KEBOHONGAN

1231 Kata
"Saya terima nikahnya Elisa Pradewi dengan mas kawin seperangkat alat sholad dan satu set perhiasan emas di bayar tunai." "SAH." 1 tahun 8 bulan telah berlalu sejak Bian menghilang.Banyak hal yang terjadi salah satunya pernikahan Deza saat ini. Selama 1 tahun 8 bulan ini,ada beberapa kejadian yang terjadi dalam hidup Deza.Mulai dari ayah bukan sedarahnya meninggal,Deza yang sekarang masuk dalam kartu keluarga Andri dan ibu Deza yang sudah menikah lagi dengan seorang pengusaha. Yang menjadi isteri Deza saat ini adalah anak dari teman ibu kandungnya.Merasa ingin move on,Deza menerima perjodohan ini dan menyanggupi menikah tanpa melalui penjajakan proses pacaran. Elisa tidak ingin bermain cinta yang tidak serius dan kalau memang Deza benar benar atas semua ini,ia ingin langsung menikah saja. Deza yang merasa tidak bisa mencintai wanita manapun dan semua terasa sama saja menyanggupi permintaan itu.Setidaknya ia harus menyambung hidup sambil menunggu ajal menjemput. Deza dan Elisa sekarang sudah berada di kamar pengantin dan juga rumah baru hadiah pernikahan mereka dari ayah tiri Deza yang kaya raya. Deza memandang isterinya yang duduk di hadapannya di atas ranjang.Perlahan Deza memberi senyum pada gadis manis itu. "Kita nggak saling banyak tahu dan kenal,tapi aku harap kita bisa jadi partner hidup yang baik."Deza membuka percakapan. "Maaf kalau aku juga bakalan banyak kekurangan karena belum tahu banyak tentang kamu,tapi aku bakalan berusaha jadi isteri yang baik dan nggak ngecewain kamu."Elisa adalah wanita kalem yang lemah lembut dan baik,ia juga adalah seorang guru bahasa Indonesia.Tutur katanya lembut dan ramah. Deza harus menunaikan kewajibannya malam ini sebagai seorang suami yang memberi nafkah batin pada isteri. Deza memegang pundak Elisa lalu membaringkannya di peraduan ranjang pengantin bersprai merah maroon itu. Walau rasanya berat menikah tanpa cinta,tapi ini sudah menjadi keputusan Deza yang tidak bisa ia cabut lagi. *** "Nek,nenek masih sakit?Besok kita ke puskesmas ya." "Nggak melati,nenek baik baik saja kok.Batuk batuk gini ya biasa,namanya penyakit tua,udah mau mati." "Nenek,jangan ngomong gitu,nanti Melati sama siapa?Melati cuma punya nenek." Setahun lebih berlalu,Bian sudah berganti nama menjadi Melati.Tapi ingatannya belum juga pulih,Melati alias Bian hidup pas pasan bersama nenek penyelamatnya. Tapi Melati sangat menyayangi nenek itu,sekeras apapun Melati berusaha mengingat ia hanya akan sakit kepala dan tidak bisa mengingat apapun. Nenek yang sakit sakitan membuatnya tidak mampu bekerja lagi,karena itu mulai besok Melati akan bekerja sebagai pembantu di rumah seseorang. Lowongan ini ia dapatkan dari orang desa baik yang mau membantunya.Melati harus menjadi tulang punggung agar bisa menghidupi nenek yang tinggal bersamanya. Walau untuk sementara berpisah,tapi seminggu sekali ia di perbolehkan pulang dan mendapat jatah libur. Sang nenek awalnya berat melepas Melati,tapi apa boleh buat,ia juga tidak berdaya dan tidak mampu mencari nafkah lagi. *** "Melati pamit ya nek,minta doanya."Melati mencium tangan neneknya untuk berpamitan kekota. "Iya,kamu hati hati ya."Menitik air mata nenek menahan sedih. Melati pergi bersama beberapa orang lainnya.Melati memberanikan diri untuk bekerja walau ia tidak kenal siapapun disana. *** "Deza,hari ini asisten rumah tangga kita bakalan datang ya."Elisa bicara di meja sarapan bersama suaminya. "Iya,aku oke oke aja." Deza masih bisa berkata seperti itu,tapi semua berubah saat sore hari asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya ternyata berwajah Bian. Badan Deza bergetar melihat wanita dengan rambut kepang dan pakaian yang sederhana itu.Cukup kemeja panjang dan celana tisue hitam. "Nama saya Melati,saya dari desa Wonosari."Melati alias Bian memperkenalkan dirinya malu malu. 'Bian!Itu jelas banget wajah Bian,tapi kenapa malah Melati?Dia juga nggak kenal sama aku.'Banyak tanda tanya yang menghinggapi kepala Deza dengan keadaan ini.Keadaan yang sangat membingungkan dan memedihkan. *** "Kamu."Deza menegur Bian yang sedang menyapu di pagi hari setelah isterinya berangkat kerja.Semalam Deza tidak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkan Bian dan ingin bertanya ini dan itu. "Iya tuan,ada apa."Melati memegang sapu dengan canggung bertanya pada tuannya yang dahulu kekasihnya. "Saya mau bicara,bisa kamu ke ruang tamu sebentar?" Melati mengangguk menurut. Melati agak canggung saat ia sudah duduk di sofa yang berseberangan dengan Deza.'Aku salah apa ya?Kenapa udah di ajak bicara aja.' "Kamu nggak perlu takut gitu,saya bukan mau bahas yang aneh aneh."Deza menenangkan Melati yang nampak resah dan takut itu. "Iya tuan."Melati merasa lega dengan kata kata Deza. "Begini,saya ngerasa wajah kamu nggak asing.Kamu mirip dengan seseorang yang saya kenal." "Deg!"Melati tercekat.'Apa dia ada hubungannya dengan ingatan aku yang hilang?' "Nggak mungkin tuan,saya tinggal di desa dan saya nggak ngerasa mengenal tuan sebelumnya."Sangkal Melati. "Boleh saya tahu kamu tinggal dengan siapa?"Deza masih belum menyerah. "Saya tinggal dengan nenek saya tuan." "Orang tua kamu?" Melati agak bingung menjawab yang ini."Saya nggak tahu tuan." Jawaban Melati membuat Deza bingung."Kok kamu nggak tahu?" Melati lalu memutuskan jujur."Sebenarnya saya hilang ingatan waktu nenek yang tinggal dengan saya merawat saya.Saya di temuin hanyut di sungai dan nggak ingat apapun tentang siapa diri saya." Darah Deza mengalir dengan kencang,jantungnya juga terpompa dengan cepat.Dugaaan dan perasaannya tidak salah,yang ada di hadapannya memang Bian,ternyata Bian selamat namun lupa ingatan. Deza senang bercampur sedih.'Rasanya sekarang aku pengen meluk kamu Bian,aku nyesal dulu nggak berusaha lebih keras.Kamu ternyata masih hidup.Tapi aku juga sedih,kita malah bertemu setelah aku udah nikah.Aku nggak mungkin jujur tentang siapa diri kamu,aku pasti akan kehilangan kamu dan jauh dari kamu.Dulu kita kekasih tapi aku kira kamu udah meninggal.Kalau sekarang aku kasi tahu siapa kamu,orang tua kamu bakalan ambil kamu dan kamu nggak akan ada di dekat aku lagi karena aku udah nikah.' Deza lalu berbohong."Kalau gitu saya salah orang,kamu memang mirip tapi kamu bukan orang yang saya maksud."Deza lalu menutupi semuanya.Ia tidak tahu sampai kapan akan bertahan semua kebohongan ini. "Gitu ya tuan,saya juga mikirnya mustahil orang kayak saya bisa mirip orang yang tuan kenal."Melati harus pupus lagi untuk tahu jati dirinya. "Kamu kerja aja yang baik di sini,semoga kamu bisa betah dan bantu nenek kamu ya." "Iya tuan." Deza terharu melihat Bian yang ada di hadapannya walau tidak mengenali dirinya. Deza bangun lalu mengelus kepala Bian,"Kerja yang rajin ya." Elusan kepala itu membuat Melati merasa berbeda.Seakan sentuhan itu memiliki makna yang dalam. Melati juga melihat tatapan tuannya yang amat hangat padanya.Perasaannya menjadi berbeda dan merasa ini tidak asing. *** "Ini gimana ya?"Melati kebingungan sambil berdiri didepan mesin cuci.Ia tidak mengerti bagaimana cara menggunakannya. "Ini begini."Deza tiba tiba sudah ada di belakangnya dan mengajari Melati. Melati berdebar karena tuannya tepat berada di belakangnya dan sangat dekat dengannya. "Gini ya Melati,kalau ada yang nggak tahu lagi tanya aja." Melati melihat wajah tampan Deza dari samping."Iya tuan."Sahut Melati halus. Deza memandang Melati dengan dekat,hasrat dan rindunya sangat bercampur aduk.Sekalipun semalam ia sudah tidur dengan Elisa namun melihat Bian mengingatkannya akan masa muda mereka dahulu. "Rambut kamu wangi banget."Deza menghirup aroma rambut Bian. Melati semakin meringkuk dan berdebar,nafasnya bahkan terasa berat dan sesak.'Kenapa aku malah kayak gini?Aku berdebar sama majikan aku yang udah punya isteri.' "Deza,aku pulang."Suara kedatangan Elisa mengagetkan Melati dan Deza. Tapi hal ini menyelamatkan Melati karena Deza pergi setelahnya. Tapi Deza pergi dengan senyuman hangat yang masih melekat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN