Hancur Semuanya

1206 Kata
“Lantas kenapa hari ini Mas melakukan ini padaku?! Mana cinta yang mas bilang itu?! Apa ini artinya cinta?!” Belum selesai dengan tangis dan rasa sakitnya, Ibi mempertanyakan cinta Dewa. “Bukan, Bi, bukan. Cinta gak menyakiti seperti ini. Mas tahu, Mas berbuat salah sama kamu dan Mas menyesal untuk itu ...” Dewa berkata jujur. Dia sungguh menyesal. Tapi penyesalannya sudah menjadi bubur. Sudah terlambat. Dia terlanjur menyakiti begitu dalam. Menipu bahkan ingin merenggut. “Mas terbawa nafsu dan keegoisanmu Mas sendiri. Mas takut kehilangan kamu, Bi. Demi Tuhan, Mas gak mau itu terjadi ...” Kembali air Mata Dewa mengalir. Di satu sisi dia harus bertanggung jawab pada Hanin, dan itu berarti dia akan kehilangan Ibi jika menikahi Hanin. Dewa tidak ingin seperti itu. Yang ada dipikirannya adalah, tetap bertanggung jawab pada Hanin namun juga memiliki Ibi sepenuhnya, gadis yang begitu dia cintai. Ini bukan lagi cinta melainkan obsesi. Obsesi Dewa mendapatkan Ibi membuatnya melakukan hal gila sekalipun dia tahu itu akan menyakitkan. Ibi menarik nafas dalam, mencoba menenangkan diri dari rasa sakit yang teramat. Dia sudah tidak ingin menangis. Sudah cukup semuanya. Mungkin ini hukuman atas apa yang telah dia lakukan kepada Dewa. Namun bukan berarti dia bisa memaafkan lelaki itu begitu saja. “Sekarang, hari ini, Mas sudah kehilangan aku!” tegas Ibi dengan sisa air matanya. Pelan-pelan Ibi membenahi diri. Dia membetulkan pakaiannya yang berantakan akibat kejadian tadi. Ya Tuhan, sakit sekali rasanya tapi Ibi harus kuat. Ibi nggak boleh lemah. Ibi harus bisa bangkit dari semua ini ... Ternyata benar yang Baba bilang dulu, tidak akan ada seseorang yang benar-benar baik jika tidak mengharapkan sesuatu. Satu-satunya cinta yang tulus hanyalah cinta yang orang tua punya untuk anaknya. Tidak dengan cinta yang lain ... Sekuat tenaga Ibi menahan untuk tidak lagi menangis. Dia ingin pergi dari tempat itu secepatnya. Meninggalkan rasa kecewa, sakit dan kehinaan secara bersamaan. Tidak akan ada lagi nama dewa di hatinya. Dewa sudah mati bersama dengan rasa sakit yang Ibi alami. Ibi bangkit dari posisinya hendak pergi dari situ. Tapi ditahan oleh Dewa. “Tunggu, Bi. Please ..., Mas mohon jangan seperti ini ...,” pintanya. “Ibi yang harusnya memohon. Lepaskan Ibi, biarkan Ibi pergi, Ibi mau pulang,” pinta Ibi balik. “Tapi Mas gak mau kita berakhir seperti ini, Sayang,” ucap Dewa. “Stop! Jangan panggil Ibi dengan sebutan itu lagi. Udah cukup semuanya,” tegas Ibi. Dia muak mendengar kata sayang dari mulut Dewa. Dewa masih belum menyerah. Dia mendekati Ibi, mencoba untuk meraih tangan gadis itu. Tapi secepat kilat ditepis oleh Ibi. “Jangan sentuh Ibi lagi, Dewa! Ibi jijik! Please, tolong lepasin Ibi!” tegas Ibi lagi. “Tapi Mas gak mau kita jadi seperti ini.” Dewa berulang kali menggeleng. Walau wajahnya menunjukkan ketulusan, Ibi sudah tidak lagi percaya. Bagi Ibi semuanya sudah cukup. Jangan tambahi lagi rasa sakitnya dengan menahan dia lebih lama. “Terserah Dewa mau bilang apa, Ibi udah gak peduli. Ibi mau pulang sekarang.” Tiba-tiba saja Dewa berlutut di depan Ibi. Dia memohon maaf atas apa yang sudah dia lakukan. Tapi semua itu percuma. Pintu hati Ibi sudah terlanjur tertutup. Dewa sungguh kelewatan menyakitinya. Jika saja Dewa hanya menipu, mungkin Ibi bisa memaafkan tapi ini beda. Apa yang lelaki itu lakukan sungguh fatal. Berniat merunggut kesucian Ibi hanya untuk sebuah obsesi. “Mas mohon, Bi .... Maafin Mas ..... Mas sungguh menyesal .... Mas gak mau hubungan kita jadi seperti ini ....,” ratap Dewa. “Mas bersumpah gak akan melakukan kesalahan ini lagi. Kasih Mas kesempatan. Mas akan perbaiki semuanya. Mas akan bertanggung jawab pada Hanin, tapi tolong jangan benci Mas seperti ini, Bi .... Mas gak sanggup bayangin kalau kamu benci Mas. Setidaknya kita masih berhubungan baik walau tidak bisa bersama.” Tapi kalimat panjang yang Dewa ucapkan sudah seperti angin bagi Ibi. Tidak lagi berarti apa-apa. Dia sudah menutup telinganya untuk lelaki itu “Ibi mau pulang,” ucap Ibi. “Apa kamu benar-benar gak mau maafin Mas lagi, Bi?” Dewa masih berusaha. “Kalau Ibi bilang enggak, terus apa mau Dewa? Apa Dewa akan terus paksa Ibi? Dewa mau nyakitin Ibi lagi?” tanya Ibi. “Enggak, bukan itu maksud, Mas. Mas Cuma gak mau hubungan baik yang sudah kita jalani tiga tahun lebih hancur karena hari ini. Setidaknya kita masih bisa sesekali berkomunikasi.” Sekarang Dewa sudah bangkit. Cukup lama Ibi terdiam. Dia hampir kehabisan akal meladeni lelaki di hadapannya itu. Sudah berulang kali dia mengatakan ingin pulang tapi dia tetap tidak mengerti. Dia tetap memaksa untuk dimaafkan dan meminta hubungan yang baik. Terlalu naif. Mungkin sekarang waktunya Ibi yang sudah tidak polos lagi ini mengeluarkan apa yang ada di hati dan pikirannya. “Tuhan menciptakan manusia memiliki hati, baik Dewa maupun Ibi. Jadi saat hati itu sudah tersakiti begitu dalam, kira-kira apa yang bisa dilakukan? Dewa sudah lebih dulu merasakannya ‘kan?” “Dewa sudah menjelaskan panjang lebar tentang apa yang Dewa alami karena ulah Ibi, lantas apa saat itu Dewa bisa langsung memaafkan Ibi? Yang ada Dewa pulang ke Padang ninggalin Ibi saat itu, yang Ibi sendiri gak tau jelas dimana letak kesalahan Ibi. Ibi sudah menutup rapat hati Ibi untuk siapapun kecuali Dewa. Karena Cuma sama Dewa, Ibi bisa berbagi semuanya. Tapi rupanya itu gak cukup buat Dewa. Pergaulan Ibi pun harus dikekang sampai akhirnya kita pisah.” “Ibi akui pemikiran kita soal ini, jelas beda. Ibi memang polos, bahkan mungkin terlalu polos. Ibi melakukan apa yang menurut Ibi benar, setelah dengan Abdi, gak sekalipun Ibi mengisi hati dengan orang lain terkecuali Dewa. Yang ada di pikiran Ibi adalah Ibi ingin memiliki orang spesial seperti Dewa walau Ibi gak pernah mengungkapkannya.” “Dan hebatnya setelah kepergian Baba, keinginan Ibi terwujud. Ibi seolah menemukan apa yang Ibi cari selama ini. Sosok yang sungguh Ibi idamkan. Tapi rupanya Ibi dugaan Ibi salah, Tuhan membuka mata Ibi lewat kejadian hari ini.” “Anggap aja Dewa sudah membalaskan sakit hati yang Dewa miliki pada Ibi hari ini. Ibi ikhlas. Tapi tolong, jangan paksa Ibi untuk memaafkan sekarang juga. Ibi Cuma manusia biasa. Biarkan Ibi nikmati rasa sakit ini entah sampai kapan.” “Sekarang Ibi mohon, lepasin Ibi. Ibi mau pulang. Jangan sakiti Ibi lagi lebih dalam. Karena kalau Dewa masih memaksa, bunuh aja Ibi sekalian.” Tubuh Ibi bergetar. Baru kali ini dia bisa bicara sepanjang itu pada Dewa. Dan semua berkat rasa sakit yang menerpanya saat ini. Masalah sungguh mendewasakan walau harus menorehkan luka yang teramat dalam. Hancur sudah hati Ibi. Bukan lagi berkeping tapi mungkin serpihan yang lebih halus lagi. Pertama kali jatuh cinta dan pertama kali pula sakit dan kecewa. Harapan yang Ibi gantungkan pada Dewa terlalu tinggi. Sosok Dewa yang Ibi kenal terlalu sempurna. Sampai tidak pernah terbayang akan melakukan kesalahan. Dan saat dia melakukan kesalahan justru sangat fatal. Ini yang membuat Ibi shock bukan main. Bahkan mungkin mentalnya terhempas keras karena ini. Rasanya seperti di tancap pisau yang membelah hati Ibi jadi ratusan bagian. Dewa menangis. Air matanya kembali luruh atas segala kesalahan yang sudah dia perbuat. Begitu dalam hingga hampir membunuh kekasih hati yang begitu dia cintai. Ini pasti akan jadi penyesalan terbesar dalam hidup Dewa hingga dia mati. Hukuman apa yang pantas dia dapatkan untuk ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN