KLISE

1227 Kata
"Tuan,saya minta maaf ya."Melati menangis tersedu sambil menemankan Deza di rumah sakit yang tangannya baru selesai di jahit karena lukanya cukup dalam. "Kamu nggak salah,saya senang kamu selamat."Deza menatap leher Bian yang juga di obati karena luka yang di goreskan oleh para maling tadi. Keduanya masih di ranjang pasien yang tertutup tirai. "SLAP."Deza memeluk Melati. "Kamu jangan takut lagi ya.Saya senang kamu kasi tahu saya saat kamu dalam bahaya.Itu berarti kamu anggap saya penting." Tangan Melati malu malu membalas pelukan Deza.Deza juga merasakan tangan Melati yang merangkuh pinggangnya. Deza membenamkan wajahnya di pundak Melati.'Bian,andai aja kamu tahu aku ini siapa,kamu akan kecewa karena aku udah nikah.Karena sekarang aku manfaatin keadaan kamu,aku malah bisa dekat dengan kamu.Ini benar benar simalakama buat aku.Jujur aku salah,bohong aku juga akan rugi.Maaf Bian.'Deza mempererat pelukannya. Bian perlahan melepaskan diri. "Kamu kenapa?"Deza bertanya dengan suara lembut. "Saya takut tuan,setiap kita kayak gini,saya selalu takut kalau nyonya Elisa mergoki kita,kalau nanti saya di pecat,kalau nanti nenek saya sedih karena ulah saya."Melati jujur dengan wajah takut. "Melati,saya juga jujur takut.Rumah tangga saya jadi taruhan untuk semua ini.Kalau kamu pikir ini hanya untuk kesenangan saya,kamu salah Melati.Kalau saya mau,banyak wanita lebih cantik dan berkelas di luar sana.Saya bisa pakai atau dapatin mereka.Saya bahkan menikah dengan isteri saya tanpa cinta.Saya nggak bisa kasi alasan sejujurnya kenapa saya milih kamu.Tapi tolong,tetap berada disisi saya." Omongan Deza membuat Melati semakin bingung.'Kenapa aku?Kenapa aku juga mau?Kenapa hati aku makin berat ke dia?' Melati serba salah dan tidak tahu harus bagaimana. "Slap."Deza tahu tahu sudah mencium pipi Melati yang kenyal dan putih itu. Deza lalu beralih dan berbisik lirih ke telinga Melati."Aku benar benar nggak rela kamu di sentuh sentuh sama pria jahat tadi." Bisikan Deza yang lembut membuat d**a Melati menjadi sesak.Melati menegang dengan jari jarinya yang terus gelisah. Deza mendekatkan wajahnya ke wajah Melati."Melati,saya cinta sama kamu." Ucapan Deza membuat Melati menatap Deza kaget."Tuan." "Slap."Deza sudah terlanjur menambatkan bibirnya pada Melati. Melati kaget dengan mata masih terbelalak.Ia ingin menghindar dan menolak namun tidak bisa. Melati malah memejamkn matanya dan menikmati sentuhan bibir lembut majikannya itu. *** "Apa!!!Rumah saya kemalingan?" "Iya,pembantu kamu bahkan di sandera sama perampok.Untung suami kamu datang." Seorang tetangga melapor pada Elisa tentang kejadian yang terjadi. 'Kenapa Deza nggak bilang?Kenapa dia juga bisa pulang kerumah dan nyelamatin Melati?'Elisa memiliki beribu tanda tanya di benaknya. Tidak lama,barulah Deza meneleponnya dan memberi tahu rentetan kejadian.Elisa menyusul kerumah sakit untuk menemui suaminya. Wajah Elisa agak kesal karena Deza pergi begitu saja.Elisa sudah di ruangan dimana Deza di rawat. "Maaf ya Elisa,aku tahu kamu marah." "Iya,aku memang marah!Kamu dalam bahaya dan nggak ngasi tahu aku!Aku ini isteri kamu Deza!Harusnya kamu bilang dan ajak aku!"Elisa marah dengan d**a yang sesak. "Aku panik waktu Melati nelepon kalau rumah kita di masuki maling.Aku juga nggak mau kamu ikut keseret dalam bahaya.Disana tadi situasinya juga nggak nguntungin kalau kamu ikut Elisa." Elisa mencoba berlapang dada.'Ini demi kebaikan aku,dia nggak mau aku dalam bahaya.' "Maaf ya Deza,aku nggak mikir sejauh itu."Elisa meleleh lalu memeluk suaminya. Wajah Deza masih datar di balik punggung Elisa.Sesungguhnya,sekarang ia ingin terus bersama Melati dan bukannya Elisa. Elisa juga menjenguk Melati setelahnya,Melati sangat merasa bersalah dan terpukul pada Elisa yang begitu perhatian dan baik padanya. 'Maaf nyonya,nyonya baik banget tapi saya malah nusuk nyonya dari belakang.'Melati menatap sedih pada Elisa yang duduk di dekatnya. "Melati,kamu boleh ambil libur beberapa hari ya.Kamu istirahat aja,nggak usah kerja dulu.Kamu pasti trauma berat.Saya bakalan tingkatin keamanan rumah biar kejadian ini nggak terulang lagi." "Iya nyonya,makasih banyak nyonya." "Saya minta maaf karena buat kamu dalam bahaya kayak gini.Hampir hampir nyawa kamu bisa aja melayang."Elisa sangat mencemaskan Melati. Mata Melati sudah berkaca kaca menatap majikannya yang amat baik ini namun ia curangi. *** "Saya pamit dulu tuan,nyonya."Beberapa hari kemudian,Melati pulang kekampung halamannya setelah lukanya pulih dan keadaannya lebih baik. "Iya,kamu hati hati ya."Elisa tersenyum di depan pintu bersandingan dengan Deza melepas kepulangan Melati selama beberapa hari. Melati sekilas melirik Deza,Melati melihat wajah Deza yang sedih dengan kepergiaannya. "Saya antar aja mau?Kasihan kamu kalau nunggu bis,ntar kelamaan."Deza malah menawarkan hal itu secara langsung walau didekat isterinya. Melati terperanjak kaget,ia takut jika Elisa marah atau curiga. "Iya,biar Deza anterin kamu ya.Saya nggak bisa ikut karena lagi sibuk buat soal ujian anak anak."Elisa malah biasa saja dan setuju.Baginya tidak mungkin Deza akan jatuh cinta dengan pembantunya sendiri. Deza memang sejak dulu ia tahu baik dan mudah untuk menolong siapapun. Melati tidak bisa menolak apalagi Deza sudah mengangkat dan membawakan tasnya kemobil. *** Melati dan Deza sudah ada di dalam mobil.Saat itu,Deza malah mendapat video call dari Andri. Deza lupa jika Bian ada disisinya dan mengangkat asal panggilan video itu. "Woiy bro,apa kabar?"Suara Andri terdengar girang. "Baik dong,cie yang udah nikah segar banget."Olok Deza pada Andri yang juga menikah lebih dulu sebelum dirinya. "Kan sama aja dengan kamu,makan ada yang nyiapin,baju ada yang nyuciin,bobok ada yang ngelonin." "Halah,bucin isteri banget."Olok Deza. Tidak sengaja,Deza mengarahkan kamera yang membuat Bian terlihat. Andri sontak mendekatkan layar ponselnya."Bian???" Deza yang giliran kaget lalu mengarahkan lagi ke wajah."Ntar kita ketemu,aku ada yang mau di omongin."Deza langsung mematikan telepon itu. Andri yang nun jauh disana hilang fokus dan kaget bagaimana Deza bisa bersama Bian sedangkan Bian sudah mati. Melati juga kaget mendengar nama Bian tadi.Benak dan otaknya seperti tidak asing dengan nama singkat itu. "Kamu kenapa Melati?"Deza bertanya pada Melati yang seperti berpikir. "Nggak tuan,cuma nama Bian yang saya dengar tadi kayak nggak asing." "Ka…kamu ingat sesuatu?"Deza mulai engap ketakutan. Melati menggeleng."Nggak tuan,saya masih belum ingat apa apa." Melati sejujurnya mengingat klise abu abu yanh samar samar.Saat Deza dan Andri memanggilnya dengan nama Bian saat masa sekolah dahulu.Namun ingatan itu hanya klise dan tidak jelas. Deza berkeringat dingin karena tegang.'Ini benar benar nggak nyaman,aku nggak yakin bisa nyembunyiin ini terus,cepat atau lambat semuanya pasti akan ketahuan.Waktu aku dan Bian juga akan segera berakhir dan kami harus berpisah.' Deza sedih dan takut kehilangan Bian. Perjalan berlalu dengan saling diam dan senyap.Deza larut dengan kepanikannya kalau kalau suatu saat semuanya terbongkar. Setelah beberapa jam perjalanan,sampailah Deza mengantarkan Melati didepan rumahnya.Hujan turun dengan derasnya saat itu. "Tuan,terima kasih.Saya mau pamit dulu."Melati bersiap keluar. Deza memandang Melati di tengah suara berisik hujan di luar. "Saya pasti bakalan rindu sama kamu selama kamu nggak ada.Cepat kembali ya." Omongan Deza membuat Melati canggung. Deza memegang wajah Melati lalu mencium kening Melati penuh penghayatan. "Telepon saya kalau kamu butuh sesuatu atau perlu bantuan ya." "Iya tuan."Melati menatap Deza yang tersenyum tulus padanya.'Tuan,apa boleh saya suka sama tuan?Saya wanita biasa,hati saya terus luluh karena perlakuan tuan.Tapi kalau ini salah maka yang paling menderita adalah tuan,apa boleh saya egois ingin tuan membagi cinta tuan?'
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN