Usai mengajar, Arumi kembali ke ruangannya dan menunggu sampai kelas berikutnya di mulai. Arumi mengeluarkan ponselnya dan menghubungi teman-temannya via group wa
Arumi: Guys dimana?
Arga: Dijalan why?
Vino: Kantor
Ayu: Resto
Reno: Rs
Arumi: Makan yuk... laperrrr.....
Vino: Gak bisa, ada rapat.
Vino: Ini jam kerja ya!
Reno: Masih ada 2 pasien, duluan nanti nyusul.
Arumi: Oktooooooo ayoo makan....
Arga: Okto lagi OP
Arga: Keluar, lobby
Arumi: Lobby mana?
Arumi: Keluar mana?
Arga: Kemana lagi? Aku ada di kampusmu, keluarlah!
Arga: Jangan lama!
Ayu: Aku tunggu di resto
Arumi: Oke
Arumi: Wait!
Arumi mengajak teman-temannya makan bersama karena ia sangat lapar. Setelah merengek mengajak teman-temannya untuk makan bersama Arga pun datang untuk menjemputnya menuju restoran Ayu dan Vino.
***
Jalanan cukup lengang hari ini, Arga berlari menuju parkiran setelah mendapat pesan dari Arumi di groupnya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata karena hari masih pagi menjelang siang. Tidak butuh waktu lama pula untuk ia sampai di kampus tempat Arumi mengajar, karena jalan yang lengang dan jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja.
Setelah Arga sampai dan menyuruh Arumi untuk menemuinya di lobby kampus. Ia pun melajukan mobilnya menuju restoran Ayu.
“Kamu sedang di jalan menuju kampusku tadi?” tanya Arumi heran dengan Arga yang cepat sekali sampai di kampus tempatnya mengajar.
“Tidak, aku sedang membalas pesanmu dan langsung menuju kampusmu.” Jawab Arga dengan jujur.
“Secepat itu?” tanya Arumi bingung.
“Ya! Jalanan lengang dan aku mengendarai mobil ini dengan cepat.” Jelas Arga lagi.
“Kamu sungguh keterlaluan ya! Nanti kalau celaka bagaimana?” ujar Arumi kesal.
“Iya maaf!” sahut Arga dengan tulus penuh penyesalan.
Arga pun mengemudikan mobilnya tanpa kata. Ia tak ingin membuat Arumi marah lagi karena laju kecepatannya.
Sesampainya Arumi dan Arga di restoran Ayu, mereka sangat disambut baik. Ayu sudah menyiapkan meja khusus untuk keduanya. “Annyonng!” sapa Arumi saat Ayu sudah menanti dihadapannya.
“Sudah sangat laparkah? Ayo makan!” Ayu mempersilahkan keduanya duduk di meja yang sudah ia siapkan.
“Sangat!” sahut Arumi dengan wajah memelas.
“Aku sudah siapkan, makanlah!” Ayu mempersilahkan kedua temannya untuk menyantap makanan spesial yang ia siapkan.
“Terimakasih makanannya! Selamat makan!” Arumi tersenyum bahagia melihat makanan lezat dihadapannya.
Arga yang melihat Arumi tersenyum seperti saat ini membuatnya tersipu karena bahagia, rasanya makanan yang mereka santap pun lebih lezat dari biasanya.
Reno pun datang setelah Arga dan Arumi menyelesaikan makan mereka. “Kalian sudah selesai?” tanya Reno saat bertemu Arumi dan Arga.
“Iya, Alhamdulillah kenyang!” sahut Arumi.
“Oke, aku yang makan kalau begitu!” Reno pun memesan makanan langsung pada Ayu untuk mengisi daya tubuhnya yang letih karena bekerja.
“Yu, tolong bungkusin juga ya untuk Okto!” pinta Arumi pada Ayu.
“Nanti bawa ya!” pinta Arumi pada Reno dan Arga.
“Biar Reno yang bawa! Dia kan langsung ke rumah sakit. Aku akan antar kamu ke kampus dulu.” Ujar Arga.
“Oke!” jawab Arumi dan Reno bersamaan. Mereka pun tertawa bersama mendengar jawaban keduanya yang kompak.
***
Usai makan Reno, Arga dan Arumi pun pamit pulang, Arga yang mengantar Arumi kembali ke kampus dan Reno melaju menuju rumah sakit. “Kamu gak praktik lagi?” tanya Arumi saat ia dan Arga sedang berada di mobil menuju kampus.
