Baba Meninggal

1169 Kata
Pengumuman kelulusan telah keluar. Ibi dan Zara sangat bersyukur mereka berdua lulus dalam ujian. Sekarang hanya tinggal menunggu nilainya keluar dari dinas pendidikan setempat. Sebab pemeriksaan ujian langsung dilakukan oleh pusat, bukan dari sekolah yang bersangkutan. Hubungan Zara dengan Adi juga belakang semakin akrab. Entah apa status mereka Ibi tidak pernah bertanya, sebab itu akan mengingatkan Ibi pada Dewa. Betapa rindunya Ibi dengan saat-saat bersama lelaki itu. Saling berkirim pesan, saling telepon untuk mengobrol segala macam. Sebulan sudah berlalu sejak pengumuman lulus sekolah. Dan hasil nilai sementara pun sudah keluar. Teman-teman seangkatan Ibi sudah banyak yang mendaftar kuliah, ada juga yang mendaftar ke sekolah tinggi kejuruan, dan ada pula yang langsung mencari kerja. Sementara Ibi sendiri belum tahu mau kemana. Dia masih setia termenung di rumah. Apalagi kesehatan babanya kurang baik sebulan belakangan ini. Untung Ibi bisa memberikan hadiah nilai yang bagus pada Baba, setidaknya bisa meringankan sedikit sakit Baba walau tidak mungkin langsung sembuh. “Alhamdulillah, Baba seneng Ibi lulus dengan nilai yang bagus. Sekarang Ibi silahkan pilih mau melanjutkan kemana. Apakah Ibi mau kuliah atau Ibi mau kursus atau apapun itu Baba dukung asal masih positif,” ucap Baba ketika Ibi sedang mendapat tugas menjaga Baba di kamar. “Baba gak jadi minta Ibi kuliah di Mesir?” tanya Ibi heran. Sebab dari dulu Babanya selalu saja membahas itu. Seolah Ibi adalah harapan satu-satunya memiliki anak yang bisa melanjutkan sekolah hingga ke Mesir. Baba menggeleng diiringi senyum. “Enggak. Jujur, itu memang keinginan terbesar Baba. Punya anak lulusan Mesir. Tapi bakat dan cita-cita seseorang gak bisa dipaksakan. Untuk apa Ibi berangkat ke Mesir kalau toh nyatanya Ibi terpaksa dan tertekan menjalani itu? Lagipula Baba udah tua, sakit-sakitan lagi. Umur Baba tinggal sebentar lagi. Baba gak mau pisah dari anak gadis Baba yang paling Baba sayang.” Seketika ucapan Baba memancing kesedihan di hati Ibi. Matanya berkaca-kaca. Ingin sekali dia membuat bangga Babanya dengan berangkat ke Mesir walau itu bukan cita-citanya, tapi yang Baba katakan ada benarnya. Ibi tidak mungkin pergi jika Babanya masih sakit begini. Insya Allah nanti setelah Baba sembuh Ibi akan urus kelengkapan berkas untuk kuliah di Mesir. Begitu tekad Ibi. “Pokoknya sekarang Baba harus semangat. Baba harus sehat. Ibi belum kasi yang terbaik buat Baba selama ini, jadi Baba harus sehat ya. Lihat Ibi sukses dan bikin Baba bangga.” Ibi memeluk Babanya yang sedang terbaring. Menyemangati sekaligus berjanji akan membuat Babanya bangga suatu saat nanti. Tapi jodoh, rezeki, pertemuan dan maut semua urusan Allah. Allah SWT yang menentukan kempat hal tersebut, hingga malaikat saja tidak memiliki porsi untuk tahu lebih dulu. Allah menentukan seberapa panjang umur hamba-Nya. Termasuk ayah Ibi sendiri. Sakit ayah Ibi yang tidak jelas titiknya hanyalah sebagai alasan. Alasan untuknya bisa berpulang kembali kepada Smag Pemilik Kehidupan. Ya, tepat di hari Minggu saat baru selesai menonton televisi tiba-tiba saja perut Baba sakit seperti melilit. Dia masuk ke dalam kamar dan minta tolong dipanggilkan tukang urut. Untung saat itu Kakak laki-laki Ibi sedang ada di rumah. Dia bergegas menjemput tukang urut untuk memijat Baba. Tapi belum sempat tukang urutnya datang, Baba berteriak menyebut asma Allah. “Allahuakbar ... Allah ..., hu akbar ....” Baba mengulangi kata-kata itu hingga tingga kali. Keringat dingin mengucur di kepala hingga tangannya. Baba memegangi perutnya merasakan kesakitan. Mama sendiri ketakutan. Mama mendampingi Baba dengan mengusap-usap punggungnya berkali-kali. Sampai akhirnya Baba mengucap kalimat syahadat dengan terbata-bata namun lengkap hingga ke akhir kalimat. “Asyhadualla ... ilaha illallah .... Wa asyhadu ana ... Muhammad Rasulullah ....” Kalimat terakhir yang Baba ucap disaksikan oleh mama di sampingnya dan Ibi yang berdiri ketakutan di depan pintu kamar. Tubuh Ibi sampai bergetar melihat itu. Perasaan di hatinya campur aduk. Ibi tahu saat seseorang yang sedang sakit mengucap kalimat syahadat dengan terbata-bata itu berarti saat dimana sakaratul maut sedang menjemput. Tapi Ibi tidak ingin meyakini itu. Dia tetap berharap Babanya kembali sehat dan pulih. Hanya sekedar sakit perut biasa. Namun nyatanya setelah mengucap kalimat itu mata Baba tertutup layaknya orang yang sedang tertidur. Pulas bukan main hingga beberapa kali dipanggil Baba tidak menyahut. Sontak Ibi berlari mendekat Babanya. Dia menekan titik nadi yang ada di pergelangan Baba, berharap denyutnya masih ada walau lemah. Tidak hanya disitu, Ibi juga menekan leher Baba untuk merasakan denyut nadinya. Dan kesemua tempat itu hasilnya nihil. Shock langsung menyerang otak Ibi. Ditambah lagi melihat mama yang sudah menangis, meratap di samping Baba. Seolah menunjukkan kalau roh Baba memang sudah pergi. Sudah benar-benar tidak ada dalam tubuhnya. Sontak Ibi berlari keluar rumah. Mencari siapapun yang bisa menolong Baba untuk kembali bangun. Ibi berteriak minta tolong di depan pagar rumahnya. Tapi entah kenapa hari itu jalanan sangat sepi. Bahkan pangkalan becak di sudut jalan yang biasanya ramai tidak tampak seorang pun disana. Ibi lantas berlari ke rumah tetangga sebelah rumah. Saking paniknya Ibi sampai tidak memakai alas kaki. Bahkan baju yang dia pakai pun sesungguhnya tidak layak dibawa keluar rumah. Sebab Ibi hanya mengenakan daster pendek selutut yang sudah robek sana sini. Ibi meminta bantuan tetangganya untuk mau membawa Baba ke rumah sakit. Walau batin sudah tahu kenyataan Baba sudah tidak ada lagi, tapi harapannya tidak boleh putus. Mukjizat Allah bisa datang dimanapun dan pada siapapun. Saat itu juga lewat bantuan tetangganya baba dibawa ke rumah sakit terdekat. Begitu sampai baba langsung masuk ke ruang gawat darurat. Melihat nadi yang tidak berdenyut lagi, dokter menyiapkan alat kejut jantung untuk menarik kembali respon jantung baba. Tapi setelah dicoba sampai tiga kali, jantung baba tidak kunjung merespon. Jantung baba tetap berhenti seperti sebelum datang ke rumah sakit. Dokter lalu menyimpulkan kalau baba sudah tiada. Baba sudah meninggal sejak dari rumah. Reflek Ibi menjerit. Tidak terima dengan kenyataan yang disampaikan dokter. Syaraf kejut di otak Ibi membuatnya jadi tidak karuan. Ibi menendang segala hal yang ada di dekatnya sampai beberapa perawat terpaksa memegangi tubuh Ibi. Bahkan saking histerisnya dengan kenyataan baba telah tiada, Ibi sampai menjambak-jambak rambutnya sendiri. Berharap itu semua hanya mimpi dan dia bisa terbangun dari tidur panjang yang membuatnya hampir gila. Sayangnya semua itu nyata. Lima belas menit menghadapi kenyataan lewat caranya, pelan-pelan Ibi mulai tenang. Ibi mulai menangis dengan wajar. Prosedur rumah sakit pun mengantarkan jenazah Baba kembali ke rumah. Rumah Ibi sudah ramai ketika mobil jenazah sampai. Para tetangga, sanak saudara satu persatu sudah berkumpul disana. Termasuk Zara. Sahabat Ibi sejak kecil. Zara langsung memeluk Ibi begitu dia turun dari mobil jenazah. Kembali tangis Ibi pecah, tubuhnya sampai berguncang dalam pelukan Zara. “Baba, Ra ... Baba ...,” isak Ibi pada Zara. “Yang sabar ya, Bi. Aku gak tau harus bilang apa lagi.” Tidak jauh berbeda dengan Ibi, Zara juga menangis terisak-isak. Zara ikut merasakan kesedihan yang Ibi rasakan. Biar bagaimanapun Zara sudah lama dekat dengan keluarga Ibi. Tentu dia juga merasakan kehilangan Baba. Sosok ayah yang tegas namun penyayang. Zara lantas menarik Ibi masuk ke dalam menuju kamarnya. Mengambilkan sepasang baju yang layak untuk Ibi kenakan. Zara juga membantu Ibi mengganti pakaiannya. Kasihan Ibi. Dia terlalu shock hingga matanya tidak berhenti menangis namun pikirannya tampak bingung dengan segala yang terjadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN