Rupanya Zara mengantarkan Ibi ke cafe yang mengarah ke tengah kota. “Makasih ya, Ra,” ucap Ibi begitu turun dari motor. Dia juga melepas helm lalu menyerahkannya pada Zara.
“Iya, sama-sama. Kayak sama orang laen aja kamu, Bi. Lagian aku ‘kan saksi hidup perjalanan cinta kalian dari awal. Jadi aku harus dapat jatah spesial kalo kalian nikah nanti.” Zara tersenyum lebar dengan memainkan alisnya menggoda Ibi.
“Ih, apaan sih kamu, Ra. Belum apa-apa udah nodong.” Ibi mencebikkan bibirnya.
Dari arah kanan Dewa baru saja turun dari taksi. Dia melihat dua gadis sedang ngobrol di parkiran, salah satunya adalah kekasih hati yang sengaja dia jumpai sampai datang ke kota itu. Dewa menghampiri mereka.
“Sayang,” sapa Dewa yang menyentuh lengan Ibi dari belakang dengan lembut.
“Eh, Mas,” jawab Ibi reflek berbalik.
Panggilan manis tersebut tentu terdengar di telinga Zara. Dia langsung menyahut, “Ciee ..., udah manggil sayang aja, nih. Duh, aku jadi ngiri.” Zara tersenyum menggoda membuat Ibi jadi salah tingkah sendiri. Dia merengek malu, “Zara, aah, resek, deh ...”
“Hahaha ...” Langsung tawa Zara makin pecah.
Demi menutupi kesal pacarnya, Dewa berinisiatif merangkul bahu Ibi, mengelus membuatnya tenang. “Biarin aja, Zara sengaja godain kamu, sayang,” ucap Dewa.
Menit berikutnya Zara pamit pergi. Tujuannya kesitu hanyalah mengantar Ibi, bukan ingin bergabung makan bersama di cafe.
Dewa dan Ibi lantas masuk ke dalam cafe. Mereka memilih meja yang paling sudut agar bebas mengekspresikan rasa rindu yang sudah dua minggu ditahan. Dan benar saja, setelah duduk dan memesan makanan, kepergian pelayan cafe menjadi awal untuk Dewa langsung memeluk Ibi.
“E-eh, Mas.” Ibi terkejut. Bukan karena dia tidak mau dipeluk tapi baginya, tempatnya tidak pantas. Berpelukan di lokasi umum.
“Mas kangen banget sama kamu, Bi,” ucap Dewa tanpa mempedulikan protes Ibi tadi.
“I-iya, Ibi juga kangen. Tapi Mas, nanti kita dilihatin orang, jadi bahan perhatian.” Ibi masih juga protes dengan caranya.
“Biarin aja orang-orang mau berkata apa, aku gak peduli. Mereka gak ngerasain kangennya aku sama kamu,” jawab Dewa yang akhirnya Ibi pun pasrah. Percuma memberi banyak penjelasan kalau Dewa tidak mau peduli.
Hampir lima menit Dewa memeluk Ibi. Memang pelukannya itu tidak mengandung unsur yang lain. Dia murni ingin melepas rindu dengan mendekap gadis pujaannya, menghirup aroma minyak kayu putih yang selalu mendominasi aroma tubuh Ibi. Begitulah Ibi, walau sudah remaja tapi dia tidak pernah absen mengoleskan seluruh tubuhnya dengan minyak yang satu itu. Seolah sudah menjadi rutinitas baginya.
“Kamu tahu gak, aroma kamu itu khas banget, Sayang. Dan aku suka,” ucap Dewa begitu melepas pelukan. Dia mencubit lembut sebelah pipi Ibi.
“Kalau cewek-cewek kebanyakan harum parfum, tapi kamu beda. Aku kayak lagi meluk bayi yang baru diolesi minyak kayu putih sama mamanya,” sambung Dewa lagi. Dia tersenyum lebar menatap Ibi. Betapa senangnya lelaki itu bisa bertemu dengan pujaan hatinya yang sudah berpisah selama dua minggu.
Tidak berapa lama pesanan makan mereka datang. Mereka lalu menikmati makanan tersebut.
“Suka gak makanan disini?” tanya Dewa, sebab mereka baru pertama kali makan di cafe itu.
“Suka kok, enak. Tapi tumben Mas ngajak makan disini. Biasanya juga seputaran rumah Ibi.” Ibi menyuapkan sendok berisi nasi dengan potongn steak ke mulutnya.
“Mas sekalian mau minta kamu temenin check in hotel. Gak jauh dari cafe ini.” Ibi mengangguk paham.
Selesai makan, sesuai perkataan Dewa mereka langsung menuju hotel. Kali ini Dewa menginap di hotel bintang lima di tengah kota. Hotelnya besar dan fasilitasnya lengkap. Entah apa maksudnya menginap disitu. Padahal kalau hanya untuk tidur, sayang sekali uang yang dia keluarkan.
“Emangnya nginep disini gak mahal, Mas? Mending di hotel yang waktu itu,” bisik Ibi saat mereka sedang diantar pelayan menuju kamarnya.
“Sekali-kali, Sayang,” jawab Dewa. Tangannya tidak lepas menggenggam tangan Ibi sejak mereka keluar dari cafe tadi. Ibi terbiasa dengan hal yang satu ini, sebab daru dulu Dewa memang selalu melakukannya.
Mereka sudah berada dalam kamar sekarang. Persis tipe hotelnya, kamarnya pun lumayan besar dengan pemandangan kota di jendela. Tampak gedung-gedung tinggi menjulang dari sana. Tempat tidurnya pun spesial, lebih tinggi dan empuk. Jika anak-anak melompat di atasnya berulang kali tidak akan rusak.
Setelah meletakkan ranselnya, Dewa pamit ke kamar mandi sementara Ibi duduk di sofa menonton tv. Hanya lima menit Dewa sudah keluar dari sana. Rupanya dia mengganti kaos yang dia pakai sebelumnya dengan kaos yang baru.
“Kok diganti, Mas?” tanya Ibi polos.
“Kaos yang tadi bau keringat, gak nyaman. Nanti aku laundry aja,” sahut Dewa sembari meletakkan kaosnya di pastik laundry hotel. Dari situ langkah Dewa mendekati Ibi dari belakang. Tanpa aba-aba dia langsung memeluk Ibi.
Ibi yang terkejut dipeluk dari arah belakang langsung bereaksi. “M-mas,” ucapnya gagap.
“Aku masih kangen banget sama kamu, Bi,” bisik Dewa di belakang telinga Ibi. Sebagai perempuan normal Ibi pasti merasa geli. Ada sensasi berbeda saat napas Dewa menyapu belakang telinganya.
Aduh, kok perasaanku jadi gini ya, aneh, batin Ibi.
Posisi mereka di dalam kamar berdua juga menjadi salah satu alasan yang membuat Ibi makin tidak karuan diperlakukan seperti itu. Apalagi Dewa terus memeluknya. Belum dilepas sampai sekarang. Sampai akhirnya Ibi protes lagi.
“Mas kenapa?” Begitu bentuk protes Ibi.
“Bulan depan kita menikah, yuk. Mas lamar kamu ke mama. Mau 'kan? Mas gak kuat kalo harus pisah jauh dari kamu terus-terusan, Sayang.” Sekarang Dewa sudah memutar tubuh Ibi menghadapnya.
Ibi terdiam. Tidak menyangka Dewa akan berkata begitu. Apa ini artinya Dewa sedang melamar dia?
“Kamu diem aja, apa itu artinya kamu nolak Mas?” tanya Dewa lagi.
Ibi menggeleng. Sungguh tidak ada di pikirannya untuk menolak. Justru saat ini Ibi terharu. Belum lama dia patah hati karena kepergian ayah, tapi sekarang dia akan segera memiliki pelindung baru dalam hidup. Lamaran Dewa tersebut menunjukkan kalau Dewa serius ingin menjaga, melindungi dan menyayanginya sampai akhir.
“Mas janji akan selalu menyayangi kamu dan mencintai kamu dengan sepenuh hati. Cuma kamu yang ada di hati Mas sampai napas terakhir, Sayang,” sambung Dewa lagi.
Sekarang mata Ibi sudah berkaca-kaca menatap lelaki di hadapannya. Dibalas Dewa dengan tatapan lembut penuh cinta. Apa yang Dewa katakan tadi jujur dari dalam hatinya. Dia sungguh-sungguh akan selalu mencintai dan menyayangi Ibi sampai napas terakhirnya.
Tangan kanan Dewa lantas membelai rambut lurus Ibi. Sementara jari telunjuk kirinya menarik pelan dagu Ibi untuk sedikit mendongak agar dia bisa menatap bibis tipis Ibi lebih jelas. Seketika atmosfer diantara mereka berubah. Ada getaran berbeda dari pandangan mereka satu sama lain. Bersamaan dengan itu pelan-pelan Dewa memberanikan diri untuk lebih mendekat hingga bibirnya dan bibir Ibi menempel.