“Praktik nanti, ini kan sedang kosong dan aku sedang istirahat untuk sore ada operasi.” Jawab Arga dengan santai.
“Hmm..” gumam Arumi paham.
~Ting
Suara notifikasi dari hp Arumi membuat fokusnya teralih.
Bobi: Gimana Arumi? Naskah saya sudah di baca?
Arumi: Belum Bob! Mungkin nanti malam baru saya baca ya! Sorry sebelumnya.
Bobi: Santai saja Rum, saya saja yang sengaja ingin bertanya. Kalau gitu nanti malam kamu ada acara?
Arumi: Nanti malam?
Bobi: Ya nanti malam
Arumi: Saya tidak ada acara sih, kenapa?
Bobi: Kalau gitu mau makan malam bersama?
Arumi: Boleh!
Bobi: Kalau gitu sampai bertemu nanti malam jam 7 ya di depan kampus.
Arumi: Aku bawa mobil, ketemu di tempatnya saja langsung.
Bobi: Oke kalau giu di cafe pelangi ya! Nanti aku share loc.
Arumi: Oke
“Siapa?” tanya Arga saat melihat Arumi yang fokus dengan ponselnya.
“Alumni kampus, jadi tuh ada alumni 3tahun lalu yang dateng tadi pagi minta bantuan edit tulisannya gitu.” Jelas Arumi.
“Loh kok dia minta bantuan kamu? Bukannya kamu juga baru masuk kampus itu 3 tahun lalu ya?” tanya Arga bingung.
“Iya, jadi tuh dia liat chanel youtube kita tuh. Terus kan kemaren kita buat perkenalan singkat gitu kan, ya udah dia jadi tau kalau aku ngajar di kampus itu.” Jelas Arumi.
“Oh..” Arga hanya memanggutkan kepalanya pertanda ia mengerti.
“Mau mampir dulu?” tanya Arumi pada Arga yang sudah repot-repot mengantarnya menuju kampus.
“Boleh, aku parkir mobil dulu ya!” ujar Arga bersiap memarkirkan mobilnya.
“Kopi?” tanya Arumi menawarkan kopi untu Arga.
“Boleh!”
Arumi pun melangkah masuk menuju gedung kampus tempatnya mengajar. Sebelum itu ia mampir dahulu ke kantin kampus untuk memesan ice kopi untuknya dan Arga. Sedangkan Arga memarkirkan mobilnya di tempat yang mudah ia jangkau ketika ia harus segera menuju rumah sakit karena panggilan darurat.
Usai memarkirkan mobilnya, Arga pun melangkahkan kaki dengan santai menuju ruangan Arumi yang berada di lantai 6. Ia menaiki lift yang tersedia, banyak pasang mata yang melihatnya dengan wajah kagum. Wajahnya yang rupawan membuat para wanita tidak ingin mengalihkan pandangan mereka. di dalam lift pun Arga mendengar bisik-bisik para mahasiswa yang mengagumi ketampanannya. Sedang Arga hanya menebar senyum ramahnya pada setiap orang yang memandangnya kagum.
~Ting
Pintu lift terbuka dan menunjukan lantai yang Arga tuju. Ia pun turun dan mencari ruang dosen, ruangan kerja Arumi.
“Nah!” ujar Agra saat melihat tulisan Arumi Aerum Kim nama yan familiar menemani hidupnya dari kuliah hingga kini.
“Selamat siang bu!” sapa Arga saat ia sudah masuk ke ruangan Arumi.
“Kebiasaan tidak ketuk pintu!” ujar Arumi kesal.
Arga pun tersenyum lalu mengetuk pintu Arumi. “Terlambat! Nih.” sahut Arumi yang sudah duduk di kursinya dengan meminum minumannya dan menyerahkan kopi untuk Arga.
“Hmmm... enak!” Ujar Arga memuji kopi yang ia minum.
“Tentu saja! Aku yang membelinya!” puji Arumi pada dirinya sendiri.
“Ya... Ya.. Ya..”
“Tapi omong-omong apa Vino akan baik-baik saja?” tanya Arga pada Arumi.
“Tentu dia akan baik-baik saja! Lagi pula Vino sudah terbiasa sepertinya dengan aktivitasnya sekarang.” Sahut Arumi.
“Syukurlah kalau begitu!”
Usai menghabiskan kopinya Arga pun pamit pada Arumi karena ia harus bersiap unuk operasi pasiennya di sore hari. Sedangkan Arumi membuka naskah yang Bobi berikan padanya.
Arumi memanggutkan kepalanya seraya membaca dengan serius naskah di hadapannya. Ia cukup suka dengan cerita awal yang di suguhkan, beberapa kata Arumi coret dengan pulpen merah. Ia mengkoreksi typo pada huruf-huruf yang dalam naskah itu.
***
Malam harinya usai Arumi mengajar kelas terkhir, ia melajukan mobilnya ke tempat yang di sepakati bersama dengan Bobi. Makan malam kali ini bukan bersama teman-temannya namun makan malam pertama dengan Bobi. Mereka membahas naskah yang sudah sedikit Arumi coret-coret.
“Pada dasarnya sih saya suka dengan alur ceritanya, tapi disini ada penggunaan kata yang kurang tepat untuk di letakan di kalimat itu. Juga ada beberapa typo yang sudah saya koreksi.”
“Bagian mana yang kamu suka?” tanya Bobi dengan santai. Arumi yang mendengarnya pun merasa agak aneh.
“Bolehkan aku berbicara dengan santai?” tanya Bobi setelah ia melihat raut wajah Arumi yang merasa aneh karena mendengar Bobi berbicara santai dengannya.
“Ya silahkan.” Jawab Arumi dengan senyuman canggungnya.
“Jadi bagian mana?” Bobi mengulangi lagi pertanyaannya.
“Oh di bagian ini, bagian awal dimana kamu menggambarkan sosok lelaki ini.” Ujar Arumi dengan memperlihatkan bagian naskah yang ia suka dan memperlihatkan beberapa bagian yang ia coret.
Usai keduanya membicarakan tulisan naskah yang Bobi tunjukan pada Arumi, keduanya pun pulang ke rumah masing-masing dengan Arumi yang masih membawa naskah novel Bobi. Karena masih ada yang harus ia koreksi lagi.
“Hati-hati di jalan! Jangan lupa kabarin kalau sudah sampai ya!” Bobi memberi perhatian-perhatian kecil pada Arumi.
“Ya!” Arumi hanya mengiyakan perkataan Bobi saat itu.
***
Pagi ini matahari tak menampakkan dirinya, hanya awan gelap yang menghiasi langit. Arumi sudah rapi dengan setelan kemeja pink lengan panjang yang ia padukan dengan celana bahan lurus berwarna hitam dan heels tinggi 9cm yang senada dengan bajunya.
“Hari ini ngajar pagi nak?” tanya Aksaa yang sudah ada di meja makan bersama kedua adiknya dan sang mamah.
“Iya pah!” Jawab Arumi.
“Rumi, Papah mau bicara sebentar bisa?” tanya Arka.
“Iya Pah kenapa?” tanya Arumi.
“Bagaimana jika kita pindah lagi ke Korea?” tanya Arka minta pendapat pada Putri pertamanya itu.
“Kenapa Pah?” tanya Arumi bingung.
“Halmeoni kan sudah tua, jika sendirian di rumah juga kasihan. Sejak setahun lalu Harabeoji meninggal, Halmeoni sendirian di rumah sana. Sepupu-sepupumu juga sudah tinggal di rumah mereka sendiri. Samchon dan Komo (Paman dan Bibi) kalian pun akan pindah ke Jeju.” Jelas Arka pada sang Putri.
“Aku terserah sama papah dan mamah saja, tapi unuk saat ini aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku disini Pah.” Ujar Arumi menyerahkan kembali pada sang Papah.
“Karena itu Papah minta tanggapanmu nak. Papah dan Mamah sudah bicara, kami pun akan mengikuti keputusanmu dan Aksa karena kalian yang sudah bekerja. Terutama Arumi sebagai anak pertama, agar dapat andil untuk berpendapat. Dan juga adikmu Ara yang masih sekolah.” Jelas Aksa pada ketiga anak-anaknya untuk dapat memberikan pendapat mereka tentang kepergiannya ke Korea.
“Aku mau Pah!” Ara menyahuti perkataan Aksa dan Arumi dengan semangat.
“Tidak bisa seperti itu, bagaimana dengan sekolahmu? Kamu sudah kelas 3 SMA, gak bisa gitu saja keluar.” Yannie menyahuti Ara. Ara pun pasrah dengan penolakan telak dari kedua orang tuanya.
“Kalau gitu, Mamah dan Papah saja yang ke Korea. Aku akan menjaga kakak dan Ara di rumah. Gimana?” usul Aksa pada kedua orang tuanya yang kebingungan jika harus meninggalkan ia dan kedua saudaranya atau menjaga orang tua sang ayah di negara Korea.
“Uhh... adikku sudah besar ternyata.” Ujar Arumi meledek Aksa yang mengutarakan pendapatnya.
“Jelas!” bangga Aksa pada dirinya sendiri dengan membusungkan dadanya.
“Kalian tidak apa-apa kami tinggal?” tanya Yannie agak ragu dengan ide sang anak.
“Kami sudah dewasa Mah! Hanya kurang dari 1 tahun Ara akan lulus dari sekolahnya. Kami juga bisa menyusul kalian nanti setelah Ara selesai. Jadi jangan khawatirkan kami Mah!” ujar Arumi menenangkan Yannie yang masih tidak percaya dengan anak-anaknya.
“Tetap saja seberapapun dewasanya kalian, kalian tetap anak-anak bagi Mamah.” Sahut Yannie pada anak pertamanya itu.
“Ahhh Mamah!” Ara bermanja-manja di lengan sang mamah.
“Aku sudah katakan tadi, Mamah dan Papah tidak perlu khawatir. Aku dan adik-adik sudah dewasa, InsyaaAllah kami akan bisa jaga diri kami Mah, Pah. Lagi pula ini sudah saatnya kalian juga memanjakan diri kalian berdua. Toh Mamah dan Papah disana juga kan untuk ikut serta menjaga Halmeonni. Dapet pahala kan!” jelas Arumi seraya tersenyum menghibur kedua orang tuanya yang bimbang.
“Ahh aku terlambat! Aku berangkat ya Mah, Pah. Keputusanku tetap ya! Kita ketemu nanti malam lagi. Assalamualaikum.” Melihat jam di tangannya Arumi pun bergegas bangkit dari duduknya dan mencium kedua orang tuanya dengan sayang. Ia berangkat terburu-buru karena ada kelas pagi, jika tidak buru-buru maka ia akan terjebak macet.
“Hati-hati nak!” Arka memperingatkan Putrinya agar tetap berhati-hati walau terburu-buru.
***
Setibanya Arumi di kampus, ia pun langsung masuk ke kelas yang ia ajar. Arumi adalah tipe orang yang disiplin terhadap waktu. Ia tidak ingin mahasiswanya terlambat, maka ia pun tidak akan datang terlambat. Begitulah prinsip Arumi dalam mendidik mahasiswanya.
Usai memberikan materi kuliah hari itu, Arumi pun melangkah menuju ruangannya. Di depan ruangannya ternyata sudah ada Bobi yang sudah menenteng paper bag di tangannya.
“Hay!” sapa Bobi ketika Arumi menghampirinya.
“Hay!” Arumi dengan ramah menyambut kedatangan Bobi.
“Ada apa?” tanya Arumi.
“Ini aku mau kasih kamu.” Bobi memberikan paper bag di tangannya pada Arumi.
“Apa ini?” tanya Arumi ingin tau dan mengintip isi paper bag yang di berikan Bobi.
“Buku untuk kamu baca, mungkin bisa jadi referensi kamu mengajar.” Jawab Bobi dengan tulus.
“Ya ampun, repot-repot banget. Thanks ya!” Arumi dengan tulus mengucapkan rasa terimakasihnya pada Bobi.
“Sama-sama, aku pamit kalau gitu ya!” ujar Bobi pamit seraya melambaikan tangannya.
“Loh buru-buru banget? Gak masuk dulu?” tanya Arumi.
“Gak usah, ganggu kamu nanti. Aku juga harus bertemu klien.”
“Makasih ya sekali lagi!” ujar Arumi tulus seraya mengangkat paper bag yang diberikan Bobi padanya.
“Sama-sama, bye!” Bobi melambaikan tangannya seraya menjauh dari Arumi.
Sepulannya Bobi, Arumi pun masuk ke ruangannya sebelum ia kembali ke aktivitasnya. Ia membuka paper bag yang Bobi berikan sebelumnya. “Hmm bagus juga pilihan bukunya!” Arumi melihat-lihat sekilas isi buku yang diberikan Bobi padanya.
Dari semua buku yang di berikan Bobi, ada setangkai bunga mawar putih di dalam paper bag itu. Arumi tersenyum haru melihat setangkai bunga yang Bobi taruh di antara buku-buku yang ia berikan.
~Ting
Ponsel Arumi berdering menandakan pesan masuk.
Bobi: Have a nice day. Semoga suka dengan buku dan bunganya. Lain kali akan aku berikan yang lebih banyak dan bagus.
Arumi tersenyum senang karena surprise yang Bobi berikan padanya. Ia pun membalas pesan Bobi dengan senang mengucapkan terimakasih.
Hari itu penuh kejutan yang Arumi terima, dimulai dari berita sang Ayah yang ingin mereka pindah negara lain, sampai Bobi yang tiba-tiba datang ke kampus hanya untuk memberikannya bunga dan buku. Kini Arumi sedang bersama teman-temannya di resto milik Ayu dan Vino.
“Ya! Udahan kali hp nya.” Ujar Arumi saat ia baru saja sampai di resto.
“Entah kenapa Okto jadi lebih sering memegang hp.” Keluh Ayu.
“Aku yakin dia sedang memacari seseorang!” ujar Ayu.
“Bagaimana kamu tau?” tanya Okto tiba-tiba kaget mendengar tebakan Ayu.
“Benar? Siapa?” tanya Ayu ingin tau.
“Aku stop!” ujar Okto menghentikan aktivitasnya memegang ponselnya dan menaruhnya di meja.
“Coba siapa cewek barumu!” ujar Arga mencoba mengambil hp Okto namun berhasil di rebut kembali oleh Vino.
“Jangan deh udeh makan saja ayo!” sahut Okto.
“Perempuan mana yang mau dengan playboy sepertimu?” Okto langsung menoleh pada Arga yangmenuduhnya playboy.
“Orang boleh memanggilku playboy, tapi kau jangan. Aku bukan playboy!” ujar Okto yang duduk mendekat dan menggandeng lengan Arga agar dapat pengakuan bahwa dia bukan seorang playboy.
“Lepaskan tanganmu dariku!” ujar Arga dengan ketus dan wajah datar.
Keenamnya tertawa melihat tingkah Okto dan Arga yang konyol karena sebuah Hp dan seorang yang dipacari Okto. Usai dengan ribut-ribut kecil mereka, Arumi dan teman-temannya pulang setelah mereka usai makan.
Arumi pulang sampai rumah pukul 10 malam. Yannie yang masih menunggu Putrinya yang masih belum pulang di ruang keluarga. Ia ketiduran di sofa tanpa sadar hingga Arumi pulang. Arumi yang melihat sang Mamah yang tertidur di sofa pun membangunkannya dengan perlahan.
“Mah.. bangun Mah! Aku sudah pulang, tidur di kamar yuk.”
“Hmm.. sudah pulang nak?” Tanya Yannie menegaskan.
“Iya Mah, ayuk tidur di kamar ya!” ujar Arumi menyuruh sang Mamah untuk pindah ke kamar.
“Iya, kamu juga ya mandi lalu istirahat.” Ujar Yannie pada sang Putri.
“Iya Mah.”
Arumi mengantar sang mamah sampai pintu kamarnya lalu ia pun melangkah menuju kamarnya sendiri untuk bebersih diri dan istrirahat. Esok hari adalah hari sabtu, ia tidak harus ke kampus karena tidak ada kelas di hari sabtu.
***
Pagi hari pun tiba, Arumi dan keluarga sedang duduk di ruang keluarga. “Ara mana?” Arumi bertanya ke Akra.
“Belajar kak, sarapannya juga di kamar tadi.” Jawab Arka.
“Tumben..” ujar Arumi kagum dengan semangat belajar sang adik.
“Dia ada TO senin besok kak, jadi belajar.” Sahut Arka.
“Ya ampun, kirain mah beneran belajar. Gak taunya karena mau TO.”
“Biarkan saja, dia lagi rajin.” Ujar Yannie.
“Oke, So Mamah dan Papah keputusannya bagaimana?”
“Mamahmu masih belum bisa meninggalkan kalian bertiga di rumah. Apa kalian akan baik-baik saja nanti?” jawab Aksa
“Gak usah khawatir Mah, ada Tuhan yang menjaga kita disini. Jika Mamah mengkhawatirkan anak-anak Mamah berlebih nanti kami tidak akan dewasa.” Ujar Arumi.
“Baiklah, Mamah percaya dengan kalian. Tapi tetap, Mamah hanyalah seorang ibu yang khawatir dengan anak-anaknya. Terlebih Mamah kan perginya bukan hanya keluar Jakarta saja. Ini Korea, yang jaraknya tidak dekat nak.” Ujar Yannie dengan kekhawatirannya meninggalkan ketiga anak dewasanya sendiri di rumah.
“Kalau gitu serahkan padaku, aku akan jaga adik-adik dengan baik Mah. Mamah juga kan bisa menghubungi kami kapanpun Mamah kangen kami. Lagi juga zaman sudah canggih Mamah sayang. Kita bisa vidio call bersama.” Sahut Arumi panjang lebar.
“Kalau gitu gak apa-apa ya Mah. Anak-anak sudah dewasa, minggu depan kita bisa ya meninggalkan anak-anak?” tanya Aksa.
“Papah sudah beli tiket?” tanya Arumi.
“Belum!” jawab Aksa.
“Ya sudah kalau begitu biar aku yang pesankan untuk minggu depan ya?” tanya Arumi.
“Boleh..”
“Kalau gitu bagaimana kalau kita shoppin Mah hari ini?” Arumi mengajak sang Mamah untuk shopping bersama.
“Buat apa?” tanya Yannie.
“Ya kan Mamah dan Papah butuh baju untuk disana. Kita beli untuk persiapan musim dingin saja, agar Mamah dan Papah tidak kedinginan disana. Gimana?” tanya Arumi minta pendapat sang mamah.
“Ya sudah kalau gitu, ajak Ara juga.” Sahut Yannie.
“Oke!” Arumi pun bergegas berganti baju dan memanggil adiknya Ara untuk ikut serta pergi bersama dengannya dan sang Mamah.
Di mall ketiganya langsung menuju toko-toko sport untuk membeli beberapa jaket tebal. Bolak balik keluar masuk toko-toko untuk membeli shal, sepatu, sarung tangan, dan membeli beberapa multivitamin untuk Yannie, Aksa dan juga sang nenek yang berada jauh di Korea. Usai puas berbelanja, Arumi, Ara dan Yannie pun masuk ke sebuah restoran Jepang untuk makan sushi.
“Kalian baik-baik saat Mamah tinggal ya!” nasihat Yannie pada kedua anaknya.
“Iya mah tenang saja!” jawab Ara dengan nada meyakinkan.
“Kamu juga jangan pulang malam-malam Rumi. Kasihan kedua adikmu jika kamu pulang malam.”
“Siap mah, Mamah jangan khawatir. Adik-adik akan baik-baik saja bersama aku.” Arumi tersenyum meyakinkan sang Mamah bahwa ia akan baik-baik saja bersama sang adik bertiga di rumah.
***
Akhirnya satu minggu sudah berlalu, kini Arumi, Aksa dan Ara sudah bersama kedua orang tuanya di bandara. Mereka mengantar kepergian Aksa dan Yannie bersama-sama.
“Baik-baik kalian ya sayang.” Yannie memeluk ketiga anaknya secara bergantian.
“Iya Mah! Mamah juga baik-baik disana. Salam untuk Halmeonni.” Ujar Arumi.
Wajah Yannie masih tetap menunjukan rasa khawatirnya melepas ketiga anaknya di rumah tanpa ia dan Kim. Sedangkan Arumi dan kedua adiknya melepas kepergian kedua orang tuanya dengan wajah tersenyum agar kedua orang tua mereka tidak terlalu khawatir.
“Sesekali juga tengok restoran ya!” Aksa mengamanahkan Restorannya pada Arka dan Arumi.
“Oke!” jawab Arka.
“Hubungi kami jika sudah sampai ya Pah!” pinta Arumi.
Usai mengantar Kim dan Yannie, Arka melajukan mobilnya menuju ke rumah dengan Ara dan Arumi yang sudah duduk nyaman di kursi penumpang. Arumi dan kedua adiknya sangat dekat. Ia jarang bertengkar untuk hal-hal yang tidak penting, namun tidak di pungkiri hubungan kakak beradik di antara ketiganya pun pasti ada pertengkaran kecil. Itu semua yang menjadikan ketiganya dewasa dan saling bergantung sama lain.