Hubungan Dewa dan Ibi berjalan baik dari hari ke hari. Selama Dewa di Padang, mereka kembali intens bertelepon seperti dulu. Perhatian Dewa dan kasih sayangnya pada Ibi sungguh tampak sampai Ibi sendiri selalu malu-malu karenanya.
Sejak di bandara Dewa memanggil Ibi dengan sebutan sayang. Sementara Ibi tidak mengubah sebutan untuk Dewa sama sekali. Dia terlalu polos untuk bisa memikirkan itu. Tidak ada inspirasi sedikitpun di otaknya. Alhasil dia tetap memanggil dengan mengucap nama Dewa. Padahal Dewa sudah membilangkan dirinya sebagai Mas untuk Ibi.
Seperti biasa, setiap malam Dewa pasti bertelepon menemani Ibi menjaga wartel. Mereka ngobrol macam-macam. Ada saja pembahasan yang mereka utarakan setiap harinya. Padahal Ibi tidak bersekolah lagi, semestinya tidak ada kisah yang dia ceritakan seputar aktifitasnya. Setiap hari Ibi hanya di rumah menemani mamanya. Tapi begitupun segala hal tentang Ibi tidak pernah membuat Dewa bosan walau ceritanya tetap sama.
Empat hari lagi kalender akan berganti bulan. Itu berarti kedatangan Dewa sesuai dengan janji ke kota M. Bukan Ibi yang lebih dulu membuka pembahasan soal itu, melainkan Dewa.
“Sayang, empat hari lagi Mas dateng. Kamu mau Mas bawain apa dari sini?” tanya Dewa di telepon.
“M ..., apa ya? Terserah deh. Dewa dateng aja Ibi udah seneng,” jawab Ibi jujur. Dia memang tidak menginginkan apapun. Apa yang ada padanya sekarang sudah cukup membahagiakannya. Membuatnya bangkit dari rasa sedih kehilangan ayah.
“Gimana kalau nanti setelah Mas nyampe sana, kita ganti ponsel,” ucap Dewa.
“Ow, Dewa mau beli ponsel baru ya? Ya udah, Ibi temenin.” Tapi bukan itu maksud ucapan Dewa.
“Bukan, Sayang. Maksud Mas, kamu yang ganti ponsel,” jelas Dewa.
“Eh, gak usah, Ibi gak punya duit. Kasihan mama kalau harus dimintain macem-macem.” Ibi menolak.
“Bukan Mama kamu, tapi Mas yang mau gantiin ponsel kamu dengan yang baru, Sayang.” Dewa mengutarakan tujuannya.
“M ..., tapi buat apa? Ponsel Ibi ‘kan masih bagus. Gak rusak sama sekali.” Begitulah Ibi, dia tidak matre. Tidak tergiur sama sekali dengan benda berharga. Baginya sudah punya saja dia sudah bersyukur bagaimana mungkin punya keinginan diganti? Beda hal jika keadaan ini terjadi pada Zara. Pasti gadis itu akan menerima dengan senang hati.
“Biar kita lebih mudah berkirim pesan, Sayang. Mas juga pengen kamu kirim gambar. Ponsel kamu yang sekarang ‘kan gak bisa buat kirim gambar. Gak ada kameranya juga,” saut Dewa.
Rupanya dia ingin Ibi mengiriminya pesan yang berisi foto Ibi. Sebagai pengobat rasa rindu karena posisi mereka yang jauh. Ibi pun tersipu malu sendiri. Untung pembicaraan ini di telepon, jadi Dewa tidak bisa melihat wajahnya yang merah.
Kala itu memang ponsel berkamera dan bisa untuk saling berkirim gambar belum banyak yang menggunakan sebab harganya yang mahal. Tapi seiring waktu dan jaman, pelan-pelan banyak brand yang memproduksi ponsel serupa dengan harga yang lumayan terjangkau. Walau masih kategori mahal tapi tidak semahal yang brand pertama.
“Ya udah, Ibi ngikut. Gimana baiknya aja,” ucap Ibi kemudian.
“Oh ya satu lagi.”
“Apa?” tanya Ibi.
“Panggil aku, Mas, donk. Masa panggil nama terus. Kan kita udah pacaran,” pinta Dewa. Rupanya dia risih juga jika hanya dirinya yang memanggil Mas untuk diri sendiri sementara Ibi tidak merespon.
“Eh, iya, maaf. Ibi bukan gak mau, tapi Ibi merasa canggung aja. Tapi mulai hari ini Ibi akan panggil Mas. Ibi janji.” Tidak sulit meminta sesuatu pada Ibi, selama itu mudah dia akan langsung menurutinya.
Beberapa hari berlalu sampailah di hari ke datangan Dewa ke kota M. Sejak pagi entah sudah berapa kali Ibi melihat jam dinding, tidak sabar menunggu waktu kedatangan Dewa.
“Kamu nungguin apa sih, Bi? Dari pagi ngeliatin jam terus,” tanya mama yang menyadari kelakuan anaknya.
