Rupanya saat mengetahui kabar meninggalnya ayah Ibi, Zara juga mengabari pada Adi. Sebab lelaki itu adalah orang terdekat Zara saat ini. Zara mengabarinya lewat pesan singkat yang langsung di respon Adi dengan meneleponnya saat itu juga.
“Kamu serius, Ra?” tanya Adi yang terkejut dengan kabar itu. Karena Adi sering mendengar dari Zara kalau Ibi dekta dengan Babanya. Walau galak dan tegas tapi sikap penyayang Baba begitu melekat pada Ibi.
“Serius ‘lah. Ini sekarang aku udah di rumah Ibi. Kasihan dia. Benar-benar terpukul sampai melakukan apapun gak bisa. Ibi terus aja nangis,” jawab Zara.
“Ya udeh, kalo gitu aku kabarin Dewa, ye.” Adi menutup teleponnya. Kemudian dia melanjutkan dengan menghubungi Dewa.
Ternyata selama ini Dewa selalu mengawasi Ibi lewat Adi. Lewat kedekatan Zara dengan Adi yang menjadi sumber informasi yang dia sambungkan pada Dewa.
“Wa, barusan gua dapet kabar kalo ayah Ibi meninggal,” ucap Adi di telepon saat Dewa sudah mengangkatnya.
“Apa? Kamu serius, Di?” Dewa terkejut mendengar kabar itu.
“Serius. Barusan Zara kasih tau gua. Ini sekarang gua mau kesono buat ngelayat. Ya udeh, Wa. Udeh gua kabarin ke elu.” Adi mengakhiri pembicaraan di telepon.
Selesai mendengar kabar itu, Dewa jadi kepikiran keadaan Ibi. Dia pasti sangat terpukul. Astaghfirullah ..., kasihan Ibi. Dia pasti gak karuan saat ini. Aku gak sanggup bayanginnya. Entah kemana dia mengadu nanti.
Saat itu juga Dewa memutuskan untuk menemui Ibi ke kota M. Tapi berhubung hari itu hari minggu, dia menundanya hingga besok. Datang ke kantor lebih dulu menemui atasan, lalu meminta ijin cuti beberapa hari. Dewa akan mengatakan kalau keluarga terdekatnya sedang kemalangan dan dia wajib datang menemui kesana.
Sesuai rencana, setelah meminta cuti pada atasan, hari itu juga Dewa berangkat. Dari kantor dia langsung menuju ke bandara. Dewa sudah membawa tas ransel yang berisi beberapa pakainya lebih dulu sejak berangkat ke kantor.
Menunggu kurang lebih dua jam di bandara, Dewa akhirnya mendapatkan tiket pesawat menuju kota M. Dewa sampai di sana sekitar pukul tiga sore. Dia sampai melewatkan makan siang demi mengejar penerbangan menuju kesana.
Begitu sampai Dewa langsung menuju ke rumah Ibi. Saat sudah di depan rumah gadis itu, tamu-tamu masih ramai disana. Silih berganti orang datang mengucap bela sungkawa. Termasuk dari teman-teman sekolah Ibi. Melihat keramaian itu Dewa jadi canggung untuk masuk. Dia lantas menghubungi Adi.
“Assalammualaikum, Di. Kamu dimana?” tanya Dewa begitu Adi mengangkat telepon.
“Walaikumsalam. Elu, Wa. Gua ya di kantor lah. Masih jam setengah empat gini kagak mungkin gua keliaran,” jawab Adi.
“Aku lagi di depan rumah Ibi, Di. Tapi rumahnya masih rame tamu yang ngelayat. Gimana ya? Tiba-tiba aku jadi canggung aja buat masuk,” ucap Dewa memberitahu.
“Buset! Serius lu udah dimari, Wa? Kantor disono pegimane?” Adi terkejut mendengar ucapan temannya itu.
“Ngapain aku becanda, Di. Aku udah ngambil cuti ke kantor tadi pagi. Sekarang gimana nih? Kamu ada saran gak? Aku mau nelepon Ibi tapi gak enak. Takut dia masih sedih dan gak mau angkat telepon.” Dewa menjelaskan.
“Hm ..., gini aje. Lu tunggu bentaran ye disono. Gua telepon Zara dulu. Ntar gua minta tolong Zara bair lu bisa ketemu Ibi. Oke ‘kan ide gua?” Adi menawarkan rencana bagus.
“Gimana baiknya aja lah. Yang penting aku bisa ketemu Ibi sekarang,” saut Dewa dan telepon pun diputus.
Setelah menunggu selama setengah jam di depan rumah Ibi, akhirnya Zara muncul. Gadis itu buru-buru datang dan segera menemui Dewa. Dia lantas mengajak Dewa masuk berbarengan dengannya ke dalam. Disana Dewa diminta duduk di kursi teras bersama pelayat lain yang merupakan tetangga maupun saudara. Sementara itu Zara masuk ke dalam memanggil Ibi.
Rupanya Ibi sedang berdiam diri di kamar. Sehabis babanya dikuburkan sore kemarin, Ibi tidak lagi keluar kamar kata mamanya. Dia mengurung diri disana. Bahkan teman sekolahnya datang pun Ibi tidak mau menemui. Hanya Zara yang bisa leluasa masuk ke kamar Ibi tanpa harus ijin lebih dulu.
Zara melihat Ibi duduk di sudut tempat tidur sambil menekuk lututnya. Ibi menangis dalam diam disitu.
“Bi ...,” sapa Zara begitu masuk ke kamar. Ibi menoleh dan pelan-pelan dia bangkit dari posisinya menuju tepi tempat tidur mendekat pada Zara. Langsung dia peluk sahabatnya itu.
“Baba udah gak ada, Ra. Baba udah dikubur,” ucap Ibi lirih dengn suara bergetar.
“Iya, aku tau, Bi. Kamu yang tabah ya. Masih ada mama, kak Zaid, aku dan Dewa. Kami akan selalu ada buat kamu.” Zara mencoba menenangkan.
Bukannya berhenti menangis, tapi tangis Ibi makin kencang. Dia semakin sedih saat Zara menyebut nama Dewa. Lelaki itu sudah lama pergi dari hidup Ibi, meninggalkan Ibi karena sebuah masalah diantara mereka. Kini sudah tidak ada lagi lelaki yang menyayangi Ibi sepenuh hati seperti Baba dan Dewa. Keduanya sudah pergi satu persatu. Begitu yang ada di pikiran Ibi sekarang
Zara mengusap-usap pundak sahabatnya itu. Dia lalu kembali berucap. “Sekarang kita keluar yuk, Bi. Ada orang yang mau ketemu kamu di luar,” ajak Zara.
“Siapa? Temen-temen sekolah ya? Aku gak mau, Ra, biarin aja mereka datang aku gak peduli.” Ibi menolak.
“Bukan. Makanya liat dulu, ayuk,” ajak Zara sekali lagi.
Dengan langkah malas dan terpaksa Ibi mengikuti ajakan Zara. Menuntunnya hingga ke teras rumah dengan terus menggandeng tangan Ibi. Ada beberapa pelayat disana yang ditemani oleh om dan tante Ibi. Sementara mama di dalam rumah, tidak henti membacakan ayat suci Al-Qur’an untuk Baba.
“Eh, kemana ya dia?” Ternyata Dewa tidak tampak disana. Kemana laki-laki itu? Baru sebentar Zara tinggal untuk memanggil Ibi ke dalam, tapi dia malah hilang.
“Siapa yang mau ketemu aku, Ra?” tanya Ibi kemudian.
“Tadi orangnya aku suruh duduk disini, Bi. Kok sekarang udah ilang ya? Kemana sih tuh anak?” Zara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Ya, udah ‘lah. Mungkin orangnya udah pulang. Aku masuk ke dalam lagi ya, Ra,” ucap Ibi. Dia masih lemas dan tidak bersemangat. Malas melakukan apapun kecuali menangis di kamar.
“Eh, jangan dulu, Bi. Tunggu bentar,” Zara masih keukeuh mempertemukan Ibi dengan Dewa.
Setelah lima menit menunggu, Dewa muncul dari arah samping rumah Ibi. Dia baru selesai buang air. Rupanya dia tidak kabur dan menghilang, hanya sekedar pamit ke belakang.
Ibi yang duduk termangu memandang kosong tidak menyadari keberadaan Dewanyang sudah ada di sampingnya. Sementara Zara sudah senyum-senyum sendiri. Dia pikir Ibi akan bahagia dengan kehadiran Dewa disana.