Chapter 13 Gosip

2832 Kata
Langit hari ini sangat bersahabat. Setelah sebelumnya Arumi pulang malam, kini ia pulang dengan keadaan langit yang masih terang dan indah di pandang. Arumi sudah ada janji dengan Ayu ingin belanja bersama. Ayu sudah menghubunginya dan mengatakan jika ia sudah sampai di depan gedung kampus Arumi. Arumi pun keluar dari ruangannya untuk dan melangkah keluar kampus untuk bertemu dengan Ayu. “Rumi!” Ayu memanggil Arumi dari kejauhan agar temannya itu dapat melihat keberadaannya. Dengan melambaikan tangan Arumi menghampiri Ayu di depan mobilnya. “Kamu tidak bawa anak-anak?” tanya Arumi yang melihat mobil Ayu kosong. “Belanja pantang bawa anak. Bahaya!” sahut Ayu dengan nada suara bersemangat. “Hahaha dasar!” Arumi tertawa bersama Ayu. Arumi yang mengambil alih setir menuju pusat perbelanjaan. Ini kali pertama Arumi belanja sendiri hanya dengan Ayu. Biasanya jika bahan-bahan di rumah habis, Mamahnya yang akan belanja di temani sang Papah. Sesekali Arumi pun ikut menemani, namun tidak sesering kedua orang tuanya yang berbelanja bersama. Kini Arumi yang mengambil alih urusan rumah karena orang tuanya yang sedang tidak ada di rumah. “Belanjalah sepuasmu dan seperlunya kamu!” Ayu memberikan tip pada Arumi yang baru dalam hal belanja bulanan. “Ya! Siap ibu!” Arumi pun mendorong troli belanjaannya bersama dengan Ayu. Keduanya mengambil beberapa keperluan rumah. Arumi mengambil beberapa bahan makanan seperti kol, worterl, kentang, sawi putih dan beberapa rempah yang sudah habis di rumah. Tidak lupa juga Arumi membeli tepung-tepungan untuk bahan ia membuat kue-kue. Arumi mengisi trolinya hingga penuh dengan barang-barang dan bahan makanan yang ia perlukan di rumah. Baik barang pribadi maupun barang yang adik-adiknya butuhkan. “Sudah?” tanya Arumi pada Ayu yang ia temui di bagian daging. “Wah! Banyak banget belanjaanmu.” Ujar Ayu yang kaget melihat isi troli Arumi sudah penuh dengan berbagai macam barang. “Beginilah sepertinya jika aku yang berbelanja. Banyak sekali yang aku butuhkan dan kebutuhan rumah yang habis.” Jelas Arumi. Keduanya pun mendorong troli belanjaan mereka menuju kasir. Barang-barang keduanya di hitung terpisah. Ayu membayar belanjaannya, Arumi pun demikian. Usai senang berbelanja, Ayu mengantar Arumi menuju rumahnya. “Pak tolong bantu ya!” Ayumi meminta Satpam rumahnya, pak Heru untuk membawa barang belanjaannya masuk ke dalam rumah. “Mampir?” tanya Arumi pada Ayu yang masih setia di dalam mobilnya. “Gak usah, langsung saja ya!” jawab Ayu. “Oke! Thanks ya!” ujar Arumi melepas kepergian Ayu. Arumi pun masuk ke dalam rumahnya dengan barang belanjaan yang ia bawa di bantu satpamnya hanya sampai di depan rumah. Karena ia hanya sendiri di rumah maka tidak ada yang boleh masuk ke rumah jika tidak ada siapapun. Dapur yang mereka punya pun ada 2 dapur terpisah untuk keluarganya dan untuk satpamnya membuat kopi. Arumi menyusun bahan makanan yang ia beli ke dalam kulkas dan menaruhnya di kitchen set. Setelah menyusun semuanya, ia memulai masak untuk makan malam karena adik-adiknya kemarin sudah makan sendiri di restoran. Kini ia ingin memasak makanan yang simpel namun di sukai kedua adiknya. Ia membuat ayam goreng asam manis dengan cah kangkung Ayam. “Masak nasi dulu!” gumam Arumi pada dirinya sendiri. Ia mencuci beras dengan bersih, lalu ia memasukannya kedalam rice cooker. Ia kembali memotong-motong d**a ayam untuk di masukan ke dalam kangkung yang sudah ia siangi terlebih dahulu sebelumnya. Seraya memasak semua bahan cah kangkungnya ia juga memasak juga ayam asam manisnya agar keduanya dapat di sajikan bersama-sama. “Assalamualaikum. Kak aku pulang!” Ara memberi salam saat masuk ke dalam rumah dan menyapa sang kakak. “Wa’alaikumusalam. Iya de, kakak sedang masak.” Arumi menyahuti sang adik dengan sedikit berteriak. “Oke, aku ganti baju dulu ya kak!” Ara pun melangkahkan kakinya menaiki tangga dan berganti baju dengan yang lebih santai. Usai berganti baju, Ara pun menyusul sang kakak di dapur untuk ikut membantunya. “Gak usah, sudah selesai kok!” begitulah Arumi menolak bantuan sang adik. Akhirnya Ara hanya membawa makanan yang sudah di masak Arumi ke meja makan. “Kakak belanja hari ini?” tanya Ara, karena ia melihat banyak barang-barang yang sudah habis namun sudah ada lagi di tempatnya. “Iya tadi kakak belanja usai pulang kerja. Kamu makan deh kalau sudah laper.” “Iya kak!” Ara pun menyantak makanan yang sudah di buat oleh sang kakak. Sedangkan Arumi bebersih diri karena dirinya sudah kegerahan karena berbelanja dan memasak. *** Hari ini Arumi libur dari rutinitas mengajarnya. Supir di rumahnya pun ia liburkan karena ia ingin berkendara sendiri hari ini. Usai mengantar Ara, Arumi pun berkendara dengan santai. Ia ingin menemui teman-temannya di rumah sakit. Namun karena hari masih terlalu pagi dan ia tidak mengatakan pada teman-temannya ingin mampir, Arumi pun mampir ke sebuah restoran cepat saji untuk sekedar membeli kopi.   ~Ting Ponsel Arumi berbunyi, menandakan pesan masuk. Okto: Malam ini Terimakasih Cinta dari Afgan ya Vino: Malam ini banget?                                                                 Arumi: Oke Reno: Kau sedang jatuh cinta? Vino: Benarkah? Dengan siapa? Okto: Bagaimana kau tau? Reno: Benar? Vino: Sepertinya benar Reno: Orang akan tau kamu jatuh cinta karena ponselmu selalu kau pegang. Okto: Aiiisshh!! Berhentilah berfikir gila. Sampai bertemu nanti malam!!! Ayu: @Vino Gimana sayang? Vino: Okelah   Seperti itulah percakapan di antara keenamnya, selalu berhubungan dengan kegiatan mereka. pertemanan yang selama ini terjalin baik antara Vino, Okto, Arga, Ayu, Reno dan Arumi. Walau mereka kini punya kehidupannya masing-masing, namun kegiatan bersama seperti ngeband dan ngevlog adalah kegiatan yang menyatuhan mereka semua. Usai mengesap kopinya, Arumi pun bergegas meninggalkan mejanya dan membuang gelas kopinya ke tempat sampah. Ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat teman-temannya dinas. Dari pesan yang teman-temannya kirim, Arumi tau jika teman-temannya sudah sampai dan bekerja. Ia membawa 3 kopi untuk ketiga temannya dan beberapa makanan untuk mereka santap bersama. “Dokter Okto di dalam?” tanya Arumi pada suster yang berada di depan ruangan Okto. “Ada mba.” Suster dengan name tag bertuliskan nama Eka itu menjawab dengan senyuman ramahnya. “Terimakasih ya!” Arumi pun masuk ke ruangan Okto dengan mengetuk pintunya terlebih dahulu. Di dalam ruangan Okto sedang memainkan ponselnya dengan senyum-senyum di wajahnya. “Sedang sibuk?” tanya Arumi saat dirinya sudah membuka pintu dan melengokkan kepalanya. “Hay! Tidak kok.” Ujar Okto yang kaget melihat Arumi datang ke tempatnya. “Ini aku bawakan kopi dan makanan kecil.” Ujar Arumi menaruh kopi dan makanan yang ia beli di hadapan Okto. “Thanks!” Okto menggapai kopi di hadapannya. “Oke!” “Kita makan bersama saja!” ujar Okto. “Aku pun ingin bertemu dengan yang lain.” ujar Arumi memperlihatkan makanan dan kopi yang ia beli untuk kedua temannya yang lain. “Baiklah, coba cek Arga juga sekalian. Kelihatannya ia sedang tidak dalam keadaan baik. Tadi saja tidak nyahut di group kan!” Okto menceritakan yang ia lihat pada diri Arga tadi. “Kenapa?” tanya Arumi bingung. “Entahlah! Aku melihat dia murung tadi, aku telfon juga tidak mengangkat.” Jelas Okto. “Oke, nanti aku coba menemuinya ya.” Arumi pun melangkah pergi dari ruangan Okto. Dengan santai Arumi melankah menuju ruangan Arga. Namun saat ia berada di depan ruangan Arga, suster disana mengatakan bahwa Arga sedang tidak berada di ruangannya karena sedang melakukan operasi. Arumi pun kembali meneruskan langkahnya menuju ruangan Reno dengan kopi dan makanan yang masih berada di kedua tangannya. Ia pun menanyakan hal yang sama seperti saat menghampiri Okto di ruangannya. Ia bertanya pada suster yang berada di depan ruangan Reno dan menanyakan keberadaan Reno. Untunglah hari ini Reno sedang tidak banyak pasien. Arumi menungu hingga pasien Reno yang terakhir keluar dari ruangannya untuk bergantian masuk. “Silahkan mba.” Suster mempersilahkan Arumi masuk ke ruangan Reno untuk menemui temannya itu. “Terimakasih ya!” dengan tersenyum ramah, Arumi tersenyum pada suster jaga dan masuk ke ruangan Reno. “Silahkan du... eehh kamu ternyata!” ujar Reno saat ia mengira yang akan masuk selanjutnya adalah teman dekatnya, Arumi. “Terimakasih dok!” Arumi pun duduk di kursi di hadapan Reno. “Kopi dan makanan.” Arumi memberikan kopi dan makanan di hadapan Reno. “Makasih!” Reno menyesap kopi yang di berikan oleh Arumi. “Itu punya Arga, tapi dia lagi Operasi tadi. Jadi aku skip kesini.” “Oh, ya sudah tinggalkan saja disini kalau gitu!” ujar Reno memberikan ide. “Iya boleh juga, tapi aku harus ke dia juga. Okto tadi bilang dia sedang dalam keadaan yang tidak baik.” “Kenapa?” “Entahlah..” Akhirnya Arumi memberikan makanan dan kopi yang ia beli untuk suster yang ada di depan ruangan Reno. “Nanti aku kembali lagi saja jika Arga sudah selesai.” Gumam Arumi saat ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan ruangan Reno. *** Setelah dari rumah sakit, Arumi melajukan mobilnya menuju sekolah Ara untuk menjemputnya.   Whatsapp Arumi : Kakak di parkiran sekolah ya Arumi mengirim pesan teks pada sang adik. Ia menunggu dengan tenang seraya menyalakan musik di mobilnya. ~Ting Arumi melihat pesan yang masuk di ponselnya dan ternyata itu dari Arga. Arga: Sudah pulang?                                                                 Arumi: Sudah, kenapa? Arga: Maaf kerena membuatmu menunggu.                                                                 Arumi: Gak apa-apa, lagi pula aku datang juga tanpa memberitahu kalian. Arga: Sekarang dimana?                                                                 Arumi: Jemput Ara. Arga: Mau makan bareng?                                                                 Arumi: Oke Arga: Aku jemput?                                                                 Arumi: Oke di restoran bokap saja ya Arga: Oke   “Kak!” Ara masuk ke dalam mobil Arumi setelah ia selesai dengan sekolahnya. “Sudah selesai?” sahut Arumi memastikan pada sang adik. “Sudah! Ayo kak!” Arumi melajukan mobilnya menuju rumah mereka. “Nanti kita ke restoran ya, kamu tunggu Aksa disana ya de.” Ujar Arumi pada Ara. “Kakak mau kemana?” tanya Ara. “Aku mau kumpul dengan teman-temanku.” “Aku gak boleh ikut?” tanya Ara dengan wajah yang melas. “Tidak hari ini ya.” “Hmm, baiklah.” Dengan pasrah Ara menuruti pinta sang kakak. Ia duduk dengan tenang di mobil hingga mereka sampai di rumah. Ketika sampai di rumah, Arumi memarkirkan mobilnya di garasi dan masuk ke dalam rumah. “Aku mandi dulu ya kak.” Ujar Ara pada Arumi. “Ya!” Arumi pun masuk ke dalam kamar untuk mandi dan berganti baju. Saat Arumi hendak melangkah masuk ke dalam kamar, poselnya berbunyi dengan menampilkan nama Ayu. “Hallo” Arumi menjawab panggilan yang masuk dari temannya itu. “Rumiiii” “Bicara pelan saja!” Arumi kesal dengan Ayu yang bicara teriak-teriak di telfon. “Rumi, cepet lihat link yang aku kirim sekarang! Itu Silvia istri Arga ada disitu.” “Hah! Wait!” Arumi pun melihat isi chat Ayu yang mengirimkannya link. Arumi kaget melihat yang tertilihat di berita internet itu. “Oke tutup ya, bye!” Arumi pun langsung berganti baju dengan cepat tanpa mandi terlebih dahulu. Ia membawa dompet riasnya dan membawa tasnya dengan cepat. “Ade, ayo kita ke restoran sekarang!” Arumi mengetuk pintu kamar Ara dan mengajaknya untuk ikut ke restoran dengan cepat. “Ada apa kak?” tanya Ara bingung. “Sudah jangan banyak tanya, ayo jalan!” Arumi pun berlari dengan di ikuti sang adik. Arumi pun melajukan mobilnya dengan tergesah-gesah dan tetap berhati-hati. Walau bagaimana pun ia tak ingin kecelakaan terjadi pada dirinya dan sang adik. “Telfon Aksa untuk pulang dulu taruh mobil ya de. Nanti kalian pulang dengan mobil kakak ya. Kakak tinggal mobil di restoran.” Jelas Arumi. “Iya kak!” Ara pun menghubungi Aksa sesuai dengan pinta Arumi. Sesampainya Arumi di restoran ia langsung mencari keberadaan Arga. Saat Arumi melihat lelaki yang ia cari pun langsung menghampirinya. “Arga!” Arumi menghamipiri Arga dengan wajah sebisa mungkin seperti biasanya. “Oh, kamu sudah datang!” ujar Arga saat melihat Arumi di hadapannya. “Mau pindah?” tawar Arumi pada Arga agar mereka dapat tempat terbaik. “Terserah kamu, disini pun tidak masalah jika bersamamu.” Ujar Arga dengan santai. “Baiklah!” Arumi pun duduk dengan tenang di hadapan Arga. Sedangkan Ara pergi duduk di bangku terpisah dengan Arumi agar dapat menyantap makanannya. “Tidak banyak pasienkah hari ini?” tanya Arumi pada Arga dengan basa-basi. “Tidak, hari ini hanya operasi yang sudah terjadwal saja.” “Arga!” “Hmm?” “Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Arumi. “Entah, aku akan menuruti maunya. Jika memang dia ingin bercerai, maka akan aku kabulkan.” Jawab Arga acuh. “Kamu tidak ingin mempertahankannya?” Arumi bingung dengan jawaban Arga yang sedikit acuh. “Tidak, dia punya alasan meninggalkanku karena orang lain.” Arumi pun diam mendengar ucapan Arga. Ia hanya dapat menjadi pendengar yang baik bagi teman-temannya jika mereka punya masalah. “Baiklah, kamu masih punya kami. Jika ada sesuatu katakan saja ya.” Ucap tulus Arumi. “Makasih ya!” Usai makan, Arumi dan Arga pun mengemudi bersama menuju basecamp mereka. Sesuai dengan rencana mereka hari ini, mereka berjanji untuk berkumpul bersama. *** Walau keadaan batinnya sedang tidak baik, namun Arga tetap menepati janji untuk bertemu dengan teman-temannya. “Langsung mulai?” tanya Arga setelah keduanya sampai. “Makan dulu.” Okto membawa makanan yang ia sudah beli untuk mereka makan bersama. “Kami sudah makan tadi.” Sahut Arumi. “Kalian meninggalkan kami?” ujar Vino. “Berisik!” Arga menggeser posisi Vino yang sedang duduk sendiri hingga sofa mereka di duduki berdua. Makanan yang Okto bawa tetaplah habis mereka habiskan bersama. Usai makan, ke enamnya bersiap di posisinya masing-masing. Yang akan bernyanyi kali ini adalah Okto dengan para perempuan yang menjadi backing vocal. Tersadar didalam sepiku Setelah jauh melangkah Cahaya kasihmu menuntunku Kembali dalam dekap tanganmu Terima kasih cinta untuk segalanya Kau berikan lagi kesempatan itu Tak akan terulang lagi Semua kesalahanku Yang pernah menyakitimu Tanpamu tiada berarti Tak mampu lagi berdiri Cahaya kasihmu menuntunku Kembali dalam dekap tanganmu Terima kasih cinta untuk segalanya Kau berikan lagi kesempatan itu Tak akan terulang lagi Semua kesalahanku Yang pernah menyakitimu Terima kasih cinta untuk segalanya Kau berikan lagi kesempatan itu Tak akan terulang lagi Semua kesalahanku Kesalahanku Yang pernah menyakitimu   Usai bernyanyi seperti biasanya, Reno akan mengedit hasil rekaman mereka dan menguploadnya. Okto banyak tersenyum hari itu, karena banyak hal yang membuatnya bahagia. Bermula dari sebuah hubungan yang tidak terduga menjadi hubungan yang jelas dan hangat. Walau sore itu mereka semua kaget dengan adanya gosip tentang Arga yang di gugat cerai sang istri, Silvia. “Setelah ini mau ke resto?” tanya Vino pada teman-temannya yang sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing usai mereka membuat vidio band mereka. “Aku harus pulang, kasihan Putri.” Ujar Arga dengan santai. “Kamu baik-baik saja?” tanya Reno dengan hati-hati. “No problem! Santai saja!” jawab Arga. “Apanya yang gak masalah? Kamu akan bercerai!” sahut Vino dengan nada kesal. “Tidak ada yang salah dengan bercerai!” “Tidak salah, namun Allah benci.” Sahut Arumi. “Ya, aku tau! Tapi aku tak bisa berbuat apapun jika dia saja sudah memutuskannya.” Ujar Arga pada semua teman-temannya. Kali ini ia berbicara dengan nada yang sedikit lebih serius. “Baiklah!” “Sudah, ayo kita pulang!” Arumi mengajak Arga untuk pulang lebih dulu dan meninggalkan teman-temannya. “Ayo!” Arga pun mengiyakan ajakan Arumi. *** Arumi di antar pulang oleh Arga sampai rumahnya dengan selamat. “Makasih ya!” ujar Arga setelah keduanya sampai di depan rumah Arumi. “Gak masalah! Jangan sungkan hubungi aku jika ada sesuatu ya.” Sahut Arumi. Usai memastikan Arga pergi, Arumi pun masuk ke dalam rumah. Ia melihat mobil sudah masuk, artinya kedua adiknya sudah pulang. Ia pun membuka pintu dengan kunci rumah yang ia punya. “Assalamualaikum!” Arumi mengucapkan salam saat masuk rumah. “Wa’alaikumusalam!” Aksa menyambut Arumi. Sejak kedua orang tuanya pergi ke Korea, Aksa yang menggantikan posisi sang mamah menunggu Arumi sampai pulan ke rumah dengan selamat. Walau pulangnya malam, Aksa lah yang menunggu di ruang keluarga. “Belum tidur?” tanya Arumi. “Nunggu kakak, aku ingin bicara kak.” Ujar Aksa. “Kakak mandi dulu ya!” Arumi pun melangkah naik menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian dengan yang lebih nyaman untuknya tidur. Usai mandi Arumi pun menghampiri sang adik lagi di ruang keluarga. “Ada apa de?” tanya Arumi seraya duduk di sofa ruang keluarga. “Minggu depan aku fix kak berhenti kerja dan rencananya mau buka cabang restoran papah.” Ujar Aksa mengutarakan keinginannya. “Yakin?” tanya Arumi memastikan. “Iya kak, Insyaa Allah.” “Oke kalau gitu, kakak akan bantu sebisa mungkin.” Ujar Arumi. “Makasih ya kak!” dengan wajah senang Aksa mengucapkan rasa terimakasihnya pada Arumi karena mensuport inginnya. “Sama-sama, tidur sana!” sahut Arumi menyuruh sang adik untuk tidur lebih dulu. “Oke!” Aksa pun mengikuti perintah sang kakak untuk tidur. Arumi sendiri masih duduk di sofa ruang keluaga. Ia melihat situs internet dan berita tentang Silvia masih menjadi berita paling populer. Arumi merasa kasihan dengan Arga, namun ia juga tidak dapat ikut campur karena ia bukan siapa-siapa. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN