Chapter 10 Rumah Baru Vino

3521 Kata
Pagi hari yang cerah dengan langit biru yang indah dan matahari yang memencarkan cahaya yang begitu terang, awan-awan membentuk gumpalan putih yang indah di pandang. Hari ini hari bersejarah bagi Vino dan Okto. Mereka menyiapkan diri untuk rapat direksi para pemegang saham di perhotelan yang di bangun Wiranatta, Ayah Okto. Okto memperkenalkan Vino sebagai pimpinanbaru perusahaan itu. Vino pun dengan karismanya membuat para dewan di resksi perhotelan memandangnya hormat. Sekretaris yang dulunya melayani Wiranatta, kini menjadi sekretaris Vino dan mengarahkan Vino apa saja yang harus ia tau. “Aku serahkan semua padamu!” Okto menepuk pundak Vino layaknya lelaki yang menyerahkan tanggung jawabnya pada orang yang ia percaya dengan gentle. Vino hanya menganggukan kepala dengan yakin. Dengan setelan jas hitam rapi dan berdasi, Vino memulai hari barunya sebagai seorang pimpinan dari kerajaan bisnis perhotelan keluarga Okto. Hotel itu masih dinamakan Wiranatta Hotel and resort, Vino akan tetap menggunakan nama Ayah Okto sebagai nama Hotelnya. Karena walau bagaimanapun itu memang Hotel milik keluarga Okto. Beban besar kini berpindah ke pundah Vino. Untuk sesaat Okto merasa lega dengan pilihannya. Karena ia tau temannya itu dapat di andalkan dan dapat di percaya. Okto tersenyum meninggalkan Vino di ruangan kerjanya setelah ia mengadakan rapat direksi. Ia melangkahkan kakinya dengan ringan menuju ke rumah sakit. Di dalam ruangan Vino masih terpaku di meja kerjanya. Ia masih tidak percaya dengan pilihannya untuk memimpin hotel peninggalan Wiranatta. “Tuan, mari saya antar berkeliling!” ujar sekretaris pribadinya. “Tuan!” Sekretarisnya memanggil Vino untuk yang ke dua kalinya hingga Vino sadar dari lamunannya. “Ya kenapa pak?” tanya Vino pada sekretaris barunya, Pak Rafi. “Mari saya antar anda berkeliling.” Pak Rafi menemani Vino berkeliling. Ia juga sudah menyiapkan pertemuan para pegawai di ruang aula hotel agar mereka dapat mengenal Vino dengan baik. “Mari Tuan silahkan masuk, para pegawai sudah berad di dalam.” Ujar Pak Rafi. “Baiklah!” Vino melangkah masuk ke dalam aula yang sudah banyak orang yang menunggunya di dalam. Selangkah demi selangkah, Vino naik ke mimbar di aula hotel agar para karyawan darpat melihatnya. “Selamat pagi semua!” Vino memberisalam pada semua karyawannya. Dengan serempak semua karyawan memberisalam pada Vino. “Perkenalkan nama saya Vino Sebastian, kalian bisa panggil saya Vino. Saya yang akan meneruskan kepemimpinan dari bapak Wiranatta. Saya harap kita dapat bekerjasama dengan baik.” Vino memberikan sambutan singkatnya pada semua karyawannya. Para karyawan mendengarkan Vino dengan baik, respon yang mereka tunjukan terhadap Vino pun baik. Hingga Vino yang melihatnya pun turut senang dan merasa lega. Senyum di wajahnya memancarkan keramahan dia terhadap para karyawannya, namun ia tetap menunjukan bahwa ia adalah orang yang tegas dalam bekerja. Usai memberikan sambutannya pada para karyawan, Vino turun dari podium dan kembali berkeliling bersama Pak Rafi seraya mereka berjalan menuju kantor Vino yang berada di lantai paling atas. Vino sesampainya di ruangan, Vino pun langsung mengutarakan gagasannya untuk mengubah beberapa konsep di hotel. Ia pun sudah mendiskusikannya dengan Okto dan Okto menyerahkan sepenuhnya urusan hotel pada Vino. Akhirnya Vino pun memesan seragam baru bagi para karyawannya agar terlihat lebih elegant dan modis, ia pun menambah beberapa fasilitas hotel seperti spa untuk anak-anak dan taman bermain anak. Vino meminta manager agar mempersiapkan semuanya dan mencari orang terbaik untuk mengurusnya. Karena Wiranatta Hotel adalah hotel yang di peruntukan untuk kelas menengah keatas hingga Vino memikirkan fasilitas yang baik juga, agar para pengunjung tidak kecewa. Hari demi hari Vino bekerja di hotel Wiranatta, tampilan hotel pun berubah. Di lobby hotel banyak tanaman-tanaman hias yang indah, agar ketika orang masuk pun mereka jadi merasa nyaman dan tidak sesak karena hanya melihat orang yang berlalu-lalang. Perlahan Vino mengubah gaya hotel menjadi tampilan yang lebih segar. Bukan hanya hotel yang harus di kelola oleh Vino, namun juga resort di luar kota yang di buka sebagai cabang dari hotel Wiranatta pun harus di kelola oleh Vino. Sehingga dalam sebulan full Vino benar-benar mendedikasikan dirinya untuk resort dan hotel milik keluarga Wiratama. Selama satu bulan pula Vino tidak ikut serta gabung dengan teman-temannya di basecamp. Vlog yang mereka buat hanya di isi dengan keseharian yang mereka lakukan dan kolaborasi dengan beberapa youtuber lain juga. Ia pergi keluar kota dan mendisaign ulang resortnya agar para tamu dapat menikmati liburan nyaman mereka dengan nyaman. Vino membuat mini zoo juga di resort itu agar keluarga yang datang bersama dengan anak-anaknya dapat melihat dan bermain bersama dengan hewan-hewan. Ia menyelamatkan beberapa hewan yang ia lihat di pasar ketika ia sedang dinas bertemu dengan kliennya. Monyet, kelinci dan bururng-burung yang di jual belikan di pasar bebas ia beli dan ia rawat di dokter hewan. Ia berikan vitamin dan makan yang cukup agar hewan-hewan itu dapat hidup dengan baik. Dengan berusaha keras Vino memberikan yang terbaik unuk resort dan hotel yang ia kelola. Ia sendiri yang mengunjungi tempat konservasi hewan agar dapat mengadopsi hewan-hewan itu dan di kembang biakan juga disana. Ia menyewa beberapa kepper untuk merawat para hewan dengan baik agar dapat menjadi tempat edukasi bagi anak-anak juga tempat orang-orang dapat melihat hewan-hewan. Vino tidak pulang ke rumah sudah 2 minggu. Selama 2 minggu itu pula ia habiskan untuk berkeliling resort yang berada di luar kota, tepatnya di daerah Yogyakarta. Ia bawa hewan-hewan yang ia beli dari Jakarta menuju Yogyakarta. Banyak hal yang membuat Vino masih tertahan di Yogya dan meninggalkan anak-anak dan istrinya di Jakarta. “Kita kembali ke Jakarta besok ya pak!” Vino memerintahkan Sekretarisnya untuk mengatur kepulangannya ke Jakarta. “Baik Tuan!” Pak Rafi pamit dari hadapan Vino untuk mengurus kepulangan mereka ke Jakarta. Vino sudah menyelesaikan beberapa tahap di resort. Sudah waktunya ia pulang ke Jakarta untuk mengurus hal lain yang berada di Jakarta. Resort ia serahkan pada manager yang bertugas di sana untuk penyelesaian tahap akhir renovasi resort. *** Hari sudah mulai malam, Vino baru saja turun dari pesawat dan melangkah keluar bandara. “Hoy!” Okto meneriaki Vino yang berjalan dengan fokus pada ponselnya. Vino kanget juga senang karena Okto, Reno dan Arga menjemputnya di bandara. Para lelaki itu saling berpelukan melepas kangennya satu sama lain. “Nice to meet you bro!” Reno memeluk hangat Vino. “Gila! Kangen banget aku sama kalian semua!” ujar Vino masih dengan wajahnya yang bahagia. “Lama banget sampenya! Kaya nunggu presiden anjir”. Keluh Okto saat temannya itu mengubah jam kepulangannya jadi malam hari. Ia sudah menunggu Vino dari pagi karena dapat kabar ia akan pulang di pagi hari. Namun di undur karena Vino yang memintanya karena masih ada berkas yang harus ia tanda tangani. “k*****t, ini kan karena kamu juga!” sahut Vino tidak kalah keras. “Udeh sih ah, kalian sudah pada bangkotan juga masih saja main keras-kerasan suara.” Arga melerai teman-temannya yang saling meninggikan suara. Okto, Vino, Arga dan Reno pun melaju menuju rumah Vino. “Makan dulu kali yuk, aku lapar!” ujar Vino meminta berhenti di resto terdekat untuk makan. “Gak usah! Kita bakal ke resto paling enak kok! Sabar aja.” Sahut Okto masih dengan sikap juteknya. Arga melajukan mobilnya menuju rumah Vino. Vino yang merasa kenal dengan jalur mobil Arga melaju adalah rumah Okto. “Ngapain kalian bawa aku ke rumah Okto?” tanya Vino bingung. “Ngapain juga bawa kamu ke rumahku? Gak penting banget!” sahut Okto kecut. “Lah ini kan arah rumahmu!” Vino tambah bingung dengan jawaban Okto namun laju mobil terus mengarah ke rumah Okto. “Udah deh diam saja!” Reno menghentikan kecerewetan Vino yang terus bertanya kenapa mereka melaju menuju daerah rumah Okto. Namun Vino tambah di buat bingung karena rumah Okto dilewati begitu saja oleh Arga. “Mau kemana sih?” tanya Vino lagi. Ia merasa dirinya sedang di kerjai oleh teman-temannya. “Nah kita sampai!” Arga memarkirkan mobilnya di halaman rumah besar yang sudah berjejer mobil Reno dan mobil Vino disana. Vino pun semakin penasaran dengan rumah yang ada di hadapannya. “Papah...” Gia dan Gio keluar dari rumah dan menubruk Vino yang baru saja keluar dari mobil. “Anak-anak Papah, ya ampun Papah kangen bangen sama kalian”. Vino memeluk dan menggndong kedua anak kembarnya itu. “Ayah!” Putri pun tidak mau kalah. Ia lari dan menghampiri Arga dan memeluknya erat. “Udah yuk masuk!” Ajak Okto pada semua teman-temannya. Rumah besar yang mereka datang malam itu adalah rumah baru Vino yang sengaja di berikan Okto untuk Vino dan keluarganya. Sedangkan rumah mereka sebelumnya di jual oleh Ayu untuk membeli restoran yang mereka sewa selama ini. Okto sengaja memberikan rumah untuk Vino dan keluarga, karena sebagai pimpinan dari hotel dan resort Wiranattama Vino berhak atas rumah ini sebagai rumah dinasnya. “Sumpah! Thanks banget bro!” Vino memeluk Okto dengan erat sebagai rasa terimakasihnya. “Iye sama-sama.” Jawab Okto dengan tulus. Vino tidak menyangka kepergiannya untuk dinas ternyata memberikan kesempatan bagi teman-temannya untuk memberikan ia kejutan. Vino senang sekali karena walau ia keluar kota, keluarganya dalam keadaan baik dan sehat. Teman-temannya selalu menemani keluarganya di Jakarta selama ia di Yogyakarta. Malam itu semua menikmati makan malam yang di buatkan Ayu dan Arumi di rumah baru Vino sebagai perayaan untuk Ayu dan Vino. *** Hari ini adalah hari minggu, hari dimana Arumi dan teman-temannya sama-sama tidak ada kesibukan. Setelah malam tadi mereka merayakan rumah baru Vino, kini mereka semua sedang sarapan bersama. Arumi dan teman-temannya sengaja menginap di rumah Vino semalaman karena hari ini adalah hari minggu. Mereka semua sengaja meluangkan waktu di akhir pekan agar semua dapat berkumpul dan melakukan kegiatan bersama. Bahkan hari ini Arumi dan teman-temannya sengaja ingin berkumpul di basecamp seraya membawa anak-anak untuk tau dan belajar apa yang orang tua dan teman dari orang tuanya lakukan. “Jam berapa kita ke basecamp?” tanya Arga pada semua teman-temannya. “Gak usah buru-burulah, toh kita hanya akan bermain-main dan mengajarkan anak-anak musik.” Tutur Ayu menjawab pertanyaan Arga. “Adikku tiba-tiba ingin datang, kangen dengan Putri katanya. Jadi sepertinya siang nanti aku akan pulang lebih dulu.” Ujar Arga memberi pengertian pada teman-temannya. “Adik? Bukannya kamu anak pertama?” tanya Okto. “Ngaco! Aku anak pertama!” sahut Arga dengan mata melotot. “Iyakah?” ujar Okto masih bingung. “Hah sudahlah!” ujar Arga pasrah. “Ajak saja Gita ke basecamp, kamu tinggal shareloc.” Arumi memberikan sarannya pada Arga. “Benar tuh kata Arumi.” Vino membenarkan. “Gita siapa?” tanya Okto lagi. “Gita adikku, Argita Darmawan Putri.” Jelas Arga. “Bukan adikmu laki-laki.” Sahut Okto lagi. “Kamu mau aku pukul ya?” Arga mulai kesal dengan pertanyaan-pertanyaan Okto saat itu. “Ya! Aku ada panggilan, aku harus pergi!” ujar Okto pada semua teman-temannya. “Yaa! Terus gimana basecamp?” tanya Arumi kesal. “Kalian duluan saja! Aku akan kesana setelah semua selesai.” Teriak Okto seraya berlari terburu-buru menuju rumah sakit menggunakan taxi. Okto tiba-tiba ada panggilan darurat, akhirnya hanya tersisa Arumi, Arga, Reno, Ayu dan juga Vino serta anak-anak Arga dan Vino. Mereka semua mengikuti rencana awal untuk berangkat menuju Basecamp pukul 11 siang. *** Di rumah sakit, Okto segera berlari menuju UGD saat sampai dan keluar dari taxi. Ia memeriksa pasien yang ada riwayat operasi jantung dan kini masuk rumah sakit karena kecelakaan. Saat selesai memeriksa pasien, ia melihat data pasien untuk melihat riwayat penyakitnya. Saat melihat namanya Okto familiar dengan nama pasien. Ia kembali ke ranjang pasien dan melihat ada kartu pers atas nama Argita Darmawan Putri. Nama yang tidak pernah ia lihat namun ia seperti pernah mendengar nama itu. Okto berfikir keras dan menemukan jawabannya. Ia adalah adik yang dikatakan Arga saat mereka makan bersama di rumah Vino. Okto memeriksa Argita dengan baik dan memindahkannya ke ruang rawat pasien VIP. Ia membelikan makan dan menyuruh bagian administrasi untuk mengabari Arga, selaku kakak dari Argita. “Ya Allah de! Aku menyuruhmu datang ke basecampku, kenapa malah berakhir disini?” ujar Arga pada sang adik yang sedang makan dengan asik di ranjang ruang rawatnya. Ia meninggalkan anaknya bersama teman-temannya di basecamp dan pergi menuju rumah sakit menggunakan taxi. Sesampainya di rumah sakit, ia langsung berlari menuju ruang rawat sang adik setelah sebelumnya sudah di beritahukan oleh suster ruang rawatnya. “Aku tidak tau jika akan berakhir disini! Jangan beritahu papah dan mamah ya, nanti mereka khawatir!” sahut Gita pada sang kakak. “Kak, teman kakak mahir sekali merawat pasiennya.” Ujar Gita memuji Okto. “Dia yang terbaik dibidang ini! Kamu ini, sekali lagi buat aku jantungan, awas saja kamu!” ujar Arga mengancam adiknya. Ia berkata seperti itu karena ia sangat khawatir dengan adik satu-satunya itu. “Kakak tau rasanya sakit jantung?” tanya Gita dengan senyum kecut di wajahnya. “Kamu ini!” Arga memelototi adiknya yang susah sekali menurut. “Iya..iya maaf!” Gita pun meneruskan makannya dengan lahap. Di akhir perdebatan keduanya, Okto datang ke kamar Gita saat itu. “Lihat, ini sudah kesekian kalinya dokterku datang.” Gita memuji Okto yang datang untuk kesekian kalinya hanya untuk melihat dan memberikan minum pada Gita. Arga yang melihat Okto datang pun tersenyum senang karena adiknya di tangani oleh seorang dokter yang ia kenal. “Terimakasih dokter telah menjaga adik kandung saya yang badung ini.” “Ya ya ya..” Okto menanggapinya dengan enggan. “Kenalkan dokter ini adalah kakakku yang juga berprofesi sebagai dokter dan ia sangat tidak jelas, kakakku dan dingin.” Gita memperkenalkan kakaknya pada Okto yang sudah ia ketahui betul sifatnya. “Ya begitulah kakakmu!” Okto hanya menanggapinya dengan senyum mengejek pada Arga. Arga dan Okto pun duduk di sofa yang ada di dalam ruang rawat VIP tempat Gita di rawat. Keadaan Gita sudah membaik, ia hanya luka-luka kecil karena terserempet dan shock. Untunglah tidak ada yang buruk terjadi dengan jantung Gita. “Lain kali jaga dirimu baik-baik, kamu ini seperti baru saja berjalan-jalan di Jakarta.” Ujar Arga dengan kesal. “Iya kak, iya! Aku sudah cukup dewasa untuk mengurus diriku sendiri.” Sahut Gita yang kesal dengan sang kakak karena memarahinya terus. Sedang Okto hanya memperhatikan mereka dengan menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa renyah melihat kedua kakak beradik yang saling beradu mulut. “Kapan dia boleh pulang dokter?” tanya Arga pada Okto. “Akan pulang kemana dia jika sudah pulang?” tanya Okto. “Gita akan tinggal denganku untuk sementara. Dia akan bekerja di salah satu TV di sini mulai minggu depan.” Jelas Arga. “Wow keren dong!” puji Okto dengan tulus. “Aku memang keren kak, tak ada wartawan keren spertiku.” Sahut Gita memuji dirinya sendiri. “Jangan bergurau Argita! Kau tidak sama sekali keren.” Arga mengeluhkan pujian untuk sang adik. “Kakak selalu menyembunyikan perasaan kakak padaku! Yakan?” Gita mengejek sang kakak. “Tidak sama sekali adik! Kamu cukup percaya diri dengan ungkapanmu itu ya! Aku selalu jujur dengan perasaanku.” Sahut Arga tidak mau kalah. “Uhhh masa sih? Mamah cerita padaku kalau kamu orang yang paling senang mempunyai adik perempuan sepertiku. Secara umur kita jaraknya jauh.” Gita membongkar apa yang ia ketahui dari sang mamah. “Oh my god, mamah sangat membesarkan semuanya. Aku tidak pernah bersemangat mempunyai adik tuh! Justru aku ingin adik laki-laki, yang keluar adalah kau! Itu membuatku kesal.” “Iya kak, aku sangat menyanyangimu!” Gita menyambut baik perasaan sang kakak padanya. “Aku pun menyayangimu!” Arga juga menyambut baik rasa sayang Gita padanya. Okto tersenyum hangat mendengar kakak dan adik itu saling mengungkapkan rasa sayangnya hanya dari sebuah pertengkaran. Kini ia merasa mengagumi sosok Arga dan Argita. Keduanya memiliki sifat yang sama dan membuat Okto senang menyambutnya. “Temanku akan datang, kalian keluarlah!” Gita mengusir kakak dan temannya itu untuk keluar dari ruang rawatnya begitu saja karena temannya akan datang menjenguk. “Kamu mengusirku?” tanya Arga dengan wajah heran. “Yaps!” “Dasar adik tidak tahu terimakasih ya!” ujar Arga masih dengan wajah bingungnya. “Ya.. Ya.. Sudahlah! Teman-teman yang lain sudah menjemput di depan rumah sakit. Ayo jalan!” Okto pun menyeret Arga untuk ikut dengannya keluar rumah sakit karena Arumi dan yang lain sudah menunggu mereka bersama dengan anak Arga. Arga dan Okto pun keluar dari rumah sakit untuk menemui teman-temannya dan juga Putri, anak Arga. “Cepatlah!” Arumi membuka jendela mobil dan meneriaki Arga dan Okto untuk segera masuk ke dalam mobil. “Kenapa anak-anak tidak memakai carseat?” tanya Arga karena melihat Putrinya tidur di pangkuan Arumi dengan nyaman. “Lalu kalian duduk dimana? Jangan memperlama, masuk dan duduk saja!” ujar Ayu dengan ketus pada Arga dan Okto. “Sini Putri sama aku!” ucap Arga. “Gak usah, nanti kamu membangunkannya. Kasihan! Biar di bangunkan nanti saja jika sudah sampai tempat makan.” Arumi menolaknya dengan baik agar tidak menyinggung Arga. “Oke!” Arga menyetujui saran Arumi dengan baik. Keenamnya pun melaju menuju restoran sushi yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Karena membawa anak-anak, mereka pun sudah mereservasi tempat agar lebih privasi dan nyaman untuk anak-anak mereka. *** Hari ini adalah hari dimana Argita akan pulang dari rumah sakit. Arga sudah datang ke rumah sakit sejak pagi, sedangkan Putri sudah ia titipkan di sekolahnya. “Ayo pulang!” ujar Arga pada sang adik. “Ayo!” Gita menggandeng lengan sang kakak seraya bermanja-manja. “Kamu sudah dewasa ya dek!” ujar Arga pada sang adik agar Gita melepaskan gandengan dari lengannya. “Sesekali aku pun ingin seperti ini!” ujar Gita dengan senyuman penuh makna. “Ya terserah kamu! Kamu pulang saja duluan, rumahku sudah aku kirimkan share lokasinya kan! Nanti jemput keponakanmu di sekolah bersama dengan bi Mirna.” Arga menyuruh adiknya dengan penuh penekanan. “Kakak tidak ingin mengantarku?” tanya Gita dengan nada manjanya. “No!” Akhirnya Gita pun mengikuti perintah sang kakak untuk pulang lebih dulu ke rumahnya dan mendapat tugas ekstra untuk menjemput keponakan tercintanya. Sedangkan Arga kembali ke ruangannya untuk mulai memeriksa pasiennya. “Ada berapa antrian?” tanya Arga pada suster jaganya. “Hanya ada 2 orang dok! Nanti sore ada operasi tlanpantasi hati.” ujar suster pada Arga. “Oke, 15 menit lagi kita mulai ya!” Arga pun menyiapkan dirinya. Ia memakai jas putihnya dan membereskan mejanya agar terlihat rapi. “Adikmu sudah pulang?” tanya Okto saat masuk ke ruangan praktik Arga. “Sudah! Keluar sana, pasienku sudah menunggu!” ujar Arga mengusir Okto yang tidak berkepentingan datang ke ruangannya. Arga pun memulai pekerjaannya dengan memeriksa pasien pertama yang datang. Sedangkan Okto keluar dari ruangan Arga dan memulai pekerjaannya sendiri. Di lain tempat Arumi sudah sampai di kampusnya. Beberapa mahasiswa memberi salam padanya saat ia melewati koridor menuju ruangannya. Dengan senyum ramahnya ia pun membalas sapaan para mahasiswanya. “Permisi bu!” seseorang mengetuk pintu ruangannya. “Ya! Silahkan duduk.” Arumi pun menyambut mahasiswa itu dengan baik dan mempersilahkannya duduk di hadapan Arumi. “Terimakasih bu! Saya mau menyerahkan tulisan saya bu, bisakah ibu membantu saya untuk memberi saran?” tanya sang mahasiswa seraya duduk di kursi dihadapan Arumi. “Tulisan? Coba saya lihat!” Arumi mengulurkan tangannya untuk menerima tulisan dari lelaki dihadapannya yang ia kira adalah seorang mahasiswa dari jurusannya. “Baiklah akan saya tinjau, siapa namamu?” tanya Arumi seraya membolak balikan tulisan yang di serahkan mahasiswanya. “Saya Bobi bu, mahasiswa lulusan 3tahun lalu!” mahasiswa itu pun memperkenalkan diri pada Arumi. “Lulusan 3 tahun lalu? Kenapa memberikan tulisan ini pada saya?” tanya Arumi bingung. “Saya melihat profil ibu di Youtube, jadi saya berfikir ibu mungkin bisa membantu saya agar tulisan saya dapat lebih baik lagi sebelum saya serahkan ke penerbit.” Jelas Bobi. “Kamu tidak pernah di ajar oleh saya bukan?” tanya Arumi lagi. “Ya bu, saat saya sedang skripsi ibu baru mengajar di fakultas, jadi mungkin ibu tidak terlalu tahu saya.” Jawab Bobi. “Oh gitu, lalu sekarang kamu bekerja dimana?” tanya Arumi dengan ramah seraya menaruh teks yang di berikan padanya. “Saya kerja di sebuah perusahaan swasta.” Jawab Bobi dengan baik. “Baiklah kalau gitu, sebentar lagi saya ada kelas. Catat nomormu disini nanti saya akan kabarkan.” Ujar Arumi memberikan sebuah note di hadapan Bobi untuk ia menuliskan nomor telfonnya. “Bisakah saya minta nomor ibu juga?” tanya Bobi seraya menyodorkan ponselnya. Arumi berfikir sejenak dan akhirnya menggapai ponsel Bobi dan menuliskan nomornya disana. “Kabari saya jika kamu membutuhkan naskah ini secepatnya. Dan tidak perlu memanggil ibu jika kamu lulusan 3 tahun lalu. Terkesan saya terlalu tua untuk panggilan itu.” Arumi tersenyum ramah. “Jadi saya panggil apa?” tanya Bobi sedikit canggung. “Panggil saja saya Arumi, toh umurmu dengan saya tidak jauh.” Ujar Arumi dengan ramah. “Oke kalau gitu Arumi! Terimakasih sebelumnya sudah mau membantu saya. Saya pamit!” Bobi mengundurkan diri dari hadapan Arumi dengan sopan. Arumi pun melepas kepergian Bobi dengan senyum ramah. Saat Bobi sudah keluar ruangannya, Arumi pun meyiapkan bahan ajarnya. Hari ini ia akan membahas tentang pengkajian naskah klasik. Arumi adalah dosen muda dengan sikap tegasnya pada mahasiswa membuat mahasiswa mengenalnya sebagai dosen asik tanpa ampun. Julukan itu tercipta karena Arumi suka mendengarkan Mahasiswanya jika mereka mempunyai keluhan-keluhan, akan tetapi bersikap tegas untuk mahasiswa yang kurang memahami atau terlambat masuk kelasnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN