Chapter 9 - INSECURE

1164 Kata
Aku lelah. Lelah dengan heningnya hati yang terkekang oleh keadaan dan tertelan oleh waktu yang menyesakkan . . . --- "Assalamualaikum." Naka melangkah masuk ke rumahnya sambil menenteng sepatu. Nando yang sedang bersantai di ruang tamu, sontak menoleh ke arah putra semata wayangnya. "Waalaikumsalam. Anak ganteng Papa udah pulang ternyata." Naka tersenyum lebar dan menghampiri Papanya. "Maaf, Naka telat pulang, Pah." Nando menanggapi ucapan putranya dengan raut lucu. "Gak apa-apa kali. Namanya juga anak cowok. Wajar kalau main-main, asal gak mainin perasaan hati wanita aja," ujar Nando guyon. Naka meringis pelan mendengar ucapan Nando. Pasalnya Papanya itu dari dulu mengajarkan pada Naka bahwa pantang bagi pria menyakiti wanita. "Pah." "Hm." "Naka sebenarnya habis jalan sama cewek, Pah," ujar Naka pelan. Sudut matanya melirik eskpresi Nando. Takut-takut jika Nando akan mengomelinya. Maklum, Naka belum pernah berhubungan dengan perempuan. Nando tak langsung menjawab, ia menatap putranya dengan wajah kaget. "Serius kamu, Nak?" Dengan gerakan lambat Naka mengangguk lemah. "Alhamdulillah." Nando mengangkat kedua tangannya. Mengucap syukur mendengar penuturan putranya. Naka menggaruk pipinya sambil menatap heran ke arah Papahnya. Bagi Naka tingkah Papanya sekarang ini sungguh terlihat aneh. "Papa ngapain, sih?" "Bersyukur, Nak." Nando menepuk-nepuk punggung Naka. "Papa kirain selama ini kamu gak tertarik sama perempuan," ujar Nando jujur disertai tawa kecil. Naka terbelalak kaget mendengarnya. "ASTAGHFIRULLAH. Mentang-mentang Naka gak pernah pacaran, dituduh belok sembarangan." Naka memberengut kesal. Tidak habis pikir dengan pemikiran Papanya yang tidak masuk akal. "Ngomong-ngomong, siapa perempuan itu, Nak? Bisa-bisanya meluluhkan hati anak Papa yang batu ini." Naka tak langsung menjawab. Sebab, dia sendiri belum yakin dengan perasaannya. "Dia cewek galak, Pah. Kalau ngomong suka ngegas, gak ada anggun-anggunnya. Selain suka ngegas, dia juga ngomong dikit-dikit. Naka aja sampai bingung kalau ngobrol sama dia ... bingung nyari bahan obrolan." Naka menerawang, mengingat-ngingat kesan perkenalannya bersama Ceril. Nando mengulum senyum mendengar penuturan putranya. Ia dapat melihat keseriusan di mata putranya, ia yakin putranya tak akan mengecewakan anak gadis orang. Hanya saja, ia takut jika putranya, lah, yang akan dikecewakan. "Kamu suka sama dia, Nak? Atau hanya sebatas kagum?" Naka menegang mendengar pertanyaan Papanya. Jujur, Naka sendiri masih belum bisa mengartikan perasaannya terhadap Ceril. "Nak, pikirkan baik-baik perasaanmu. Jangan karena gegabah, dua hati kamu sakiti," ujar Nando menasehati. "Dua hati?" Nando tersenyum tulus. "Hatimu dan hati dia." Naka diam, ia mulai dilanda kebimbangan. "Naka bimbang, Pa. Naka baru kali ini deket sama cewek. Baru kali ini juga Naka berniat melindungi cewek selain Mama. Naka takut kecewa dan mengecewakan, Pa." "Pikirkan baik-baik, Nak. Papa gak mau lihat kamu mengecewakan anak orang. Pantang bagi lelaki menyakiti hati seorang wanita," ujar Nando penuh peringatan. Sedangkan Naka sedikit tidak terima mendengar ucapan Papanya. "Jadi wajar gitu kalau perempuan nyakitin hati laki-laki?" Nando terkekeh geli mendengarnya. "Dasar amatiran." "Paaah!"   ☆☆☆☆☆ "Pokoknya saya tidak mau melihat wajah anda lagi di rumah saya!" Suara Jeni menghentikan langkah Ceril yang ingin ke dapur. Dengan langkah pelan, ia mengintip ke ruang tamu memastikan siapa orang yang diajak Jeni berbicara. Jeni tampak sedang bersiteru bersama seorang lelaki. Ceril menelisik pria itu dengan tatapan penasaran. Pria itu berbadan tegap, rambutnya terlihat sudah ditumbuhi uban serta wajah yang dimakan usia yang  tetap terlihat berwibawa. Ceril penasaran, akhirnya ia bertahan menguping di samping almari yang kebetulan tidak jauh dari ruang tamu. "Saya cuman mau bertemu anak saya. Saya kangen dengan dia, Jen. Saya mohon," lirih pria itu. Wajahnya tampak memohon. Ceril berdebar mendengarnya. Anak? Anak yang mana? Jeni menggeleng tegas. "Dia bukan anak kamu. Dia anak saya!" Pria itu ingin membantah, namun dengan cepat dipotong oleh Jeni. "Dari dalam kandungan sampai ia besar saya yang merawatnya. Anda sama sekali tidak ada campur tangan dalam membesarkannya, dan sekarang anda mau bertemu dengannya? Mimpi anda!" Pria itu memijit pelipisnya. Raut bersalah kentara di wajahnya. "Keadaan yang tidak memungkinkan membuat saya tidak bisa bersama kamu dan anak kita, Jen." Jeni tertawa remeh. "Di mana janji-janjimu selama ini? Tidak bisa menepatinya, kan? Huh, pembohong!" "Saya minta maaf sebesar-besarnya, Jen. Saya tidak menyangka saat itu Dion mengetahui niat saya." Pria itu menunduk, terlihat sangat menyesal. "Saya yang salah. Saya minta maaf." Ceril membeo. Dion? Siapa Dion? batinnya. "Saya teramat menyesal memilih bersama anda!" Jeni menatap penuh amarah ke arah pria itu. Sedangkan si pria hanya menunduk penuh penyesalan. "Saya minta maaf." "Tidak perlu. Dia sudah tumbuh besar, sudah beranjak remaja. Dia tidak kekurangan apa pun meski tak memiliki sosok ayah, dia tidak peduli dengan ayahnya," ujar Jeni penuh emosi. "Saya punya hak atas dia, Jen!" Perdebatan tentang anak dan masa lalu itu terus berlanjut hingga Ceril memilih pergi dari sana dan duduk di ruang makan. Pikirannya kalut. Prasangka-prasangka yang kemungkinan terjadi kian membayanginya. Pelupuk mata Ceril terasa panas. Perlahan pertahanannya runtuh, ia terisak pilu. Ceril tak sanggup menahannya, Ceril tak sanggup menyembunyikan perasaan sakitnya. "Apa jangan-jangan dia itu Ayah?" gumam Ceril. "Apa dia orang yang selalu gue nantikan kehadirannya?" Lagi dan lagi Ceril bertanya pada dirinya sendiri di tengah isak tangisnya. "Dia bukan Ayah kita." Ceril mendongak, menatap penuh tanda tanya ke pemilik suara. "Lo tau dari mana, Kak?" Ceril menghapus jejak air matanya. "Lo yang pertama, Kak. Pasti lo tau banyak tentang Ayah kita. Gue-" Ceril tersendat. "Gue kangen sama Ayah, Kak. Kangennn banget, meski gue gak tau bentuk rupa dia, tapi gue tetap ngerasain yang namanya kangen terhadap Ayah. Kaaakk, lo pasti tau, kan,  siapa Ayah kita?" cerca Ceril sambil mengguncang tubuh Teya. Sedangkan yang ditanya hanya bungkam seribu bahasa. Matanya menatap kosong ke arah gelas yang tersusun rapi di atas meja. "Rumit." Satu kata itulah, yang meluncur di bibir Teya. "Kak." "Mending lo tanya langsung ke Ibu, dia tau semuanya," ujar Teya dengan wajah sedikit sendu. "Gue gak berhak jelasin ke lo." Ceril kembali terisak. "Gue dari kecil gak pernah ngerasain yang namanya kasih sayang seorang Ayah, seakan-akan gue gak berhak merasakannya. Setiap kali gue nanya ke Ibu, Ibu selalu bilang kalau Ayah udah gak ada." Teya menoleh ke samping, menatap penuh penyesalan ke arah adiknya. "Gue tau Ibu bohong! Gue tau Ayah masih hidup! Tapi, Ibu seolah menutup itu semua. Sebenarnya gue anak siapa, sih, Kak?" Pertanyaan yang sering Ceril tanyakan ke dirinya sendiri, akhirnya ia ungkapkan dengan gamblang. Teya terbelalak kaget mendengar penuturan Ceril. "Lo kalau ngomong jangan ngasal!" Ceril menghapus jejak air matanya, lalu membalas tatapan Teya. "Kenapa? Kenyataannya memang gitu, kan, Kak? Di antara gue, Wika, dan elo Kak, kira-kira siapa yang selalu disudutkan di rumah ini? Siapa yang selalu disalahkan? Siapa yang selalu mendapat perlakuan yang tidak mengenakkan? Siapa yang selalu mendapat perlakuan yang tidak adil?" Ceril tertawa sumbang. "Gue, kak, gue!" Teya meremas rambutnya. Bingung mau menanggapi ucapan adiknya. "Lo gak paham dengan situasi yang sebenarnya, Cer," lirih Teya. "Gue udah muak!" "Cer ...." "Bahkan Kak Teya pun bersikap tidak mengenakkan ke aku. Terbukti, kan, siapa yang tidak dianggap di rumah ini?" Teya menggeleng dengan cepat. "Kita cuman bahas pria itu, kenapa lo jadi bahas yang lain, sih?" Teya mencoba mengalihkan pembicaraan. "Gue gak bodoh, kak. Pria itu ada kaitannya dengan semua yang terjadi di rumah ini." Ceril tersenyum miris. "Jadi, kalau pria itu bukan Ayah kita." Jeda. "Jadi ... siapa Ayah kita?" Teya bergeming di tempatnya dengan tatapan sendu. "Atau jangan-jangan yang perlu dipertanyakan di rumah ini status gue, Kak." Ceril menggigit bibir bawahnya. "Jadi, gue anak siapa, Kak?" "Lo kalau ngomong dipikir dulu, b**o!" "Jawab pertanyaan gue, Kak. Gue tau lo paham dengan semuanya." Teya membuang muka, malas melihat wajah Ceril. "Gue bukan anak Ibu, ya, Kak?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN