Chapter 12-INSECURE

1006 Kata
Usai dari perpustakaan menemani Lusi mengembalikan buku yang ia pinjam, Ceril langsung saja menyeret sahabatnya ini menuju kantin. Keadaan perutnya yang meronta minta diisi membuat sisi sabar Ceril terabaikan. Lusi tersungut-sungut di samping Ceril. Pasalnya Ceril tidak membiarkannya barang sejenak mengatur napas. Bahkan Lusi harus menerima keapesan yang membuatnya hampir jatuh telungkup. Untung saja Ceril sigap menangkap pergelangan tangannya. "Lu jalan gak pake mata, sih, Lus." Peringat Ceril. Ia menatap sahabatnya dengan ekspresi malas. Lusi mendelik. Tak urung mulutnya menggerutu kesal. "Lo juga, gak sabaran," ujarnya sambil membungkuk memperbaiki tali sepatunya yang terlepas. Ceril berdiri tak sabaran. Ia benar-benar lapar. Sekarang ia baru menyesali kenapa ia tidak makan malam dan sarapan. Sekarang ia mulai merasakan akibatnya. Perutnya terus mengeluarkan suara serta menimbulkan rasa nyeri. "Lima belas menit lagi pergantian jam pelajaran, Lus." Ceril menatap arlojinya dengan was-was. "Buruan!" Namun baru saja mereka melangkah, Lusi langsung menghentikan langkahnya sambil menyuruh Ceril diam saat gadis itu ingin protes. Sayup-sayup mereka mendengar perbincangan seorang cowok dan cewek di ruangan yang biasa mereka sebut 'Ruang Dosa'. Ruang dosa ialah ruangan terbengkalai yang tak lagi digunakan. Maka dari itu anak-anak nakal SMA AKSARA 1 menjadikannya tempat membolos atau sekedar nongkrong biasa. "Gak sopan nguping pembicaraan orang." Ceril berbisik dengan hati-hati. Takut yang berada di dalam ruangan itu menyadari kehadiran mereka. Lusi tak mengubris. Gadis itu sudah menempelkan telinganya di daun pintu. Sedang Ceril menggeleng-gelengkan kepala melihat kekepoan sahabatnya. Tapi entah karena tertular oleh Lusi atau memang ia juga kepo, Ceril ikut menempelkan telinganya di daun pintu. Ceril terkesiap saat mendengar suara si cowok. Ceril kembali menempelkan telinganya agar dapat mendengar suara si cewek dengan jelas. Tapi tetap saja Ceril tidak kenal dengan suara itu. Ditambah suara si cewek terdengar habis menangis. "Ih, apa, sih, main seret-seret aja lo. Kan gue belum sempet ngerekam." Lusi mencebik kesal sambil melepas tarikan Ceril di tangannya. "Buat apa lo ngerekam pembicaraan orang yang mengarah ke hubungan perbucinan?" Ceril menaikkan satu alisnya, menunggu respon Lusi. Lusi mengelus poninya pelan. "Bener juga. Gak faedah banget." Ceril kembali melanjutkan jalannya yang sempat tertunda. Kini waktu pergantian pelajaran tinggal lima menit, di mana dalam waktu sesingkat itu tidak memungkinkan untuknya mengisi perut dengan leha-leha di kantin. Akhirnya mereka hanya membeli roti dan akan memakannya di kelas. "Lo kenal gak sama orang di ruangan tadi?" tanya Lusi. Ceril tak langsung menjawab. Ia kenal suara si cowok tadi. Sedang si cewek, Ceril tak mengenalnya. Namun mendengar arah pembicaraan mereka, Ceril yakin jika si cewek ialah cewek yang sempat menjadi perbincangan hangat seantero SMA AKASARA 1. "Gila kali tuh cowok. Masa dia maksa si cewek biar cinta dan mau pacaran sama dia." Lusi menggeleng tidak percaya mengingat hasil perkupingannya tadi. "Jelas-jelas si cewek udah bilang kalau dia gak cinta dan malah suka sama cowok lain, tapi tetep aja cowok itu maksa." Lusi manambahkan. Ceril masih enggan menimpali. Membiarkan Lusi berceloteh dengan bebas. "Jujur, nih, ya. Gue kesel sama tuh cewek. Ngapain juga dia nembak cowok yang jelas gak tertarik sama dia?" Lusi mendengkus. "Lo denger 'kan tadi dia dimarahin sama tuh cowok karena udah nekat nembak cowok SMA tetangga kita." Namun saat menyadari ucapannya, Lusi sontak menoleh ke arah Ceril dengan ekspresi syok. Ceril hanya menanggapi dengan senyum miring. "Bentar, jangan bilang yang gue pikirkan juga nyambung di lo?" Lusi menutup mulutnya yang menganga. Lusi mengedikkan bahu. "Dia memang menyedihkan." Sejurus kemudian, Lusi sudah mencak-mencak. "Dasar cowok munafik! Di depan orang lain ngomongnya jahat banget tentang si cewek. Nyatanya di belakang dia ngemis-ngemis cinta si cewek yang sendirinya dia hina!" Lusi mengepalkan tangannya seperti siap membogem orang. Ceril memilih diam. Bermain dengan kenyataan yang ia ketahui. Jordi, salah satu dari tiga orang yang sempat ia sambangi di kantin kemarin. Di mana Jordi dan teman wanitanya membicarakan cewek yang ketahuan menyatakan perasaannya dengan cowok SMA tetangga. Ceril bergidik ngeri. Membayangkan jika dia yang di posisi si cewek. Di mana harus menerima kenyataan pahit bahwa cintanya ditolak dan menerima kenyataan bahwa cowok yang kerap menghinanya ternyata orang yang menuntut cinta kepadanya. "Hati siapa yang tahu," gumam Ceril. ☆☆☆☆☆ Suasana kelas mendadak gaduh saat ketua kelas mengumumkan jika guru Fisika berhalangan hadir. Ceril satu dari sekian puluh penghuni kelas yang tidak menampakkan raut bahagia. Namun bukan berarti ia tidak senang. Tentu saja ia teramat senang, pasalnya Fisika salah satu mata pelajaran yang membuatnya sering ketiduran di kelas. "Andai jamkos setiap hari," celoteh Lusi dan duduk di depan Ceril yang sedang menulis sesuatu di buku diarynya. Ceril mendongak, menatap sahabatnya dengan malas. "Kalau jamkos setiap hari, terus gunanya kita berangkat sekolah apa?" ujar Ceril sambil menyimpan diarynya. Lusi nyengir lebar. Dalam hati ia membenarkan ucapan sahabatnya. Kalau jamkos setiap hari, tentu tidak ada gunanya ia ke sekolah. Hanya membuang-buang waktu dan mengotorkan baju. "Ngomong-ngomong, lo kenal sama Jordi?" Lusi memajukan wajahnya sambil berbisik. "Enggak." Ceril diam sejenak. "Tapi, gue pernah lihat dia jalan bareng si cewek yang ia ajak ngomong di ruangan dosa tadi." Ceril tidak berbohong. Pasalnya ia memang pernah melihat Jordi bersama cewek yang kerap ia bully di depan teman-temannya itu. Karena itu pula Ceril menyebut Jordi menyedihkan di kantin beberapa hari yang lalu. Karena Ceril tahu pasti, Jordi menyukai gadis itu bahkan mencintainya, tapi entah kenapa ia malah membullynya. Ceril tak habis pikir. "Ah, bodo amat, lah!" Lusi mengibaskan tangannya. "Itu urusan mereka. Ngapaian juga kita ngurusin orang kayak dia. Lagi pula kisah cinta gue juga gak jelas arahnya," ujar Lusi. Bibirnya mengerucut mengingat hubungannya dengan Rama. Sedangkan Ceril, diam-diam ingin menampol sahabatnya. Jelas-jelas yang mulai membahas Jordi ialah Lusi. Ceril hanya mengikuti alur perghibahannya saja. "Eum, malam ini 'kan malam minggu." Lusi berdehem. "Gue boleh nginap di rumah lo nggak?" Lusi menatap sahabatnya penuh harap. Sedang yang ditatap sontak menyipitkan matanya menatap Lusi yang tak seperti biasanya. "Tumben," decak Ceril. "Ishh! Lo mah gak peka!" Ceril terkekeh. Sebenarnya Ceril paham. Maksud Lusi menginap di rumahnya ialah agar ia mempunyai alasan menolak ajakan Rama untuk bermalam minggu. "Boleh, ya?" "Iyaa!" jawab Ceril. Setelahnya mereka tertawa bersama. ---- Sayap burung itu terluka. Sebuah anak ketapel melesat menabrak sayapnya yang sedang mengepak indah di cakrawala. Burung itu terlihat sedih dan berujung putus asa. Namun ia sadar, lukanya akan sembuh dengan sendirinya atau dengan obat--entah sampai kapan. Ia hanya butuh bersabar. -Ceril
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN