Dewa Kembali Ke Padang Membawa Cinta

1011 Kata
Ibi tersenyum malu-malu. Wajahnya merah merona. Melihat itu Dewa mengambil inisiatif menjawab. “Iya, Ra. Aku sama Ibi balikan. Tapi kali ini hubungannya serius, gak main-main. Aku berniat mengajak Ibi menikah.” Dewa menjawab jujur. “Wah, congrat’s ya, Wa. Keren lu. Gua udah yakin banget dari dulu kalo kalian memang jodoh,” saut Adi menanggapi. Dia bahkan menepuk pelan bahu Dewa merasa bahagia mendengar kabar itu. “Makasih, Di. Semoga apa yang kamu bilang jadi doa. Aku memang berjodoh dengan Ibi, aamiin,” jawab Dewa. Zara sendiri sangat girang mendengar kabar itu. Dia sampai lompat-lompatan. “Aduh, Bi, aku seneng banget dengernya.” Zara menarik Ibi dalam pelukannya. “Akhirnya semua salah paham diantara kalian kelar dan bisa bersatu lagi. Aku harap kamu bahagia selalu ya, Bi,” sambung Zara lagi. Tidak hanya kabar baik dari Dewa dan Ibi, Zara dan Adi juga menyampaikan kabar baik dari mereka. Tentu Ibi juga senang bukan main. Hubungan keempatnya seolah dalam sinetron. Satu circle yang ternyata bersatu menuju tujuan yang sama. Sekarang mereka berempat sudah berada dalam taksi. Bersama-sama mengantar Dewa ke bandara. “Aku masih gak nyangka kita berempat bisa jadi kayak gini, Bi,” ucap Zara di dalam taksi. Zara duduk di samping kanan Ibi, dan di samping kirinya ada Dewa yang tidak henti menggenggam tangan Ibi. Sementara Adi kebagian duduk di kursi depan sebelah supir. Dia harus mengalah tidak berdampingan dengan pacarnya karena bangku belakang tidak muat. “Hehehe ..., apalagi aku, Ra,” jawab Ibi. Tidak hanya itu, banyak pertanyaan seputar Ibi dan Dewa yang keluar dari mulut Zara selama di taksi. Begitulah Zara, dia susah jika hanya diam menikmati perjalanan tanpa melakukan apapun. Maka sepanjang perjalanan menuju bandara gadis itu terus saja mengoceh. Tapi sikapnya yang rame dan ceria begitu pula yang membuat Adi jatuh cinta. Tidak jaga image seperti kebanyakan mantannya yang terdahulu. Setelah sampai di bandara, mereka semua ikut masuk mengantar Dewa sampai ke dalam. Dewa check in lebih dulu lalu setelah itu dia mengucap salam perpisahan pada Adi, Zara dan Ibi. Spesial untuk Ibi salam perpisahan yang dia lakukan berbeda. Karena merasa hubungannya dengan Ibi sudah resmi pacaran, Dewa tidak segan-segan menarik gadis itu masuk dalam pelukannya. Ya, Dewa memeluk Ibi di depan umum. Jangan tanya bagaimana reaksi Ibi. Gadis itu kaku tidak bergerak. Tangannya lurus terjuntai ke bawah. Ini pertama kali baginya. Memang ini bukan kali pertama Dewa memeluk Ibi. Sebelumnya Dewa pernah memeluk saat di Bali, dan saat di taksi dulu. Tapi itu hanya sekilas dan tidak menempel betul seperti sekarang. “Kamu gak mau peluk aku balik, Bi?” tanya Dewa di samping telinga Ibi. Lelaki itu belum melepas pelukannya. “I-ibi malu,” jawab Ibi lirih dan sedikit gagap. Dewa lantas tersenyum. “Sekarang aku pacar kamu loh, dan akan pergi beberapa waktu. Yakin, gak mau peluk balik? Nanti kalau kangen gimana?” Rupanya Dewa sudah pandai menggoda Ibi. “Dewa ...,” rengek Ibi pelan. “Buruan, ayo, peluk aku balik donk, Bi. Aku udah kayak cowok yang cinta sepihak sementara kamu gak merespon,” keluh Dewa kemudian. Ragu-ragu campur malu akhirnya Ibi melakukan hal yang sama. Pelan sekali dia melingkarkan tangannya di pinggang Dewa. Merapatkan tubuhnya lebih lagi pada lelaki dewasa yang sekarang sudah resmi menjadi pacarnya. Tentu jantung Ibi bertabuh kencang sampai dia sendiri merasa berisik dengan tabuhan itu. Polos bukan main Ibi ini. Di usianya yang baru mau beranjak delapan belas tahun dia baru tahu dan menjalani yang namanya pacaran. Bukan sekedar cinta monyet sepertinya dengan abdi dulu melainkan hubungan dua orang dewasa. Ya, Ibi sudah akan masuk ke jenjang usia dewasa sebentar lagi. “Tunggu Mas balik dua minggu lagi ya, sayang,” bisik Dewa di telinga Ibi lalu kemudian melepas perlahan pelukan mereka. Dewa sudah mengganti nama panggilan Ibi dengn sebutan sayang. Sementara menyebut dirinya sendiri dengan panggilan mas. Bersamaan dengan itu panggilan maskapai pesawat yang akan Dewa tumpangi terdengar. Dewa pun melambaikan tangan pada kekasih hatinya, Adi, dan Zara. Dia masuk ke dalam ruang berikutnya untuk kemudian menuju ke pesawat. Tidak ada kebahagiaan yang melebihi ini yang Dewa rasakan. Dia sungguh bersyukur dengan yang terjadi sekarang. Akhirnya dia dan Ibi resmi pacaran. Mulai hari ini mereka akan menyusun rencana masa depan mereka sama-sama. Membicarakan hal yang indah yang akan mereka lakukan ke depannya. Dewa tidak henti tersenyum di dalam pesawat. Tidak sia-sia dia datang ke kota M menemui Ibi atas berita duka cita hang menimpa ayahnya. Ternyata momen ini malah membawanya ke keadaan yang membahagiakan. Membawanya bisa mewujudkan apa yang dia impikan bersama Ibi selama ini. Gadis yang tidak berhenti dia cintai tiga tahun belakangan bahkan sampai sekarang. Namun pertanyaannya, apakah ada cinta yang seperti itu? Cinta yang tidak pernah hilang ataupun berkurang walau terus saja tersakiti dan sudah pernah berpisah. Ya, cinta Dewa pada Ibi sungguh nyata. Tidak ada kebohongan sedikitpun dari perasaannya terhadap Ibi. Apa yang keluar dari mulut Dewa untuk Ibi memang seperti itulah angan dan citanya. Namun pertanyaannya, apakah ada cinta yang seperti itu? Cinta yang tidak pernah hilang ataupun berkurang walau terus saja tersakiti dan sudah pernah berpisah. Ya, cinta Dewa pada Ibi sungguh nyata. Tidak ada kebohongan sedikitpun dari perasaannya terhadap Ibi. Apa yang keluar dari mulut Dewa untuk Ibi memang seperti itulah angan dan citanya. Lantas bagaimana dengan kesalahan satu malam Dewa? Dewa melupakan tentang itu, dia seolah tidak peduli lagi. Sebab menurutnya kebahagiaannya lah yang terpenting saat ini. Bisa bersama Ibi adalah hal yang di luar dugaan jadi dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia akan bersungguh-sungguh untuk itu. Bagaimana pun caranya dia harus mendapatkan Ibi. Dia harus menjadikan Ibi masa depannya. Ratu dalam rumahnya. Ibu dari anak-anaknya. Gadis yang akan selalu menunggunya pulang dan meneduhkan hatinya. Terlepas dari tanggung jawab yang sudah Dewa emban di tempat lain itu akan menjadi urusannya nanti. Dewa tidak akan lari dari tanggung jawab, tapi dia akan mengurus itu belakang. aku akan selalu mencintai kamu, Bi. Tidak akan ada yang berubah. Cintaku akan tetap untuk kamu apapun yang terjadi. Biarlah nanti aku yang atur semuanya. Yang penting sekarang aku harus dapatkan kamu dulu. Aku gak mau kamu lepas lagi ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN