"Kamu udah pulang?"Deza menyambut kedatangan isterinya.
"Udah Deza,kamu udah makan?"
"Belum nih."
"Yuk,makan di luar aja."
"Boleh,kamu istirahat aja dulu.Aku siap siap bentar."
"Oke."Elisa duduk bersantai di sofa ruang tamunya.
Elisa memandang foto pernikahannya yang di pajang di ruang tamu.'Aku nggak nyangka,aku bisa cinta banget sama kamu Deza.Padahal kita nggak pacaran ataupun dekat sebelumnya.'
Elisa merasa bahagia dengan pernikahannya.Selain tampan,Deza juga lemah lembut dan baik hati.
Tapi Elisa tidak tahu jika pemilik hati sesungguhnya dari suaminya adalah pembantunya sendiri.
Melati tiba tiba melintas di hadapan Elisa.
"Melati,yuk siap siap.Kita makan di luar aja,nggak usah masak."Ajak Elisa.
"Tapi buk,Melati nggak biasa.Nanti malah malu maluin.Melati di rumah aja,nggak usah ikut buk."Tolak Melati halus.
"Udah nggak apa apa,malu maluin apa sih.Pokoknya harus ikut."Elisa memang baik hati tanpa pandang bulu.
"Baik buk."Mau tidak mau Melati harus ikut karena tidak bisa menghindar lagi.
***
Deza melirik Melati yang ada di kursi belakang lewat spion depannya.Deza senang Melati bisa ikut bersama mereka.
"Deza,kamu mau makan apa?"
"Terserah kamu aja Elisa,aku ikut aja."
"Hem,aku mau seafood,ke restoran yang menunya seafood aja ya."
Deza dan Melati terperanjat,Deza tahu jika Bian alergi seafood,Melati juga tidak tahu harus bilang bagaimana,ia jelas alergi seafood dan akan gatal gatal juga ruam kemerahan jika memakannya.
"Tiba tiba aku pengen bakso aja deh,gimana?"Deza inisiatif memberi opsi lain.
Elisa berpikir sejenak."Boleh deh,aku juga udah lama nggak ngebakso."
Melati nampak lega dan Deza bisa melihat hal itu.Deza juga ikut senang pastinya.
Elisa,Deza dan Melati lalu menyantap bakso bersama.Saat makan,Elisa permisi ke kamar mandi sebentar karena sakit perut.
Tinggallah Melati dan Deza disana.
"Slap."Deza menyeka tepian bibir Melati yang belepotan kuah bakso.
Melati merasa canggung dan tidak enak."Makasih tuan."
"Jangan cemot gitu dong makannya."Deza melembutkan suaranya.
Melati semakin canggung dan berdebar.'Kalau nyonya Elisa sampai lihat aku takut banget.Tapi kenapa tuan Deza baik banget sama aku ya?'Melati mulai takut dengan semua ini.Takut hatinya juga ikut terpaut karena perhatian Deza.
Tapi saat Elisa kembali,Elisa terus saja tersenyum dan menempel pada Deza.Hal itu membuat Melati merasa salah.'Nyonya sayang banget sama tuan,mereka juga pengantin baru.Kenapa aku malah mikir yang bukan bukan!'
Melati menyadarkan dirinya lagi dan tidak ingin perasaannya berlarut larut.
***
Malam ini,Deza melayani hasrat birahi El
isa lagi.Diam diam ternyata Elisa memiliki birahi yang kuat.
Deza bahkan bisa kewalahan dalam memuaskannya.
"Fiuhhh."Elisa berada di atas Deza dan bermain tunggal.Elisa menaikkan tubuhnya naik turun dan melakukan sendiri penetrasinya.
Deza risih karena pikiran Deza tidak sejalan dengan aktifitas ini.Pikiran Deza terus pada Bian tapi yang memakai tubuhnya adalah Elisa.
Untung saja Elisa bisa tetap puas walau Deza tidak prima.
Elisa tertidur lemas setelah membersihkan diri selepas bercinta.
***
"Kriukkkkk."Perut Melati malah berbunyi tengah malam itu.Matanya yang kantuk terbangun dan membayangkan mie rebus dengan taburan potongan rawit untuk mengganjal perut.
"Masak aja lah,daripada lapar nggak bisa tidur."Melati lalu bangun dari ranjangnya dan keluar kamar.
Ia berjalan ke dapur untuk memasak mie instan.
Melati mulai merebus air,menunggu air itu mendidih,Melati mulai memotong motong cabai rawit untuk taburan mienya.
"Melati."Suara Deza mengagetkan Melati saat tiba tiba sudah berada didekatnya.
"Srek."Tangan Melati lalu melenceng dan pisau yang ada di tangannya malah menyayat jarinya sendiri.
"Argh."Melati memerhatikan jarinya yang berdarah.
"Slap."Deza meraih jari itu lalu memasukkan ke mulutnya dan menghisap jari Melati untuk menghentikan pendarahan.
Melati memandang kaget dengan darah yang berdesir dan berkumpul semua ke otak.
Deza juga melihat tatapan Melati yang tidak biasa.
Deza lalu melepas jari Melati."Maaf,saya reflek."
Melati sedang diam karena merasa debaran kuat dengan guncangan skala besar di dalam dirinya.
Deza lalu membawa Melati keluar dan duduk di sofa.Ia memasangkan plester luka ke jari manis Melati yang terluka.
"Terima kasih tuan."Melati mencoba bicara walau kaku.
"Cup."Deza malah mengecup jari itu setelah membalutnya dengan plester luka.
'Kenapa tuan lakuin ini?Sebenarnya apa yang di pikirkan tentang aku?'Melati merasa aneh namun tidak berdaya.
'Aku nggak peduli apapun yang kamu pikirin dalam benar kamu Bian.'
"Tuan,nanti nyonya."
"Sstt."Deza menaruh jari manisnya di tengah bibir Bian.
"Dia nggak akan tahu kalau kamu nggak buka suara."
Melati semakin tidak karuan dengan kelakuan tuannya yang tidak beres ini.
"Tuan,saya ini cuma orang kecil.Bahkan tuan tahu sendiri kalau saya ini lupa ingatan.Bagaimana mungkin tuan seperti ini pada saya padahal hidup saya sudah sulit.Saya mohon jangan tuan."Melati memohon dengan mata berkaca.
"Saya juga nggak berniat mempersulit kamu,tapi kamu terlalu mirip sama kekasih saya yang udah nggak ada sebelum saya menikahi Elisa.Kamu seperti membawa kenangan tersendiri untuk saya."
"Jangan tuan,saya mohon."Melati lalu memalingkan wajahnya.
"Grab."Deza malah bersimpuh di lantai sehingga berhadapan dengan lutut Melati.
"Tuan."Melati kaget pada apa yang disaksikannya.
"Kamu boleh pukul,hukum atau minta berapapun uang saya.Tapi saya nggak bisa ngehapus perasaan ini."Deza dengan wajah memelas memohon pada Melati.
Melihat wajah Deza yang memilikukan dan matanya yang berair membuat Melati luluh.'Kenapa aku nggak tega buat nolak dan ngecewain dia.Padahal aku jelas dalam bahaya kalau nerima dia.Kenapa harus aku?'
"Tuan,udah nggak usah kayak gini.Kalau terikat,jujur saya nggak berani tuan.Saya takut kehilangan pekerjaan saya,saya harus ngehidupin nenek saya di desa.Saya juga takut nyonya Elisa marah sama saya."
Deza senang karena Melati akhirnya mau."Nggak apa apa,saya hanya mau kamu tersenyum sama saya dan nyaman di dekat saya.Saya cuma pengen perasaan saya nggak di abaikan.Saya nggak nuntut kamu buat ngelakuin yang kamu nggak suka.Saya juga akan bayar kamu untuk semua itu.Saya juga pastiin Elisa nggak akan curiga."Deza sangat bersemangat dan kegirangan.
Melati tidak tahu,pilihannya ini benar atau tidak.Malam itu,Deza bahkan memberinya uang tunai 20 juta sebagai Dp.Ia menjadi kekasih gelap bayaran majikannya sendiri.
Tapi dengan uang ini juga,ia bisa menyenangkan neneknya di desa.
'Aku tahu ini semua salah,tapi dengan uang ini,aku bisa balas budi nenek yang udah ngerawat aku.Aku harap aku nggak melampui batas dan suatu saat bisa sesegera mungkin mengkakhiri semua ini.'Melati mendekap uang itu didadanya.
***
"Deza,ntar malam kita coba nginap di hotel baru itu yuk."Ajak Elisa di percakapan saat sarapan pagi ini.
"Srukkk."Melati sedang di samping Elisa sambil menuangkan air minum ke gelas Elisa.Saat ini Melati belum merasa perasaan yang begitu kuat untuk Deza.
Deza tidak nyaman karena Melati harus mendengar hal itu.
"Ehem."Deza berdehem sambil mengangguk.
Elisa pergi bekerja dulu dan Deza masih di rumah.
Melati sedang di dapur sambil mencuci piring.
"Melati,saya berangkat kerja dulu ya."Deza menyusul ke dapur dan berdiri di samping Melati.
"Iya tuan."Melati mengangguk dan setengah takut menatap tuannya.
"Boleh,saya cium kening kamu sebelum pergi?"
Melati mendongak kaget menatap Deza.'Gimana?Apa boleh?'
Melati masih diam tidak tahu harus menjawab apa.
"Ya udah,nggak apa apa kalau kamu nggak mau.Kamu baik baik ya di rumah.Jangan lupa kunci pintu."
Mendengar tutur kata Deza yang halus,Melati jadi tidak tega lagi."Tuan,boleh."Ujar Melati dengan suara pelan.
Dahi Deza mengernyit sambil tersenyum.Ia lalu mendekatkan diri pada Melati.Deza lalu memegang kepala Melati dan mengecup lembut dahi Melati.
Melati terdiam merasa perasaan yang masih bersalah.