Aku selalu mencoba bertahan walau sering dipatahkan.
.
.
.
---
"Arsen." Ceril menyebut nama itu dengan pelan. Kejadian di kantin tadi terus membayanginya, di mana Arsen menahan tangannya saat ingin menampar Faya.
Yang Ceril ingat, usai membubarkan murid di kantin, Arsen segera berlalu dari sana seolah-olah ia hanya menghalangi Ceril agar tidak melakukan tindakan tidak terpuji itu. Bagaimana pun juga, Ceril reflek ingin menampar Faya, bukan murni atas kemauannya.
"Woi! Gak boleh melamun di pinggir jalan." Cowok yang tadi pagi membuat Ceril kesal setengah mati kini tiba-tiba mengejutkannya.
Naka membuka helm dan menyugar rambutnya yang tampak lepek karena keringat, lalu ia melempar senyum lebar ke arah Ceril yang enggan menatapnya. "Gue minta maaf soal tadi pagi," ujar Naka menyesal. "Gue memang kayak gitu, suka mendadak amnesia kalau lagi panik," tambahnya menjelaskan.
Ceril tidak mengubris, ia sibuk memerhatikan kendaraan yang berlalu-lalang.
Dalam hati Ceril menggerutu kesal, pasalnya belum ada satu pun angkot yang lewat.
"Ceril, lo mau, kan, maafin gue?" Naka menatap Ceril penuh harap. Seragam yang lusuh serta wajah yang terlihat lelah tidak membuat ketampanan cowok itu berkurang, malah membuatnya lebih terlihat seksi. Namun, Ceril tak peduli, ia masih kesal dengan Naka.
"Sebagai gantinya, gue bakal anter lo pulang." Naka menatap Ceril serius. "Gue bakal anter lo sampai rumah dengan selamat ..., tapi sebelum itu gue mau traktir lo es krim dulu," ujar Naka tidak menyerah.
Ceril menoleh, menatap Naka dengan malas. "Lo kira gue mau?"
Naka tersenyum, tangannya bergerak mengambil tas punggung Ceril yang kebetulan ia tenteng.
Ceril membelalak kaget, ia sontak ingin mengambil tasnya kembali, namun Naka lebih cepat menarik tangan Ceril hingga membuatnya tersentak maju selangkah.
Ceril menahan napas, wajahnya dengan wajah Naka begitu dekat. Bahkan Ceril dapat melihat dengan jelas pantulannya di bola mata Naka yang menenangkan.
Ceril berdehem, dengan gerakan kaku ia mundur beberapa langkah. Sedangkan Naka hanya tertawa kecil melihat Ceril salah tingkah.
"Tunggu apa lagi? Ayo! naik," ujar Naka, tidak lupa memasang tas Ceril di dadanya, sedangkan tasnya ia panggul di belakang, seperti semestinya.
Ceril mengerjap, perasaan kesalnya perlahan menguap melihat tingkah Naka.
Seharusnya tidak seperti ini.
☆☆☆☆
"Sepulang dari sekolah, gue langsung jemput lo." Naka memulai obrolan. Ceril hanya diam di boncengan.
"Kok lo diem?" tanya Naka dengan volume suara lebih keras. "Lo gak suka, ya, gue anter pulang?"
Ceril tergagap, lalu ia menggeleng. Sadar jika Naka tidak bisa melihat gelengannya, ia pun berinisatif menjawab, "bukan gitu."
"Sumpah, kita kayak pasangan yang lagi berantem tau." Naka melirik Ceril dari kaca spion.
Ceril mengernyit heran. "Gak usah ngomong aneh-aneh! Gue juga terpaksa ikut lo."
"Entar juga terbiasa." Naka tersenyum di balik helm. Sengaja ia memelankan laju motornya, agar dapat lebih lama menikmati membonceng cewek galak dan jutek. Begitulah pikirnya.
☆☆☆☆
Angin sore memainkan rambut Ceril dengan leluasa. Suasana jalan sore yang mulai menampakkan lampu-lampu menambah kesan indah yang menenangkan. Tanpa sadar Ceril menikmati semuanya. Perasaan hangat menjalar ke relung hatinya dan tanpa sadar lengkungan senyum tercipta di bibir ranum Ceril.
"Sampai kapan lo mau senyum-senyum?" Naka menatap Ceril dengan ekspresi geli.
Ceril tersentak, tatapannya jatuh pada laki-laki yang sedang mengulurkan sebuah es krim berkemasan cantik.
Ceril menerimanya dengan enggan. Netranya jatuh pada tulisan yang tersusun cantik di kemasan es krim berwarna pink itu.
Makanan manis juga harus dinikmati oleh orang yang manis. Selamat menikmati, Manis.
Ceril membasahi tenggorokan usai membacanya. Namun sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa senang yang menjalar ke hatinya. Ceril tidak mau terlihat senang di hadapan Naka. Untuk saat ini dan entah sampai kapan.
"Coba baca tulisan di kemasan es krim itu." Naka menunjuk kemasan es krim Ceril. "Kata-katanya gue yang buat loh," ujarnya bangga. "Keren banget, ya, kedai es krim ini, cocok banget buat orang yang punya pasangan."
Ceril memilih diam walau telinganya menyimak dengan baik.
Sedangkan Naka tampak bersemangat berbicara sambil menikmati es krimnya meski jarang digubris oleh Ceril.
"Cer."
Ceril mendongak, netranya langsung bertabrakan dengan netra Naka yang menenangkan. "Ya?"
"Gue ada pertanyaan buat lo."
"Apa?"
Naka memajukan wajahnya sambil menopang dagu di atas meja bundar berwarna biru pastel. "Ada yang manis, tapi bukan gula. Hayoo, apa?" tanya Naka bersemangat.
Walaupun malas menanggapi, tak urung Ceril mengernyit bingung. Bukan karena pertanyaan Naka sulit, tapi bagi Ceril itu pertanyaan yang unfaedah dan pasaran.
"Tebu?"
Naka menggeleng. "Salah."
"Es krim?" Ceril menunjuk es krim miliknya menggunakan dagu.
Naka kembali menggeleng. Matanya tampak berbinar menatap Ceril yang mengernyit bingung.
"E-em, coklat?"
Kembali gelengan yang Ceril dapat.
"s**u?"
"Masih salah." Naka tersenyum penuh kemenangan. "Nyerah?"
"Ya udah!" ketus Ceril. "So, Jawabannya apa?"
"Jawabannya adalah ... elo, Cer." Naka tersenyum lembut. "Yang manis dari gula itu, ya, elo, Ceril."
Di lain sisi, Ceril menatap speechless ke arah Naka yang menatapnya penuh senyum. "Gak lucu."
Naka mendelik. "Gue lagi gak ngelucu, Cer. Tapi gue lagi ngegombal. Sayangnya orang yang gue gombal hatinya kayak batu," ujar Naka.
Ceril menoleh ke samping kanan, di mana banyak pengunjung yang sedang antre menunggu pesanan. Dalam keadaan sadar, Ceril melepaskan senyum kecil yang sejak tadi ia tahan-tahan meski akhirnya ia ganti dengan wajah datar.
Rasa itu kembali hadir di benaknya. Rasa yang dulu pernah ia nikmati sepenuh hati meski harus berakhir tersakiti.
Lagi dan lagi, rasa yang tadinya manis, kini terganti oleh rasa takut.
Takut terulang kembali dan jatuh lagi.
Ceril belum siap dan tak akan pernah siap untuk hal itu.
Ceril, pengecut rasa.
☆☆☆☆☆
"Dari mana aja kamu baru pulang jam segini?" Sebuah suara mengejutkan Ceril saat melepas sepatunya di depan pintu.
"Ceril abis jalan-jalan sebentar, Bu."
Jeni bersidekap d**a sambil menatap nyalang ke arah putrinya. "Oh, sama cowok yang barusan ngantar kamu?"
Ceril menunduk, menatap sepasang kakinya dibarengi perasaan kalut, seolah kakinya adalah pemandangan yang pas untuknya saat ini.
"Udah berani, ya, sekarang kamu jalan sama cowok!" ketus Jeni. "Kamu sadar gak terakhir kali kamu pacaran hasilnya kayak gimana?"
Tangan Ceril saling bertautan. Bibirnya kelu untuk membalas ucapan Jeni. Trauma masa lalu kembali membayang di kepalanya.
"Ibu ingetin, ya. Kamu terakhir kali pacaran udah kayak orang gak waras. Pulang-pulang nangis! Mogok makan! Ngurung diri di kamar!" Jeni terus berbicara dan tidak memedulikan kondisi Ceril yang memucat serta keringat dingin membanjiri.
"Ceril, kamu seharusnya belajar dari masa lalu! Ibu gak mau lihat kamu kayak orang gak waras lagi cuman karena laki-laki! Pokoknya untuk saat ini Ibu gak mau lihat kamu berhubungan sama laki-laki, apa lagi sampai menjalin kasih." Setelah mengatakan hal itu, Jeni beranjak meninggalkan Ceril yang membisu.
Ceril terduduk di depan pintu, rasa sakit itu kembali hadir mengoyak luka yang sepenuhnya belum sembuh. Lorong hatinya semakin terasa hampa, hening dan kosong.
Tanpa sadar, ada sepasang mata yang menyaksikan semuanya di balik pagar.
Pemilik mata menenangkan itu hanya dapat mengepalkan tangan dengan perasaan marah. Dadanya menggebu, seolah ikut merasakan perasaan Ceril.
Memang, setelah mengantar Ceril pulang, Naka segera malajukan motornya. Namun di pertengahan jalan ia teringat akan sesuatu, ia lupa meminta nomor w******p Ceril, agar mudah menghubunginya, begitulah maksud Naka.
Akan tetapi, pemandangan menyakitkan harus ia saksikan dalam diam. Naka merasa bodoh karena memilih membisu dan tidak melakukan apa-apa.
"Gue janji sama diri gue sendiri." Naka bergumam. "Gue atas nama Naka Renando, berjanji tidak akan menyakiti wanita walau seujung kuku dan akan membahagiakannya sepenuh hati."
Naka tidak main-main dengan janjinya.
Semoga ....