Malaikat Hitam; 15

3730 Kata
Pembagian nilai telah di lakukan, kini saatnya liburan panjang dimulai. Waktu yang paling di tunggu tunggu oleh setiap siswa, karena di hari libur mereka akan melakukan kegiatan kegiatan menyenangkan yang sempat tertunda pasca masa sekolah. Sebelum masa libur tiba, hari ini, sebagai hari terakhir Tea dan Anantha bertemu, keduanya sempat berlama lama di taman sekolah yang terletak di sebelah kanan gedung utama. Nampak sekali, keduanya saling berbicara banyak tentang beberapa hal yang akan di lakukan di hari libur. "Bagaimana jika di tanggal cantik ini kita pergi ke... Manamu? Kota yang cantik untuk di kunjungi," ungkapnya sembari menunjukkan sebuah peta yang ia bawa, Tea menggelengkan kepalanya, "Kota itu memang bagus, tapi kau bisa lihat jika jarak antara Manamu dan Bedlam sangat jauh," Anantha mengerucutkan bibirnya, maniknya kembali mencari cari tempat yang cocok untuk melepas penat. Di saat Anantha sibuk dengan peta dan tempat libur yang ia cari, Tea justru sibuk mencari cari sosok pemuda yang hari ini sama sekali belum ia temui. Gadis bersurai hitam itu menyengol lengan Tea dan menunjukkan sebuah tempat menarik, "Bagaimana jika pergi ke Letania? Kota kecil yang sangat bersih dan indah, aku dengar di sana akan ada pertunjukkan dari penyanyi penyanyi terkenal..." Tea menatapnya sekilas, "Benarkah? Memang siapa yang akan datang? Dengar, aku tidak ingin pergi kemanapun," Lagi lagi jawaban itu membuat Anantha kesal dan menghela nafas gusar, "Aku sempat berharap akan menginap dan jalan jalan di sana, menikmati senja dan pemandangan di pagi hari. Arrgggg! Betapa indahnya dunia, terlebih jika konser itu benar benar di gelar, aku pasti akan mendapat meja VIP." gadis itu terus saja berbicara, seolah stok kata yang ia keluarkan itu benar benar banyak, "Ibu pastinya akan datang, secara dia desainer, menyenangkan jika memiliki seorang Ibu yang memiliki teman dekat para selebriti terkenal." Tea masih terdiam, ia enggan menanggapi apapun yang di ucapkan Anantha. Kini perhatiannya masih tertuju pada pintu masuk utama Atherty, menunggu seseorang yang keluar dari sana. Sembari menunggu, lamunanya mulai terbang kemana mana, pikirannya hanya fokus pada satu masalah yang beberapa hari terakhir ini mengganggunya. Benar! Ini tentang bagaimana dan dimana ia akan tinggal nanti, terlebih kini waktu yang diberikan tinggal satu minggu. Lebih parahnya, ia sama sekali tidak menceritakan hal ini pada teman temannya, bahkan ia juga tidak memberitahu Mrs. Revelin, selaku orang yang sangat dekat dengannya. Entah, beberapa minggu terakhir ia jarang mengunjungi wanita itu, mungkin ia masih memiliki seseorang yang bisa mendengar segala keluh kesahnya, Venic. Akhir akhir ini memang Tea selalu menceritakan segala macam masalah pada Venic, ia juga memberitahu tentang masalahnya dengan keluarga Aerys dan tentang masa sewa rumah. Venic sempat menawarkan tempat tinggal bersamanya, tapi tentu saja Tea menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan. Jadi, ia masih dilanda rasa cemas, bimbang antara memilih bersama Venic atau tinggal di jalanan kota yang tercemar? Ah, memikirkan hal itu hanya akan membuat otaknya hampir terbakar. Anantha tiba tiba saja menepuk pundak Tea dan menatapnya dengan raut terkejut, "Astaga! Seminggu lagi kau berulang tahun, bukan?!" gadis bersurai cokelat itu menoleh dan mengernyit, bagaimana bisa Anantha tahu perihal ulang tahun menyebalkan itu? Ah, mungkin saja dari data kelas. "Bagaimana kalau kita merayakannya bersama? Akan sangat menyenangkan jika kita membuat pesta dan melakukan rencana tour ke berbagai kota." Tea menggeleng pelan. "Tidak perlu," ucapnya dengan nada yang sedikit lirih. Anantha memutar bola matanya malas, mulutnya hendak berbicara sebelum akhirnya Tea kembali menyela, "Aku tidak menyukai pesta." tandasnya dengan sangat tegas dan jelas. Gadis bermanik abu itu langsung terdiam dan mengedipkan matanya berkali kali, "Sungguh? Padahal aku sudah berharap jika pesta ini akan di hadiri orang orang terkemuka," lirih Anantha yang merasa sangat kecewa. Tea menoleh, "Aku tidak membutuhkan kehadiran orang orang terkemuka, bahkan jika pestaku di hadiri oleh Harry Nightingale sekalipun." ucapan dan Tea itu membuat Anantha membuka matanya lebar lebar, "Harry? Harry Nightingale? Kau mengidolakannya juga, Tea?" gadis itu menatap temannya ini dengan sangat malas dan jengkel. "Lupakan itu!" geramnnya sembari mengalihkan pandangannya dari sifat Anantha yang kembali berubah seperti dulu lagi, menyebalkan sangat menyebalkan.  Sekarang, tampaknya penantian dari Tea membuahkan hasil dengan munculnya sosok yang ia cari selama beberapa menit terakhir. Gadis bersurai cokelat itu hendak membuka mulutnya, tapi tertahan karena teriakan mendadak dari Anantha, "DICH!" panggilnya pada seorang pemuda yang kebetulan berjalan bersama Zack. Pemuda yang merasa di panggil itu segera berjalan mendekat, ia juga menarik paksa Zack yang terlihat enggan sekali untuk bergabung. "Hallo, senang bisa berjumpa lagi di akhir pertemuan," ujar Dich saat dirinya sampai di tempat Tea dan Anantha duduk. Dengan wajah penuh kegembiraan Anantha menarik Dich untuk duduk di sebelahnya dan bercerita banyak hal termasuk rencana rencannya untuk pergi berlibur ke luar kota. Sementara itu, Tea masih mengabaikan sosok Zack yang sedari tadi bersenderan di bawah pohon yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Si gadis beranjak dan menghampirinya setelah beberapa menit ia memberanikan diri. Tersenyum tipis dan duduk di sebelah Zack, keduanya sempat hening sebelum akhirnya Tea memberanikan diri untuk membuka pembicaraan, "Apa yang akan kau lakukan?" si pemuda menoleh dan menatapnya sekilas, "Melakukan apa? Tugas? Atau hanya untuk bersenang senang?" tanya Zack yang justru membuat Tea mengernyit, kemana arah pembicaraan pemuda itu? Karena enggan menanyakan lebih lanjut, Tea hanya terdiam dalam pikirannya saja. Lain halnya dengan pasangan yang entah bagaimana status hubungan mereka, keduanya tampak sangat bahagia dengan candaan candaan kecil dan kisah kisah acak yang saling melengkapi. Semua itu sepertinya tidak akan berlaku pada Tea dan Zack yang terkesan kaku dan dingin. "Baiklah, mari aku antar kau pulang? Bagaimana?" tanya Zack secara tiba tiba, mendadak Tea menoleh dan terdiam sejenak, rasa yang aneh menyelimuti seluruh tubuhnya. Tatapan mata hijau itu mampu menghipnotis si gadis untuk merasakan betapa kelamnya kehidupan yang ada di balik manik hijau tersebut. Zack kembali bertanya, "Kau menyetujuinya atau tidak?"  Tidak ingin melewatkan hal itu Tea mengangguk saja sebagai jawaban. Setelah itu keduanya memilih pamit pada Anantha dan Dich yang masih asyik dengan dunianya sendiri. Di tengah perjalanan sempat sebuah ide baik muncul di otak Tea, hari ini ia akan mengajak pemuda di sampingnya untuk menikmati rasanya cokelat panas buatan Venic. Walaupun ia tidak yakin jika pemuda itu mau menerima ajakannya. Gadis bermanik biru itu menarik nafasnya dalam dalam, meyakinkan hatinya untuk lebih berani, "Zack, apa kau mau menikmati sore ini dengan secangkir cokelat panas?" tanya Tea, si pemuda menoleh sekilas dan akhirnya menjawab, "Tentu saja," dengan senyum mengembang akhirnya Tea menuntun pemuda bersurai pirang itu untuk ikut dengannya. Di Grillsy Cafe. Suasana di sore itu tampaknya lebih kondusif dari beberapa hari terakhir yang terkesan ramai pengunjung, bisa tebak kenapa? Karena cuaca yang akhir akhir ini lumayan berubah, karena mendekati akhir tahun dan itu berarti musim dingin akan datang. "Hai, Venic." sapa si gadis pada wanita yang tengah berjalan melewati meja mereka, Venic menghentikan langkahnya dan menatap Tea dengan pandangan yang luar biasa terkejut. "Tea? Kau..." ia menatap kearah Zack yang kini mengalihkan pandangannya, pura pura tidak mendengar percakapan antara kedua perempuan itu, "Apa dia kekasih barumu setelah Light?" Gadis bersurai cokelat itu menggeleng keras, "Sudahlah, Venic, aku tidak ada hubungan apapun dengannya." bisik Tea, akhirnya Venic mengerucutkan bibirnya merasa kecewa, "Baik, kalian ingin memesan apa? Satu paket ala Quinnzel atau hanya cokelat panas?" tanya wanita bersurai blonde tersebut. Zack menoleh dan sempat mengernyit, "Paket Quinnzel?" Venic mengangguk dan mulai menjelaskan artinya, "Menu itu buatan Tea, isinya ada satu cangkir cokelat panas, sebuah sandwich telur dan sebuah permen cokelat dengan bentuk beruang." Tea sempat hampir tertawa saat teringat akan hal itu, masa dimana ia memaksa Venic untuk menambahkan menu hemat ala dirinya di dalam list Paket Hemat. "Baik, kami akan memesannya," ujar Zack pada akhirnya, Venic mengangguk paham dan pergi bersama catatannya. Kini giliran Zack menatap gadis dihadapannya ini dengan raut sedikit terkesan dingin dan datar, Si gadis yang merasa aneh pun berbalik menatapnya dengan raut penuh tanya, "Light, siapa pemuda itu?" deg! seketika rasa aneh Tea rasakan di seluruh tubuhnya. Si gadis sempat bingung harus menjawab apa, bagaimana cara ia menjelaskan tentangnya? Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menghela nafas panjang dan mencoba membuat dirinya lebih tenang, "Light? Ya, dia pemuda yang baik, dia... dia itu keponakan dari Nyonya Revelin, guru pianoku." ucapannya sembari memainkan jemarinya yang sudah berkeringat, "Benarkah? Jadi kalian sempat dekat atau bagaimana?" tanya Zack. "Kami sebenarnya hanya teman biasa, kami bertemu dan berlatih bersama. Tapi dia sekarang telah..." belum sempat si gadis menyelesaikan ucapannya Zack sudah menyela pembicaraan dengan berkata, "Dia sudah pergi, pergi untuk melanjutkan sekolahnya, benar bukan?" tampaknya si gadis lebih heran dari sebelumnya. "Bagaimana kau tahu hal itu?" bingungnya, "Aku tahu semua tentangmu, semuanya." tandas pemuda bersurai pirang khas miliknya. Kedatangan Venic membuat Tea kembali terdiam, karena ia sendiri tidak ingin membuat Venic kembali berceloteh panjang tentang pemuda bermakna 'cahaya' yang sempat menjadi bagian dari hidupnya yang gelap.  Tea sempat menatap wanita blonde itu, kemudian memiliki sebuah pertanyaan yang kemungkinan besar mampu di jawab oleh Venic, "Aku ingin bertanya suatu hal padamu, Venic." ucap Tea, "Apa kau mengenal mereka?" tanya si gadis sembari mengeluarkan sebuah foto kusam yang sempat ia temukan beberapa minggu bahkan bulan yang lalu, "Sebuah keluarga terpandang di kota Bedlam, si pria adalah Bos gangster mafia, Antraxs. Dan kau tentunya tahu siapa dia," jelas Venic dengan nada yang sedikit lirih. "Sedangkan wanita ini, dia anak dari walikota kita yang menjabat enam tahun lalu, namanya Zalira Ayhera Lloyd atau Zalira Raltfoy," Venic menunjuk seorang wanita dengan balutan dress merah maroon yang tampak pas di tubuhnya. Si gadis mengangguk paham, sedangkan pemuda yang ada dihadapannya tampak lebih dingin dari sebelumnya, entah kenapa sikapnya sedikit berubah hari ini. Venic kembali melihat foto itu, "Ini anak mereka, putra satu satunya yang seharusnya menjadi penerus dari kekayaan dan kejayaan The Raltfoy. Namun, sayang sekali dia telah tiada karena kejadian itu," ungkap si wanita sembari menunjukkan raut sendu. Tea mengamati lebih teliti foto itu, ada yang aneh dari keluarga kecil ini, "Apa seluruh keluarga Raltfoy itu memiliki keturunan dengan rambutnya yang berwarna pirang salju?" pertanyaan itu langsung saja di setujui oleh Venic. "Ya, sejak Raltfoy mulai berkuasa, mereka memang memiliki keturunan semacam itu, jadi sangat dengan mudah untuk mengetahui siapa keturunannya." terangnya sebagai bentuk penjelasan, "Tapi rasanya itu tidak berlaku untuk sekarang ini, karena kau tahu sendiri, banyak orang yang memiliki ciri rambut seperti itu, terlebih mereka dengan mudah mewarnainya agar mirip." lanjut wanita bersurai blonde tersebut. Kini pandangan si gadis tertuju pada Zack yang sama sama menatapnya, "Rambutmu mirip seperti mereka, Zack." ungkap Tea kemudian, pemuda itu menyentuh rambut pirang miliknya, "Aku baru menyadarinya," ucapnya dengan nada dingin.  Akhirnya setelah keheningan di dalam cafe itu, Zack dan Tea memilih untuk pulang. Sesuai ucapan si pemuda, ia mengantarkan gadisnya itu sampai di depan rumahnya, tapi mendadak Tea terdiam di tempatnya saat sebuah mobil merah menyala terparkir rapi di depan rumahnya. Gadis itupun menoleh kearah Zack dan bertanya tanya, "Coba kau masuk saja, jika tidak ada ancaman aku akan pulang." ujar Zack, si gadis menuruti ucapannya dan beranjak masuk. Maniknya menemukan seorang wanita dengan dandanan rapi tengah duduk di atas sofa ruang tengah. Dengan rasa penasaran ia mendekat, untuk Zack ia masih menunggu di depan pintu utama tanpa ada niatan untuk masuk. Tea masih menatapnya dengan raut bingung, "Siapa kau? Bagaimana bisa kau masuk tanpa izin?" tanyanya, "Oh, kau Latea Valaria Burton?" orang itu bertanya balik pada Tea, kemudian ia mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri,  "Perkenalkan, aku Lavina  Sezer." ucap wanita itu dengan gaya anggun bak putri bangsawan. Si gadis menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti, "Lalu?" wanita itu menghela nafas gusar dan mendudukkan dirinnya lagi, "Aku adalah kakak dari Ibumu, Laudya Sezer." terangnya. Mendengar itu membuat si gadis menggeleng tidak percaya, "Tunggu, apa aku salah dengar?"  Lavina giliran menggelengkan kepalanya, "Tidak, kau mendengarnya dengan sangat jelas, aku adalah kakak dari Ibumu yang telah tiada karena kecelakaan pesawat." lanjutnya menjelaskan. Lavina menatap kearah pintu dan kembali menatap Tea, "Siapa yang kau ajak? Teman lelaki?" tanyanya sembari tertawa kecil, si gadis menggeleng dan keluar guna memberikan jawaban pada Zack. "Ah, tampaknya kau memang baik baik saja, see you." ucapnya tak kala si gadis baru saja sampai, Tea sempat menghela nafas pelan dan kembali masuk ke dalam untuk mengetahui lebih dalam tentang asal keluarganya. Kini ia berhadapan dengan wanita berpakaian rapi itu, "Apa yang kau lakukan di sini?" Lavina berdiri dan memberikan secarik kertas pada Tea. Kerutan samar terlihat di wajah si gadis, ia menatap wanita itu dengan pandangan tidak percaya, "Rumah sakit jiwa?" ulangnya, Lavina memberikan sebuah senyum manis dan menganggukan kepala, ia berjalan mendekati Tea, "Ya, kau tahu jika keadaan Adilson sangatlah buruk. Aku tidak ingin dia merugikanmu dan orang disekitarnya," tutur Lavina yang berusaha membujuk si gadis untuk menyetujui hal ini. "Dan untuk dirimu, aku sudah mencarikan tempat yang cukup baik dan nyaman untukmu." lanjutnya, ia menatap sekitar ruangan yang menjadi tempatnya berada, "Besok aku akan datang dan memandu dirimu untuk berkeliling ke rumah baru, bagaimana?" tawar si wanita sembari menepuk pundak Tea, "Lalu kau akan pindah pada hari yang di tetapkan, lebih tepatnya saat ulang tahun mu." tidak ada jawaban sama sekali dari gadis bersurai cokelat itu. Pikirannya seakan melayan jauh, ia tidak lagi bisa memikirkan hal ini. Karena merasa selesai dengan tugasnya akhirnya Lavina memilih mengambil tasnya dan menatap lekat anak dari adiknya itu, "Baik, aku rasa kau harus membersihkan diri dan bergegas tidur, aku tidak ingin ada yang kurang darimu saat aku menjemput di keesokan hari." ucapnya sembari mengusap pelan puncak kepala si gadis, "Ingat itu Latea Burton," Tea menatapnya dengan pandangan tajam. "Latea Valaria Quinnzel, itu namaku." gumamnya yang terkesan sangat lirih, mungkin Lavina tidak mendengarnya karena ia telah berjalan keluar. Langsung saja si gadis membuang kertas itu dan berlari menuju kamarnya. Apa apaan ini? Saudara dari Ibunya? Kenapa ia tidak pernah tahu bahwa selama ini dirinya mempunyai kerabat? Dan kemana mereka saat Ibunya meninggal? Kenapa baru sekarang?  Semua pertanyaan itu seakan meluap begitu saja, ia tidak lagi bisa memikirkannya. Kenapa Ibunya tidak pernah menceritakan latar belakang keluarganya yang asli. Lalu, kenapa mereka sama sekali tidak pernah menjenguknya atau bahkan sekedar menjaga hubungan baik. Semuanya menjadi sangat kacau, benar benar kacau dan rumit.  Biarkan malam menjadi penenang untuk Tea, biarkan malam yang melarutkan seluruh keluh kesah dan kesedihannya. Dan izinkan tubuh yang rapuh ini membuka gerbang mimpi, memasukinya lebih dalam agar bisa melupakan apapun yang ada di dunia. Biarkan saja semuanya hanya seperti angin yang berlalu, hanya sekadar lewat tanpa menyakiti. Keesokan harinya... Pagi ini Tea berada di dalam mobil milik wanita yang kemarin datang dengan memperkenalkan diri sebagai Bibi nya. Ia tengah duduk diam sembari menatap jalanan beraspal yang mereka lewati, tidak ada pembicaraan sama sekali kecuali alunan musik ringan yang mengiringi perjalanan mereka. Dapat ia lihat dengan jelas mobil yang mereka tumpangi memasuki area yang cukup luas dan juga sepi, mereka kini tengah berada di sebuah perumahan yang letaknya cukup jauh dari rumahnya yang dulu. "Perumahan?" tanya Tea, "Ya, kau akan menempati salah satu rumah yang ada di sini pastinya." balas Lavina sembari menepikan mobilnya di salah satu halaman rumah yang ada di sana. Keduanya turun, Tea masih tidak tahu harus mengungkapkan apa, ia masih bingung, kecewa sekaligus bahagia. Lavina berjalan kearah pintu sembari berucap, "Walaupun sebenarnya aku tidak peduli dengan dirimu, tapi walau bagaimanapun Ibumu pernah berpesan agar aku membawamu ke rumah ini."  Gadis itu kini berdiri diambang pintu sembari melihat sekelilingnya yang tampak asing dan berbeda, ia baru sadar jika rumah ini sudah di isi dengan berbagai macam perabotan unik dan antik. Berbagai macam lukisan tergantung rapi di tembok berwarna putih mengkilap itu, sebuah lemari kaca yang sangat panjang terletak di ruang utama dengan berbagai macam benda benda yang sangat menakjubkan. "Kau pasti bingung, bukan?" wanita itu duduk di sofa panjang yang ada di sebelahnya, "Sebenarnya rumah ini khusus di rancang untuk setiap anak di keluarga Sezer. Jadi nantinya ketika seorang anak yang sudah berusia 17 tahun harus tinggal di rumah tersebut, alasan sebagai bentuk sikap mandiri dan bertangung jawab," ia menatap sekitar dan membelai sofa lembut yang ia duduki. "Keluarga kami menerapkan sistem ini, karena ini adalah salah satu sikap terpenting. Terlebih jika anak perempuan, mereka nantinya pasti berkeluarga dan memiliki tanggung jawab tersendiri, maka dengan ini di bentuklah sistem ini." lanjutnya, Tea mengangguk dan bertanya, "Apa itu juga berlaku pada anak laki laki?" Lavina tersenyum manis dan mengangguk. Wanita bersurai hitam pendek itu menepuk tempat di sebelahnya, Tea yang paham segera mendudukkan dirinya di sana dan menunggu penjelasan dari Lavina, "Seluruh anak yang lahir di keluarga Sezer memiliki peraturan ketat, anak laki laki maupun perempuan akan di perlakukan sama, derajat mereka sama, jadi tidak akan ada yang namanya perempuan jauh lebih sengsara." Lavina menjeda ucapannya sejenak. "Anak laki laki akan memiliki rumah mereka, tapi dengan satu syarat, ia tidak boleh menyalahgunakan bentuk kemandirian tersebut. Karena kebayakan anak lelaki suka memberontak dengan melakukan aksi mereka sendiri, tapi di Sezer kami akan melakukan pengawasan yang jauh lebih baik." lanjutnya, Tea sekarang mulai paham dengan apa yang di ucapakan Bibinya ini, "Sistem bentuk apa itu? Apakan pembatasan waktu atau bagaimana?" Tersenyum tipis, "Mereka memiliki jam tersendiri, sungguh ini peraturan yang sangat panjang, kau bisa menanyakan hal ini pada Chris jika ingin memahaminya lebih jauh," Lavina bangkit dari duduknya dan menyentuh beberapa barang yang menarik perhatian, "Dulunya Laudya akan diusir dan di coret  dari keluarga Sezer. Namun, karena aku merasa kasihan maka dari itu Ibumu masih tetap menjadi keluarga Sezer, walaupun dengan sedikit pengecualian." "Mau ikut denganku, Latea?" Tea menoleh dan menunjukkan wajah bertanya, "Sezer's Mansion." ujar Lavina ketika tahu maksud dari tatapan si gadis. Karena tidak ada pilihan akhirnya Tea memilih ikut saja, toh hari ini dirinya tidak ada janji dengan siapapun. Mobil merah mereka melaju kembali ke sebuah rumah besar yang tidak jauh dari tempat pertama. Gerbang dengan warna hitam itu terbuka dan menampilkan sebuah rumah besar dan elegan, "Welcome back, Latea Sezer." bisik Lavina, ia tersenyum menatap gadis di sampingnya. Kedua perempuan itu turun dari kendaraan yang membawa mereka, tatapan kagum terlihat pada wajah Tea. Rumah bercorak mewah dengan cat putih yang mewarnai seluruh sisi rumah, bagian atap di d******i dengan warna biru laut yang tampak serasi dan selaras. Halaman yang luas di tumbuhi dengan rumput rumput hias yang di potong secara rapi, lalu bagian kanan dari halaman terdapat sebuah kolam air mancur yang memiliki inisial S.  Lavina menggenggam erat tangan gadis manis itu dan menuntunnya ke dalam, "Good morning!" seru wanita yang tengah menggengam tangan Tea. Dihadapan mereka seorang gadis kecil dengan rambut kemerahan datang dengan senyum lebar, "Hello, Latea! Welcome back!" ia memeluk erat pinggang Tea dan memberikan senyum semanis mungkin. "Hai, aku tahu namamu?" tanya Tea, terlihat jelas jika ia tampak tertarik dengan gadis cantik dan mengemaskan itu, "Daisy Venez Sezer, you call me Daisy." balasnya dengan aksen Inggris yang sangat fasih dan baik. Tea menarik sudut bibirnya, "You beautiful," ucapnya lirih. Tea menatap Lavina sekilas, wanita itu tampak memberikan intruksi agar putrinya itu segera masuk, "Thank you," ucap Daisy sebelum akhirnya ia berlari menaiki satu persatu anak tangga yang menghubungkan antara dua lantai. Kini tinggalah dua perempuan yang sama sama memakai dress elegan selutut khas keluarga Sezer, "Ayo, temui Kakekmu." ajak Lavina. Sepanjang jalan yang ia lewati, semuanya dihiasi furniture furniture bercorak gold dengan gaya elegan dan mewah. Sebuah perasaan aneh muncul dalam benak Tea, ada rasa pedih yang tersembunyi jauh. Entah kenapa setiap melihat sudut rumah ini rasanya tidak adil saja ketika ia dan Ibunya harus merasakan hidup yang jauh dari kata bahagia. Perjalanan mereka terhenti pada sebuah pintu besar yang memiliki lambang S. Ketika pintu itu terbuka, di depannya tersuguh sebuah meja makan panjang, meja itu dihuni oleh seorang pria paruh baya dengan tampilan rapi bak bangsawan yang tengah menyantap makanannya. Di sisi kanannya ada seorang pemuda bersurai hitam dengan tatapan dingin menatap kearah pintu tempat Tea masuk. Dan ada beberapa anggota keluarga yang lain tengah menikmati sarapan mereka. "Good morning." ucap Lavina, keduanya mulai melangkah. Seorang wanita dengan wajah cantiknya tersenyum manis ke arah Tea, dengan senang hati si gadis membalas senyuman itu. Dihadapan seorang pria berkumis yang sudah memutih, Lavina kembali bersuara, "Ini Latea Valaria Sezer." ujarnya memperkenalkan gadis yang ia bawa, semuanya terdiam, tidak ada yang merespon kehadirannya. Wanita yang tengah duduk tadi bangkit dan memberikan respon positif untuk menyambut keluarga barunya, "Duduklah, Latea." tatapan sendunya sangat mirip dengan sang Ibu, tatapan menangkan dan lembut. Tea masih terdiam kaku, tidak tahu harus berbuat apa di depan keluarga yang memiliki gaya seperti keluarga kerajaan. Keheningan berubah saat sebuah suara nyaring berasal dari ujung meja, ketika sendok dan piring saling bertabrakan, semuanya menatap kearah pria yang memiliki tampang dingin dan tegas itu. Kini ia menatap Tea, "Latea Valaria Sezer?" itu suaranya, ia tersenyum miring dan mengambil segelas air untuk di minum, "Siapa yang memberimu marga Sezer?" tanyanya masih dengan tatapan menusuk. Tea masih saja terdiam, ia sedikit takut untuk menjawabnya, "Adilson Burton, pria gila yang datang dengan cara tidak sopan dan membawa pergi putri kesayanganku. Kau putrinya, bukan?" Lavina menggenggam erat tangan Tea, si gadis sempat menoleh sekilas menatap Bibinya itu. Wanita yang ada di depannya tampak menghentikan aktivitasnya dan menoleh, "Ayah," panggil dengan suara yang benar benar lembut, "Saya mohon, jangan." "Jangan ikut campur, Laura. Biarkan dia tahu jika Ayahnya adalah seorang pria yang sangat sangat menjijikkan dan hina." ungkap pria bermarga Sezer tersebut, "Bagaimana bisa gadis seperti dirimu menjadi bagian keluarga Sezer?! Tidak punya etika dan penampilan kuno!" Tea mengepalkan tangannya, rasanya ingin sekali mencakar cakar pria itu. Pria itu terdiam sejenak, tangannya meraih sebuah anggur dan memasukkanya ke dalam mulut, "Bahkan orang seperti dirimu tidak pantas hidup." tandasnya di sertai tatapan sinis pada si gadis bermanik biru, "Cukup," lirih Tea, ia bangkit dan menatap pria yang menjadi Kakeknya itu, "Anda sama sekali tidak pantas mengucapkan hal itu, sekalipun anda berasal dari keluarga terhormat." ucapnya. Tea melepaskan genggaman Lavina dari tangannya, tatapan matanya yang sendu menatap pria itu, "Aku masih beruntung memiliki dia, meskipun ia memperlakukanku dengan kasar." Tea menahan air matanya agar tidak jatuh, "Yang aku sesali sekarang adalah, aku memiliki darah Sezer." tandas si gadis, ia berlari keluar dengan perasaan penuh penyesalan. Tea benar benar menyesal karena telah datang, terlebih lagi kedatangannya hanya menjadi sasaran hinaan dari pria tua itu. Hatinya terasa seperti di remas remas oleh sesuatu yang kasar, hingga rasanya sangat sakit. Bahkan sangking sakitnya, ia tidak lagi bisa membedakan suatu kasih sayang dan kebencian. Keduanya sama, sama sama menyakitkan dan menghancurkan. Di hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia, kiini berubah menjadi hari paling menyakitkan yang pernah ada. Andai saja ia bisa terlahir kembali di dalam keluarga yang jauh dari orang orang munafik, dari orang orang yang gila akan kedudukan dan dari orang orang yang hanya mementingkan harta. VZ- seri pertama
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN