“Ade bangun, sarapan!” Arumi memanggil kedua adiknya untuk ikut serta sarapan bersama dengannya di meja makan. Karena sudah terbiasa makan bersama di meja makan, walau hari ini adalah hari minggu.
“Ya kak!” Aksa dan Ara pun turun dan ikut bergabung dengan Arumi di meja makan.
“Hari minggu gini apa rencana kakak?” tanya Aksa pada sang kakak.
“Aku di rumah saja minggu ini de, gak ada niat keluar. Kamu ke resto kan hari ini?” tanya Arumi.
“Yes! Aku harus menyesuaikan dengan karyawan disana dan mengecek keuangan.” Jawab Aksa.
“Kamu gimana Ra?” tanya Arumi pada adik bungsunya itu.
“Aku ikut Kak Aksa saja! Bosan juga di rumah terus.” Sahut Ara masih dengan menikmati makannya.
“Okelah kalau begitu.” Ujar Arumi meneruskan santapannya. Ketiganya makan dengan tenang seraya sesekali menimpali pertanyaan-pertanyaan kecil seputar kegiatan mereka kedepan dalam mengurus rumah.
“Sebelum jalan sapu dan pel dulu halaman depan ya dek. Biar nanti kakak yang bebenah rumah.” Perintah Arumi pada kedua adiknya.
Usai makan, Aksa memanaskan mobil untuknya pergi ke resto. Sedangkan Ara menyapu dan mengepel lantai halaman depan sesuai dengan perintah Arumi.
“Ayo jalan kalau sudah selesai!” Ajak Aksa pada sang adik.
“Iya, bentar kak! Aku taruh ini dulu.” Ara membereskan bak dan alat pel dan ia bawa ke dalam rumah. Ia mengembalikannya lagi ke tempat semula. Usai menyapu dan mengepel halaman depan, Ara pun melangkahkan kakinya untuk naik mobil Aksa menuju restoran keluarganya. Sedangkan Arumi bersiap untuk membersihkan rumah.
Ia membereskan bekas makannya dan kedua adiknya dan ia cuci di dapur. Usai mencuci piring, ia mencuci baju di mesin cuci dan melangkahkan kaki menyalahkan mesin pembersih debu di lantai bawah dan mengepel lantai di lantai atas. Semua Arumi kerjakan sendiri di rumah hari ini. Ia menari-menari kecil seraya mendengarkan musik di telinganya.
“Ahhh akhirnya selesai juga!” keluh Arumi seraya merenggangkan badannya karena lelah mengepel. Ia bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya untuk mandi karena badannya terasa lengket.
Usai mandi, Arumi pun duduk di ruang keluarganya dan mengaktifkan wifi di ponselnya untuk mengakses aplikasi chatnya.
~Ting
Ayu: Arumiiiiii, kenapa sih gak bisa banget di hubungi!
Arumi pun tersenyum meliat ada 3 voice note dari Ayu yang mencarinya.
Ia pun membuka obrolan group mereka.
Arumi: Rame sekali guys
Arumi: Ada apa?
Ayu: Ya ampun! Susah banget hubungin kamu ya di minggu-minggu gini!
Arumi: Bebenah rumah kali coy. Ibu Yannie dan Bapak Kim sudah berangkat ke Korea. Jadi rumah kudu bersih walau tidak ada mereka.
Arumi: Main saja sinih ke rumah.
Aku gak ada rencana keluar soalnya!
Ayu: Oke! OTW
Arumi: Sama siapa?
Vino: Sama aku dong.
Arumi: Itu jelas, yang lain?
Arga: Otw setelah Putri makan
Reno: Otw juga
Arumi: Oke! Akan aku buatkan kue-kue kalau gitu.
Arumi mengakhiri obrolannya di group dan ia bersiap. Ia menuju dapur untuk membuat donat dan beberapa roti isi coklat dan keju karena akan ada anak-anak dari Ayu dan Arga yang akan datang.
Dengan cekatan tangan Arumi mengadon donat-donat dan roti-rotinya. Roti yang sudah ia adon dan bentuk, ia masukan coklat dan keju-keju lalu dimasukan ke dalam oven. Seraya menunggu rotinya matang, ia menggoreng donat-donatnya yang sudah mengembang dengan baik.
Ia berikan dark coklat dan coklat putih ke dalam donatnya setelah donat dingin usai di goreng. Usai menghias donatnya, ia pun membuat adonan sisa menjadi adonan pizza. Ia bentuk adonan di loyang dan memberikan banyak saos spageti dan beberapa sosis yang ia lapisi dengan keju-keju di atasnya. Usai rotinya matang, giliran pizza nya yang masuk ke dalam oven.
Arumi tersenyum senang melihat karya rotinya yang matang sempurna dan cantik di lihat. Ia menata rotinya dengan baik. Ketika menunggu pizza yang sedang di oven, bell rumahnya pun berbunyi. Ia membukakan pintu dan sudah ada Ayu dan Vino dengan kedua anak kembar mereka.
“Hayy...” Ayu memeluk Arumi setelah pintu terbuka.
“Ya! Lama sekali!” keluh Arumi yang sudah lama menunggu teman-temannya datang.
“Ya rumahmu lumayan jauh ya dari tempat kami sekarang.” Jelas Ayu.
“Nih!” Vino menyodorkan plastik yang berisi minuman dan banyak camilan kecil.
“Ya ampun, kaya dirumahku gak ada aja deh!”
“Gak apa-apa, lagi juga ini buat yang lain juga.” Sahut Vino.
“Masuk deh!” Arumi mempersilahkan teman-temannya masuk dan duduk di ruang keluarga.
Ayu dan Vino pun masuk dan duduk. Tak lama kemudian Arga dan Reno datang dan membunyikan bell rumah Arumi. “Biar aku saja!” Vino menawarkan diri untuk membuka pintu.
“Welcome!” ujar Vino saat membuka pintu.
“Sudah disini saja!” ujar Reno.
“Yap! Kalian lama sekali!” ujar Vino mengeluh pada kedua temannya seperti keluhan Arumi padanya.
“Jangan katakan kali lama, kau juga baru datang!” sahut Arga pada temannya itu.
“Dari mana kau tau?” ujar Vino bingung mendengar Arga yang tahu jika ia baru datang juga.
“Mobilmu masih panas!” Arga menyahuti dengan santai seraya berjalan menuju ruang keluarga rumah Arumi.
“Wah, benar-benar!”
“Nih roti untuk kalian semua.” Arumi menaruh roti yang sudah ia buat ke atas meja.
“Wah.. enak sepertinya.” Puji Reno melihat Rotti yang Arumi buat.
“Ada yang mau aku bantu?” tanya Ayu.
“Bantu aku bawakan donat saja di meja ya!” Arumi meminta Ayu membawa donat yang sudah ia siapkan di meja dapur untuk di sajikan.
“Banyak sekali! Kamu buat apa saja?” tanya Arga takjub dengan Arumi yang menyiapkanbanyak hal.
“Tidak banyak, hanya roti, donat dan pizza saja.” Jawab Arumi santai.
“Wah! Itu sih banyak banget ya!” ujar Vino.
“Aku yang ambil gelas.” Arga pun ikut membantu Arumi mengambil gelas untuk minum mereka.
“Nah ini dia pizzanya.” Arumi menyajikan pizza yang ia buat di hadapan teman-temannya.
Mereka semua menonton tv yang menayangkan cartoon anak-anak dan menyantap makanan yang sudah di buat oleh Arumi. Semuanya memuji masakan Arumi yang enak. Pizza yang di buat Arumi habis dilahap anak-anak Ayu dan Arga.
“Orang tuamu sudah berangkat jadinya?” tanya Reno penasaran karena rumah Arumi sepi.
“Iya kemarin berangkat.”
“Adik-adikmu mana?”
“Mereka ke resto untuk ngecek keuangan mingguan.”
“Wah mantab adik-adikmu dapat mengerti kondisi keluarga kalian.” Puji Vino dengan tulus.
“Ya jika mereka tidak mengerti aku akan tendang mereka keluar rumah.” Jawab Arumi santai.
“Eh, Okto mana?” tanya Vino penasaran karena temannya tidak terlihat di hari minggu yang tenang ini.
“Dia gak bisa katanya, sepertinya ia menemui wanita yang ia pacari.” Sahut Arga santai.
“Wah, sepertinya kali ini ia akan putus cinta lagi. Hubungannya hanya bertahan 5 bulan paling lama.” Komentar Vino.
“Sepertinya yang kali ini akan bertahan lama. Doakan saja yang terbaik!” ujar Arumi ikut berkomentar.
“Kamu tidak berniat menikah?” tanya Ayu pada Arumi.
“Bagaimana menikah, pasangan saja tidak ada!” ejek Vino.
“Punya!” Arumi menyahuti teman-temannya yang menanyakan pasangannya terus jika mereka bertemu dan sedang kumpul bersama anak-anak seperti sekarang ini.
Pertanyaan Arumi membuat teman-temannya yang lain melotot tak percaya. “Punya apa?” tanya Ayu memastikan pendengarannya.
“Punya pasangan!” sahut Arumi lagi.
“Siapa? Bobi?” tanya Arga.
“Bobi? Siapa itu? Katanya kamu tidak ingin berpacaran?” tanya Vino memastikan.
“Aku tidak berpacaran, hanya dekat untuk saling mengenal.” Ujar Arumi.
“Dan Bobi bukan siapa-siapa, dia hanya alumni saja!” sahut Arumi lagi menjawab pertanyaan Arga.
“Benarkah?” tanya Ayu memastikannya kembali.
“Hmm... nanti akan aku kenalkan jika ada waktu ya!” ujar Arumi dengan percaya diri.
Hari minggu ini rumah Arumi ramai karena teman-temannya dan anak-anak mereka. banyak hal yang di bicarakan keenamnya. Dari pasien-pasien yang di tangani Reno dan Arga hingga masalah hotel dan resort yang Vino tangani. Sejak mereka semua bekerja dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Waktu untuk berkumpul bersama seperti saat ini tidak dapat mereka lakukan setiap minggu. Hingga jika ada waktu maka keenamnya memanfaatkan dengan baik.
Waktu menunjukan pukul 3 sore. Arga, Ayu, Vino dan Reno pun bersiap pulang ke rumahnya masing-masing. Mereka sudah cukup puas meluangkan waktu bersama di rumah Arumi dengan banyak makanan yang sudah ia siapkan.
Usai mengantar kepulangan teman-temannya, Arumi pun membereskan piring-piring dan gelas yang ada di meja. Ia mencuci semuanya sampai mengkilap. Makanan-makanan sisa ia taruh di piring baru dan menaruhnya di atas meja makan. Arumi pun kembali duduk di ruang keluarga dan mengistirahatkan diri di sofa seraya menonton drama seraya menunggu kedua adiknya pulang sebelum ia harus kembali ke dapur untuk memasak makan malam.
***
Pagi ini suasana rumah keluarga Kim ramai dengan dentingan panci dan sodet yang saling berbenturan. Arumi sedang memasak nasi goreng untuk kedua adiknya sarapan. “Ara bantu kakak sapu dan pel halaman depan dulu ya de!” Arumi berteriak memerintahkan sang adik untuk membersihkan halaman depan sebelum berangkat sekolah.
“Ya!” sahut Ara seraya melaksanakan tugas dari sang kakak.
“Aksa, bantu kakak siramin tanaman di belakang dulu sebentar!” ujar Arumi memerintahkan Aksa.
“Ya kak!” Aksa pun melaksanakan perintah sang kakak.
Usai nasi goreng buatan Arumi matang, ia pun menyajikannya di atas meja. Sedangkan ia masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian mengajarnya. Ara dan Aksa pun menyantap makanan mereka sebelum keduanya berangkat beraktifitas.
“Pulang jam berapa kalian hari ini?” tanya Arumi pada kedua adiknya.
“Aku pulang malam deh kak kayanya. Rencananya mau mampir ke resto selesai dari kantor kak.” Jawab Aksa seraya memakan makanannya pagi itu.
“Ih aku bagaimana?” tanya Ara bingung dengan nasibnya yang mendengar kedua kakaknya akan pulang malam.
“Kamu di rumahlah kalau begitu!” ujar Arumi pada sang adik.
“Tidak mau! Aku benci sendiri di rumah.” Sahut Ara dengan cepat.
“Ya sudah kamu ke resto kalau begitu. Tunggu Aksa disana dengan tenang.” Arumi memberikan ide terbaik untuk kedua adiknya.
“Ya sudah, ayo berangkat kalau gitu. Kakak ada kelas pagi!” ujar Arumi pada sang adik.
“Ya kak! Hati-hati. Biar aku yang cuci piringnya.” Ujar Aksa membereskan piring di meja makan.
“Oke, thank you! Ayo Ra!” Arumi berjalan menuju mobilnya. Kini Arumi yang menggunakan supir yang biasa bekerja dengan kedua orang tuanya. Keluarganya sepakat untuk tidak memecat/ memberhentikan supir hanya karena Yannie dan Kim tidak ada. Akhirnya Arumi lah yang memakai jasa supir untuk ia pergi bekerja.
Keluarga Kim hanya mempekerjakan Supir dan 2 satpam di rumah mereka. Sedangkan pekerjaan rumah dikerjakan Yannie dan anak-anak secara bergantian. Hal itu yang membuat Arumi dan kedua adiknya dapat saling mengandalkan satu sama lain walau kedua orang tua mereka sedang pergi.
“Kak!” Ara memulai pembicaraan antara ia dan sang kakak di mobil.
“Hah?”
“Sebentar lagi aku lulus.” Ujar Ara pada sang kakak.
“Lalu?”
“Apa kita akan menyusul Mamah dan Papah ke Korea?” tanya Ara pada sang kakak.
“Lulus dulu dengan nilai yang bagus. Lalu bekerja dan hasilkan uang sendiri setidaknya 1tahun. Setelah itu baru kita bahas untuk pindah kesana semua ya. Gimana?” Arumi menasihati adiknya seraya bertanya balik.
“Ya! Aku akan ikut yang kakak katakan saja.” Ujar Ara menuruti nasihat sang kakak.
“Good! Sudah sampai tuh.” Ujar Arumi memuji sang adik seraya menunjuk sekolahnya yang sudah ada di depan mata.
Ara pun turun dari mobil Arumi dan memasuki sekolah tempat ia belajar. Ia mencium tangan sang kakak dan melambaikan tangannya menjauh. Arumi pun melaju bersama supirnya menuju ke kampus.
“Bapak pulang saja ke rumah ya, saya agak lama dikampus sampai sore sepertinya. Nanti tolong jemput Ara saja di sekolahnya ya pak.” Ujar Arumi pada supirnya.
“Baik non!”
Arumi pun masuk ke dalam gedung tempat ia mengajar.
***
Hari pun cepat berlalu, siang ini Arumi memilih makan sendiri di kantin kampus. Malam nanti ia ada janji dengan lelaki yang sedang dekat dengannya untuk makan bersama. Lelaki itu adalah salah satu dosen juga yang ia temui saat ada seminar nasional yang diselenggarakan untuk seluruh dosen di Jakarta. Salah salah satu dosen yang datang saat itu adalah Arumi.
Ia terkesan dengan kesan pertamanya bertemu dengan lelaki yang mengajaknya berkenalan dan pandai dalam berbicara. Mulai sejak itulah Arumi memutuskan untuk belajar dekat dengan lelaki yang mungkin akan menjadi orang yang serius dengannya.
“Selamat siang bu!” Seorang mahasiswi menegurnya di meja makan kantin. Hal itu membuat lamunannya buyar.
“Ya!” jawab Arumi.
“Boleh saya gabung bu?” tanya sang mahasiswi.
“Silahkan!” jawab Arumi dengan ramah.
“Terimakasih bu!”
Arumi pun kembali melanjutkan makannya dengan tenang. Usai makan ia kembali ke ruangannya dengan suasana hati baik karena perutnya sudah terisi. Ia hanya tinggal menunggu jam selanjutnya.
Saat Arumi baru saja nempel dengan bangku kerjanya, ia mendengar ponselnya berdering. Ia melihat yang menelfon adalah adik perempuannya, Ara.
“Hallo, Assalamualaikum!” jawab Arumi saat mengangkat telfonnya.
“Wa’alaikumusalam kak!”
“Kenapa de?” tanya Arumi.
“Kak, boleh aku minta uang tambahan? Aku lupa kalau hari ini tuh harus bayar untuk TO minggu depan kak.” Keluh Ara yang melupakan sesuatu yang harus ia bayar.
“Ya ampun, gak tadi saja sekalian pas kakak antar kamu ke sekolah!” sahut Arumi kesal dengan sang adik.
“Iya lupa kak.”
“Ya sudah pakai saja dulu uang bulanan kamu. Nanti di rumah kakak ganti.”
“Bener ya kak?”
“Iya!”
“Oke thank you kakak. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumusalam.” Arumi mengakhiri panggilan telfonnya.
***
Sore hari tiba, Arumi menunggu jemputannya tiba di depan gedung. Saat ia menunggu, teman-temannya datang tepat di hadapannya. “Bu Dosen! Mau makan bersama?”
Disaat itu pula lelaki yang dekat dengannya datang. Arumi bingung harus berbuat apa. Dalam sekejap ia kesal dengan insting teman-temannya yang datang tepat saat ia ada janji dengan orang lain.
“Sedang apa? Ayo masuk!” Okto membuka jendela mobil dan meneriakan Arumi yang terpaku. Okto, Reno dan Arga datang dengan 1mobil bersamaan. Mereka semua ada di dalam mobil Arga.
“Kamu ada janji dengan yang lain?” tanya seorang lelaki yang sudah turun dari mobilnya dan sudah berada di hadapan Arumi.
“Tidak, mereka datang tiba-tiba.” Jawab Arumi kikuk.
“Ya! Kamu sudah janji dengan orang lain?” tanya Okto seraya turun juga dari mobil di ikuti dengan Arga dan Reno.
Ketiganya kini sudah berada di hadapan Arumi dengan wajah senyum dan canggung.
“Kalian kenapa ada disini?” tanya Arumi.
“Kami menjemputmu! Kami kira kamu free. Maaf kalau mengganggu ya!” ujar Arga dengan santai meminta maaf karena kelancangan teman-temannya yang mengajak makan bersama tanpa memberitahu terlebih dahulu.
“Mereka teman-temanmu?” suara lelaki mengintrupsinya untuk fokus.
“Oh, iya mereka teman-temanku. Kenalkan ini Arga, Reno dan Okto.” Arumi akhirnya memperkenalkan ketiga teman-temannya.
Reno, Okto dan Arga pun memperkenalkan dirinya. “Sigit!” akhirnya ketiganya mengetahui nama lelaki yang sedang dekat dengan Arumi.
“Kalian mau pergi makan?” tanya Arga tanpa basa basi.
“Iya, kalian mengajak Arumi keluar makan?” tanya Sigit.
“Ya!” jawab Arga dengan santai.
“Baguslah, ikut saja dengan kami!” Okto memberikan mereka ide.
“Ya!” Arumi memberikan tatapan mata sinis pada ketiganya.
“Boleh!” Sigit menyetujui ide Okto. Akhirnya Arumi mau tidak maupun menuruti teman-temannya dan juga Sigit untuk makan bersama. Dan seperti yang sudah Arumi duga bahwa teman-temannya punya rencana licik yang membawa mereka semua ke resto Ayu dan Vino.
“Kita ketempat lain saja, tidak apa-apa kok!” Arumi mencoba untuk membuat Sigit membelokan mobilnya ketempat lain. namun, semua gagal karena Sigit pun menyetujui ingin teman-teman Arumi tanpa ragu.
Setelah sampai di restoran, Ayu dan Vino sudah menyediakan mereka tempat private untuk makan bersama-sama. Keduanya sudah di kabari oleh Reno sebelumnya.
Wajah Ayu menunjukan bahwa ia sangat ingin tahu siapa lelaki yang Arumi bawa. Senyum di wajah Ayu menyiratkan bahwa Arumi mau tidak mau harus menjawab keingintahuannya.
“Silahkan duduk bro! saya Vino, teman Arumi.” Vino mempersilahkan Sigit untuk duduk di tempat yang sudah ia sediakan.
“Ya terimakasih. Sigit!” Sigit dengan ramah membalas salam Vino yang mengajaknya berkenalan.
Kini Arumi dan teman-temannya sudah duduk di meja yang sama dengan makanan yang tersedia. Ayu dan Vino melayani Sigit dan teman-temannya yang lain dengan baik.
“Mas Sigit sudah berapa lama kenal Arumi?” tanya Ayu dengan sopan dan senyum bahagia yang sulit di artikan. Ia bahagia melihat Arumi sudah punya lelaki yang dapat ia andalkan dengan baik. Walau kini status mereka hanya dekat, namun jika Arumi sudah berani dekat dengan lelaki maka ia pun turut senang.
“Ya! Kalian sudah bukan anak remaja yang kepo dengan hubunganku ya!” ujar Arumi menegur teman-temannya.
“Tidak ada salahnya kami bertanya kan Rumi!” sahut Ayu.
“Ya tidak apa-apa Rum. Lagi pula mereka teman-temanmu.” Ujar Sigit dengan senang hati menyambut pertanyaan Ayu.
“Kami kenal sejak pertemuan di seminar Dosen.” Jawab Sigit dengan santai.
“Oh, Masnya dosen juga?” tanya Ayu menegaskan.
“Ya saya Dosen!” jawab Sigit dengan senyum ramah menghiasi wajahnya.
Sigit dengan sekejap dapat menyesuaikan diri dengan teman-teman Arumi saat itu. Sesekali ia menjawab pertanyaan yang mempertanyakan hubungannya dengan Arumi dan sesekali ia pun memberi pertanyaan acak pada yang lain. Arumi sendiri senang dengan pertemuannya dengan teman-temannya juga Sigit berjalan sengan lancar.
Usai makan, Arumi di antar Sigit sampai di depan rumahnya. Kesan teman-temannya pun baik pada Sigit. Arumi langsung yang menerima pesan di pesan groupnya.
“Terimakasih ya sudah mengantarku pulang dan sudah mau melayani pertanyaan-pertanyaan teman-temanku yang terkadang mereka masih seperti anak-anak.” Ujar Arumi saat mereka sudah berada di depan rumah Arumi.
“Ya gak masalah, aku juga cukup terhibur haha..” tawa renyah keluar dari mulut Sigit saat itu. Dengan jujur ia memberikan kesan baik pada teman-teman Arumi.
“Terimakasih juga sudah mau mengerti.”
“Ya, Aku pulang ya! Assalamualaikum.” Sigit melambaikan tangannya.
“Wa’alaikumusalam.” Arumi pun membalas lambaian tangannya pada Sigit lalu masuk ke dalam rumah.
“Aksa dan Ara sudah sampai rumah pak?” tanya Arumi pada satpam rumahnya, pak Jono.
“Sudah dari tadi non.” Jawab pak Jono.
“Oke, saya kedalam ya pak! Terimakasih!” Arumi pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
“Assalamualaikum.” Arumi mengucapkan salam saat masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumusalam. Aksa yang masih berada di ruang keluarga pun menjawab salam sang kakak.
“Kakak sudah makan?” tanya Aksa.
“Sudah de! Kakak naik ya, lelah. Kamu istirahat deh, sudah malam.” Sahut Arumi melangkah naik ke kamarnya.
“Ya kak!”
***
~Kriingg
Suara alarm yang nyaring berbunyi. Arumi bangun dari tidurnya dan bersiap untuk sholat dan memasak sarapan. Kini sudah menjadi rutinitasnya di pagi hari usai ibadah ia akan menuju dapur untuk memasak.
“Masak apa hari ini?” Arumi membuka kulkasnya dan berbicara pada dirinya sendiri.
“Wah bahan-bahan sudah habis ternyata.” Gumamnya.
Arumi pun mengambil bahan-bahan yang ada untuk ia buat sarapan sederhana untuk kedua adiknya. “Buat capcay saja deh sama telur dadar wortel.” Gumam Arumi lagi setelah ia mengambil bahan-bahan untuk membuat capcay dan telur dadar.
“Kakak masak apa?” tanya Aksa saat melihat kakaknya sedang memasak di dapur.
“Masak capcay de, sama telur dadar. Gak apa-apa kan?” tanya Arumi.
“Iya gak apa-apa. Kakak gak kerja hari ini?” tanya Aksa.
“Kerja, tapi nanti agak siang. Kenapa?” tanya Arumi.
“Gak apa-apa. Aku hanya ingin diskusi sama kakak sekalian.” Sahut Aksa.
“Diskusi apa?” tanya Arumi bingung. Seraya memasak dengan tangannya Arumi mendengarkan sang adik yang ingin berdiskusi dengannya.
“Menurut kakak, apa aku berhenti bekerja saja ya? Aku ambil alih restoran papah.” Ujar Aksa memberitahu isi fikirannya.
“Yakin?” tanya Arumi pada sang adik.
“Masih berfikir untuk bikin sendiri perusahaan malah. Tapi belum tau mau seperti apa.” Sahut Aksa lagi.
“Aku terserah padamu saja. Toh yang menjalankan kamu, kakak hanya mensuport kalian saja sebagai seorang kakak.” Nasihat Arumi.
Aksa pun memikirkan apa yang di katakan Arumi. Pekerjaannya saat ini pun hanya sekedar pekerjaan sambilan untuknya. Pekerjaan yang sesungguhnya adalah membantu sang Ayah mengelola restoran.
“Kak!” Panggil Aksa lagi.
“Hmm?” gumam Arumi.
“Ajari aku masak kak!” ujar Aksa meminta untuk di ajari masak.
“Why?” tanya Arumi bingung. “Masakanku tidak enakkah?” tanya Arumi lagi.
“Enggak gitu! Aku mau buat brand aku sendiri. Aku mau jual sesuatu di restoran agar orang dapat membuatnya sendiri di rumah menggunakan brand kita.” Jelas Aksa mengutarakan idenya.
“Boleh! Nanti aku ajari.” Ujar Arumi menyetujui ide sang adik.
“Makasih kak!” dengan wajah bahagia Aksa berterimakasih pada sang kakak.
“Bantu aku sini sekalian!” Arumi pun mengajak Aksa memasak bersama. Untuk saat ini Aksa hanya membantu memotong-motong beberapa bahan, sedang Arumi sendiri membuat bumbu halus.
Aksa belajar sedikit demi sedikit membuat capcay dan telur dadar enak pagi itu.
“Ara, seperti biasa ya de!” pinta Arumi saat melihat sang adik sedang berjalan menuju ke arah meja makan.
“Oke!” Ara pun langsung mengerti maksud Arumi yang menyuruhnya menyapu dan mengepel lantai depan rumah.
Usai memasak, Arumi dan adik-adiknya duduk di meja makan dan memulai rutinitas mereka untuk sarapan bersama. Karena hari ini Arumi berangkat agak siang, hingga Ara di antar oleh supir.
“Ini ganti uang kamu kemarin.” Ujar Arumi memberikan sejumlah uang untuk Ara.
“Makasih kak!” Ara pun mengucapkan terimakasihnya pada Arumi dan menyalami tangan sang kakak. Bersama dengan Aksa, ia melangkah keluar rumah untuk berangkat sekolah. Sedangkan Arumi membereskan meja makan dan mencuci piring.
***