HILANG INGATAN

1254 Kata
"Mmhhhhhhh."Terdengar dari dalam mobil menggema suara itu. Deza membawa Bian kedalam mobil kesayangannya dan berhenti di sebuah tempat sepi.Disana ia menciumi Bian yang duduk di kursi penumpang di sampingnya. Tidak terbendung rindu yang menerpa hingga setelah upacara tadi,Deza langsung membawa kabur Bian. Deza menciumi Bian habis habisan.Nafasnya terengah seakan akan habis karena tidak memberi ruang Bian untuk berhenti melayani bibirnya. "Udah Deza,ntar kita di tangkap satpol pp.Jam kerja kok malah keluyuran,ginian lagi."Bian menghentikan lebih dulu sebelum kelewat jauh. Deza tersenyum geli."Pasti kamu pernah di angkut PolPP ya." "Malah ngeledekin,kamu mau masuk lambe turah ntar,kepergok m***m jam kerja." "Iya iya deh,aku yang salah."Deza senang karena Bian tetap sama bisa menaikkan mood dan suasana hatinya dengan baik. Tapi bencana sudah menanti didepan mata,Verona geram dan kesal saat tahu Bian pergi bersama Bian. "Tuh anak baru mesti di kasi pelajaran nih!"Verona sudah merencanakan sesuatu yang jahat untuk menyakiti Bian. Saat Deza dan Bian dalam perjalanan kembali ke kantor,keduanya di buntuti oleh sebuah mobil van. Mobil itu lalu mencegat dan berhenti didepan keduanya. "Deza,siapa tuh?" "Aku juga nggak tahu,kita di mobil aja.Kayaknya mereka punya niat jahat."Terka Deza. Deza dan Bian menegang saat sekumpulan orang berbadan besar dan berwajah jahat keluar dari mobil itu. "Tok..Tok..Tok."Seorang pria mengetuk tepat di samping Deza. "Deza,jangan di buka,aku takut."Bian memegang lengan Deza. "Nggak apa apa,kita tanya aja mau mereka apa." Deza lalu menurunkan kaca mobilnya. "BRUK."Deza malah langsung di hantam dengan tinjuan di kepala yang sangat kuat. "Aaaaaaaa."Bian menjerit kuat. Deza pingsan seketika di tempat,Bian lalu di culik dan di bawa paksa entah kemana.Deza di biarkan begitu saja tidak sadarkan diri. Bian rupanya di bius dan dibuat pingsan lalu di bawa pergi oleh para penjahat itu. Bian lalu di lempar ke sebuah sungai dan di hanyutkan ke sungai.Saat di lempar kepalanya terbentur batu besar dan ia lalu hanyut terbawa arus sungai sepi itu. Tidak ada yang tahu Bian selamat atau tidak. *** Deza terbangun setelah beberapa lama,kepalanya masih terasa pusing dan sakit. Ia menoleh dan mencari Bian."Bian,dimana dia?"Deza panik,Deza mencoba menelepon Bian tapi ternyata ponsel Bian masih didalam tas Bian yang ada di mobilnya. Deza baru ingat,ia masih menghafal plat mobil van yang tadi menyerangkan.Langsung saja Deza melapor pada polisi. Telisik yang sengit membuahkan hasil,Verona terseret dan diketahui menjadi dalang utama dari semua ini. "Wanita setan!!Apa yang kamu lakuin ke anak saya hah!!Dimana Bian!"Ibu Bian yang sudah sangat panik dan kalut langsung menghampiri dan mecengkram baju Verona dengan kuat. Verona tentu ketakutan."Aku nggak tahu." "PLAK."Tamparan keras mendarat ke wajah Verona dari ibu Bian. "Nggak tahu kamu bilang!Kamu suruh penjahat culik dan lempar Bian ke sungai!Kamu masih bilang nggak tahu!Kamu bunuh dia tapi nggak tahu!"Emosi ibu Bians sangat mencuat. Ayah dan ibu Verona menyerahkan polisi saja yang mengatur semuanya,keduanya sibuk karena karirnya hancur akibat ulah Verona.Verona bahkan tidak didampingi kuasa hukum dan orang tuanya. Hasil penyisiran di lokasi Bian di buang belum membuahkan hasil.Sementara belum di ketahui nasib Bian masih bernyawa atau tidaknya. Semua menunggu dengan harap harap cemas penuh penantian. "Kamu itu iblis Verona!Kalau kamu masalahnya sama aku,kamu celakain aja aku!Kamu bunuh aja aku!Tapi kenapa Bian!!!Kamu pantas ngebusuk di penjara!Atas pembunuhan berencana yang kamu lakuin,aku bakal nuntut hukuman seumur hidup ataupun hukuman mati!Kalau kamu masih bisa bebas,aku pastiin hidup kamu akan tetap menderita setelah kamu bebas dari penjara."Giliran Deza yang berapi api menunjuk sambil memaki Verona. Ibu Bian sudah pingsan dan melemah.Perasaan buruk saat ayah dan ibunya melepas Bian ke Jakarta ternyata berbuntut seperti ini.Bian malah di celakai oleh wanita berkuasa yang berkulit cantik namun busuk. Deza bahkan ikut mencari langsung dengan semua kru tim sar.Ia juga sangat minta maaf pada orang tua Bian atas apa yang terjadi. Untungnya,orang tua Bian tidak menyalahkan Deza dan tidak membenci Deza. Semua ini salah Verona dan mereka akan menuntut Verona sampai mendapat hukuman setimpal.Orang tua Bian juga ikut dalam pencarian Bian sampai mereka bisa menemukan Bian kembali walau kemungkinan terburuk hanya jasad tanpa nyawa yang dapat mereka temukan. *** "Pa,selamatin Verona pa.Verona nggak betah di penjara." Saat di jam besuk,ayah ibu Verona datang menjenguk Verona. "Dasar anak kurang ajar!Nggak bakalan papa keluarin kamu!Gara gara kamu papa harus mundur dari jabatan!" "Iya!Nama baik mama juga tercoreng gara gara kamu!Dewan perwakilan rakyat tapi anaknya malah pelaku kriminal!Tahu kamu betingkah gini,nyesal mama lahirin kamu!Apa kurang papa sama mama kasi kamu kemewahan dan hidup enak.Karir mama dan papa yang udah kami bangun bertahun tahun,hancur gara gara kamu!Kami di cemooh dan cekal habis habisan."Ibu Verona sangat sedih jabatannya di copot. "Kamu itu aib Verona!Papa harap kamu renungin semua kesalahan kamu disini!Papa mau kelihatan adil biar bisa ngambil simpati orang orang lagi.Lebih baik kamu memang mendekam aja disini biar nggak buat onar.Papa dan mama bakalan ke Amerika untuk sementara waktu sampai berita kamu mereda!" "Nggak pa,jangan tinggalin Verona.Verona takut."Verona memohon dengan melas. "Takut takut,nggak guna takutnya kamu!Karir papa sama mama hancur itu lebih menakutkan dari apapun!" Setelah bicara seperti itu,baik ayah dan ibu Verona langsung pergi dan meninggalkan Verona. Verona menangis ingin ikut namun di tahan petugas. Ia tidak menyangka,perbuatan yang ia sangka hanya untuk menggertak dan hanya dirinya yang tahu atas kehendak takdir malah ketahuan. Kini ia harus mendekam di balik jeruji besi sambil menunggu vonis yang akan di jatuhkan padanya. *** Hari berganti hari,minggu berganti minggu dan 1 bulan telah berlalu setelah pencarian siang malam yang melelahkan namun belum membuahkan hasil itu. Bian belum juga di temukan baik hidup ataupun mati,semua orang mulai lelah dan menyerah. Melihat keadaan seperti ini,tidak mungkin juga Bian masih hidup.Jasadnya mungikin sudah hancur atau di makan binatang buas seperti ular dan buaya. Tidak ada secercah harapanpun jika Bian masih hidup.Mau tidak mau,pencarian harus di hentikan. Deza dan keluarga Bian harus menyerah dengan tidak ditemukannya Bian. Setelah pencarian Bian dinyatakan selesai,Deza berdiri dengan pakaian serba hitam di jembatan tempat Bian jatuh di buang. 'Bian,aku yakin sekarang kamu udah di tempat yang abadi dan indah.Tempat yang nggak mungkin aku jangkau dan gapai.Aku harap kamu baik baik di sana sampai kita ketemu lagi nanti." Hari itu,Deza sudah merelakan kepergian Bian untuk selamanya.Ia tetap harus melanjutkan hidup sebagai insan yang masih di berikan nyawa. *** "Aku dimana?Siapa aku?" "Ndok,kamu udah sadar?"Tanya seorang wanita tua pada gadis yang ia temukan beberapa minggu yang lalu di tepian sungai saat sedang mencuci baju di sungai. "Nenek siapa?Terus,aku ini dimana?Aku nggak ingat apapun."Ujar gadis itu dengan tatapan linglung dan bingung. "Nenek nemuin kamu di sungai,kamu pingsan lalu nenek bawa pulang dan rawat.Kepala kamu luka,mungkin itu yang buat kamu nggak bisa ingat apa apa.Nenek nggak ada uang mau bawa kamu kerumah sakit nak." "Aku juga nggak ingat apapun." "Keluarga kamu pun kamu nggak ingat nak?" Gadis itu menggeleng dengan wajah sedih.Benar saja,gadis yang di temukan oleh nenek yang hidup sebatang kara ini adalah Bian. Bian yang hanyut terbawa arus di tolong oleh seorang nenek yang baik dan mau merawatnya selama ia tidak sadarkan diri selama ini. Tapi akibat dari kepalanya yang terbentur,Bian kehilangan ingatannya dan bahkan tidak tahu siapa dirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN