Chapter 13 - INSECURE

1188 Kata
"Kok rumah lo sepi? Tante Jeni, Adek lo sama Kak Teya kemana?" tanya Lusi sambil mendaratkan pantatnya di sofa. Ini bukan pertama kalinya Lusi bertandang di rumah Ceril. Namun, baru kali ini ia berani menginap di rumah sahabatnya ini. "Pada sibuk," jawab Ceril singkat. Lusi tak berniat bertanya lebih lanjut. "Jalan-jalan, yuk. Berhubung masih sore," ajak Ceril. Lusi menimang-nimang, kemudian mengangguk. "Pake sepeda, ya." Ceril mengiyakan. "Gue ganti baju dulu." Tanpa menunggu persetujuan Lusi, Ceril langsung melesat menuju kamarnya. Lusi menyandarkan tubuhnya sambil menunggu Ceril mengganti baju. Namun suara deritan pintu membuatnya sontak menoleh ke sumber suara. Di sana berdiri seorang gadis yang hanya menggunakan piyama tidur. Lusi mengenalnya. Dia Wika, Adik Ceril. Meski Lusi mengenalnya, tapi tetap saja ia canggung meski hanya bertegur sapa. "Nungguin Kak Ceril, ya?" Wika berjalan ke arah Lusi yang tersenyum ramah. Lusi mengangguk. Ah, ternyata Wika gadis yang friendly. "Sambil nunggu Kak Ceril, kita nonton, yuk." Wika menunggu persetujuan Lusi dengan wajah berbinar. Lusi kembali mengangguk. "Aku bosen banget di rumah." Lusi  memutar kepalanya menghadap Wika yang menampilkan wajah murung. "Sepi." Wika melanjutkan. Lusi mengerjap. Sedikit tidak enak dengan gadis di sampingnya. Meskipun Lusi sedikit gesrek, tapi ia tidak bodoh untuk menyadari ketidakberesan dari diri Wika. Lusi merasa, adik Ceril ini kesepian. "Kita jadi nonton 'kan?" Lusi memecah hening. Bibirnya tertarik membentuk senyum. Wajah Wika yang tadinya murung, perlahan tampak berbinar. Gadis itu mengangguk sambil mengeluarkan HP-nya. "Kita nonton di HP aku, ya." Lusi mengangguk kaku. Tadinya ia mengira akan menonton  di TV. Dua puluh menit berlalu, Ceril tak kunjung menampakkan hidungnya. Lusi menghapus sudut matanya yang terasa berair. Baru beberapa menit ia menyaksikan film di HP Wika, matanya sudah berkaca-laca. Sedangkan Wika tampak biasa-biasa saja. Malah terlihat bosan dengan film yang ia putar. Seakan-akan telah menontonnya berkali-kali. "Eh, lagi ngapain?" Kedatangan Ceril mengalihkan fokus dua gadis yang sedang menonton film. Lusi menatap Ceril dengan sebal. Sedang Wika hanya menatap Kakaknya sekilas sebelum kembali menatap layar HP-nya. "Lama banget. Katanya cuman ganti baju," sindir Lusi terang-terangan. Ceril tertawa kecil. "Tadi gue sekalian mandi. Gerah soalnya." "Dek, lo mau ikut gak?" ajak Ceril sedikit tidak yakin. "Nah, iya, jalan-jalan, yuk! Di depan komplek sana gue lihat ada taman. Sekalian kita cuci mata," kata Lusi diakhiri senyum lebar. Ceril bergeming. Menunggu Wika berbicara. Bagaimana pun juga, Ceril lelah dengan adiknya yang betah berdiam diri di rumah. Wika menatap Ceril dan Lusi secara bergantian sebelum menggeleng lemah. "Enggak. Kalian aja. Aku mau di rumah aja." Lusi menatap Wika sangsi. "Bener, nih?" Wika kembali mengangguk. "Aku gak suka keramaian, Kak," lanjutnya. Ceril yang sudah paham dengan Adiknya, memilih beranjak ke teras sambil mengecek sepeda kesayangannya. Tak lama Lusi datang menyusul dengan perasaan tidak enak. "Cer, gak apa-apa kita ninggalin adek lo sendirian di rumah?" "Gak apa-apa. Yang ada dia kenapa-napa kalau terpaksa ke luar rumah." Lusi membenarkan. Mengingat ucapan Wika tadi yang mengatakan jika ia tak suka keramaian. Berbanding terbalik dengan dirinya yang merasa hampa jika berada di tempat sepi. Bahkan Lusi merasa mendadak sariawan jika tak mengoceh dalam sehari. "Ini apa?" Lusi mengangkat sebuah bungkusan dari keranjang sepeda. Ceril menatap heran bungkusan yang dipegang Lusi. Setelah menyadari isi dari bungkusan itu, wajah Ceril mendadak masam. Wajahnya ia tekuk dengan perasaan dongkol. Kalau begini caranya, mau tidak mau ia harus kembali berurusan dengan dia. "Hoodie?" tanya Lusi mengarah ke pernyataan saat membuka bungkusan itu. "Hoodie lo?" Lusi kembali bertanya. Dalam hati Ceril menggerutu kesal. Bisa-bisanya hoodie Naka tertinggal di keranjang sepedanya. Karena dongkol, akhirnya Ceril segera menyuruh Lusi agar naik ke boncengan dan mengayuhnya dengan kencang. ☆☆☆☆☆ "Ke minimarket dulu, yuk, Cer." Ceril yang sedang menyandarkan sepedanya, menoleh kesal ke arah Lusi. "Terus sepeda gue mau dikemanain?" "Maksud gue, kita ke minimarket pake sepeda lo." Jelas Lusi. Ceril mengernyit. Seingatnya arah minimarket dari taman terbilang cukup jauh. "Lo yakin?" Lusi mengangguk. "Gue mau beli camilan. Hehe." "Harus banget di minimarket? Jarak minimarket dari sini cukup jauh, loh. Yakin lo mau pake sepeda ke sana?" Lusi mengangguk double. "Yakin, Cer." Lusi mencubit wajah Ceril geram. "Kapan lagi coba ada cewek cantik yang mau naik sepeda di jalan raya." Lusi terkikik geli dengan ucapannya. Ceril tersenyum simpul. Sudah melupakan kekesalannya perihal hoodie Naka yang tertinggal. Gadis itu diam-diam bersyukur ke Tuhan Yang Maha Kuasa, telah mempertemukannnya dengan sahabat sebaik Lusi, yaaaa ... meski kadang menyebalkan. Setelah cukup jauh mengayuh sepeda membelah jalan raya, Ceril tidak menyadari jika langit sedang menampakkan tanda-tanda akan hujan. Buktinya, belum sampai di minimarket, hujan telah lebih dahulu menyapa Bumi dengan derasnya. "Kok hujan, ya?" Lusi memainkan genangan air menggunakan kakinya. Kini mereka sedang berteduh di sebuah warteg. Ceril mendengkus mendengar ucapan Lusi. "Cer, gue dingin." Ucapan Lusi mengalihkan fokus Ceril dari harumnya suasana hujan yang bercampur dengan tanah. Ceril menatap prihatin baju lengan pendek Lusi yang telah basah kuyup. Lekuk tubuh Lusi tercetak dengan jelas. "Gue pinjem hoodie lo, ya." Lusi segera memakai hoodie dongker itu tanpa menunggu persetujuan Ceril. Sedangkan Ceril hanya mengembuskan napas pelan. Sejujurnya ia sedikit tidak rela melihat Lusi memakai hoodie itu, tapi ia juga tidak tega melihat sahabatnya kedinginan. "Nyaman banget." Lusi tersenyum lebar. "Gue boleh minta gak?" Ceril terbelalak kaget. Ia ingin menyangkal ucapan Lusi, namun kedatangan dua orang laki-laki dari dalam warteg membuatnya kembali merapatkan bibir. Ceril mematung. "Eh, hai teman." Laki-laki itu tampak antusias melihat keberadaan Ceril. "Kayaknya kita memang dinobatkan sebagai teman, Cer." Teman hidup maksudnya, lanjut Naka dalam hati. Diam-diam ia mengaminkan ucapannya. Ceril tak menanggapi. Matanya terpaku pada laki-laki yang berdiri di samping Naka. Lelaki itu sama kagetnya dengan Ceril, tapi dengan cepat ia mengubah ekspresinya menjadi santai sambil melempar senyum ramah. "Lama tak jumpa." Laki-laki itu menatap Ceril dengan lekat. "Ternyata lo masih sama kayak dulu." Masih sama kayak dulu? ulang Ceril dalam hati. Maksudnya masih sama jeleknya? Jantung Ceril memompa dengan cepat, bahkan kepalan tangannya semakin mengerat. Kini tubuhnya mulai mengeluarkan keringat dingin.  Ceril merasa sedang tidak baik-baik saja. Naka dan Lusi tidak menyadari Ceril dan lelaki di hadapannya. Mereka terlalu sibuk berdebat hanya gara-gara hoodie. "Udah gue bilang, itu hoodie gue!" Naka menatap Lusi dengan garang. "Ngapain lo pake hoodie gue, heh?!" Lusi membalas tatapan Naka tak kalah garang. "Gak usah ngaku-ngaku, ya, Bambang! Ini hoodie sahabat gue!" sentak Lusi. "Nama gue bukan Bambang, ya, Juminten. Nama gue Naka. Inget, N.A.KA!" Laki-laki itu mengeja namanya dengan perasaan geram. Sekarang giliran Lusi yang menggeram kesal. "Heh, nama gue bukan Juminten, k*****t!" Lusi melototkan matanya. "Nama gue Lusi! Lengkapnya Lusiana Dewi Cahya Ningrum!" jelas Lusi dengan napas memburu. Ia belum menyadari keadaan sahabatnya yang memucat. Ganteng-ganteng, tapi kok ngeselin. Omel Lusi dalam hati. Jiwa fangilrnya sempat meronta saat melihat Naka, tapi tentu saja tidak bertahan lama. Gara-gara Naka menuduhnya memakai hoodie yang bukan miliknya. "Serah lo! Intinya balikin hoodie gue!" "Cer, bilangin sama nih cowok, jangan suka ngaku-nga-" ucapan Lusi menggantung saat menyadari wajah Ceril yang pucat pasi. "Cer, lo kenapa? Cer, ada yang sakit? Muka lo pucet banget." Lusi menepuk wajah Ceril yang memucat. Naka tak kalah khawatirnya dengan Lusi. Bahkan Naka telah berpindah di samping Ceril sambil meniup tangan Ceril yang terasa dingin. "Dia kedinginan." Sebuah suara mengalihkan fokus Naka, terlebih Ceril. Naka yang paham akan maksud laki-laki itu, sontak melepas jaketnya dan memakaikannya di tubuh Ceril. Ceril mengatup bibirnya rapat. Hatinya kembali sakit hanya melihat laki-laki yang dulu membuatnya patah hati. Kenapa harus sesakit ini di saat semuanya telah berlalu sekian lama?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN