Malam Doa Untuk Baba

1182 Kata
Hari kedua kedatangan Dewa, tepat jam delapan pagi lelaki itu sudah menghubungi Ibi. Dia menanyakan kabar sekaligus bertanya apakah Ibi sudah sarapan. Dewa juga tidak lupa menanyakan tentang acara doa yang akan dilaksanakan di rumah Ibi nanti malam. Ya, sesuai tradisi yang ada di lingkungan Ibi kalau setelah malam ketiga kemalangan akan diadakan acara kumpul bersama sanak saudara dan tetangga untuk bersama-sama mengirim doa pada almarhum. “Acaranya jam berapa, Bi, ntar malam?” tanya Dewa. “Ba’da isya. Dewa mau datang, ya?” tanya Ibi balik. “Insya Allah aku datang. Nanti siang aku kirim sesuatu buat bantu-bantu disana boleh ya,” pinta Dewa. Rupanya dia ingin menyumbangkan sesuatu agar meringankan sedikit beban keluarga Ibi. “Maksudnya? Dewa mau kirim apa?” tanya Ibi lagi untuk lebih jelasnya. “Makanan ringan. Tadi sebelum telepon kamu, aku udah pesan ke toko kue yang dekat dari rumah kamu itu, loh, Bi. Nazla Kue.” Dewa menyebut nama toko kuenya. “Masya Allah, mama pasti seneng banget,” saut Ibi. “Tapi jangan bilang dari aku. Nanti mama kamu bingung dan tanya siapa aku. Ceritanya jadi panjang. Biar nanti kalau ada langkah aku yang perkenalkan diri langsung ke mama kamu.” Dewa tidak ingin membebani Ibi dengan pertanyaan mamanya kelak. Biarlah kebaikannya tidak perlu diketahui. Toh sebagai manusia kita juga diminta untuk selalu memberi tanpa menceritakannya pada siapapun. Jangankan orang tangan kiri saja tidak perlu tahu jika tangan kanan memberi. Tidak hanya pagi itu saja Dewa menelepon Ibi. Per dua jam sekali dia pasti akan menghubungi gadis itu, seolah ingin tahu apa saja yang Ibi kerjakan. Kalau ditanya jujur sesungguhnya Dewa ingin langsung bertemu Ibi di rumahnya. Namun hal itu tidak mungkin. Banyak tamu yang akan mempertanyakan siapa Dewa. Tak hanya sampai disitu. Dewa juga tidak mungkin mengajak Ibi bertemu di luar. Bukan saatnya mereka bertemu di situasi yang seperti ini. Biarlah Ibi mengurus keadaan rumah serta acara doa untuk ayahnya malam ini. Semoga besok mereka punya kesempatan untuk bertemu. Acara doa untuk almarhum ayah Ibi sedang berlangsung malam ini. Sesuai apa yang dia katakan, Dewa ikut bagian dalam acara tersebut. Dia ada diantara para tamu yang melantunkan doa. Sesekali matanya berkeliling mencari sosok Ibi tapi tidak ketemu. Sesuai tradisi, bagi tamu laki-laki posisinya di depan dan tamu perempuan posisinya di belakang. Jadi sudah tentu Ibi, Zara dan para wanita lain ada di belakang. Tidak dapat terlihat oleh Dewa. Satu jam lebih berlangsung acar pun selesai. Ditutup oleh ustad dengan doa sapu jagat. Lalu kemudian para tamu saling bersalaman. Berselang lima menit setelah acara utusan dari dapur membagikan snack atau makanan kecil beserta minumannya. Yang dibagikan itu adalah snack yang dikirimkan oleh Dewa. Ibi sendiri menyerahkannya pada mamanya dengan alasan sumbangan dari temannya. Untung mama tidak bertanya lebih lanjut teman yang mana. Selesai tamu menikmati snack, utusan rumah membagikan makanan berat untuk dibawa pulang. Semua tamu mendapat bagian masing-masing. Bahkan tidak sedikit yang meminta jatah lebih untuk orang di rumahnya. Bagi sebagian orang, tradisi seperti itu tidak baik dilakukan karena akan memberatkan keluarga yang sedang berduka cita, namun sesungguhnya tidak ‘lah demikian. Sebab faktanya mama Ibi tidak dirugikan apapun. Karena segala pembiayaan untuk penyediaan makanan ditanggung bersama. Sanak saudara fan tetangga berbondong-bondong memberi sumbangan. Ada yang memberi beras, ayam, dan sayuran yang kemudian diolah mereka menjadi makanan untuk dibagikan pada tamu. Sementara snack datang dari Dewa. Tak hanya Dewa beberapa tetangga juga ada yang ikut membawakan kue dan minuman. Intinya untuk lingkungan bermasyarakat yang solid hal seperti itu terus terjalin. Mereka saling bahu membahu meringankan beban keluarga yang ditimpa kemalangan. Begitupun jika hal yang sama terjadi pada mereka. Keluarga Ibi ikut membantu meringankan bebannya. Selesai sudah semuanya. Satu persatu tamu pamit pulang. Dewa masih celingak-celinguk di tempat duduknya. Dia ingin melihat Ibi sebelum dirinya pulang. Walau hanya sekedar melihat, tapi Dewa sungguh menantikan itu. Memastikan bahwa gadis pujaannya itu baik-baik saja. Syukurnya Tuhan mengabulkan permintaan Dewa. Tiba-tiba saja Ibi keluar untuk sekedar melihat apakah semua tamu sudah pulang atau belum. Bermaksud ingin membereskan beberapa piring yang berserakan di luar. Ketika itu tatapan Ibi bertemu pandang dengan Dewa. Lelakk itu melayangkan senyumnya pada Ibi yang dibalas Ibi dengan hal sama. Kalau sudah melihatnya begini, aku baru bisa tenang. Segera saat itu juga Dewa bangkit dari duduknya. Dia pamit pulang. Tidak perlu bicara atau kontak fisik. Hanya sekedar melihat kehadirannya lalu memberikan senyum satu sama lain sudah cukup membahagiakan hati keduanya. Ini yang disebut cinta sejati. Cinta yang Dewa miliki untuk Ibi. Hari ketiga Dewa berada di kota M, dia sudah mengabarkan pada Ibi kalau dia akan pulang ke Padang dengan pesawat malam. Ibi mengatakan kalau dia akan keluar rumah untuk menemui Dewa. Semula Dewa melarangnya, meminta Ibi tetap di rumah sebab masih dalam suasana berduka. Tapi Ibi ngotot ingin bertemu walau hanya sebentar. Setidaknya dia bisa berpisah dengan Dewa dalam keadaan yang baik-baik saja. Jujur dari dalam hatinya Ibi tidak ingin hubungannya dengan Dewa kembali renggang. Ibi merasa membutuhkan Dewa untuk bisa kembali membuatnya ceria, bisa membuatnya kembali menemukan semangat hidup serta tujuan hidup. Setelah babanya meninggal, Ibi sudah tidak tahu lagi dia harus apa dan kemana. Tujuan satu-satunya membahagiakan baba dengan menyiapkan diri berangkat ke Mesir sudah hancur bersama dengan kepergian baba. Lantas apa lagi yang harus Ibi lakukan? Apakah selamanya dia harus berdiam diri saja dirumah? Tapi Tuhan berkata lain. Tuhan kembali mengirimkan Dewa padanya. Mungkin dengan kehadiran Dewa di saat sekarang adalah waktu yang tepat untuk Ibi. Menemani Ibi, menuntun Ibi dan membimbing Ibi menggantikan posisi ayahnya. Memang Ibi memiliki seorang kakak laki-laki, tapi kakaknya itu sudah memiliki keluarga sendiri. Setelah menikah kehidupan kakak Ibi hanya fokus pada keluarganya. Apalagi dia tinggal di rumah mertua. Tentu kedekatan lebih ke pihak keluarga perempuan. Hingga dia menomorduakan keluarganya sendiri. Ibi tidak meras kehilangan sosok kakak sama sekali. Karena sebelum menikah pun Ibi tidak terlalu dekat dengan kakaknya. Hanya mama dan baba ‘lah teman Ibi di rumah. Bersama merawat Ibi bertumbuh kembang hingga menjadi gadis remaja seperti sekarang. “Pokoknya sebelum Dewa berangkat, kita harus ketemu dulu, ya,” pinta Ibi saat dia dan Dewa bicara di telepon. “Kamu gak usah keluar rumah, Bi. Nanti apa kata mama. Kamu mau pakai alasan apa coba? Kalian ‘kan masih berduka.” Yang dikatakan Dewa benar. Ibi sendiri pun bingung harus beralasan apa pada mamanya. “Tapi Dewa datang kesini ‘kan untuk Ibi, masa Ibi gak bisa luangkan waktu sebentar untuk kita ketemuan,” sahut Ibi tidak mau kalah. “Ya udah, kalau gitu sekarang kamu telepon Zara. Minta dia jemput kamu. Zara pasti tahu mau pakai alasan apa agar bisa bawa kamu keluar dari rumah. Tapi ingat, seandainya mama kamu gak kasi ijin, gak usah dibantah ya, Bi. Jangan sampai kamu ribut sama mama. Kasihan, karena sesungguhnya mama orang yang paling terpukul atas kepergian baba kamu.” Dewa tiba-tiba teringat dengan sahabat Ibi yang satu itu. Dewa tahu betul kalau gadis itu pintar dalam berkata-kata. Apalagi kalau untuk urusan dengan cowok, Zara ahlinya. Pasti dia bisa mencari alasan untuk Ibi. Tidak lupa Dewa juga mengingatkan Ibi untuk tidak ngotot jika mamanya tidak mengijinkan. Menjaga perasaan mama yang belum stabil setelah kehilangan suaminya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN