Pesan Dari Dewa Setelah Sekian Lama

1197 Kata
Sebuah pesan singkat dari seorang lelaki yang tadi sempat membuat mata Ibi berkaca-kaca mengingatnya. Ya, pesan itu dari Dewa. Tapi bukankah Dewa sudah menghapus nomor kontak Ibi di ponselnya? Benar sekali. Dewa telah menghapus nomor kontak Ibi yang dapat terlihat oleh mata, namun dia tidak menghapus apa yang terekam dalam otaknya. Dewa mengingat jelas nomor tersebut sekalipun sudah berbulan-bulan dia tidak menghubungi gadis itu. Apa kabar? Lagi ngapain kamu, Bi? Begitu isi pesannya. Sontak Ibi melotot, jantungnya langsung berdetak lebih cepat dari biasanya seolah habis parade gerak jalan. Dewa ... Segera Ibi mengetik pesan balasan. Alhamdulillah, Ibi sehat. Dewa sehat juga ‘kan? Berselang dua menit, Dewa kembali membalas pesan Ibi. Alhamdulillah aku juga sehat. Aku liat berit di tv, anak SMA sudah mau ujian akhir. Aku doain semoga ujian kamu lancar dan bisa lulus dengan nilai yang baik. Dewa langsung pada intinya. Memang hal itu yang ingin dia ucapkan pada Ibi. Aaamiiin ... Makasih ya Dewa atas doanya. Ibi juga doain semoga Dewa selalu bahagia disana. Balas Ibi kemudian. Selesai sampai disitu sesi berkirim pesan mereka. Dewa tidak ingin kembali terbawa perasaan. Dia membatasi diri untuk bicara lebih lanjut pada Ibi. Bahaya. Sebab semakin banyak yang dibahas akan semakin susah untuknya lepas. Malah akan kembali terikat dan ingin bersama dengan gadis itu lagi, mengingat perasaannya yang belum sedikit pun hilang dari Ibi. Tapi Ibi malah terus menunggu balasan dari Dewa sampai akhirnya dia tertidur. Melewatkan makan malam yang biasanya dia lakukan bersama dengan mama dan babanya. Waktu terus bergulir hingga sampai pada hri sabtu. Sisa satu minggu lagi mereka mengikuti bimbel. Setelahnya semua anak SMA akan menghadapi ujian akhir nasional secara serentak. Pulang sekolah Zara sudah siap sedia dengan baju ganti di dalam tasnya. Ya, dia sudah menyiapkan satu stel pakaian cantik untuknya pergi nonton bersama Adi. “Bi, aku langsung ke mall, ya. Gak bisa pulang bareng kamu. Hari ini aku janjian sama Adi soalnya,” ucap Zara saat menunggu Ibi di gerbang sekolah. “Iya, Ra. Kamu hati-hati ya. Salam buat Adi.” Ibi mengacungkan jempol kanannya pada Zara. “Eh, jangan lupa pake parfum. Biar gak bau asem abis pulang sekolah, hehehe ....” Ibi tertawa kecil mencandai Zara yang dibalas gadis itu dengan menjulurkan lidahnya. Zara segera melangkah pergi menuju simpang, mencari angkutan tercepat yang bisa membawanya menuju mall. Berselang lima belas menit, Zara sudah sampai di mall. Dia masuk ke kamar mandi khusus perempuan lebih dulu untuk berganti baju. Tidak lupa dia membenahi rambutnya dan menyemprotkan sedikit parfum agar aromanya menjadi harum dan segar. Membuat Adi betah berlama-lama dengannya. Tidak bau keringat anak sekolahan. Zara menelepon Adi kemudian, hendak menanyai keberadaannya dan jam berapa dia sampai di mall. Langsung pada nada sambung yang pertama telepon Zara diangkat oleh Adi. “Halo, Adi,” ucap Zara. “Iya, Ra, baru aje aku mau telepon kamu. Eh, kamunya udeh nelepon duluan,” saut Adi. “Hehehe ..., aku mau ngasi tau kalo aku udah nyampe mall, nih,” ucap Zara lagi. “Buset, cepet amat, Ra. Entu yang jadi masalah sekarang. Aku kagak bisa dateng kesono. Kayaknye kita batal nonton, dah. Aku minta maaf banget ye, Ra.” Ucapan Adi sontak membuat Zara ternganga. Sudah begitu semangatnya dia menyambut hari ini sampai membawa baju ganti dalam tas agar tidak telat janjian dengan Adi. Tapi ujung-ujungnya malah batal. “Kenapa?” tanya Zara dengan suara lemas. “Mantanku minta tolong dianterin ke klinik. Muntah-muntah sampe lemes. Kasihan die. Aku kagak tega ngebiarin die berangkat sendiri dimari,” jelas Adi. Apa yang dikatakannya memang benar, mantannya minta diantarkan ke klinik. “Ya udah, deh. Kamu urus dia dulu. Aku pulang aja sekarang.” Zara pasrah. Posisinya kalah jauh dari mantan Adi. “Nanti kelar di mari aku telepon kamu ya, Ra. Kalau boleh aku biar main ke rumah kamu aje ntar malem.” Rupanya Adi masih belum puas. Ketidakhadirannya membuat dia wajib membayar janji pada Zara. Langsung kesedihan Zara sedikit terobati mendengar ucapan Adi barusan. “Ya, udah, oke. Aku tunggu ya.” Walau batal nonton bersama Adi, paling tidak ada harapan untuk bertemu laki-laki itu nanti malam. Bisa mengobati sedikit kekecewaan Zara atas pembatalan janji yang sudah dia nantikan sejak kemarin. Sementara itu, Ibi tetap rajin mengikuti bimbel. Dia fokus pada persiapan menghadapi ujian akhir. Walau pikirannya sempat tersita pada Dewa kemarin namun dia bisa kembali fokus belajar. Apa yang akan dia tuju setelah lulus sekolah nanti, biarlah itu urusan belakangan. Yang penting dia bisa membuat mama dan babanya bangga dengan nilai akhir yang bagus. Tanpa terasa hari ujian akhir nasional serentak untuk anak kelas tiga SMA pun dimulai hari ini. Tepat jam tujuh pagi sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Ibi. Rupanya itu dari Dewa. Bismillah, semoga berhasil ya, Bi. Walau dia berusaha untuk tidak peduli pada Ibi, tapi ternyata dia mencatat tanggal dimulainya ujian akhir Ibi. Tidak lupa dia kirimkan kata-kata semangat untuk gadis itu dihari pertama. Dewa memang tidak pernah melupakan Ibi. Dia juga tidak bisa menghilangkan perasaannya pada gadis itu. Namun keadaannya sudah lebih tenang sekarang, tidak menggebu-gebu seperti dulu. Ini semua berkat kesalahan fatal yang Dewa lakukan pada malam itu. Kesalahan yang mengubah hidupnya dalam satu malam. Mengharuskannya pada satu tujuan yang hampir dia lupakan. Ibi dan semua teman seangkatannya menjalani ujian akhir dengan serentak. Masing-masing mereka berusaha semampu yang mereka bisa. Ibi sendiri lumayan siap menjawab pertanyaan yang disuguhkan, karen dia serius mengikuti bimbel. Berbeda hal dengan Zara, dia kelimpungan akibat tidak pernah serius belajar. Zara sibuk melongok kanan dan kiri, meminta pertolongan pada teman satu ruangannya. Berharap ada yang memberi kunci jawaban. Untungnya Zara terkenal ramah dan baik pada semua teman jadi mereka tidak keberatan membantu Zara ketika guru pengawas ujian sedang meleng. Intinya Zara terselamatkan oleh teman-temannya. Hingga seminggu berlalu, akhirnya ujian akhir nasional beserta ujian akhir sekolah selesai. Ibi dan semua teman seangkatannya bisa bernapas lega setelah satu minggu berperang dengan soal-soal. Sekarang tinggal menunggu hasil yang tidak satupun bisa menebaknya. Hanya berharap pada sang Kuasa. Murid kelas tiga tetap masuk seperti biasa, namun mereka sudah menjalani apa yang dinamakan minggu tenang. Berkumpul di kelas namun tidak melewati proses belajar mengajar lagi. Hari itu Zara main ke kelas Ibi. Dia menceritakan kedekatannya yang sekarang dengan Adi. Setelah batal pergi nonton waktu itu, Adi sudah tiga kali main ke rumah Zara. Betapa senangnya hati Zara dengan keakraban mereka yang sekarang. Inilah yang dia harapkan selama ini. “Emang bunda kamu gak marah, Ra? Ngeliat Adi yang udah dewasa gitu bolak-balik main ke rumah.” Ibi terperanjat. Ibu manapun pasti bisa menebak usia Adi dilihat dari perawakannya. “Enggak, Bi. Malah bundaku seneng sama dia. Kata bunda, Adi itu dewasa, pintar, mapan, dan lucu pula,” jawab Zara dengan senyum lebar. Wuih, asik banget bunda Zara. Pengertian. Kalau itu mama pasti udah diomelin. Ditanyain macem-macem terus menjurus ke hal yang buruk lagi. Sekilas Ibi cemburu melihat keasikan bunda Zara yang mudah menerima dan selalu pengertian terhadap anaknya. Berbanding terbalik dengan mamanya Ibi. Itulah kenapa Ibi dahulu selalu diam-diam berhubungan dengan Dewa. Takut kalau sampai ketahuan. Semua akan jadi runyam. Dan mungkin pun Ibi tidak diijinkan lagi bertemu dengan Dewa. Tapi nyatanya hubungan mereka rusak bukan karena itu. Lebih ke perasaan masing-masing yang tidak saling nyambung dan memahami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN