Malaikat Hitam; 16

2965 Kata
Malam yang dingin ini para petugas dari Eventhres Asylum datang kerumah Tea, gadis itu hanya melihat dari lantai atas saat petugas membawa paksa sang Ayah. Dalam benak kecilnya ia merasa kehilangan sosok pria yang selama ini menyakitinya, tapi dalam dirinya yang lain ia merasa lega karena pada akhirnya Adilson akan dirawat  dan menjadi lebih baik, walaupun itu di rumah sakit jiwa. Senyumnya terangkat, "Selamat tinggal, Ayah." gumam Tea yang tengah menyembulkan kepalanya di jendela kamar. Kini waktunya Tea bergegas turun untuk menunggu Bibinya, ya walaupun masih terasa sakit akibat hinaan kemarin, tapi Lavina bersikeras untuk mengantar Tea pindah, tentu saja bukan ke Sezer's Mansion. Karena semenjak saat itu ia sudah bersumpah untuk tidak lagi menginjakkan kakinya di atas tanah milik keluarga Sezer, ia baru akan datang ketika mendapat kabar kematian dari si pria tua. Suara deru mobil terdengar, dengan segera gadis itu membukakan pintu untuk menyambut Bibinya. Namun, bukanya bertemu dengan Lavina malahan ia menemui orang orang dengan setelan jas serba hitam. Dengan wajah panik ia menutup kembali pintunya. Tapi apalah daya, dia hanyalah gadis kecil yang tidak memilik kekuatan lebih untuk melawan mereka yang berbadan sehat dan kekar, "Hei! Apa yang kalian lakukan?!" paniknya tak kali mereka mengepungnya. "Maafkan kami, Ms. Valaria. Tapi kami hanya ingin membawa anda." ujar seorang pria yang tampak seperti pimpinan mereka, ia melepaskan kacamata hitamnya dan memandang sekilas kearah gadis bersurai cokelat tersebut. Si gadis mengernyit heran, "Kalian siapa?!" tanya Tea yang kesal, sungguh! Ia sangat takut. Pria itu mengangguk dan mulai menjelaskan, "Kami adalah suruhan yang di tugaskan untuk menjemput anda," jelas pria itu, ia kemudian menyuruh anggotanya untuk menggiring Tea. Dengan sedikit terpaksa si gadis melangkahkan kakinya, "Tapi ..." ucapnya ter-jeda saat pria itu membukakan pintu mobil yang terkesan mewah dan modern, "Silakan masuk, Nona." ucapnya dengan nada yang sopan. "Kalian mungkin salah orang, Oh, hei!" gadis itu masih belum mengerti apa yang terjadi, oh apa ini?! Tea meronta ronta saat beberapa orang lainnya menyeret paksa tubuhnya ke dalam mobil, "Lepaskan aku!" teriaknya mencoba melepaskan diri, tapi hasilnya nihil, mobil itu malahan membawa dirinya bersama orang orang ini. Dengan raut yang benar benar kesal ia berucap, "Kalian ingin menculik diriku?! Ku peringatkan! Tidak akan ada yang menebus diriku, jadi percuma kalian membawaku!" ungkapnya. Nampaknya orang orang berjas rapi itu tidak menghiraukan ucapannya, mereka terdiam dalam kesunyian. Sampai akhirnya ia mendengar percakapan salah satu dari mereka melalui telepon, "Kami menuju markas, Tuan." ujar si pria yang menjadi pimpinan, Tea mengerutkan keningnya, "Markas? Tuan?" gumam si gadis yang masih tidak paham, ia menghela nafas dan pasrah dengan nasib konyolnya ini. "Ya, kami ditugaskan membawa dirimu padanya." sahut si pria itu. Tidak lama kemudian mereka sampai di sebuah gedung yang tampak familiar bagi Tea, bukankah ini gedung yang sama saat dirinya bertemu dengan Zack? Apa jangan jangan mereka ini ada kaitannya dengan pemuda itu? Atau justru Zack menjadi tawanan dari mereka? Ah! Memikirkan itu hanya akan membuat si gadis berkeringat dingin. Tea bersama dengan para pria itu berjalan dengan seksama menuju lantai atas gedung, sempat si gadis sesekali menoleh guna memastikan jika ia tidak akan mati dengan cara di tusuk dari belakang. Perasaan aneh bercampur aduk di dalam benaknya, kini dalam hatinya ia berharap, jika ini kematiannya maka harapannya adalah, semoga ia bisa mati dengan keadaan yang baik dan suci. Sesampainya di atas gedung, ia di sambut dengan sebuah ucapan dari seorang pemuda yang selama ini menjadi pujaannya, "Selamat pagi dan selamat datang, Valaria." Tea bersyukur jika kekhawatirannya beberapa menit yang lalu itu salah. Gadis itu akhirnya duduk di sebuah kursi yang terletak di sana, segaris lurus dengan letak berdirinya Zack sekarang, "Zack?" Pemuda bersurai pirang itu menatapnya, "Ya?" sempat ada kesan aneh ketika keduanya bertemu dengan keadaan seperti ini, "Kenapa kau membawaku dengan seperti ini?" tanya Tea masih tidak mengerti. Zack mengernyitkan dahinya, "Kenapa? Adakah kau dilukai mereka?" Zack menatap suruhannya dengan tatapan tajam, mengerti apa yang di maksud, para orang orang itu perlahan meninggalkan keduanya. Zack kini menatap gadisnya lagi dan memberikan sebuah senyum ... aneh? Senyum itu sangat mengerikan, "Hari yang cukup spesial bagimu, bukan?" ucap Zack yang tengah menikmati duduknya di kursi seberang. Si gadis menatapnya malas, ia tahu jika hari ini adalah hari ulang tahunnya, dan hari ini juga menjadi hari yang paling membosankan, "Sama seperti hari sebelumnya, membosankan." pemuda itu tersenyum lebar.  "Kau mau perubahan?" tawar Zack yang terdengar sedikit aneh,  "Mungkin perubahan saja tidak akan pernah mengembalikan kehidupan awal ku, bukan?" pemuda bermanik hijau kelam itu mengangguk setuju, "Kau benar, tapi perubahan bisa membuat hidupmu lebih menyenangkan." Tea tidak membalas ucapan pemuda di depannya, ia hanya diam.  Si gadis menoleh saat Zack bangkit dari duduknya dan berjalan ke tepian jendela, "Siapa wanita yang bersamamu kemarin?" tanya si pemuda, Tea ikut bangkit dan berjalan mendekat. Ia menatap pemuda berparas tampan itu sekilas, "Bibiku," lirihnya, rautnya berubah saat mengingat kembali apa yang ia lalui di mansion mewah milik keluarga Ibunya. "Apa yang membuatmu sedih? Bukankah seharusnya kau senang mendapat keluarga baru?" si gadis menghela nafas berat, ia menatap ke bawah sana, betapa tingginya gedung ini, "Aku membenci mereka, keluarga itu bahkan tidak memiliki nilai moral yang baik. Kedatanganku hanya menjadi sasaran hinaan dari pria bermarga Sezer itu." ujar Tea, Zack menyadari jika nada bicara gadis itu terkesan lebih dingin dan kasar, dan itu menandakan kekesalannya benar benar nyata. Keduanya sempat hening, angin di pagi itu menerbangkan beberapa helaian rambut Tea. Pemuda itu mendekat, tangannya terulur melepaskan ikat rambut Tea, dalam sekejap rambut panjang berwarna kecokelatan itu terurai. Tea menoleh, memandangnya dengan raut datar, "Apa yang kau lakukan?" bukannya menjawab Zack justru tersenyum, ia mengendikkan bahunya. "Kau lebih cantik seperti ini, mengapa harus mengikatnya?"  "Itu kemauanku, lagipula nyaman bagiku dengan mengikatnya." balas Tea, ia membuka telapak tangannya meminta lagi ikat rambut miliknya. Pemuda bersurai pirang itu tentu saja menolak, ia justru melemparkan ikat itu jauh jauh, "Hilang, aku ingin dirimu yang seperti ini, Valaria." ungkapnya, ia menarik sudut bibirnya, membuat Tea kembali terpesona untuk yang beribu ribu kali.  "Lagi lagi kau membuatku penasaran dengan manik hijau itu, Zack." gumamnya tanpa sadar, "Apa itu juga akan membius mu untuk bergabung bersamaku?" pertanyaan pemuda itu membuat Tea tersadar dari lamunannya, ia mengalihkan pandangan, menatap pepohonan yang menyelimuti gedung besar ini. Si gadis memang tidak menjawab pertanyaan itu, ia justru memiliki pertanyaan sendiri, "Siapa kau sebenarnya? Aku sendiri tidak memahami bagian lain dari dirimu, Zack." Zack berjalan ke lain sisi, mengambil segelas minuman tak berwarna yang ada di sana, "Apa yang ingin kau dapatkan? Dongeng yang kelam atau sebuah perjalan rumit tanpa akhir?" gadis itu menghampirinya, memandang satu satunya harapan yang ia miliki untuk kembali, "Kau bisa memberikan apapun yang kau mau, bahkan jika itu berbayar," Zack tersenyum, ia menoleh, "Kau tidak akan menarik ucapanmu?" Tanpa keraguan Tea menggeleng, "Tidak," ucapnya. Zack meneguk minumannya untuk yang terakhir dan menganggukkan kepalanya, "Baik, ikut denganku, aku memiliki satu tempat yang mungkin kau sukai." keduanya akhirnya memilih meninggalkan gedung tua yang menjadi markas Zack berada. Mobil hitam yang mereka tumpangi kini berhenti di sebuah rumah dengan corak kuno yang tampak luas dan mewah. Tea tersenyum melihatnya, ia menatap Zack yang duduk di sampingnya dan bertanya, "Apa ini rumahmu, Zack?" pemuda bersurai pirang itu tertawa kecil dan menggeleng, ia menunjuk keluar sana, "Tentu bukan, ini milik keluarga Griden, lebih tepatnya milik Dich." balasnya, "Untuk apa kita ke sini?" tanya Tea lagi. Si pemuda tidak menjawab, mobil itu berhenti dan keduanya turun. Seorang pemuda bersurai hitam tampak tengah menunggu kehadiran Tea dan Zack, ia tersenyum lebar tak kala keduanya datang, "Hallo, selamat datang di Griden House," sambut Dich sebagai tanda kebahagiaan atas kehadiran dua temannya itu. Zack menjabat tangan Dich dan kembali menatap Tea yang ada di sebelahnya, "Kita akan melakukan sesuatu yang menarik, ini bisa mengasah skill mu, Valaria." Gadis itu memandang kedua pemuda yang ada di depannya, "Jadi, apa itu?" tidak ada jawaban dari keduanya, Zack dan Dich berlalu pergi, menuntun si gadis untuk menjelajahi lebih dalam bangunan yang menjadi tempat tinggal Dich selama ini. Beberapa pintu mereka lewati, hingga sampai pada pintu terakhir yang dijaga oleh beberapa orang, pintu besi itu tertutup rapat dan hanya memiliki akses masuk mengunakan kode. Pemuda bersurai hitam di samping Tea menekan beberapa angka sebagai kata sandi, pintu terbuka lebar, kini tampaklah sebuah ruang gelap yang bahkan tidak terlihat apapun, tangan Zack menggapai sebuah tombol di sampingnya. Ruangan yang tadinya gelap kini tampak lebih terang, berbagai macam alat alat canggih terletak di sana, asap asap dari campuran kimia terlihat sangat menakjubkan. Tea menatapnya tidak percaya, perlahan ia mulai melangkahkan kakinya mendekat sebelum cekalan dari Zack mengejutkannya. Zack menggelengkan kepalanya, maniknya seolah menunjuk kearah depan, "Ceroboh. Kau bahkan tidak menyadari adanya laser itu." ujarnya dengan nada yang dingin dan tegas, Tea menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menatap Dich sebagai peralihan. Tampaknya laser itu telah di matikan oleh Zack, terbukti pemuda itu sudah berada di antara peralatan canggih milik keluarga Griden. "Aku ingin kita bekerja sama dalam hal ini, bagaimana menurutmu?" tanya Zack sesaat kemudian, Tea yang tadinya sibuk melihat lihat, kini mengalihkan pandangannya dan berbalik menatap si pemuda, "Tentang ini? Aku menyukainya, dan aku akan menyetujuinya." ungkap si gadis dengan sangat santai, entah kenapa ia sama sekali tidak berpikir sebelum mengucapkan sesuatu.  "Perjanjian kita terbentuk, aku akan membantumu untuk kembali ke Atherty, dan kau harus membantuku membuat sebuah temuan besar," ucapnya, Tea menautkan kedua alisnya, ia mendekat dan meminta penjelasan lebih dalam, "Maksudmu? Sebuah racun?" Zack tersenyum dan mengangguk, "Apapun yang bisa membunuhnya," tangannya menunjuk kearah seekor tikus yang terkurung di dalam kotak kaca. Zack membalikkan badannya dan hendak pergi, langkahnya terhenti, "Kau akan tinggal di sini, Valaria." ungkapnya tanpa sedikitpun menoleh, ia melanjutkan langkahnya dan pergi meninggalkan sosok Tea yang masih terdiam dalam pikirannya. Dich yang masih berada di sana saling melempar tatapan, "Selamat datang, kau bisa dengan melakukan apapun selama orang tuaku masih dalam proses sidang."  Ia menelengkan kepalanya, "Sidang apa?" tanya si gadis bersurai kecokelatan tersebut, Dich mengalihkan pandangannya sekilas dan memberikan sebuah senyum paksa, "Sidang amal, mengerikan jika membayangkannya." balasan dari pemuda itu berhasil membuat Tea bersalah, "Maafkan, sungguh aku tidak berniat melakukan itu," Dich mengangguk angguk dan mengangkat bahunya, "Tak masalah." tandasnya bersama dengan kepergiannya meninggalkan si gadis sendiri. Sungguh, Tea benar benar bodoh jika menanyakan hal itu pada Dich. Ia menepuk dahinya dan menggeleng, "Bodoh, bodoh, bodoh." gumamnya meruntuki dirinya yang sangat ceroboh. Kita tahu bahwa maksud dari ucapan Dich adalah sidang amal. Ya, sidang yang mengartikan jika orangtua Dich itu telah tiada dan kini tengah menjalani masa dihitungnya amal kebaikan di akhirat. Sungguh, itu jawaban yang benar benar gelap untuk seorang Dich yang memiliki selera humor baik. *** Setelah seharian mengenal rumah Dich, kini si gadis tampak berisitirahat di kamar barunya yang tampak lebih luas dan indah. Tea masih tidak percaya jika mendapat tempat tinggal di sini, terlebih ini adalah rumah milik Dich. Sempat ia memiliki pertanyaan pertanyaan mengganjal yang ada di benaknya, "Mengapa Zack terlihat jauh lebih berkuasa dari Dich?" lirihnya saat si gadis tengah duduk bersantai di atas sofa panjang bergaya Eropa. Perhatiannya teralih saat suara ketukan dari arah pintu terdengar, ia mengerutkan keningnya heran. Tidak lama kemudian pintu terbuka dan menampilkan sosok Zack dengan setelan rapi, "Zack? Ada apa?" tanya Tea saat pemuda itu masuk bersama para bawahannya, "Bersiaplah, akan ada pertemuan mendadak malam ini." titahnya pada Tea, si gadis membenarkan letak kacamatanya dan menatap kembali kearah Zack, "Mengapa aku harus ikut?"  "Jangan banyak tanya, Valaria. Aku tidak menyukainya, sekarang bersiaplah, beberapa wanita akan datang sebagai perancang busana." jelasnya, belum sempat Tea bertanya pemuda itu sudah pergi di susul dengan suara pintu yang tertutup dan ... terkunci? Apa? Terkunci. "Hei? Mengapa harus di kunci?!" serunya sembari menggedor ngedor pintu cokelat yang sangat besar tersebut. Karena tidak ada gunanya lagi untuk berusaha akhirnya Tea memilih membersihkan diri dan bersiap sesuai dengan ucapan dari Zack tadi. Kini dirinya telah selesai, tapi ia enggan untuk keluar, Tea masih terdiam menatap pantulan dirinya dalam cermin, seperti inikan ia selama ini. Gadis biasa yang selalu memakai kacamata besar dan kusam, padahal di balik itu ia memiliki kedua pasang mata yang sempurna. Beberapa detik kemudian ia menghela nafasnya dan mulai mengikat rambutnya kembali dan memasang kacamata kusam itu. Seorang wanita datang saat ia baru saja keluar, ia tersenyum tipis dan memberikan sebua kotak besar pada Tea, "Ini pakaian khusus untuk anda, Ms. Quinnzel." ujarnya dengan nada lembut dan sopan, Tea mengambilnya dan mengangguk, "Terima kasih, kau boleh pergi." ucap Tea, setelahnya si wanita pergi meninggalkan gadis bermanik biru itu dengan pandangan penasaran terhadap kotak yang ada di tangannya. Ia membukanya dan nampak sebuah setelan serba putih lengkap dengan jas laboratorium. Tidak ingin menunda waktu lagi akhirnya gadis itu segera memakainya dan berjalan keluar dengan pengawasan ketat, beberapa orang bahkan mengantarkan ke ruang laboratorium. Di ruang itu ia menemukan sosok Zack yang tengah menyibukkan diri dengan beberapa benda di depannya, Tea mendekat dan mengamati sesuatu yang menjadi titik serius bagi Zack. "Jadi, apa ini?" tanya Tea, pemuda itu menoleh dan merapikan beberapa barangnya, "Tidak ada selain sebuah percobaan yang berkali kali gagal." balas Zack, ia mengambil sebuah botol dengan cairan hijau di dalamnya, "Hanya ini satu satunya yang aku dapatkan setelah sekian lama." Tea mengangguk anggukan kepalanya dan mengamati beberapa benda yang baru saja di gunakan Zack untuk meramu sesuatu. Kerutan samar terlihat di wajahnya, "Tunggu, bukankah ini bahan dari racun yang membunuh Flysi?" tanyanya dengan nada lirih, pemuda bersurai pirang itu memasukkan kembali botol tadi dan membalikkan badannya, "Ya, aku hanya tertarik padanya." balas si pemuda, ia kemudian berjalan kearah lain dan mengambil sebuah catatan lengkap dengan pena. "Aku tahu kau berhasil membuatnya," Tea sempat bingung, dari mana Zack tahu soal keberhasilannya membuat satu racun mematikan itu? Semenjak kematian Flysi saat itu sempat ada kecurigaan tentang Zack, entah kenapa pemuda itu tampak mengetahui semua tengang racun racun yang sempat ia buat. Tea akhirnya membuka suara untuk bertanya, "Zack, sebenarnya dari mana kau tahu aku bisa membuat racun semacam itu?" si pemuda mengangkat tangan kirinya. Kerutan samar terlihat, ia tidak memahami maksud dari gerakan tangan itu, "Apa maksudmu?" tanyanya mengulang, Zack menoleh dan menarik tangan si gadis, "Ada sesuatu yang mengawasi dirimu, kau bahkan tidak pernah menyadarinya." ucap Zack dengan nada lirih, ia melepaskan cekalan nya dan kembali sibuk menyelesaikan penelitian. Pintu terbuka saat seorang pemuda bersurai hitam masuk kedalam ruang serba putih tersebut, ia memberikan senyum manis untuk menyambut pagi ini. Ia menghampiri gadis berkacamata itu dan memberikan satu bungkus egg sandwich padanya, kemudian melangkah lagi menuju tempat Zack berada dan memberikannya hal serupa, "Menyebarkan kebahagiaan di pagi hari adalah tugas seorang Dich Griden." ungkapnya dengan nada yang teramat bahagia. "Aku baru saja dari kamar Ha..." ia menutup mulutnya dan menatap Zack dengan rasa bersalah, "Maksudku, aku baru saja dari kamar Hamster untuk memberinya makan, setelah itu dia sempat mengucapkan satu hal padaku," ujar Dich sembari memakan roti isinya, "Ia sudah mendapat kabar kedatangan mu, Tea. Dia bilang sangat senang bisa mendapatkan sosok seperti dirimu di laboratorium ini." lanjut pemuda bermanik abu tersebut. Tea menoleh dan tersenyum, "Benarkah? Hamster seperti apa dirinya sampai bisa mengucapkan hal itu?" tanya si gadis yang masih tertawa kecil karena ucapan melantur dari sosok Dich. Pemuda itu melahap roti isinya dan membalas pertanyaan yang diberikan oleh Tea, "Hamster tua yang sangat pintar, dia sebenarnya milik Zack, pemuda itu membawanya kemari." si gadis dengan mudah mempercayainya, terbukti dengan caranya mengangguk. Kini keheningan tengah berlangsung di ruangan sepi dan dingin itu, Tea yang tadinya sibuk meramu pun menoleh dan mendekati Zack, "Apa yang kau lakukan, Zack?" tanyanya tak kala melihat sebuah hasil yang di tunjukkan pemuda itu, "Sedikit percobaan." balasnya, ia meraih sebuah suntik di sampingnya dan memasukkan cairan yang baru saja ia buat dengan usahanya. "Jadi, apa ini? Semacam obat atau racun?" Zack menoleh sekilas dan menatap seekor tikus yang tengah berjalan jalan di dalam kotak kaca, "Aku menyebutkan sebagai cairan penyembuh." gadis itupun mengangguk dan mengamati pergerakan Zack, ia berjalan mendekati kotak kaca dan mengambil satu ekor hewan mungil dan menyebalkannya tersebut. Tea masih menatap perkembangan tikus kecil itu, "Kau panda soal ini," pemuda bermanik hijau itu menggeleng pelan, "Tidak juga, hanya sedikit ilmu dari Paman." balasnya kemudian, kini fokusnya masih tertuju pada obyek utamanya, "Dulu aku pernah membuat sebuah temuan saat pertama kali mengenal pelajaran ini dan aku mencobanya pada seekor ikan tapi entah kenapa ikan itu mati dengan cara membusuk." ujar Tea sembari terus mengamati si tikus. "Benarkah? Hebat, kau membuatnya mati dengan perlahan, Valaria." ujar Zack. Tea menautkan kedua alisnya,"Aku harap itu bukan pujian, Zack" pemuda itu menoleh, "Itu pujian pertama untuk dirimu, Valaria" Gadis bersurai kecokelatan itu kini mengalihkan pandangannya, "Kau sendiri bagaimana? Hal apa yang pertama kali kau lakukan?" Dich yang berada di belakang segera mendekat, "Ah, ya. Aku pernah membuat cairan, tapi lebih tepatnya sebuah racun lalu kuberikan itu pada anjing kecilku, dan dia mati dengan menggemaskan." Tea menatapnya tak percaya, "Apa kau sengaja membuatnya mati?" "Aku melihat mereka memberikan cairan seperti itu pada seorang anak perempuan dan aku juga mau mencobanya, Valaria" terang Zack seakan membayangkan masa kecilnya, "Kau melihat dimana hal seperti itu?" Tea mengernyit heran menatap pemuda di sampingnya, Zack tertawa kecil dan menolehkan kepalanya, "Penasaran?" gadis itu mendengus kesal dan menatap jengkel. Beberapa detik kemudian Tea dibuat melotot kaget saat kondisi tikus itu memburuk, "Astaga, Zack! Tikus ini kenapa? Kau membuatnya lebih menderita." bukanya panik Zack malah tertawa, tawa kecil yang terkesan puas, "Itu eksperimen, Valaria" ia menunjukkan cairan yang disuntikkan tadi. "Racun?" tebak Tea dan memang benar dugaannya, itu racun bukan obat penyembuh. Dasar pemuda itu, kenapa ia selalu membuat menderita hewan hewan malang? Sungguh, si gadis merasa jika sifat Zack itu bukan hanya sifat biasa, tapi lebih merujuk pada hal yang dalam dan mengerikan, "Pembunuh" gumam gadis bermanik biru itu. "Ini pelajaran pertamamu." ucap Zack, "Apa kau mau praktek?" tanyanya. Tea tentu saja menggelengkan kepalanya keras keras, ia menatap pemuda itu dengan dingin, "Tidak, aku mau pulang!" tandasnya pada akhirnya, Zack tersenyum. VZ- seri pertama
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN