"Bu, sekali lagi maafin Ceril, ya." Gadis itu menghapus air matanya cepat. "Ceril sayang banget sama Ibu," ucapnya diakhiri kecupan hangat di pipi Jeni. Ceril mengelus rambut Jeni dengan sayang, setelah itu ia beranjak keluar kamar dengan perasaan bagai dicambuk. "Ngapain, sih, lo susah-susah mikirin Ayah?" Suara itu menghentikkan pergerakan tangan Ceril yang sedang menutup pintu kamar Jeni. Ia menoleh dengan tatapan heran ke arah Teya yang sedang bersidekap d**a. "Emang gue gak boleh ketemu sama Ayah? Salah kalau gue mengharapkan Ayah di hidup gue?" sentak Ceril. Teya menyunggingkan senyum miring, matanya menyorot Ceril remeh. "Emang Ayah mengharapkan lo?" Ceril bungkam seribu bahasa. "Dia aja bodo amat sama lo, ngapain repot-repot mikirin dia? b**o!" Ceril memejamkan mata sej

