Laki-laki mana yang bisa menyia-nyiakan saat bersama dengan perempuan yang dia cintai seperti ini? Tentu Dewa memanfaatkan moment tersebut. Bersama, berdua, tanpa ada orang lain bahkan di tempat tertutup.
Dewa tidak hanya melakukan ciuman biasa. Pelan-pelan dia menggerakkan bibirnya dengan lembut di bibir Ibi. Ibi yang polos itu pun tidak bergerak sama sekali sebab ini adalah ciuman pertama baginya. Namun tidak bagi Dewa. Dia sudah beberapa kali melakukannya dengan Hanin dulu.
Tapi Ibi mempercayai Dewa sepenuh hati. Dia membiarkan Dewa melakukan itu padanya. Apalagi sekarang Ibi sudah memahami perasaan yang selama ini Dewa berikan padanya. Cinta yang tulus tanpa syarat yang sudah berlaku sejak tiga tahun yang lalu. Tidak semua laki-laki sanggup mencinta seorang perempuan hingga menunggu sampai selama itu.
Seiring dengan gerakan pintar bibir Dewa, rupanya Ibi menikmati sentuhan intim pertama yang dilakukannya itu. Namun lambat laun, ternyata sentuhan Dewa tidak hanya sampai di bibir. Lelaki itu terbawa oleh napsu yang menguasai otaknya. Entah setan apa yang merasuki dua, tangannya mulai ikut beraktivitas. Yang sebelah kanan menarik lembut pinggang Ibi agar lebih dekat dengannya dan satunya lagi perlahan menelusur, masuk ke dalam baju kaos Ibi.
Sontak Ibi terkejut dan melepas ciuman mereka. Wajahnya bertanya-tanya memandang Dewa dengan perasaan takut. “M-mas, mau apa?” tanya Ibi kemudian.
Tapi jangan sebut laki-laki kalau tidak pandai menutupi napsu birahi di otaknya. Dewa berkilah dengan berbagai alasan untuk itu. Bahkan dia mengatakan kalau sebentar lagi mereka juga pasti akan menikah, jadi tidak ada salahnya jika sedikit sentuhan untuk mempererat hubungan mereka.
“Sebentar lagi ‘kan kita akan menikah. Artinya kamu bakal jadi istri Mas, Sayang. Gak apa-apa ‘kan sedikit aja, sama calon suami sendiri. Mas gak niat ngerusak kamu, sungguh. Mas Cuma gak pengen ada jarak diantara kita. Mas sayang banget sama kamu, Bi,” ucap Dewa.
Dan dengan bodohnya Ibi percaya. Kepolosan Ibi membuatnya berpikir mungkin memang seperti itu hubungan serius dua orang dewasa. Lagipula yang dikatakan Dewa benar, lelaki itu sudah melamarnya menjadi istri. Nantinya setelah menikah mereka pasti akan melakukan hal yang lebih dari itu.
“T-tapi Ibi takut,” jawab Ibi jujur. Untuk gadis polos sepertinya pasti khawatir dengan hal yang seperti itu.
“Gak apa-apa, Sayang. Mas tau batasnya kok. Mas akan berhenti di tempat yang seharusnya. Gak akan kebablasan, percaya deh,” terang Dewa lagi. Sungguh manis kalimatnya.
Dengan kepercayaan sepenuh hati akhirnya Ibi mengijinkan Dewa melanjutkan aktivitasnya. Maka terjadi sentuhan-sentuhan intim yang dimaksud Dewa tadi. Sebagai perempuan normal, tentu Ibi merasakan sensasi berbeda. Yang awalnya takut, pelan-pelan justru menikmati sentuhan itu. Tapi tiba-tiba ponsel Dewa berdering, mereka terpaksa berhenti.
Dewa terjebak dengan keadaan. Ponsel tersebut ada di saku celananya. Mau tidak mau dia mengangkat telepon itu di depan Ibi. Ternyata yang menelepon adalah Hanin. Ibi yang masih berada begitu dekat dengan Dewa tentu bisa mendengar suara perempuan di ponsel Ibi. Mereka bahkan terlibat percakapan seputar persiapan pernikahan. Jelas Ibi terkejut, seketika matanya panas dan tanpa bisa ditahan lagi air matanya menetes. Dia baru tahu kenyataan kalau Dewa telah menipunya bahkan hampir berniat merenggut kesuciannya padahal lelaki itu sudah akan menikah dengan Hanin.
Entah siapa Hanin, Ibi tidak pernah tahu. Tapi dia sungguh terluka dengan kenyataan itu. Ibi menangis sesenggukan tanpa suara. Tidak ingin si penelepon sampai mendengar tangisnya. Walau sakit tak terbilang tapi dia masih memikirkan perasaan perempuan itu. Biarlah dia saja yang merasakan luka ini tapi yang lain jangan.
Setelah telepon usai, Ibi mendorong kuat tubuh Dewa. Dia sungguh-sungguh kecewa. Begitu tega Dewa menipunya bahkan disaat-saat dia belum lama terpuruk, baru saja kehilangan ayah. Ya, belum ada satu bulan ayah Ibi meninggal tapi dia sudah harus menerima musibah lagi dalam hidup.
“Sayang, dengerin Mas dulu. Ini gak seperti yang kamu pikir.” Dewa masih bisa mengelak walau Ibi sudah mendengar kelas semuanya.
Dengan perasaan hancur Ibi berteriak, “TEGA KAMU MAS ….” Bahu Ibi sampai bergetar hebat. Kaos yang dipakainya saja masih berantakan akibat ulah Dewa barusan tapi Dewa sudah menusuknya dengan pisau tepat di jantung.
Bagaimana jika tadi Dewa sudah melakukan semuanya? Sudah menancapkan apa yang seharusnya dilakukan oleh suami istri yang sah. Ibi tidak bisa lagi berpikir. Dia terjongkok di sudut kamar dengan tangis yang belum reda. Bahkan semakin menjadi-jadi.
“Apa salah Ibi sampai kamu sanggup melakukan hal ini, Mas? APA?” Ibi kembali berteriak di ujung kalimatnya.
Dewa yang paham pukulan yang Ibi rasakan merasa menyesal sendiri. Dia sudah melukai perempuan yang paling dia cintai di dunia ini selain ibunya dan dia sadar akan itu. Ini semua berkat napsu dan keegoisannya sendiri. Harusnya dari awal dia jujur pada Ibi dengan apa yang terjadi. Dewa tidak perlu memaksakan kehendak untuk menjalani dua hubungan sekaligus.
Entah apa yang ada di otak Dewa kala itu hingga dia nekat menjalin cinta dia dua perempuan yang berbeda. Di satu sisi dia sudah berjanji untuk bertanggung jawab pada Hanin atas perbuatan dosanya pada gadis itu di malam yang tidak terduga itu. Tapi di sisi lain dia sangat amat mencintai Ibi. Tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan bersama Ibi hingga berniat mendapatkannya dengan cara yang salah.
Tidak hanya itu, Dewa juga sekaligus melampiaskan rasa kecewa dan sakitnya pada Ibi di masa lalu. Dewa masih ingat rasa itu. Dia seolah ingin balas dendam dengan merenggut Ibi hingga dia memohon untuk tidak ditinggalkan oleh Dewa. Jelas sudah setan menguasai otak Dewa yang selama ini dianggap malaikat oleh Ibi.
“Maafin, Mas, Sayang. Mas sungguh minta maaf …” Pelan-pelan Dewa melangkah mendekati Ibi, tapi langsung di tahan gadis itu dengan kalimat penolakannya.
“Berhenti sampai disitu! Jangan dekati Ibi lagi! Ibi benci sama, Mas! IBI BENCI …!” Sekali lagi Ibi berteriak. Lukanya diperlakukan begitu noleh Dewa sangat dalam. Perempuan mana yang sanggup menghadapi keadaan seperti Ibi sekarang? Mungkin kalau orang lain sudah berlari ketakutan keluar dari kamar. Tapi Ibi tidak bisa melakukan itu. Saat ini dia ketakutan, sangat ketakutan.
Dari tempatnya berdiri Dewa menurut. Dia menghentikan langkah lalu mengikuti posisi Ibi dengan berjongkok. Dewa kemudian menjelaskan apa yang sesungguhnya dia alami selama ini.
“Mas tau apa yang kamu rasakan sekarang, Bi. Sakit dan kecewa yang begitu menyayat hati dan itu dilakukan oleh orang yang kita cintai. Mas udah lebih dulu merasakan itu berkat kamu. Bahkan sampai berkali-kali,” ucap Dewa memulai ceritanya.
“Kamu ingat saat dulu kamu cerita ke Mas soal Abdi, mantan pacar kamu itu. Saat itulah pertama kali Mas kecewa sama kamu. Setiap hari kita bersama, setiap hari kita ngobrol tapi saat Mas disibukkan dengan kerjaan selama satu minggu saja kamu udah datang membawa kabar kalau kalian sudah jadian. Rasanya hati Mas hancur saat itu. Seolah tidak pernah kamu anggap.”
“Lalu saat kamu diam-diam berkirim pesan dengan teman cowok kamu yang baru di wartel. Bahkan di depan Mas, rasanya sakit sekali, Bi. Kamu anggap apa Mas selama itu? Kedekatan kita, perhatian yang Mas beri seperti gak ada artinya. Apa kamu gak tahu itu bentuk cinta?”
“Dan yang paling membuat Mas kecewa adalah kedekatan kamu dengan Elvan. Beberapa kali kalian bersama di belakang, Mas, seolah tidak ada kejadian. Dan dengan polosnya kamu menceritakan itu pada Mas dengan wajah tanpa dosa. Dimana perasaan kamu, Bi? Sebagai laki-laki yang sangat amat mencintai kamu, tentu Mas cemburu. Bahkan rasanya Mas ingin membunuh Elvan saat itu juga!”
“Belum lagi begitu Mas tahu kalau kamu bercerita tentang hubungan kita pada Elvan. Bukan siapa-siapa, melainkan hanya teman dekat saja. Entah seberapa dalam sakit yang kamu beri pada Mas kala itu. Dengan segala hal yang sudah Mas beri untuk menunjukkan ketulusan dan kesetiaan Mas, tapi rupanya itu gak berarti apa-apa buat kamu.”
“Sesungguhnya Mas sudah hampir menyerah untuk kamu, Bi. Begitu banyak rasa sakit yang kamu tanamkan di hati Mas tanpa kamu tau. Tapi sekali lagi semua karena cinta. Karena cinta yang begitu besar yang Mas miliki untuk kamu, hingga Mas mencoba untuk bangkit lagi. Mas pikir hanya tinggal menunggu satu tahun hingga kamu selesai sekolah lalu Mas bertekad akan menemui orang tua kamu untuk melamar. Itu sungguh rencana yang sudah Mas siapkan sejak awal.”
“Tapi lagi-lagi kembali kamu menorehkan luka di hati Mas. Mendengar suara laki-laki lain saat Mas menelepon kamu rasanya sungguh tidak enak, Bi. Mas cemburu, sangat cemburu. Hari-hari kamu bersama mereka di sekolah sementara Mas jauh di Padang. Dan ujung-ujungnya kita kembali ribut. Bahkan kamu baru mengaku kalau menyembunyikan perkara ekskul di belakang Mas. Itu artinya apa? Segitu gak percayanya kamu dengan Mas atau memang kamu tidak ingin Mas tau tentang kegiatan kamu di sekolah.”
“Hari itu hancur sudah semuanya, Bi. Ibarat kaca yang sudah retak berkali-kali disusun kembali tapi kamu hempaskan untuk terakhir kalinya. Bukan lagi sakit, bukan lagi kecewa, tapi marah. Mas marah dengan keadaan. Mas marah dengan kebodohan Mas sendiri. Sampai Mas memutuskan untuk menyerah. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan bersama. Namun semua itu tidak mengurangi sedikitpun rasa cinta Mas sama kamu. Demi Tuhan, cinta Mas sama kamu gak berkurang sedikitpun.”
“Hubungan kita renggang bahkan hampir tidak berkirim kabar lagi setelah itu. Tapi nyatanya di Padang Mas hampir gila, Bi. Mas sungguh gak baik-baik saja … Mas gak berhenti mikirin kamu. Entah berapa kali Mas memaki tangan ini agar tidak menghubungi kamu dan entah berapa kali juga Mas terpaksa minum obat tidur agar bisa menutup mata tanpa membayangkan kamu, sebab besok Mas harus pergi bekerja.”
“Mas hancur-hancuran saat itu, Bi. Sumpah, demi Tuhan Mas gak bohong … Berpisah dari kamu seperti hidup dan mati rasanya. Sampai akhirnya Mas berada di titik yang sudah tidak sanggup lagi menahan sesal. Mas menangis sejadi-jadinya sambil minum-minum di kamar. Ya, Mas tau Mas bukan peminum jadi Mas memilih untuk menikmati minuman haram itu di kamar. Tapi ternyata Tuhan menghukum Mas dengan apa yang sudah Mas perbuat. Malam itu Hanin datang ke paviliun Mas secara tiba-tiba. Dan saat Mas membuka pintu, yang Mas lihat adalah kamu, Bi. Wujud Hanin di mata Mas adalah kamu. Kamu yang datang dengan senyum dan langsung memeluk Mas kala itu.”
“Sungguh Mas gak bermaksud untuk melakukan apapun pada Hanin. Tapi pengaruh alkohol yang sudah Mas minum begitu banyak menguasai diri Mas. Tanpa sadar Mas melakukan hubungan itu dengan Hanin namun yang ada di penglihatan Mas, Mas melakukannya dengan kamu, Bi.”
“Kamu yang Mas cumbu malam itu dan kamu juga yang mengatakan kalau kamu tidak mau Mas tinggalkan sampai kapanpun. Dan akhirnya hubungan itu terjadi atas dasar cinta Mas yang begitu besar untuk kamu.” Sekarang air mata Dewa menetes mengingat kejadian malam itu. Yang dipikirnya adalah Ibi nyatanya bukan, melainkan Hanin.