Deza dan Elisa benar benar menginap di hotel sejak sore.Hanya Melati yang ada di rumah.
Tapi komplek rumah Deza rupanya sedang rawan maling karena beberapa rumah sudah di satroni.
Tidak akan ada yang menyangka jika malam ini,Melati yang hanya sendirian di rumah akan menjadi sasaran maling yang sudah mengintai dan mengincar rumah Deza.
Kawanan maling tahu jika hanya asisten rumah tangga yang hanya ada di rumah sedangkan pemiliknya pergi.
Mangsa empuk untuk di gondol barang barangnya dan salah satu maling juga tergiur dengan kemolekan wajah dan tubuh Melati.
Melati jelas dalam bahaya besar saat ini.
***
"Deza,aku pengen banget kita cepat punya bayi."Elisa sedang bermanja dengan berbaring di samping Deza di atas kasur empuk dan nyaman hotel bintang 5 itu.
"Santai aja,aku nggak nuntut atau maksa kamu kok.Kalau udah waktunya pasti di kasi."Deza yang menatap layar televisi malah terus memikirkan Bian yang ada di rumah.
'Bian lagi apa ya?Apa dia udah makan?Kasihan dia sendirian di rumah.'Deza galau memikirkan Bian namun Elisa sudah memberi kode mengajak bercinta.
Tangan Elisa sudah nakal meraba raba keperkasaan Deza.Bibir Elisa juga menciumi batang leher Deza.
Deza terpaksa harus melayani kemauan isterinya itu.
***
"Nek,Melati dapat uang banyak.Nanti hari minggu Melati pulang.Kita rehab rumah nenek sama beli barang barang rumah ya nek."Melati menelepon neneknya di kamar karena sangat rindu.
"Kamu udah gajian Melati?Alhamdulilah."Nenek kedengaran senang.
Melati tidak enak karena sebenarnya uang yang ia dapat adalah uang dari upahnya menjadi kekasih bayaran majikannya sendiri.
Saat sedang berteleponan dengan neneknya,Melati mendengar suara aneh seperti orang yang sedang mencongkel pintu.
"Nek,udah dulu ya."Melati mengakhiri pembicaraan karena curiga.
Melati lalu keluar dari kamarnya.Memang benar ada yang coba membobol pintu rumah itu.Dari jauh,Melati bisa melihat ada beberapa orang dengan topeng mencurigakan sedang berdiri di depan pintu rumah.
'Astaga,itu maling?!'Melati ketakutan setengah mati lalu masuk kembali kekamarnya dan mengunci pintu.
Melati ketakutan,ia tidak tahu no telepon polisi.Melati lalu menelepon Deza.
***
"Dret…Dret."Ponsel Deza berbunyi tepat saat ia sudah selesai melayani Elisa.Elisa juga sedang berada di kamar mandi.
Deza masih tanpa busana dan hanya bertutupkan selimut.
Deza melirik ponselnya yang berdering di atas meja lalu meraihnya.
'Melati?Ada apa dia nelepon?'Deza bingung dengan panggilan ini tapi tetap mengangkatnya.
"Halo.."
"Tuan,tolong rumah mau di masuki maling.Saya takut tuan."
Deza langsung duduk tegak dengan nada menegang."Apa?!Maling?"
"Iya tuan,mereka lagi coba bobol pintu depan."Melati sangat panik dan khawatir.
"Ya udah,kamu nunggu aja.Kunci pintu kamar kamu dan jangan keluar."Usai berkata seperti itu,Deza langsung pergi tanpa memeberi tahu Elisa.
Deza dengan kecepatan tinggi memacu mobilnya kencang.
***
Melati sudah bersembunyi di kamar sambil menahan tangis.Berharap ia tidak dalam bahaya dan maling maling itu hanya mengambil barang barang saja tanpa menyakitinya.
"BRAKKK."Pintu kamar Melati malah di dobrak dengan kuat hingga terbuka.
"Hai cantik."4 orang penjahat itu memasuki kamar Melati.
"Mau apa kalian!"Melati sangat takut dan terancam.
"Aku mau mimik."
"Aku mau main kuda kudaan."
"Aku mau ajarin kamu buat anak."
"Aku mau semuanya."
Itulah jawaban satu per satu dari penjahat yang membuat Melati semakin ketar ketir ketakutan.
"Aku duluan ya."Kata salah seorang penjahat yang mulai mengendurkan ikat pinggangnya.
"Jangan macam macam kalian!TOLONG TOLONG."Pekik Melati dengan kuat mencoba mencari pertolongan.
"Dasar ribut!"Ulah itu memancing emosi semua penjahat.
Semua penjahat itu lalu mendekati Melati.Ada yang memegang kaki Melati,ada yang memegang tangan juga ada yang membekap mulutnya.
Melati menangis meronta ronta namun tidak berdaya
Selangkangan Melati di buka lebar,salah seorang perampok sudah bersiap menggagahi Melati.
"Tak kasarin kamu baru tahu!"Si penjahat sudah berada di depan s**********n Melati dengan kejatanan yang sudah ereksi.
"Angkat tangan kalian!!!"Saat yang sudah amat genting itu,Deza bersama segerombolan polisi datang mengepung semua penjahat.
Semua penjahat kaget,3 dari penjahat berdiri mengangkat tangan,tapi satu di antara mereka malah menodong leher Melati dengan pisau.
"Turunin pistol kalian atau wanita ini saya gorok hidup hidup."Melati masih di posisi terbaring.
Penjahat lain mulai merasa tenang karena jalan ini juga bisa membuat mereka lolos.
Semua penjahat lalu mengeluarkan senjata tajam yang mereka bawa berupa belati.
Para polisi masih menolak menurunkan senjata karena mereka juga bisa dalam bahaya.
"Melati,tenang ya."Deza mencoba bicara agar Melati yang pucat pasi itu bisa tenang walau itu hal yang mustahil.
Melati hanya menitikkan air mata saking takutnya.
"Tuan,tangkap aja orang orang ini,nggak apa apa saya celaka.Nyawa saya nggak lebih berharga daripada mereka meraja lela dan merugikan orang lain lagi."Melati mencoba berani untuk bicara.
"Perempuan setan!"Ujar perampok yang menodong leher Melati.Ia lalu sedikit menekan pisau di atas leher Melati dan membuat goresan di sana.
Melati memejamkan mata karena semakin takut.
Salah seorang petugas penembak jitu diam diam dengan berani menembak ke d**a penjahat yang sedang lengah dan marah pada Melati.
"DORRRRR."Timah panas itu tepat bersarang di d**a kirinya dan seketika penjahat itu mati di tempat.
Melati merasa ini celah untuknya dan lekas bangun lalu hendak berlari menuju Deza.
"Grab."Malah penjahat lain yang lebih cekatan lalu menarik Melati lagi dan menodong lagi pisau di leher Melati sambil berdiri.
"Jadi kalian mau curang!Kalian udah nggak sayang sama nyawa wanita ini!"Maling yang menodong leher Melati sebenarnya sedang ketakutan.
"Kalian mau sampai kapan negosiasi!Kalau kalian menyerahkan diri,kalian nggak bakal mati konyol seperti teman kalian!Tapi kalau kalian terus melawan,kalian juga nggak akan menang dan nggak akan lolos kalaupun wanita itu kalian bunuh!"Seorang polisi buka suara.
"Saya nggak akan lepasin wanita ini sampai kalian biarkan kami keluar dengan selamat."Maling itu masih bersi keras.
"DOR DOR."Polisi sudah mulai hilang kesabaran dan melumpuhkan lagi 2 penjahat.
Tinggal yang menyandera Melati yang tersisa.Leher Melati semakin berdarah karena penjahat itu semakin menekan pisaunya.
Deza sudah panik dan cemas dengan sangat.
Melati saat itu memberanikan diri,ia menggigit dengan kuat lengan penjahat yang menyanderanya.
"ARghhhhh."Jerit si maling dengan kuat.
Melati lalu kabur dan lari,saat si maling hendak menangkapnya lagi Deza maju dan menghalau hingga telapak tangannya tertancap pisau demi menahan si maling yang ingin menangkap Melati itu.
"DORRRRR."Penjahat terakhir juga di lumpuhkan dengan dua timah panas di kaki dan tangan.
Melati berhasil selamat walau dengan luka dan trauma pastinya.Melati juga melihat bagaimana tangan Deza terluka besar hanya demi menyelamatkannya.
Deza tetap tersenyum pada Melati walau dirinya terluka saat ini.
***
"Deza kemana sih?Kok tiba tiba aja pergi?"Di hotel,Elisa bingung kemana perginya Deza.
Ia terus menelepon Deza namun tidak di angkat sejak tadi.
Hati Elisa mulai gundah dan galau kalau kalau suamianya sedang dalam bahaya atau bersama wanita lain.
Elisa bingung lalu menangis di ranjang empuk kamar hotel yang tadi menjadi peraduan tempatnya memadu kasih dengan Deza tadi.
Ia merasa jika Deza belum bisa mencintai dirinya sepenuhnya.Walau Deza selalu tersenyum dan baik padanya namun hati Deza masih terpagar dan terkunci untuk dirinya.