Chapter 9 Kembalinya Band Arumi and Friends

2456 Kata
Satu minggu sudah sejak kepergian Ayah Okto. Kini semua kembali ke tempatnya semula, Okto kembali ke pekerjaannya yang sudah ia tinggalkan beberapa hari sejak kepergian sang Ayah. Pasien yang semula sudah membuat janji dengannya, selama beberapa hari harus ia undur untuk mengurus beberapa keperluan yang ayahnya tinggalkan. Sebagai seorang yang mempunyai bisnis di bidang perhotelan, Ayah Okto cukup sukses. Hingga Okto harus mengalihkan semua aset sang Ayah kepada orang yang ia percaya. Secara bergantian Arumi dan teman-temannya yang lain menemani Okto di rumahnya. Tak jarang juga mereka hanya mampir untuk memberikan makan atau hanya sekedar mampir untuk mengecek keadaan temannya itu. Disaat seperti sekarang ini Okto memang sangat membutuhkan orang terdekatnya untuk mensuport semua yang ia lakukan. Kini Okto sudah kembali ke keidupannya semula. “Base camp yo!” Okto meminta pada teman-temannya untuk bertemu di base camp, tempat dimana mereka memulai untuk membuat band bersama. Arumi, Ayu, Vino, Arga dan Reno menyetujui permintaan Okto. Okto menjemput Arumi di universitasnya karena ia baru saja selesai memberikan kelas pada para mahasiswanya. “Ada apa sih tiba-tiba minta ngumpul di hari kerja gini?” tanya Arumi pada Okto. “Pengen aja! Pasien juga sudah selesai semua sore ini, jadi ngajak kalian kumpul.” Jelas Okto. “Emang Arga dan Reno sudah selesai praktiknya?” tanya Arumi yang masih tidak habis pikir dengan ingin temannya yang satu ini. Secara kedua temannya yang lain pun adalah seorang dokter, dan ia tidak tahu menahu jadwal kedua temannya itu. “Sudah, tadi aku ke ruangan mereka juga. Makanya aku kirim pesan pada kalian semua.” Ujar Okto dengan santai. “Ya ampun.. ada-ada saja deh kamu tuh!” Okto melajukan mobilnya dengan santai. Sesekali ia menjawab pertanyaan Arumi yang menanyakan kabar dirinya pasca meninggalnya sang Ayah. Walau terlihat biasa, Arumi paham jika Okto adalah temannya yang sangat dekat dengan Ayahnya sejak sepeninggalan sang Mamah sewaktu SMA. Di Basecamp sudah ada Vino dan Ayu yang lebih dulu datang, disusul oleh Reno dan Arga. Arumi dan Okto adalah yang paling akhir sampai, karena Okto harus menjemput Arumi lebih dulu di tempatnya mengajar. Untuk mengevisiensikan ladang parkir, Arumi igin di jemput. “Ya ampun, like a princess yess pake di jemput segala!” ujar Vino mengomentari keinginan Arumi untuk di jemput menuju tempat perkumpulan mereka. “Yes, of corse! Aku gak mau menyia-nyiakan ladang parkir guys. So nanti pulang, kalian harus ada yang mengantarku sampai rumah yes!” Arumi mengultimatum teman-temannya untuk memulangkannya sampai rumah dengan selamat nanti. “Auuhh... Debunya banyak sekali!” sudah berapa lama tempat ini tidak di tempati?” Arumi mengeluhkan tempat yang selama ini sudah menjadi tempat perkumpulan mereka sangat kotor dan berdebu. “4 tahun!” jawab Reno santai. “Tepatnya setelah kalian semua sibuk dengan kesibukan masing-masing!” sahut Reno lagi masih dengan wajah datar. “Ya ampun, ini lampunya juga sudah seperti club malam!” “Hari ini ibu dosen banyak mengeluh ya!” Sahut Vino dengan santai. “Jadi ada apa kita disini?” tanya Arga menyanggah perdebatan antara teman-temannya. “Pertama, aku mau serahkan bisnis hotel sama Vino.” Dengan nada datar Okto mengutarakan inginnya dan semua teman-temannya tercengang dengan pernyataan itu. “Ya! Kamu lagi setres?” Vino yang kaget namanya disebut-sebut pun mengira Okto sedang bercanda karena stres kehilangan Ayahnya. “Enggak!” Jawab Okto singkat. “Kedua?” Lagi-lagi Arga menyanggah pertikaian antara teman-temannya. “Band!” satu kata yang keluar dari mulut Okto sukses membuat teman-temannya lagi-lagi tercengang. “Aku pulang! Ada yang mau mengantar?” tanpa menjawab ingin Okto, Arumi langsung mundur dan berbalik badan untuk pulang. “Aku”. Arga pun menyusul langkah Arumi untuk mengantarnya pulang. Sedang yang lain masih tetap melihat wajah Okto dengan tidak percaya. “Aku tau kalau di antara kalian hanya aku yang menjadi pegawai biasa, tapi gak gini juga lah nyerahin tanggung jawab hotel keluarga sama aku.” Vino akhirnya membuka suara. “Aku percaya bahwa kamu bisa mengelola hotelku dengan baik. Terbukti dengan restoran kalian berjalan dengan lancar karena perencanaan bisnis Vino kan.” “Mana bisa di bandingin gila! Itu hanya restoran kecil untuk Ayu biar gak boring di rumah, lagi juga itu masih ngontrak ampun dah pikirannya!” Vino uring-uringan mendengar alasan temannya itu. Ia benar-benar bingung dengan alasan Okto. “Sama saja, toh sama-sama bisnis. Aku gak bisa percaya siapapun, sekarang saja yang pegang masih manager dan sekretaris yang bokap percaya. Sedangkan aku gak bisa terus menerus mengurus perusahaan itu karena pasienku di rumah sakit lebih pentinglah.” Jelas Okto panjang lebar. “Pikirkanlah kalau begitu, kasian Okto nih. Aku harus pergi karena ada pasien gawat ya.” Reno memberikan solusi bagi kedua temannya agar dapat memikirkan dengan baik jalan keluarnya. Sedangkan ia dengan terburu-buru keluar dari basecamp mereka menuju rumah sakit tempatnya bekerja. “Arrgghh..” teriak Vino frustasi. Vino, Ayu dan Okto pun pulang ke rumah masing-masing tanpa ada jawaban dari Vino dan teman-temannya terkait bisnis hotel dan resort juga dengan band yang di inginkan Okto. Ia memberikan Vino waktu untuk berfikir mengenai jawabannya, juga membiarkan teman-temannya yang lain memikirkan tentang band yang Okto inginkan. Karena kini mereka bukan lagi seorang yang lajang dengan waktu yang banyak. Hanya Okto, Reno dan Arumi yang masih melajang hingga kini. Satu minggu berlalu, Okto masih menunggu jawaban semua teman-temannya. “Bisa kali kalian memberikanku jawaban pasti!” keluh Okto saat mereka sedang tersambung panggilan telfon di malam hari. “Aku setuju kalau yang lain setuju.” Arumi buka suara. “Aku tidak! Sibuk!” ujar Reno menolak. “Aku setuju!” Arga buka suara menyetujui tawaran band yang di inginkan Okto. “Aku gila!” Vino menjawab pertanyaan dengan keluhan lainnya. “Masih belum di jawab?” tanya Arga yang mengerti maksud dari omongan Vino. “Belom.” Vino dengan nada sedih menjawab pertanyaan Arga. “Aku tergantung suami!” Ayu dengan nada di buat semanis mungkin, membuat yang lain kesal dengan jawabannya. “Iyuuuhhh..” sahut Arumi. “Besok jam 4 sore!” jawab Vino dengan tegas seraya menutup sambungan telfonnya. “Ya! Jawaban apa itu?” sahut Okto dengan setengah berteriak karena kesal dengan jawaban setengah-setengah yang tidak ia mengerti. “Artinya besok di basecamp jam 4 sore guys. Bye!” Ayu pun menjelaskan maksud sang suami dan ikut memutus sambungan telfonnya. “Aku sibuk, bye!” Reno pun ikut memutus sambungan telfonnya. “Ya!” Okto berteriak di telfon dan membuat Arumi juga Arga ikut memutus sambungan telfonnya. Okto kesal dengan tingkah teman-temannya yang memberikan jawaban singkat tidak berdasar. Ia pun melempar ponselnya ke atas kasur dan melamparkan dirinya berbaring. Ia hanya bisa berharap bahwa teman-temannya punya kabar baik esok hari. *** Kini Okto sedang bersiap untuk berita yang tidak akan menyenangkan hatinya. Okto membereskan meja kerjanya dan melangkah pergi dari rumah sakit menuju basecamp. Kali ini ia tidak harus menjemput siapapun, karena ia adalah orang yang sedang diberikan harapan palsu oleh teman-temannya. “Aku sampai!” dengan pasrah Okto masuk ke dalam rumah yang mereka sebut basecamp. “Kenapa wajahmu muram?” tanya Arumi saat melihat temannya menampakkan wajah murung. “Aku siap untuk berita buruk.” Ujar Okto tanpa menyadari jika basecamp mereka sudah bersih dan tidak berdebu lagi. “Perhatikan dulu sekelilingmu, baru kamu bisa bicara kami akan berikan berita buruk!” ujar Arumi dengan pelan. Okto pun tersenyum lebar saat melihat sekelilingnya yang sudah bersih dan tidak lagi berdebu. Peralatan kamera pun sudah terpasang dengan rapi. “Senang?” tanya Arumi tersenyum hangat saat melihat temannya tersenyum lebar. “Senang!” satu kata dari Okto membuat teman-temannya yang lain tertawa renyah. Reno sudah meminta orang untuk merapihkan rumahnya yang sudah di jadikan basecamp oleh teman-temannya ini. Ia juga sudah meminta teknisi untuk merapikan segala yang tidak beres disana. “Oke! Dengar baik-baik. Aku akan berikan pengumuman atas jawabanku ya.” Vino pun buka suara agar yang lain mendengarkan jawabanya untuk pertanyaan Okto sebelumnya. “Apa?” tanya Arumi. “Aku bisa mengambil alih bisnis hotel itu.” Ucap Vino dan itu membuat Okto melompat senang. “Yess!” gumam Okto. “Tapi..” lagi-lagi Vino mengeluarkan suaranya namun dengan jawaban menggantung. “Tapi apa?” tanya Okto dengan wajah penuh rasa penasaran. “Tapi aku tidak mau di protes dengan cara aku berbisnis. Jadi gak ada kata tidak sepakat dengan hotel yang akan aku kelola. Paham?” Vino mengungkapkan inginnya. “Ya! Kamu bebas melakukan apapun dengan hotel itu, asal jangan kamu buat bangkrut. Karena hanya hotel-hotel itu yang bokap bangun dengan susah payah.” Ujar Okto dengan senyuman yang tidak pernah pudar dari wajahnya. Bagi Okto, mempertahankan apa yang sudah Ayahnya lakukan sudah sangat membahagiakan dirinya. Terlebih ia tahu jika mempercayakan pada teman dekatnya sendiri bukan hal yang salah. Ia anak satu-satunya hingga ia tidak lagi punya saudara kandung yang dapat menggantikan posisinya mempertahankan aset sang Ayah. Keduanya bersepakat tetap memberikan hak yang harus di terima Okto selaku pemilik bisnis sebenarnya. “Ouuhh.. Kalian ini sungguh mengkhawatirkan!” Reno mengomentari kedua temannya itu. “Jadi kita akan memulai Arumi and Friends Chanel lagi kah?” tanya Arga memastikan jawaban teman-temannya. “Tentu!” Okto menjawab dengan bahagia. “Oke ke posisi kalian guys!” Ayu memerintahkan teman-temannya untuk berada di depan alat musik mereka masing-masing agar mereka dapat membuat vidio klarifikasi sebagai awalan mereka kembali mengaktifkan youtube mereka. “Hay guys... Anyyonng! Balik lagi bersama saya Ayu dan teman-teman saya yang lain. say hay guys!” Ayu memulai awalan vlog mereka. Sedang yang lain memasang wajah senyum bahagia karena mereka kembali untuk ngeband. Tak terkecuali Okto yang terus menerus tersenyum bahagia karena inginnya terwujud. “Hari ini kita gak nge cover dulu guys, kita akan jelaskan kenapa sih ya Arumi and Friends gak upload vidio sudah bertahun-tahun lamanya yakan!” Ayu terus berbicara di depan kamera yang sudah ready menangkap gambar mereka semua. “Mungkin yang kenal dengan kami berenam sudah tau kemana kami selama ini ya. Nah yang gak tau, yang bertanya-tanya kemana sih Arumi dan teman-teman nih sebenarnya. Kami ini tidak kemana-mana guys. Kami tetap ada disini saja! Hanya memang kami butuh waktu untuk menyelesaikan kuliah kami semua, dan sibuk membahagiakan diri kami masing-masing.” Jelas Ayu di depan kamera. “Iya, sebagian dari kami harus menjalani hidupnya sebagai seorang Ayah dan Ibu guys. Mengurus keluarganya masing-masing dan mengurus anak tentunya.” Sahut Arumi juga menimpali. “Nah kali ini kami kembali dengan request cover yang sudah kalian komen nih di i********: kami semua juga komen di youtube.” Okto turut menyahuti. “Oke guys, itu dia penjelasan singkat kami tentang kenapa ini chanel Arumi and Friends vakum selama bertahun-tahun tidak ada kabar. Kami sibuk dengan urusan diri kami sendiri ya. Bukan karena kami semua marahan lalu bubar, tidak. Beberapa dari kami juga berprofesi sebagai dokter, yang kalian tau lah ya dokter itu sibuknya kaya apa. Jadi harap maklum guys!” Ayu masuk untuk kata terakhirnya mengakhiri vidio mereka. “Gitu aja kali ya sidikit penjelasan kami. Sampai bertemu di cover berikutnya guys!” Ayu menutup Vlog mereka hari itu di akhiri dengan lambayan tangan semua teman-temannya. Ayu mematikan kameranya sejenak. “Hah, udah lama banget gak beraksi kaya gini!” ujar Ayu yang grogi karena memulai kembali hal yang mereka lakukan ketika kuliah. “Santai yang, keren kok tadi.” Vino menenangkan sang istri. “Jangan gila ya Vin!” Ayu mendorong suaminya yang merangkul Ayu untuk menenangkannya. “Yeh!” keluh Vino. “Oke lanjut Yu, Buka untuk cover kita hari ini.” Ujar Reno minta Ayu untuk beraksi kembali di depan kamera. “Hay guys, balik lagi dengan kita nih yang sudah lama Vakum. Hari ini kita akan bawakan lagu Dewa19 yang berjudul Kangen. Karena kita tau kalian semua kangen sama kita, so semoga kalian menikmati ya!” Ayu membuka Vlog cover mereka kali ini. Kuterima suratmu Telah k****a dan aku mengerti Betapa merindunya dirimu Akan hadirnya diriku Di dalam hari-harimu Bersama lagi Arumi memulai bait pertama lagu. ꭉꭊ Kau bertanya padaku Kapan aku akan kembali lagi Katamu kau tak kuasa Melawan gejolak di dalam dada Yang membara menahan rasa Pertemuan kita nanti Saat kau ada di sisiku Semua kata rindumu Semakin membuatku tak berdaya Menahan rasa ingin jumpa Percayalah padaku aku pun rindu kamu 'Ku akan pulang Melepas semua kerinduan Yang terpendam Kau tuliskan padaku kata cinta Yang manis dalam suratmu Kau katakan padaku Saat ini kuingin hangat pelukmu Dan belai lembut kasihmu Takkan kulupa selamanya Saat bersama dirimu Semua kata rindumu Semakin membuatku tak berdaya Menahan rasa ingin jumpa Percayalah padaku aku pun rindu kamu ‘Ku akan pulang Melepas semua kerinduan Yang terpendam Ayu dan Arumi secara bergantian saling menyanyikan lirik lagu Kangen dengan baik. Bait demi bait mereka nyanyikan versi mereka sendiri. Wajah senyum bahagia tidak lepas dari wajah Arumi dan teman-temannya terutama Okto. Bibirnya tertarik membentuk setengah senyuman lebar, merasakan nada-nada indah yang ia dan teman-temannya mainkan. Ia melirik setiap ekspresi teman-temannya. Usai lagu selesai keenamnya saling melirik satu sama lain dengan wajah berseri bahagia. Kini waktunya Reno yang beraksi dengan laptop di tangannya. Mereka tidak butuh banyak edit karena memang tujuan mereka adalah memberikan suguhan yang berbeda dari yang lainnya. “Wah udah lama aku tidak ngedit!” ujar Reno yang agak gemetar dengan laptop di tangannya. “Santai saja Ren!” Arumi memberikan minum untuk Reno yang sedang bekerja. “Thanks Rum.” Reno berterimakasih pada Arumi. “Ini berarti yang di upload yang klarivikasi dulu kan guys?” tanya Reno yang sedang mengedit foto mereka sebagai tampilan depan Vlog. “Iya, yang cover jadwalin aja tiga hari kedepan Ren!” jawab Arga. “Oke!” Reno kembali fokus dengan laptopnya. Sungguh kegiatan yang menyenangkan bagi mereka yang sudah sibuh dengan profesi mereka dan melakukan kumpul bersama seperti saat ini hanya untuk ngeband bareng. Bukan untuk ketenaran atau uang yang mereka kejar dari edsens tapi unuk sekedar refresh dari kegiatan mengajar, bisnis dan memeriksa pasien. Usai Reno mengupload vidio mereka, Arumi dan teman-temannya pun pamit pulang ke rumah masing-masing. Hari ini Arumi memilih naik taxi agar tidak merepotkan teman-temannya yang lain. Ia sedang malas mengendarai mobilnya, terkadang menggunakan angkutan umum hal yang paling praktis bagi Arumi. Di perjalanan Arumi mendapatkan pesan dari Vino yang meragukan keputusannya menerima tawaran Okto. Vino: Aku salah gak sih ya menerima tawaran Okto? Arumi: Enggak kok! Vino: Yakin? Arumi: Yakin! Asal kamu juga yakin dan menjaga amanah itu. Vino: Kalian juga harus bantu aku ya! Arumi: Pasti Vino: Thanks Rum Arumi: You’re Welcome Arumi paham betul kekhawatiran Vino yang tidak ingin mengecewakan kami semua sebagai teman dekatnya. Namun bagi Arumi dan teman-teman yang lainnya membantu sesama juga hal yang penting. Hingga seperti saat inilah Okto dan Vino dapat saling membantu, Okto yang membantu Vino menaikan keuangannya dan Vino yang membantu Okto mempertahankan bisnis keluarganya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN