Lima tahun berlalu, Arumi, Arga, Ayu, Vino, Okto dan Reno menjalani kehidupannya masing-masing. Ayu dan Vino yang menikah setelah 2 tahun Vino menjabat di perusahaan keluarganya dan kini sudah di karuniai 2 anak kembar laki-laki dan perempuan. Reno yang sudah menikah setelah resmi menjadi dokter kandungan dan kini sudah menjadi duda tanpa anak, karena ia dan istrinya bercerai di tahun pertama pernikahan mereka. Okto yang masih menikmati masa mudanya menjadi dokter, menjalin hubungan lalu putus di tengah jalan karena tidak cocok. Arga pun menyusul temanya yang lain, ia menikah dengan seorang aktris muda dan di karuniai seorang anak perempuan yang cantik. Sedang Arumi sendiri masih menikmati kesendiriannya. Ia masih senang belajar dan hidup sendiri tanpa pasangan. Prinsipnya masih sama untuk tidak menjalin hubungan jika bukan untuk ke jenjang yang serius. Dan ia masih belum ingin serius menuju pernikahan waktunya masih berputar mencari yang sama dengan lelaki yang ia suka sejak masih di universitas.
Walau sudah 5 tahun berlalu, Arumi dan kawan-kawan masih tetap saling berkomunikasi namun jarang bertemu seperti saat mereka kuliah. Pertemuan mereka hanya ketika salah satu dari mereka menikah, atau melahirkan. Selebihnya, pertemuan di antara ke enamnya hanya pertemuan yang tidak di sengaja.
Kini kabar duka menyelimuti ke enamnya. Arumi dan teman-temannya datang ke sebuah rumah yang di depannya sudah banyak orang melayat. Bendera kuning sudah terpampang di mana-mana. Ayah Okto meninggal pagi ini, Arumi yang mendapat telfon dari Ayu pun langsung menancapkan gas menuju rumah Okto. Ia melihat sudah banyak orang yang melayat di depan rumah Okto.
Arumi pun memarkirkan mobilnya dan melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah untuk bertemu dengan teman-temannya yang sudah lebih dulu sampai. “Rumi!” Ayu memanggil temannya itu untuk bergabung bersama dengan teman-teman yang lain.
“Ya ampun kamu bawa anak-anak?” tanya Arumi saat melihat Ayu menggandeng anak-anaknya.
“Ya gak ada yang bisa jaga, mau gimana lagi! Arga juga bawa putrinya.” ujar Ayu.
“Ya sudah ayo bawa mereka dulu ke atas.” Sahut Arumi mengajak Ayu untuk mengajak anak-anak ke kamar atas rumah Okto.
“Putri tidur tapi!” ujar Ayu menunjuk Anak Arga yang sedang di baringkannya di kursi. Arumi langsung menggendong anak Arga untuk di baringkannya di kamar. Sedangkan Ayu menggandeng kedua anaknya mengikuti Arumi.
Arumi dan Ayu melewati orang-orang yang sedang melayat. Ia juga melihat Vino dan Reno yang sedang berada di sebelah Okto. Ia mengisyaratkan Okto untuk ia izin masuk kamarnya menidurkan anak-anak. Dengan kedipan mata Okto mengisyaratkan Arumi dan mengizinkannya masuk ke kamar.
Sejak mereka kuliah, Arumi biasa main ke rumah teman-temannya. Hingga mereka sudah biasa keluar-masuk rumah masing-masing. Bukan tidak sopan ia melangkahkan kakinya menuju kamar teman-temannya dengan biasa. Tapi karena ke enamnya saling memahami jika ada hal yang seperti ini sudah otomatis mereka akan bergerak dengan sendirinya. Vino dan Ayu pun ikut berduka dan menemani Okto sebagai teman baiknya. Walau berbeda agama, keduanya tetep ada tenggang rasa pada sesama.
“Arga kemana?” tanya Arumi pada Ayu.
“Tadi kita bertemu di rumah sakit untuk jemput papahnya Okto. Arga bawa Putri karena baru di jemput dari sekolah. Pas kita semua mau kesini, ada pasien gawat darurat yang membutuhkan Arga. Jadilah Putri ikut aku dan Vino kesini.” Cerita Ayu pada Arumi.
“Ya sudah kalau gitu, tidurkan dulu saja anak-anakmu disini ya. Aku bantu kebawah dulu!”. Arumi mengintrupsikan Ayu untuk menidurkan anak-anaknya dan menyelimuti Putri, anak Arga. Ia lalu melangkah keluar dari kamar Arga menuju ke bawah untuk membantu Okto menyapa para pelayat yang datang.
“Makamnya sudah di urus?” tanya Arumi berbisik dengan Vino.
“Lagi di urus sama sekretarisnya bokapnya Okto!” jawab Vino juga berbisik.
“Ya sudah kalau gitu, aku ke depan dulu bantu keluarin minum.” Pamit Arumi pada Vino dan langsung menuju dapur untuk minta tolong pelayan mengeluarkan air kemasan ke luar agar para pelayat yang datang dapat minum.
Usai di mandikan, Ayah Okto di kafankan dan bersiap untuk di makamkan. Saat tiba ingin di makamkan, Arga datang ke rumah duka. Arumi yang melihat Arga baru datang pun langsung menghampirinya.
“Ga!” Arumi menghampiri Arga dengan menepuk pundaknya.
“Yang lain mana? Putri dimana?” tanya Arga pada Arumi.
“Yang lain di dalam bersiap untuk sholatin, kamu masuk saja. Putri di kamar Okto sedang tidur tadi aku pindahin sama Ayu dan anak-anaknya juga.” Jelas Arumi memegang hp dan tas Arga. Sedang Arga menyusul teman-temannya yang lain untuk bersama mengangkut keranda ayahnya Okto menuju Masjid dekat rumahnya.
Arumi kembali ke kamar Okto setelah Ayah Okto di angkut untuk di sholatkan. Ia berpesan pada para pelayan agar berjaga di ruang depan seraya membereskan rumah Okto untuk pengajian malamnya, dan berjaga kalau ada kolega Ayahnya Okto untuk segera memanggil Arumi keluar.
“Putri sudah bangun?” tanya Arumi saat membuka pintu dan melihat Putri, anak Arga sudah bangun dari tidurnya. Sedangkan Putri hanya menganggukan kepalanya.
“Gimana? Sudah jalan ke makam?” tanya Ayu pada Arumi.
“Sudah, sedang di sholatkan. Putri lapar?” tanya Arumi pada Putri. Putri hanya menganggukan kepalanya mengiyakan pertanyaan Arumi.
“Ayo!” Arumi merenangkan tangannya menggendong Putri untuk turun dari kasur.
“Ikut gak?” tanya Arumi.
“Gak usah, kalian saja! Anak-anak biar ada temennya.” Sahut Ayu.
Arumi pun keluar kamar Okto bersama Putri di gendongannya. Karena turun tangga, Arumi menggendong Putri agar tidak terjatuh.
“Putri duduk dulu disini ya!” Arumi mendudukan Putri di meja makan, sedangkan ia menuju dapur untuk memasak makanan yang praktis untuk Putri.
Arumi memasak telur dadar dengan wortel yang di parut kecil agar tidak terasa seperti rasa wortel. Ia juga membuat sayur sop untuk sayuran yang akan di makan oleh Putri agar kebutuhan seratnya tetap terjaga. Di rumah Okto semua lengkap, sayuran dan buah pun ada semua. Namun Arumi tidak bisa membuat semua bahan yang rumit, karena takut Putri akan kelaparan karena makanannya di oleh terlalu lama.
“Ayo Putri di makan”. Arumi mempersilahkan Putri dengan mengambilkan makanannya di dalam piring dan sayur sop di sebuah mangkuk dan meletakannya di depan Putri.
“Makasih Aunty!” Putri mengucapkan rasa terimakasihnya pada Arumi
“Bismillahirahmannirrahim..” Putri berdoa sebelum ia memulai menyantap makanannya.
“Pintar Putri!” Arumi mengelus kepala Putri dengan sayang. Ia lalu kembali ke dapur dan meminta pelayan dapur untuk menyiapkan beberapa lauk lagi untuk teman-temannya. Sedangkan Arumi memotong beberapa buah untuk ia jadikan salad buah, agar teman-temannya dapat menyantapnya ketika mereka pulang dari makam.
“Kamu buat makanan?” tanya Ayu yang sudah turun dan menggandeng kedua anaknya di sisi kanan dan kirinya.
“Ya sudah, sini ajak anakmu makan!” pinta Arumi pada Ayu dengan menpuk kursi di sisi kirinya.
Ayu mendudukan kedua anaknya di hadapan Arumi dan menyendokannya makanan yang sudah Arumi buat untuk Putri.
“Ini Non makanannya.” Pelayan dapur masuk ke ruang makan dengan makanan yang sudah mereka buat. Hanya makanan sederhana berupa bakwan jagung, tempe goreng dan ayam bakar yang disediakan para pelayan agar teman-teman dari anak majikannya itu dapat makan dengan baik.
“Terimakasih ya! Tolong juga siapkan nanti kue untuk malam pengajian dan untuk makan saudara-saudara Okto ya mba. Juga tolong pesankan makanan di catering di box untuk para tamu pengajian nanti.” ujar Arumi meminta dengan baik pada pelayan dapur.
“Sama-sama Non”. Pelayan dapur itu lalu melangkah pergi dari hadapan Arumi dan Ayu.
Ayu menikmati makannya bersama dengan anak-anaknya, sedangkan Arumi masih sibuk dengan mengupas buah-buahan dan memotongnya menjadi dadu-dadu kecil. Agar anak-anak dapat memakannya dan para orang dewasa dapat memakannya dengan nyaman.
Saat Arumi sedang memotong buah, para lelaki pulang dari pemakaman. “Assalamualaikum...” Arga mengucapkan salam saat ia berada di depan meja makan dimana anaknya berada.
“Wa’alaikumusalam, sudah selesai?” Arumi menjawab salam Arga.
“Sudah! Putri sedang makan sayang?” ujar Arga yang sudah siap memeluk anaknya dengan senang.
“Eh.. mandi dulu sana kalian, kalian kan dari makam. Bebersih diri dulu, setelah itu makan. Aku sudah buatkan makanan, pelayan juga sudah membuatkan makanan, ada salad buah juga.” Ujar Arumi mencegah Arga untuk memeluk anaknya dan memerintahkan para lelaki untuk mandi.
Arga, Vino, Okto dan Reno pun menuruti perkataan Arumi. Mereka menaiki tangga menuju kamar Okto dan mandi di sana. Secara bergantian ke empatnya mandi di kamar mandi yang berada di kamar Okto serta memakai pakaiannya.
“Kalian mau makan apa?” tanya Arumi saat teman-teman lelakinya sudah duduk dengan bersih dan rapi di meja makan. Sedangkan Putri sudah menyantap salad buah yang sudah Arumi buat.
“Aku makan salad saja!” ujar Okto meminta di ambilkan salad.
“Gak, kamu harus makan nasi. Kamu butuh tenaga untuk nanti malam, dan pasti kamu belum makan kan dari semalam.” Ujar Arumi sedikit bernada tegas. Ia mengambilkan Okto nasi, lengkap dengan lauk pauknya.
“Nih makan!” Arumi meminta Okto untuk makan makanan yang sudah ia siapkan di hadapannya.
Siapapun yang berhadapan dengan Arumi yang sudah mengeluarkan suara tegas seperti sekarang sudah tidak bisa lagi berkutik. Termasuk para lelaki yang sudah punya Istri di hadapannya pun tidak akan berkutik di hadapan Arumi jika ia sudah marah. Reno, Vino dan Arga pun mengambil makanannya masing-masing karena tidak ingin Arumi juga marah padanya karena tidak makan dengan benar.
“Aku pulang dulu, setelah itu kembali kesini lagi ya. Aku akan bawakan makanan untuk nanti malam sekalian.” Ujar Arumi yang sudah bersiap bangkit dari duduknya untuk pulang dan berganti baju.
“Baiklah! Terimakasih ya!” Okto dengan tulus mengucapkan terimakasih pada Arumi.
“Aku ikut!” Ayu pun bersuara ingin ikut dengan Arumi.
“Mau ngapain yang?” tanya Vino bingung dengan pernyataan sang istri yang ingin mengikuti Arumi sedangkan mereka membawa anak-anak mereka.
“Aku mau titipin anak-anak di tempat Arumi. Boleh kan Rum?” tanya Ayu pada Arumi.
“Bolehlah, mamah pasti akan senang di titipin anak kecil.” Ujar Arumi.
“Ya! Yang benar saja? Mereka kan anakmu bukan anak mamahnya Arumi.” Vino kesal dengan ucapan Ayu.
“Sudahlah gak apa-apa, toh mereka juga kasihan jika berada disini. Boleh aku ajak Putri juga?” Arumi menyela Vino dan bertanya pada Arga.
“Putri mau ikut dengan Aunty Rumi?” tanya Arga seraya memangku Putri.
“Boleh?” tanya Putri dengan wajah polosnya.
“Tentu jika Putri Ayah mau.” Jawab Arga dengan sayang layaknya seorang ayah pada anaknya.
“Putri mau Ayah!” jawab Putri dengan suara khas anak kecil yang menggemaskan.
“Baiklah, cium ayah dulu kalau gitu!” Arga menggoda Putrinya untuk merayunya dengan ciuman sayang antara anak dan ayah.
Putri pun mencium pipi Arga dengan sayang, terus menerus sesuai dengan permintaan Arga. Arga tersenyum bahagia dengan tindakan sang anak yang menghujaminya dengan ciuman sayang. Arga pun membalas ciuman itu dengan mencium putrinya dengan sayang, sesekali ia menggodanya dengan mengelitik sang Putri.
Arumi dan teman-teman yang lain pun ikut tersenyum dengan tidakan ayah dan anak itu. Keduanya seperti obat senyum untuk Arumi dan teman-temannya yang sedang berduka, terutama Okto.
Putri berjalan turun dari pangkuan Arga dan menggandeng Arumi. Karena Putri ikut, Vino pun tak masalah dengan kedua anak kembarnya yang ikut bersama Arumi dan sang istri. Ia pun akirnya menggendong kedua anaknya keluar rumah di antar juga oleh Arga untuk membantu Arumi memindahkan car seat Putri ke mobil Vino dan Ayu untuk di bawa Arumi dan Ayu menuju kediaman Kim.
“Hati-hati ya Princess!” ucap Arga melepas kepergian Putri seraya memakaikan sabuk pengaman di car seatnya.
Arumi melajukan mobilnya dengan Ayu di sampingnya dan anak-anak duduk di carseatnya masing-masing di bangku belakang.
***
Setibanya Arumi dan Ayu di kediaman Kim, keduanya bersama dengan ketiga anak yang sudah berada di gandengan keduanya. Arumi menggandeng Putri, sedang Ayu menggandeng kedua anak kembarnya Gia dan Gio. Mereka di sambut dengan tangan terbuka oleh Yannie dan kedua adik Arumi, Ara dan Aksa.
“Ayo salam Putri sama Oma!” pinta Arumi pada Putri untuk menyalami Yannie dan kedua adiknya. Hal serupa dilakukan oleh Ayu yang meminta Gio dan Gia mengikuti Putri.
Yannie menyambut ketiga malaikat kecil itu dengan bibir melengkung membentuk senyuman. Karena belum memiliki cucu, Yannie sangat senang dapat di titipi anak kecil untuk menemaninya dirumah.
Arumi hanya diam dengan ekspresi datar setelah sang mamah menyindirnya yang belum menikah. Sedang Ayu tersenyum geli mendengar mendengar sindirian ibu dari teman dekatnya itu.
“Putri, Gia dan Gio mandi dulu yuk nak!” Arumi mengajak ketiga anak kecil di hadapannya untuk membersihkan diri. Ia sudah di bekali baju ganti oleh Arga untuk Putri. Hingga ia hanya meminta Putri untuk mandi, bersama dengan Gio dan Gia. Ayu yang menemani ketiganya mandi, sedangkan Arumi mandi di kamar mandi di kamarnya.
Usai mandi Arumi menuruni tangga menuju ruang keluarga. Disana sudah ada sang mamah beserta kedua adiknya yang sedang bermain bersama Putri, Gia dan Gio. “Sana mandi!” Arumi memerintahkan Ayu untuk mandi di kamarnya.
“Oke! Pinjem baju juga ya!” pinta Ayu pada Arumi seraya bangkit dari duduknya menuju kamar Arumi di atas.
“Ya, ambil saja di lemari!” jawab Arumi dengan santai.
Arumi duduk tepat disebelah sang mamah. Ia pun menggandeng sang mamah dengan sayang seraya menyandarkan kepalanya di bahu sang mamah. “Okto baik-baik saja?” tanya Yannie pada sang Putri.
“Baik mah, tadi sebelum pulang aku membuatkan makanan dulu untuk anak-anak juga Okto dan yang lainnya.” Cerita Arumi.
“Syukurlah kalau begitu!” ujar Yannie seraya menepuk-nepuk punggung tangan sang Putri.
“Nanti papah akan datang kesana, ikut saja bersama kalian berdua ya!” ujar Yannie.
“Iya mah!” Arumi menikmati waktunya bersama sang mamah saat itu. Ia sadar jika nanti sang mamah sudah tiada, ia tidak akan bisa lagi bersandar seperti sekarang ini. Ia sangat menyayangi sang mamah hingga tidak mau melepaskan momen bermanja-manja bersama sang mamah seperti sekarang ini.
“Assalamualaikum, papah pulang!” Arka memberi salam saat ia memasuki rumah dan melangkahkan kaki menuju ruang keluarga.
“Wa’alaikumusalam”. Arumi dan Yannie menjawab salam Arka.
Ia yang melihat sudah ada anak-anak kecil yang bermain dengan kedua anaknya pun sudah menebak bahwa itu pasti anak dari teman-teman Arumi. Sebelum pulang, Arka sudah di kabari oleh sang istri bahwa anaknya akan datang bersama anak-anak dari teman-teman dekatnya.
Arka pun masuk ke dalam kamar untuk bebersih diri dan bersiap ikut bersama dengan Arumi dan Ayu menuju rumah Okto.
***
Aksa dan Arka menurunkan carseat yang berada di mobil Ayu dan Vino agar dapat di duduki karena Arka akan ikut bersama dengan Arumi dan Ayu ke rumah Okto bersama. Putri, Gio dan Gia akan di tinggal di kediaman Kim untuk beberapa waktu sementara Ayu dan Arumi berada di rumah Okto untuk pengajian.
Walau Ayu dan Vino tidak akan ikut pengajian, namun keduanya pun ingin ikut serta membantu mempersiapkan apa yang temannya butuhkan. Begitu juga dengan yang lainnya yang sudah turut serta membantu Vino dan Ayu saat orang tua Ayu pergi meninggal dunia satu tahun setelah pernikahannya dengan Vino. Tanpa mengejek agama satu sama lain, mereka hidup berdampingan walau berbeda keyakinan. Mereka tetap saling menghormati.
Tidak butuh waktu lama untuk Arumi, Ayu dan Arka sampai di kediaman rumah Okto. Disana sudah ditata rapi alas karpet untuk orang-orang duduk. Arumi datang dengan kue-kue basah di tangannya. Ia pun masuk menuju dapur untuk memberikan ke pelayan agar di tata dengan rapi bersama kue yang telah mereka siapkan.
Sedang Arka menemui Okto untuk mengucapkan belasungkawanya. Ia memeluk Okto dengan sayang seperti dengan anaknya sendiri. Karena Okto dan Arumi sudah berteman sejak lama, dan kedua orang tua mereka pun sudah saling mengenal satu sama lain.
“Makasih ya Om!” ujar Okto membalas pelukan Arka.
Usai pengajian, ke enamnya duduk di ruang keluarga Okto. Sedangkan Arka sudah pulang lebih dulu menggunakan mobil Arumi.
“Kalian mau pulang?” tanya Okto.
“Ya! Mana bisa kita pulang saat kamu sedang seperti sekarang!” ujar Vino.
Reno yang sudah beranjak dari duduknya pun kembali duduk di samping Vino dan terdiam.
“Kalian punya keluarga, pulanglah! Aku sudah tidak apa-apa!” Okto menyuruh teman-temannya pulang dan meyakinkan mereka bahwa ia dalam keadaan baik.
“Gimana?” tanya Vino pada Arga dan melirik pada istrinya, Ayu.
Arumi pun menyingkir sebentar dari hadapan teman-temannya untuk menghubungi sang mamah. Ia menanyakan bagaimana kabar anak-anak yang sedang di titipkan padanya. Yannie pun meyakinkan sang Putri bahwa anak-anak yang di titipkan padanya dalam keadaan baik. Bahkan mereka sedang duduk menonton tv setelah makan malam.
Arumi pun kembali ke ruang keluarga dan bergabung kembali bersama teman-temannya.
“Aku dan Ayu bisa pulang ke rumahku, sedangkan kalian bisa bermalam bersama disini.” Ujar Arumi menawarkan jalan keluar terbaik untuk semuanya.
“Aku benar-benar tidak apa-apa. Kalian pulanglah! Aku tidak ingin merepotkan kalian semua.” Ujar Okto dengan yakin.
“Anak-anak aman bersama mamahku, mereka sedang menonton kartun dan sudah makan juga.” Jelas Arumi meyakinkan teman-temannya.
“Iya sudah aku sama anak-anak di rumah Rumi saja gak apa-apa!” sahut Ayu.
“Gak apa-apa?” tanya Arga meyakinkan kedua temannya itu.
Akhirnya semua mencapai keputusan bersama. Para lelaki akan menginap di rumah Okto, sedangkan para wanita dan anak-anak akan menginap di rumah Arumi. Arumi dan Ayu pulang di antar Arga dan Vino. Keduanya harus bertemu anak-anak mereka dahulu agar rindunya terbayarkan.
Arumi dan Ayu hanya mengikuti saja keputusan para lelaki. Toh keduanya sudah lama tidak tidur bersama. Sejak Ayu menikah, Arumi dan Ayu sudah jarang mempunyai waktu bersama. Karena Ayu yang harus menjaga anak dan mengurus rumah tangga sedang Arumi harus bekerja.
Sesampainya di rumah Arumi ke empatnya langsung di persilahkan masuk menuju ruang keluarga. Disana sudah ada Gia, Gio dan Putri yang sudah tertidur di sofa. Arga dan Vino yang melihat anak-anak mereka sudah tidur pun langsung menghapirinya dan izin untuk membawa anak-anak ke kamar tamu. Vino dan Ayu menidurkan anak mereka di kamar tamu, sedangkan Arga membawa Putri ke kamar Arumi. Karena tidak memungkinkan mereka tidur semua di kamar Arumi, maka Ayu memutuskan untuk tidur di kamar tamu.
Arga mencium anaknya yang sudah tertidur dengan sayang. Arga sudah terbiasa hanya dengan Putrinya saja, karena istrinya sibuk dengan karirnya sebagai seorang Aktris dan Arga menghargai keputusan sang istri. Bukan karena Arga tidak menyayangi Putri, namun sifat sang istri yang keras kepala membuatnya tak bisa berkata banyak. Beruntungnya Arga memiliki anak yang pengertian seperti Putri.
Usai menidurkan anaknya di kamar Arumi, Arga turun menuju ruang keluarga Kim bersama dengan Arumi. “Thanks ya Rum.” Ucap Arga dengan tidak enak hati menitipkan sang anak pada Arumi.
“Gak masalah, lagi pula Putri adalah keponakanku. Aku senang menjaganya.” Ujar Arumi dengan tulus.
Di ruang keluarga sudah ada keluarga Arumi yang sedang menonton TV. Ayu dan Vino pun sudah ikut bergabung dengan keluarga Arumi.
“Maaf ya Tante, Om saya merepotkan dengan menitipkan Putri disini.” Ujar Arga dengan tidak enak hati.
“Gak apa-apa Arga, tidak usah merasa sungkan. Kami juga senang di titipin anak kecil seperti Putri, Gia dan Gio.” Yannie mengungkapkan kesenangannya di titipi anak-anak kecil yang menggemaskan.
Arumi tersenyum bahagia melihat keluarganya juga teman dekatnya bisa saling membantu satu sama lain.
***