba jika ada sesuatu yang di butuhkan.” Suster menjelaskan segalanya pada Arumi dan adik-adiknya. “Terimakasih ya sus.” Sahut Arumi. “Sama-sama mba.” Suster pun melenggang pergi meninggalkan Arumi dan adik-adiknya beserta Ayu di dalam ruangan rawat. “Aku kasih kabar ke yang lain dulu ya.” Ayu pun keluar untuk memberi kabar teman-temannya yang lain agar mereka tidak perlu repot mencari ruangan Aksa. *** “Rumi!” Arga meraih tangan Arumi yang baru saja mau keluar rumah sakit untuk pulang sebentar mengambil baju. “Lepas!” Arumi benar-benar acuh pada Arga. “Rumi, dengarkan dulu! Jangan ngambek seperti anak kecil dong.” Arga mulai frustasi dengan tingkah Arumi yang marah padanya. “Kamu yang seperti tidak perduli dengan adikku!” Arumi pun melenggang pergi meninggalkan Arga yang masih berdiri terpaku di depan rumah sakit dengan memandangi Arumi yang sudah menghilang dengan taxi. Arga yang menyesal mengatakan bahwa pasiennya lebih penting dari pada Aksa. Namun bukan itu yang ia maksud. Semua pasien sama pentingnya, semua pasien sama prioritasnya. Namun dalam kondisi saat itu Arga tidak dapat membiarkan jadwal operasi pasiennya jadi mundur. Ia paham betul jika hal seperti itu tidak boleh ia lakukan. Kini Arga hanya dapat pasrah dengan keadaannya. Ia berharap Arumi dapat memaafkannya yang salah bicara. Arga menemui Aksa yang sudah di pindahkan ke ruang rawat VIP sesuai dengan ingin Arumi. Selagi Arumi tidak ada ia memanfaatkan waktunya untuk memperhatikan adik dari teman yang sudah ia kenal dari masa kuliah. Arga membawakan penyejuk ruangan agar Aksa dapat dengan nyaman berada di ruangan itu. “Kamu sudah selesai bertugas?” tanya Ayu pada Arga. “Sudah, tadi operasi terakhirku hari ini makanya aku bisa kesini. Arumi masih marah denganku.” Ujar Arga saat sedang bersama Ayu Okto dan Reno di luar ruangan Aksa. Mereka sengaja keluar agar Aksa dan Ara tidak mendengar perbincangan mereka. “Ya lagian kamu asal bicara.” Reno menyalahkannya. “Aku tidak asal bicara, keprofesionalanku sebagai seorang dokter tidak bisa aku abaikan. Pasienku sudah menunggu untuk operasi, masa harus aku tunda. Sedangkan dia juga sedang berjuang hidup dan mati.” Sahut Arga pada teman-temannya. “Baiklah, kami mengerti Ga.” Ayu menepuk pundak Arga dengan pelan. Ia paham betul bahwa profesi teman-temannya bukanlah profesi yang mudah. Mereka harus siap berbagi kasih sayangnya dengan pasien-pasien yang bahkan baru mereka temui hari itu. Belum lagi pasien-pasiennya adalah prioritas utama jika jubah putih dokter mereka sudah di kenakan. “Biar aku coba membujuk Arumi nanti ya! Sekarang, kalian pulanglah. Aku tau kalian pasti sudah lelah dari pagi.” Ayu menyuruh teman-temannya untuk pulang. “Aku disini saja!” Reno mencoba bernegosiasi. “Pulang! Kalian harus kasih tubuh kalian istirahat juga.” Pada akhirnya baik Arga, Reno maupun Okto mengikuti perkataan Ayu untuk pulang. Sedangkan Ayu masih tetap menunggu Arumi sampai Vino menjemputnya. *** Satu minggu berlalu, kini Aksa sudah dapat kembali pulang ke rumah namun masih tetap belum bisa banyak beraktifitas berat. Sementara Aksa masih belum bisa beraktifitas seperti biasanya, Arumi lah yang mengawasi dan sesekali mengecek keadaan restoran. “Rumi..” Ayu mengampirinya di restoran keluarga Kim. “Hey, ada apa kesini?” tanya Arumi. “Aku tau kamu pasti disini setelah ngajar. So, aku ingin makan sekalian ngobrol-ngobrol sebentar sama kamu.” Ujar Ayu. “Oke, kalau gitu. Tunggu sebentar ya aku siapkan makanan spesial untukmu.” Arumi pun menuju ke dapur dan membuatkan langsung makanan yang spesial untuk Ayu yang jauh-jauh sudah datang ke restoran keluarganya. “Ini dia sajian spesial. Cobain!” Arumi membawakan Ayu sajian daging bulgogi dengan nasi lengkap dengan kimchi andalan restoran keluarganya. “Hmm, terlihat enak!” Ayu pun menyicipi makanan yang di buatkan oleh temannya itu. “So, ada apa?” tanya Arumi di sela-sela makan mereka. “Aksa sudah sembuh?” tanya Ayu mengawali pembicaraan antara keduanya. “Alhamdulillah sudah lebih baik. Tapi masih aku suruh di rumah saja dulu.” Arumi menjawab pertanyaan-pertanyaan Ayu dengan senang. “Mi sekarang kan Aksa sudah membaik, kamu gak mau berbaikan saja dengan Arga? Kasihan dia.” Ujar Ayu menanyakan hubungan teman-temannya yang merenggang. “Hah… Aku pun tidak ingin seperti ini cuek-cuekan. Namun aku kesal padanya saat bilang bahwa adikku tidak penting.” Sahut Arumi. “Jangan di bawa perasaan ah. Kamu kan tau jika pekerjaannya sebagai dokter adalah hal yang juga sama pentingnya. Dia tidak bermaksud mengatakan seperti itu.” Ujar Ayu secara perlahan agar Arumi tidak tersinggung padanya. “Iya, aku pun merasa bersalah juga padanya. Karena terlalu kalut mendengar Aksa yang sakit, membuat aku jadi sinis dan tidak memikirkan posisinya. Tapi tetap saja dia salah mengatakan hal itu.” “Iya aku tau dia salah dengan mengatakan bahwa aksa tidak penting, tapi dia juga gak bermaksud bilang kalau Aksa tidak penting kan. Lagi pula Aksa sudah ada yang mengurus para dokter yang ada disana. Jadi sudahlah kalian berbaikan.” Ayu masih tetap membujuk Arumi. “Lihat nanti deh.” Ujar Arumi. “Arga sudah resmi bercerai loh dengan istrinya. Saat ini dia juga membutuhkan kita sebagai temannya agar memberinya semangat lagi.” Usai menasihati Arumi agar berbaikan dengan Arga, Ayu pun pergi dari restoran keluarga Kim. Ia meninggalkan Arumi agar dapat memikirkan hal-hal itu dengan baik. *** “Assalamualaikum..” Arumi memberi salam ketika ia sudah sampai rumah bersama sang adik, Ara. Usai mengecek restoran, Arumi menjemput Ara di sekolahnya agar mereka dapat pulang ke rumah bersama-sama. “Wa’alaikumusalam.” Aksa menyambut kedua saudaranya yang baru saja pulang sampai rumah. “Sedang apa?” tanya Arumi saat melihat sang adik sedang berjalan menuju dapur. “Aku bosan, akhirnya memesan banyak makanan. Aku sedang memanaskan pizanya agar panas saat dimakan. Kakak mau?” tanya Aksa saat ia sudah mengeluarkan pizza besar yang ia beli. “Ya ampun, kenapa beli pizza sebanyak itu?” tanya Arumi. “Entahlah, aku juga beli mac n chesse, spageti, lasagna dan banyak minuman.” Jawab Aksa dengan santai mengeluarkan makanan-makanan yang sudah ia beli. “Astaga… ya sudah sini.” Arumi mengambil makanan yang sudah di hangatkan Aksa. “Ya ampun kakak boros sekali!” keluh Ara saat melihat makanan yang Aksa beli terlalu banyak. “Ganti bajumu lalu turun untuk makan!” ujar Aksa memerintahkan sang adik. “Ya” Malam itu akhirnya mereka memakan makanan yang sudah di beli Aksa. Tanpa repot-repot Arumi harus memasak masakan lagi untuk adik-adiknya. Badannya agak sakit karena lelah bekerja juga melihat perkembangan restoran keluarga mereka. Usai makan, Arumi dan adik-adiknya istrirahat karena hari sudah malam. *** “Ade, kakak hari ini tidak ada jadwal. Kakak mau belanja bulanan, ada yang mau nitip nanti?” tanya Arumi saat kedua adiknya sedang menikmati akhir pekan mereka diruang keluarga seraya menonton kartun. “Aku!” Ara menunjuk tangan paling pertama untuk meminta barang yang ia butuhkan. “Apa?” tanya Arumi. “Aku ikut maksudnya kak. Hehehe” Ara nyeringai senang saat meminta ikut belanja pada sang kakak. “Ya ampun, kirain mau nitip apa.” “Aku juga kak ikut, bosan di rumah terus dari kemarin.” Ujar Aksa ingin ikut juga dengan Arumi saat ia bilang akan berbelanja. “Hah, baiklah kalian boleh ikut denganku berbelanja.” Ujar Arumi pasrah dengan permintaan kedua adiknya yang ingin berbelanja bareng dengannya. Akhirnya ketiganya pergi bersama untuk berbelanja di supermarket dekat rumah mereka. Karena bahan makanan sudah habis dan kebutuhan pribadinya pun sudah habis, ia berniat berbelanja. Ketiganya memilih sendiri apa yang mereka ingin makan. Arumi yang menyanggupi keinginan kedua adiknya pun hanya bergeleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya yang memasukan berbagai macam makanan ke troli yang ia bawa. Dering ponsel Arumi berbunyi, dan terlihat nama Ayu di layar. “Hallo!” Arumi menerima panggilan yang di tujukan untuknya. “Rumi, ada berita duka!” ujar Ayu saat Arumi sudah mengangkat sambungan telfonnya. “Berita duka apa?” tanya Arumi. “Orang tua Arga mengalami kecelakaan Mi. Sekarang mereka sedang di bawa ke rumah sakit tempat Arga dan yang lain bertugas.” Jelas Ayu. “Ya Allah! Ya sudah aku akan datang kesana.” Ujar Arumi memutus sambungan telfonnya saat ia menyetujui untuk datang. Arumi pun menghampiri kedua adiknya yang sudah agak jauh dari tempatnya berdiri. “De, kakak harus ke rumah sakit. Ayo kita selesaikan belanjanya.” Arumi dan kedua adiknya pun mendorong troli belanjaannya menuju kasir. Arumi membayar semua belanjaan mereka hari itu lalu membawanya menuju mobil di bantu dengan Aksa dan Ara. “Siapa yang sakit kak?” tanya Aksa pada sang kakak. “Orang tuanya Arga de, mereka kecelakaan saat ingin pulang ke rumah mereka yang di Jakarta.” Sahut Arumi. “Kalau gitu langsung ke rumah sakit aja kak, nanti aku sama Ara pulang bawa mobil kakak ya.” “Gak apa-apa?” tanya Arumi. “Jelas gak apa-apa. Kalau kakak bawa mobil, nanti kakak gak bisa bantu teman-teman kakak disana karena kalian bawa mobil masing-masing.” Jelas Aksa. “Oke kalau gitu, makasih ya de.” Arumi pun melajukan mobilnya langsung menuju rumah sakit tempat orang tua Arga di rawat bersama dengan kedua adiknya. Ia bersyukur sekali kedua adiknya dapat memahami kakaknya. “Kakak masuk ya de, kalian hati-hati di jalan.” Sesampainya di rumah sakit, Arumi keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah sakit. Bersamaan dengan itu, Aksa dan Ara keluar dari mobil dan masuk ke kursi pengemudi dan kursi penumpang depan. Keduanya pulang bersama tanpa Arumi. “Arumi!” Ayu melambaikan tangannya agar Arumi dapat melihat ia yang jaraknya agak jauh dari posisi Arumi berdiri. “Gimana keadaannya Yu?” tanya Arumi. “Ya keadaan keduanya kritis Rum. Tapi kata Okto tadi kondisi papahnya Arga yang sepertinya lebih parah. Kita tunggu saja disini ya.” Jelas Ayu yang sudah lebih dulu datang. Arumi melihat sekelilingnya namun tidak menemukan Arga dimanapun. “Apa dia ikut melihat di dalam?” pikir Arumi. Tidak lama kemudian Okto datang dengan langkah perlahan menghampiri Ayu dan Arumi. “Bokapnya Arga gak selamat.” Satu kalimat dari Okto sukses membuat Arumi dan Ayu kaget. “Arga mana?” tanya Arumi. “Dia sedang menemani mamahnya yang sedang di operasi karena tangannya patah.” Jelas Okto. “Ya sudah kalau gitu serang kita bagi tugas saja ya.” Arumi memberikan ide pada kedua temannya itu. “Okto tetap disini, kasih tau kita perkembangan keadaan mamahnya Arga. Aku akan ke rumah Arga untuk menyiapkan segala keperluan yang di butuhkan Agar ketika jenazah papah Arga datang, rumahnya sudah rapi. Ayu hubungi keluarga Arga agar mereka dapat hadir di rumah.” Ujar Arumi memberikan intruksi pada teman-temannya. “Oke!” Okto memberikan dua jempol pertanda ia mengerti maksud Arumi. “Reno mana ya?” tanya Arumi mencari sosok Reno yang tidak terlihat. “Sebentar lagi dia dateng kok, ada persalinan tadi katanya.” “Oke, kalau Reno selesai langsung suruh ke rumah Arga saja ya.” Ujar Arumi lagi. “Sip!” Arumi dan Ayu pun melangkah pergi menuju rumah Arga dengan mobil Ayu. “Sudah hubungi Vino?” tanya Arumi pada Ayu yang sedang fokus menyetir. “Sudah, katanya langsung ke rumah Arga nanti.” Sahut Ayu. “Oke!” Keduanya pun langsung menyiapkan segalanya setelah sampai di rumah Arga. “Aunty kok di rumah aku?” tanya Putri saat melihat Arumi dan Ayu yang datang ke rumahnya di siang hari ini. “Aunty mau beresin rumah Putri sayang. Boleh kan?” Arumi berjongkok dan mensejajarkan tingginya dengan Putri. “Buat apa?” tanya Putri dengan bingung. “Karena Opanya Putri dan teman-temannya akan datang sayang.” Sahut Arumi. “Yeaayy… Opa datang! Aku mau main sama Opa.” Tanpa Putri mengerti hal yang terjadi, ia melompat senang karena mendengar Opanya akan datang. “Iya, tapi Putri nanti tidak bisa main sama Opa sayang.” Ujar Arumi. Saat Arumi sedang bicara dengan Putri, anaknya Arga. Ayu sudah memberitahu Asisten rumah tangga Arga untuk membantu mengosongkan ruang tamu dan ia sendiri menyebarkan informasi kepada kolega-kolega papahnya Arga. “Ya karena Opa tertidur sayang. Opa gak bisa main sama Putri.” “Opa tidur? Kalau gitu Putri akan membangunkan Opa.” Ujar Putri dengan polos. “Opa tidur dan akan pergi bertemu Allah nak. Jadi Putri hanya bisa mendoakan Opa agar Opa bertemu dengan Allah dan bahagia disana ya.” Jelas Arumi. “Hmmm.. Oke kalau gitu Putri akan doakan Opa agar Opa bisa bertemu Allah.” Dengan polos Putri menanggapi setiap omongan Arumi padanya. “Oke kalau gitu Putri bantuin Aunty geser-geser bangku yuk. Mau?” tanya Arumi pada Putri. “Ayuk!” Arumi menggeser bangku bersama Putri seraya bermain. Ia tidak ingin membuat Putri setres karena ia masih belum mengerti. Namun sebisa mungkin Arumi memberi penjelasan yang dapat Putri mengerti sebagai anak kecil yang polos. Usai menggeser semua bangku dan meja di ruang tamu, tinggal urusan para lelaki yang memindahkan kasur untuk tempat tidur papahnya Arga. Reno dan Vino sudah datang untuk ikut membantu. Akhirnya mereka lah yang mengurus untuk mengangkat kasur. “Sudah menghubungi penyewan kursi?” tanya Arumi pada Ayu. “Sudah tadi. Sebentar lagi juga mereka datang.” Ujar Ayu. *** Rumah Arga sudah di penuhi banyak pelayat dari keluarganya. Adik Arga yang berada di luar kota pun langsung pulang untuk melihat sang ayah terakhir kalinya. Suasanya di rumah Arga sangat ramai dengan orang-orang yang berdatangan mendoakan Papah Arga. Arumi masih setia di samping Putri untuk menjaganya. Karena Arga yang sibuk dengan menjaga sang Mamah yang masih menangis dalam keadaan yang juga tidak baik. Usai acara pemakaman Arumi dan teman-temannya masih dengan setia menemani Arga di rumahnya. Sama dengan ketika Papah Okto meninggal, para lelaku pun kini berada di samping Arga untuk menghiburnya. “Terimakasih ya kalian sudah repot-repot bantu pemakaman bokap.” Ujar Arga pada teman-temannya itu. “Tenang saja, kami semua akan ada untuk kamu kok.” Sahut Ayu. “Ya betul, sama seperti kalian yang menemaniku ketika Papaku meninggal, kini aku yang menemanimu.” Sahut Okto. “Lagi pula kita sudah lama berteman, jika dalam keadaan seperti ini tidak ada yang saling membantu ya siapa lagi kan?” ujar Arumi pada teman-temannya. “Ya, terimakasih semua! Kalian pulanglah, aku sudah cukup merepotkan kalian hari ini. Kalian juga pasti lelah.” Ujar Arga menyuruh teman-temannya pulang. “Yakin tidak ingin kami temani disini?” tanya Vino dengan nada menyelidik. “Jangan gila, lagi pula disini ada Mamah dan adikku. Jadi kalian tidak perlu khawatir.” Sahut Arga memberikan pengertian pada teman-temannya. “Oke, nanti malam kami akan kembali lagi. Kamu juga istirahat selagi Putri tidur.” Ujar Arumi pada Arga. “Siap.” Arga tersenyum hangat untuk meyakinkan teman-temannya bahwa ia baik-baik saja. “Nanti malam tidak usah membeli apapun, kami sudah memesannya untuk nanti malam. Jadi terima beres saja, oke!” ujar Arumi mengingatkan Arga untuk tidak usah repot lagi menyiapkan makanan untuk pengajian malam harinya. “Terimakasih ya!” sekali lagi Arga merasa beruntung memiliki teman seperti Arumi, Vino, Ayu, Okto, dan juga Reno yang dapat saling mengandalkan satu sama lainnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN