Ba’da zuhur, Ibi sudah bersiap-siap di jemput oleh Zara. Tidak banyak pertanyaan dari mamanya, dia menerima begitu saja alasan Zara. Sebab mama masih berduka, tidak punya waktu untuk berdebat atau sekedar bertanya panjang lebar pada Ibi. Selama Ibi pergi bersama Zara, mama Ibi akan selalu percaya.
Zara dan Ibi segera menaiki angkutan umum. Mereka janji bertemu dengan Dewa di sebuah cafe yang tidak jauh dari hotel tempat Dewa menginap. Zara langsung pamit pergi saat sudah mengantar Ibi sampai di cafe itu. Dia berjanji akan kembali menjemput Ibi dua jam kemudian. Begitu pengertiannya Zara. Dia tahu bagaimana dua insan yang sudah lama berpisah kini bisa kembali jalan berdua setelah sekian lama.
Memang tidak akan ada hal berlebihan yang Ibi dan Dewa lakukan disana. Namun momen berdua itu yang dinanti mereka masing-masing.
Betapa senangnya hati Ibi dan Dewa saat ini. Akhirnya mereka bisa bersama walau hanya sekedar makan siang di cafe. Setidaknya momen ini seperti mengulang saat-saat bersama mereka dulu yang suka meluangkan waktu makan bareng di cafe.
Setelah memesan makanan, Dewa lebih dulu mengajak Ibi bicara.
“Gimana keadaan kamu hari ini, Bi?” tanyanya.
“Alhamdulillah Ibi baik. Memang kesedihan Ibi atas kepergian Baba belum sepenuhnya hilang, tapi pelan-pelan Ibi mencoba ikhlas dan berdamai dengan kenyataan. Toh semua udah takdir Allah. Sekarang tugas Ibi tinggal kirim doa yang banyak buat Baba,” jelas Ibi panjang lebar.
Dewa tersenyum mendengar itu. “Makin pinter kamu, Bi. Waktu dan cobaan pelan-pelan mendewasakan kamu.”
“Ini semua juga karena Zara dan Dewa selalu ada di samping Ibi. Kalau gak ada kalian yang terus nguatin, Ibi gak tahu hidup Ibi harus seperti apa. Makasih ya, Dewa,” ucap Ibi dengan tulus. Dia menatap Dewa dengan serius.
“Iya, sama-sama. Yang penting sekarang kamu udah gak terpuruk lagi.” Dewa mengusap punggung tangan Ibi yang tergeletak di atas meja.
Posisi duduk mereka berhadapan sebab mereka sedang di tempat ramai. Menjaga sikap dan pandangan orang. Ditambah lagi hubungan mereka yang sudah lama renggang membuat keduanya jadi kaku untuk kembali intim seperti dulu. Duduk berdampingan, saling menggenggam tangan ataupun saling rangkul.
Sudah tidak ada perlakuan seperti itu dari Dewa walau sesungguhnya Ibi berharap. Bukan karena Dewa tidak ingin melakukannya, justru Dewa menghargai perasaan Ibi. Takut Ibi salah paham atau berpikir yang saling. Beginilah susahnya jika pernah bersama lalu tiba-tiba berpisah karena sesuatu hal. Untuk memulai kembali rasanya canggung sekali. Saling menjaga dan saling tidak ingin kembali terjadi salah paham.
“Ngomong-ngomong, sekarang kamu lagi dekat sama siapa, Bi?” tanya Dewa.
“Sama Zara. Kan emang selalu sama dia,” jawab Ibi jujur dan polos. Dia tidak memikirkan siapapun sebab dia memang tidak dekat dengan orang selain Zara. Teman-teman sekelasnya yang lain hanya sekedar teman biasa. Tidak terlalu dekat hingga bisa saling bertukar masalah pribadi satu sama lain. Hanya Zara ‘lah tempat Ibi bisa mencurahkan segalanya.
Dulu tidak hanya Zara, tapi Dewa juga pendengar segala keluh kesah Ibi. Namun semua telah berubah.
“Hehehe ...” Tiba-tiba Dewa tertawa mendengar jawaban itu.
“Maksud aku orang lain selain Zara, loh, Bi,” terang Dewa lagi.
“Gak ada sama sekali. Dewa ‘kan tahu kalau Ibi susah dekat dengan orang lain. Walau Ibi sudah jauh berubah, lebih membuka diri, tapi tetep aja untuk jadi teman dekat Ibi rasanya sulit kalau hati gak klop,” terang Ibi. Ya, Ibi memang sangat selektif memilih teman, terkhusus laki-laki. Belajar dari pengalamannya dulu putus dengan Abdi serta terpisah dengan Dewa. Sebab itu Ibi jauh lebih pilah pilih.
Apa itu artinya sampai detik ini Ibi masih setia dengan janjinya padaku? Dewa menduga dalam hati. Sebagai manusia normal, sampai detik inipun dia masih mengharapkan Ibi. Memimpikan bisa bersatu dengan Ibi seperti impiannya dulu. Tapi apakah itu mungkin setelah apa yang terjadi?
“Jadi Cuma sama Zara kamu share macem-macem?” Sekali lagi Dewa memastikan dan Ibi mengangguk.
“Makanya Ibi terpuruk banget setelah Baba meninggal. Waktu Baba sakit, Ibi udah bertekad akan ngurus segala persyaratan ke Mesir kalau Baba sembuh. Tapi yang ada Baba malah pergi untuk selamanya.” Mata Ibi berkaca-kaca mengingat itu. Mengingat tekadnya untuk membahagiakan ayahnya yang harus sirna seiring dengan kepergian beliau.
Ya Tuhan, kasihan Ibi. Bahkan hal yang gak ingin dia lakukan, mau dia lakukan demi ayahnya. Tapi Engkau berkehendak lain di penghujung. Aku gak bisa membiarkan Ibi terus sendiri seperti ini. Aku gak tega. Dewa paham perasaan Ibi.
“Kalau seandainya kita balik kayak dulu, kamu mau gak, Bi? Tapi, tapi ini Cuma seandainya, kalau kamu keberatan, gak perlu dilakukan juga gak apa-apa, kok.” Melihat kesendirian Ibi hati Dewa tersentuh. Harusnya dia tidak masuk ke ranah itu lagi, tapi siapa yang bisa menahan perasaan lebih lama jika di hadapkan dengan orang yang begitu dicinta yang sedang dirundung kesedihan mendalam?
Jalan satu-satunya adalah kembali dan merangkulnya lagi. Menyayangi, menjaganya, dan berjanji untuk untuk masa depannya kelak.
Belum sempat Ibi menjawab, air matanya menetes. Dia terharu dengan pertanyaan Dewa barusan. Sejujurnya memang itu yang dia inginkan, terlepas dari tujuan Dewa di akhir, tapi Ibi sungguh membutuhkan sosok laki-laki seperti Dewa dalam hidupnya
“Eh, jangan nangis, Bi. Ini tempat umum. Nanti dikira kita abis ribut.” Dengan cepat Dewa menyodorkan tisu untuk Ibi mengusap air matanya.
“Kalau kamu gak suka denger aku ngomong kayak tadi. Lupain aja, aku minta maaf.” Entah kenapa Dewa langsung tidak enak hati. Dipikirnya Ibi menangis karena menolak pertanyaannya itu.
“Ibi mau, Dewa.” Tidak dia duga, ternyata Ibi menjawab demikian. “Ibi mau kita balik kayak dulu. Ibi gak keberatan sama sekali. Malah yang ada Ibi bersyukur kalau Dewa mau deket lagi sama Ibi.” Masih dengan mata berkaca-kaca Ibi menjawabnya.
Ditahannya sekuat tenaga agar air matanya tidak lagi menetes demi Dewa. Tidak mau orang sekitar yang ada di cafe yang sama berpikir yang bukan-bukan.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Begitulah seolah pepatah yang mirip seperti keadaan Dewa dan Ibi saat ini. Senyum lebar langsung terukir di bibir Dewa. Ingin sekali rasanya dia bangkit dari duduk dam menggendong Ibi saking bahagianya. Tapi lagi-lagi hal seperti itu hanya ada dalam angan-angan.
Di balik itu semua, Dewa lupa akan janjinya. Dewa lupa dengan kesalahan satu malam yang mengharuskan dia memikirkan masa depan yang lain dan bukan Ibi. Tapi setan membuat Dewa lupa, setan menggelapkan matanya.
Kini Dewa menggenggam tangan Ibi yang ada di atas meja. Menyalurkan rasa cinta yang masih penuh ada di hatinya untuk Ibi. Jangan tanya bagaimana jantungnya berdetak saat ini, seolah semua kebahagiaannya kembali dalam sekejap. Segala impian dengan orang yang dicinta tampak di depan mata.
Ternyata cinta bisa membuat seseorang lupa segalanya. Cinta menutup kenyataan jadi tidak terlihat. Cinta mengutamakan apa yang membuat si pecinta bahagia. Cinta juga menjadikan si pecinta menjadi egois, padahal masa depan orang lain sudah di depan mata. Orang itu seharusnya bukan Ibi.
Ya, sekali lagi, orang itu bukan Ibi. Ada hidup yang wajib Dewa pertanggungjawabkan ke depannya. Yang sudah dia janjikan untuk bahagia, yang sudah dia ambil tanggung jawabnya setelah hal fatal yang dia lakukan malam itu. Tapi apa itu?