“Eng ..., itu, Ma. Ibi lagi nunggu waktu Zara jemput.” Ibu beralasan. Sampai detik ini Ibi belum menceritakan tentang Dewa pada mamanya. Dia masih belum yakin kalau mama bisa menerima. Atau nanti Ibi yang mungkin salah bicara sampai mamanya sulit menerima.
Semoga saja nanti Dewa yang lebih dewasa bisa memberi solusi untuk ini. Mungkin-mungkin pun Dewa sendiri yang akan datang memperkenalkan dirinya pada mama mengingat niat lelaki itu yang ingin menjalani hubungan serius dengan Ibi sampai ke jenjang pernikahan.
“Oh, kalian janjian pergi, ya?” tanya msms memastikan.
“Iya, Ma. Udah lama banget ‘kan Ibi gak keluar sama Zara. Dianya sibuk pacaran,” ceplos Ibi.
“Serius? Zara udah punya pacar, toh? Anak mana?” Ceplosan Ibi justru bikin mama jadi ingin tahu lebih lanjut.
“Kalau gak salah, pacar Zara itu udah dewasa, Ma. Udah kerja di perusahaan. Tapi Ibi gak tau dimananya.” Ibi hanya memberi jawaban sepintas. Tidak mau menjelaskan lebih lengkap karena nanti mama pasti tidak akan lanjut dengan pertanyaan berikutnya.
“Boleh, deh, nanti kalau Zara dateng, mama tanyain langsung. Mama jadi penasaran.” Mama tersenyum dan kemudian berlalu ke dapur.
Wah, gawat. Ibi harus kasih tahu Zara soal ini. Jangan sampai dia salah ucap dengan bilang aku dan Dewa yang mengenalkannya pada Adi. Ibi buru-buru menuju kamarnya untuk menelepon Zara.
Di telepon Zara tertawa mendengar ucapan sahabatnya. Dia merasa lucu sendiri dengn kelakuan Ibi. Sudah besar tapi masih ketakutan perkara pacaran sampai mengarang cerita kesan kemari.
“Hihihi ..., lucu banget kamu, Bi. Gak berubah juga dari dulu,” saut Zara di ujung telepon.
“Pokoknya kamu ikutin kata aku ajanya, Ra. Jangan sampai mama curiga. Aku belum siap ditanyain macem-macem kalau hubunganku dengan Dewa ketauan,” pinta Ibi sekali lagi pada Zara.
“Terus gimana mau lanjut ke pernikahan kalau ngasi tau mama kamu aja kamu udah ketakutan duluan.” Zara sampai heran.
“Ya itu urusan nanti deh, aku gak mau mikirnya sekarang,” saut Ibi singkat tidak ingin pusing.
“Hahaha ....” Zara malah semakin melebarkan tawanya.
“Ih, udah donk, Ra. Jangan gede-gede ketawanya. Nanti kemasukan lalat. Jangan lupa satu jam lagi kamu jemput aku, biar aku ada alasan untuk keluar,” pinta Ibi di akhir pembicaraan mereka.
Satu jam bersiap-siap Ibi sudah rapi dengan dandanan simplenya. Celana jeans biru langit yang dipadankannya dengan blous warna putih. Ibi juga mengikat rambut panjangnya menjadi satu kebelakang. Yang nanti setelah bertemu Dewa pasti ikatan rambutnya itu akan dia buka sesuai permintaan Mas Dewa-nya. Ya, Dewa lebih suka Ibi menggerai rambut saat bersamanya. Terlihat lebih cantik dan anggun menurut lelaki itu.
Sesuai janji, Zara sudah sampai di rumah Ibi. Dia menjemput sahabatnya itu dengan motor. Ya, baru beberapa bulan ini Zara dibelikan orang tuanya motor agar dia bisa berangkat kuliah lebih cepat. Zara yang terkenal malas belajar itu memang memilih berkuliah setelah selesai sekolah. Bukan karena dia ingin bekerja atau ingin jadi pengusaha nantinya. Tapi dia hanya mau menyetarakan diri dengan Adi. Menjadi gadis yang berpendidikan sebelum mereka benar-benar sah menjadi pasangan halal.
Walau malas, pikiran Zara maju juga. Sebab baginya jika dia berpendidikan tinggi tentu keluarga Adi akan memandangnya lebih nanti.
Ibi segera pamit pada mamanya setelah mendengar bunyi motor Zara. Tidak dia berikan kesempatan pada mama mengintrogasi sahabatnya itu.
“Ibi berangkat ya, Ma.” Ibi mencium tangan mamanya.
“Mama masih mau tanya-tanya sama Zara loh, Bi,” tegur mama.
“Nanti ‘kan juga bisa, Ma. Ntar Zara juga nganter Ibi pulang kok,” jawab Ibi.
“Ya, udah, kalian hati-hati.” Ibi segera naik ke atas motor Zara. Mereka berangkat menuju tempat janjian Ibi dengan Dewa. Lelaki sudah sampai di kota M sekarang. Pesawatnya baru saja mendarat.