“Hari ini, aku wajib balik ke Padang dengan pesawat malam, Bi. Tapi bulan depan aku janji, aku janji pasti akan kembali datang. Aku gak akan biarin kamu sendiri. Aku akan datang untuk ketemu kamu. Mau nunggu ‘kan?” Dewa menatap manik mata Ibi serius.
“Dewa gak akan ninggalin Ibi lagi ‘kan kayak dulu? Sumpah, dulu itu Ibi gak paham. Ibi gak menghargai semua perasaan Dewa ke Ibi. Tapi jujur, dari sejak dulu, setelah Ibi berjanji untuk gak ngecewain Dewa, gak sekalipun Ibi melanggar janji itu. Ibi gak pernah dekat dengan teman cowok manapun.” Ibi memandang balik Dewa dengan tatapan bersungguh-sungguh. Tidak satupun kalimatnya yang berbohong, karena dia memang tidak pernah mengkhianati Dewa dengan laki-laki manapun.
Bukan karena dia bodoh atau begitu mencintai Dewa kala itu. Sebab saat itu Ibi pun belum mengerti kalau ada cinta dalam kedekatan mereka. Ibi hanya tidak menemukan orang yang tepat, tidak menemukan sosok laki-laki yang bisa setara atau menyamai Dewa dalam hal menyayanginya. Apalagi saat itu Ibi juga disibukkan dengan persiapan ujian akhir nasional. Tidak ada waktu baginya untuk dekat dengan lawan jenis. Ibi fokus pada tujuannya untuk lulus dengan nilai yang baik.
“Aku gak akan ninggalin kamu lagi, Bi. Kita akan wujudkan apa yang selama ini aku cita-citakan bersama kamu.” Dengan segenap rasa cintanya Dewa mengatakan itu.
“Kamu adalah masa depan buatku. Kamu perempuan yang selalu ingin aku jaga, aku lindungi dan aku sayangi sampai napas terakhirku. Aku sayang banget sama kamu, Bi. Dari dulu bahkan sampai detik ini perasaan di hatiku untuk kamu gak pernah berubah.”
“Maaf kalau aku sempat meninggalkan kamu karena kekecewaan yang gak tentu arah. Saat itu aku merasa capek berjuang sendiri. Terlalu lama rasanya menunggu kamu besar, menunggu kamu paham bagaimana perasaanku sampai aku jenuh sendiri dan berpikir macam-macam tentang kamu.”
“Tapi hari ini aku janji, gak akan terjadi hal itu lagi diantara kita. Aku gak akan ninggalin kamu, Bi. Aku cinta sama kamu. Kamu paham ‘kan? Perasaan dua orang lawan jenis yang secara sadar saling membagi sayangnya dengan tujuan untuk ke hubungan yang serius yakni sebuah pernikahan. Apa kamu siap, Bi?” Lepas semua apa yang ada di hati Dewa selama ini. Hal yang dia tunggu-tunggu untuk dia ucapkan pada Ibi, yang hampir pupus karena keadaan tapi kini dengan gagah beraninya Dewa utarakan langsung kepada Ibi.
Dewa sungguh-sungguh lupa dengan tanggung jawab yang menantinya di tempat lain.
Sudah tidak bisa ditahan, air mata Ibi tepaksa lolos untuk kedua kalinya. Ibi meneteskan bulir hangat itu di kedua pipi. Ibi terharu dengan apa yang Dewa utarakan. Rupanya sedalam itu perasaan Dewa terhadap Ibi. Ibi pikir Dewa udah lupa dengan Ibi, gak lagi menyayangi Ibi. Tapi Tuhan memang adil, Tuhan mengembalikan Dewa yang Ibi kenal dulu namun kali ini membawa hal yang Ibi butuhkan. Yakni Ya, Ibi butuh yang seperti ini. Tanggung jawab dari seorang laki-laki yang sungguh mencintai Ibi.
Dewa mengusap air mata Ibi dengan kedua tangannya. Dia sudah tidak peduli lagi apa tanggapan orang. Yang dia tahu adalah rasa cintanya yang menggebu-gebu terhadap Ibi selama ini bisa dia luapkan saat ini juga.
Setelah Dewa menghapus air matanya, Ibi pun mengangguk. Menandakan kalau dia paham dan siap dengan apa yang di katakan Dewa.
“Perasaan yang aku punya buat kamu gak main-main, Bi. Aku bisa lakukan apapun untuk kamu dan untuk kebahagiaan kamu,” sambung Dewa lagi. Kembali Ibi mengangguk.
Oh Tuhan, apa ini mimpi? Aku tidak sedang bermimpi ‘kan? Ini adalah hal yang kutunggu-tunggu selama hampir tiga tahun mengenalnya. Selama hampir tiga tahun memendam semua rasa yang begitu besar terhadapnya. Dan hari ini di depan mataku dia mengangguk bahkan sampai dua kali. Apa itu artinya dia?
“Katakan sesuatu, Bi. Aku butuh jawaban pasti. Kalau kamu Cuma ngangguk kayak gitu aku takut aku yang salah paham. Aku udah gak mau hanya diam seperti dulu. Kamu udah gede sekarang, pasti paham dengan semua yang aku utarakan tadi.” Dewa ingin kepastian. Dia tidak mau lagi merasa digantung seperti dulu. Menunggu sebuah jawaban yang tidak pasti hingga dia menyerah sendiri.
“Ibi paham Dewa ..., dan Ibi siap ...” Ibi menjawab dengan suara lirih. Malu campur haru di hatinya sekarang.
Tidak hanya Ibi, Dewa pun rasanya ingin menangis mendengar jawaban itu. Ini yang selama ini dia tunggu-tunggu, jawaban pasti yang keluar dari mulut Ibi yang menyatakan kalau mereka resmi menjalin hubungan serius dengan tujuan menikah.
Kalau boleh rasanya Dewa ingin menggendong Ibi saat itu juga. Memeluknya erat tanpa sekat apapun dengan sangat lama. Menghantarkan getaran yang saat ini seperti konser musik rock di dadanya.
“Demi Tuhan, aku cinta banget sama kamu, Bi. Dulu, sekarang bahkan sampai kapan pun nanti ....” Ucapan Dewa sudah menyalahi segalanya. Dia terbawa oleh napsu hingga membawa nama Tuhan untuk menggambarkan betapa besar cintanya pada Ibi.
Dewa melupakan segalanya sekarang, Dewa kembali terbuai dengan kegilaan cinta. Dewa sungguh mabuk di dalamnya. Tidak seharusnya Dewa begitu, tapi napsu menguasai dirinya. Napsu yang menggebu membuat cinta yang dia miliki seperti obsesi yang mengharuskannya mendapatkan Ibi.
Dua jam berlalu Dewa dan Ibi sudah menyelesaikan makannya. Mereka juga sudah bicara panjang lebar. Dewa menjanjikan banyak hal pada Ibi, terbawa oleh napsu akibat dimabuk cinta.
Sementara Ibi yang polos dan mengharapkan sosok yang mengganti ayahnya dalam hidup, seolah menemukan yang dia inginkan. Apalagi orang itu adalah Dewa, lelaki yang sudah dia kenal begitu lama dan sungguh-sungguh menyayanginya. Tidak diragukan lagi kalau soal itu.
Dapat dipastikan senyum di bibir Ibi kembali menghiasi hari-harinya setelah ini. Hidupnya tidak akan terpuruk lagi. Ada yang menuntun, menyayangi, bahkan mencintainya sepenuh hati.
Karena waktu pertemuan sudah habis, sesuai janji Zara datang menjemput. Gadis itu sudah berada di depan cafe menunggu Ibi dan Dewa keluar. Tapi dia tidak datang sendiri. Rupanya ada yang menemani. Siapa lagi kalau bukan Adi.
Persis kebahagiaan yang Ibi dan Dewa rasakan, hal itu juga Zara rasakan. Di hari yang sama Zara dan Adi resmi memiliki hubungan spesial yang disebut pacaran. Tidak hanya itu, Adi yang sudah beberapa kali datang ke rumah Zara juga merasa sudah mengenal orang tua gadis itu, dan merasa kalau dia disambut baik disana, membuatnya nyaman dan berpikir untuk membawa hubungan pacaran tersebut ke jenjang yang serius.
Penantian Zara tidak sia-sia. Dia bahkan tahu betul masa lalu Adi yang memiliki banyak pacar dan itu malah membuatnya memberi nilai lebih pada lelakk itu. Sekarang Zara tidak hanya bahagia, tapi juga merasa keren karena bisa menaklukkan lelaki idaman wanita. Sungguh bermanfaat apa yang dia pelajari di dunia perlaki-lakian selama ini. Bisa memahami Adi hingga membuat lelaki itu nyaman sampai akhirnya memilih dia sebagai pilihan terakhir.
Begitu Dewa dan Ibi keluar dari cafe, mereka berdua sudah melihat Zara dan Adi bergandengan tangan. Begitu pula dengan Dewa dan Ibi. Dua pasangan yang saling bergandengan. Tentu keduanya terkejut lalu kemudian menertawakan diri bersama-sama.
“Kalian balikan?” Zara si kepo memulai obrolan lebih dulu diantara mereka berempat.