Kedatangan Dewa II

1344 Kata
“Bi,” Dewa bersuara menyebut nama Ibi. Bukannya menoleh, Ibi malah menangis sesenggukan. “Loh, Bi, kamu kenapa? Kok nangis lagi?” tanya Zara heran. Apa mungkin Ibi gak suka ya dengan kehadiran Dewa? Batin Zara. “Barusan aku kayak denger suara Dewa, Ra. Kehilangan Baba bikin aku halusinasi kayak gini. Rasanya sedih banget,” jawab Ibi yang masih meneruskan tangisnya. Namun dijawab langsung oleh si pemilik suara yang dianggap Ibi dia berhalusinasi. “Kamu gak halusinasi, Bi. Aku bener-bener ada di sini.” Kali ini Dewa menyentuh bahu Ibi membuat gadis itu menoleh cepat. “Dewa ..., hik .... hik .... hik ....” Tangis Ibi makin pecah melihat lelaki nomor dua yang begitu menyayanginya. Kalau saja tempat itu tidak ramai mungkin Ibi sudah memeluk Dewa saat itu juga. Menumpahkan segala beban kesedihan yang dia rasakan saat ini. Dewa sendiri juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengusap puncak kepala Ibi untuk sekedar memenangkan walau kadarnya tidak lebih dari lima persen. Sementara tamu pelayat yang lain melihat apa yang terjadi. Mereka tidak menduga buruk sama sekali, sebab apa yang di lakukan Dewa barusan sangat wajar. Tidak menunjukkan kedekatan yang berlebih. Apalagi Dewa datang ditemani oleh Zara, sahabat Ibi sejak kecil yang sudah dikenal oleh keluarga besar Ibi. “Yang sabar ya, Bi. Aku ada disini buat kamu,” ucap Dewa lagi. Kali ini suaranya lebih pelan agar tidak jadi bahan perhatian orang sekitar. Sebab hanya Zara sajalah yang memahami kedekatan mereka, tidak dengan yang lain. “Ibi gak punya Baba lagi, Dewa ... Gak ada lagi yang bisa jagain Ibi ..., yang bisa ngawasin Ibi ..., yang bisa nasehatin Ibi ...” Air mata Ibi seolah tidak ada habisnya. Dia terus saja menetes dari kedua sudut matanya seperti air yang mengalir. “Ada aku, Bi ... Ada aku ... Berhenti nangis ya. Kasihan mata kamu udah bengkak kayak gitu.” Yang dikatakan Dewa memang benar. Mata Ibi sudah tidak karuan bentuknya. Atas bawah menggembung karena tidak henti menangis sejak kemarin. Bahkan Ibi sudah tidak peduli dengan penampilannya yang sekarang. Rambutnya diikat acak-acakan. Sungguh Dewa perihatin sekali dengan keadaan Ibi. Gadis itu benar-benar terpukul dengn kepergian ayahnya sampai tidak tahu lagi harus apa. Yang dia lakukan hanya menangis dan terus menangis. Dewa paham perasaan yang Ibi rasakan sebab dia lebih dulu merasakan moment seperti ini sejak dia masih sekolah dulu. Ya, ayah Dewa meninggal ketika dia masih kelas tiga SMP. Meninggalkan dia, ibunya, dan seorang adik perempuannya. Untuk itu setelah lulus sekolah Dewa langsung melamar kerja di perusahaan listrik negara tempatnya bekerja sekarang. Beruntung dia berhasil lulus tes hingga dipekerjakan di tempat itu. Awal bekerja Dewa juga mendaftar kuliah bersamaan. Dia melanjutkan pendidikan tinggi sambil bekerja, sebab Dewa tahu bahwa jenjang karir akan didapat jika pendidikan yang dia miliki baik. Dua tahun bekerja di perusahaan itu, Dewa di mutasi ke kota M tempatnya mengenal Ibi. Di kota M inilah jenjang karirnya dimulai. Sampai akhirnya dia dipindah tugaskan ke Padang dengan jabatan yang diperhitungkan seperti sekarang. Tapi kalimat penenang apapun yang dikatakan orang, Ibi belum bisa bangkit dari kesedihan. Ayahnya belum lama pergi, baru kemarin. Jadi rasa kehilangan masih jelas terpatri di benak Ibi. Sosok laki-laki yang dianggapnya sebagai pelindung, pemberi nasehat dan tulus menyayangi tidak ada lagi. Jadi wajar Ibi sangat terpukul. Satu jam pertemuan di hari pertama itu, Dewa pamit pulang. Dia menginap di hotel yang dekat dari rumah Ibi. “Aku pamit ya, Bi. Gak enak kalau aku terlalu lama disini. Saudara-saudara kamu nanti pada heran dan bertanya-tanya siapa sebenarnya aku. Nanti setelah nyampe hotel, aku pasti telepon kamu.” Sekali lagi Dewa mengusap lembut puncak kepala Ibi. Waktu untuk pergi sebelum para tamu maupun sanak saudara Ibi curiga tentang siapa dirinya. Ditemani Zara, Dewa keluar dari rumah Ibi. Namun di simpang jalan mereka berpisah. Zara menuju pulang sementara Dewa mencari hotel terdekat. Dewa mengambil cuti selama tiga hari. Dia berharap kehadirannya yang hanya sebentar itu paling tidak bisa sedikit mengobati rasa sedih di hati Ibi, gadis yang begitu dicintainya hingga saat ini. Jangan kira perasaan Dewa berubah ataupun berkurang terhadap Ibi. Tidak sama sekali. Dia masih tetap sama. Mencintai dan menyayangi Ibi tanpa batas. Namun keadaannya sudah berbeda. Ada hal yang tidak bisa Dewa ungkap yang mengharuskannya berpisah dari Ibi. Tidak bisa bersatu kembali walau dipaksakan. Sebab Dewa memiliki tanggung jawab besar atas kesalahan fatal yang dia lakukan di malam itu. Malam dimana dia mabuk-mabukan di paviliun. Setengah jam berkeliling dengan taksi, Dewa menemukan hotel yang cocok. Tidak besar tapi juga tidak kecil dan harganya pun cukup terjangkau. Yang penting tempatnya bersih dan sekitarnya banyak penjual makanan. Jadi mudah baginya untuk membeli makanan. Dewa langsung check in di hotel tersebut. Setelah berada di dalam kamar, sesuai janji dia segera menghubungi Ibi. Baru dua kali panggilan masuk Ibi mengangkat teleponnya. “Halo, Dewa ...” Suara Ibi terdengar lirih. Ya, apalagi kalau bukan habis menangis. Hanya itu yang selalu gadis itu lakukan sekarang. “Halo, assalamu’alaikum, Bi. Kamu udah makan?” Kebetulan jam sudah menunjukkan ke angka setengah tujuh malam. “Waalaikumsalam. Belum,” jawab Ibi singkat. Bukan karena tidak ingin bicara banyak, tapi keadaan membuatnya tidak memungkinkan untuk bicara banyak. “Sebentar lagi maghrib, kamu solat dulu ya, abis itu makan,” ucap Dewa mengingatkan. “Iya, nanti Ibi solat. Tapi Ibi gak laper, Dewa.” “Jangan gitu, Bi. Kamu harus tetap makan, nanti kamu sakit. Udah berapa lama kamu gak makan? Jangan-jangan dari kemarin kamu belum makan ya?” Dewa jadi curiga Ibi tidak mengisi perutnya sejak kemarin. Dan kecurigaan Dewa benar. “Belum. Ibi Cuma minum s**u,” jawab Ibi jujur. “Astaghfirulloh ... Kamu bisa sakit kalau terus gitu, Bi. Pokoknya malam ini kamu wajib makan, ya. Jangan enggak. Aku gak mau kamu sampai sakit. Aku khawatir, Bi. Aku bakal kepikiran terus sama kamu.” Dewa terus mengingatkan, meminta Ibi wajib mengisi perut. “Tapi Ibi gak napsu makan Dewa.” “Ya udah, kalau kamu gak mau makan, aku juga gak makan deh. Kebetulan dari pagi berangkat ke sini aku juga belum ada makan apa-apa. Jadi pas banget kita kompak. Ntar kalo sakit, kita juga sakitnya barengan.” Dewa tidak mau kalah. Dia mengancam Ibi lewat caranya. Cara yang lembut seolah dia akan meniru apa yang Ibi lakukan. “Eh, jangan! Dewa gak boleh sakit. Dewa ‘kan juga harus kerja ntar. Emang sampe kapan Dewa disini?” tanya Ibi kemudian. “Kalau kamu gak pengen aku sakit, kamu juga harus nurut aku donk, Bi. Kita makan bareng-bareng abis maghrib. Kamu makan disana, aku makan disini. Ntar aku telepon kamu biar aku bisa denger suara kamu yang lagi ngunyah.” Kembali mata Ibi berkaca-kaca. Dia teringat dengan masa kedekatannya bersama Dewa dulu. Apa kami akan dekat lagi seperti dulu? Ibi udah kehilangan Baba, apa Ibi juga harus kehilangan Dewa? Ya, Tuhan, kembalikan Dewa pada Ibi. Ibi janji akan menghargai perasaannya sampai yang terdalam sekalipun. Ibi gak mau kehilangan sosok laki-laki yang menyayangi Ibi seperti Baba. Udah gak sanggup. Kehilangan Baba udah hampir bikin Ibi frustasi. Tapi tiba-tiba Dewa datang, dia datang disaat Ibi terpuruk dalam kesedihan. Ibi ingin Dewa mengangkat Ibi dari rasa sedih ini. Ibi ingin Dewa kembali membuat hari-hari Ibi bahagia seperti dulu. Intinya Ibi ingin Dewa kembali ... Ibi terdiam. Dia berdoa dalam batinnya terhadap kehadiran Dewa. “Halo, Bi. Kok kamu diam?” tanya Dewa yang tidak mendengar suara Ibi lagi sementara telepon masih tersambung. “Dewa jawab dulu, sampai kapan Dewa disini?” Ibi mengulangi pertanyaannya. “Aku Cuma bisa ambil cuti tiga hari, Bi. Karena ini mendadak. Tapi aku janji, bulan depan aku akan datang lagi buat kamu. Gak lama kok, bulan depan ‘kan tinggal dua minggu lagi.” Apa yang tidak bisa Dewa lakukan untuk Ibi. Ya, selagi itu untuk Ibi dia rela mengorbankan apapun. Termasuk waktu dan biaya yang tidak sedikit. “Sekarang, kamu nurut sama aku ya. Abis solat magrib langsung makan,” pinta Dewa. Seulas senyum yang begitu sulitnya keluar kini tersungging di sudut bibir Ibi. Walaupun bukan senyum lebar, tapi paling tidak ada sedikit kebahagiaan di saat-saatnya bersedih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN