Tepat jam sembilan pagi taksi yang menjemput Dewa sudah datang. Bersama Hanin dia berjalan menuju ke luar rumah. Di saat yang sama mulas di perut Hanin datang lagi. Sekuat tenaga dia berusaha menahannya agar tidak ketahuan Dewa.
Ayo, Nin, kamu harus kuat! Tinggal sedikit lagi Mas Dewa akan berangkat. Jangan sampai dia tahu kamu kenapa-kenapa. Hanin menyemangati dirinya sendiri. Tapi fisik tidak bisa dibohongi. Keringat di dahi Hanin semakin banyak, bahkan sampai menetes ke pipinya.
“Mas berangkat dulu ya, Nin,” ucap Dewa begitu mereka sudah di samping pintu masuk taksi.
“Iya, Mas. Hati-hati ya. Kabarin aku kalau udah nyampe nanti,” jawab Hanin dengan suara sebiasa mungkin. Padahal dia sudah setengah mati menahan rasa sakit.
“Tapi kok, kamu keringetan terus ya, Nin? Kamu sakit?” Dewa memegang dahi Hanin, mengecek suhu badannya dan hasilnya normal.
“Enggak, Mas. Aku baik-baik aja, kok. Ini mungkin aku cuma kepanasan aja. Bawaan baby.” Hanin tersenyum menjelaskan.
“Masa iya? Dari tadi loh Mas liat jidat kamu keringatan, Nin. Kamu yakin baik-baik aja?” Sekali lagi Dewa bertanya sebelum dia masuk ke dalam taksi.
“Yakin, Mas. Beneran. Aku baik-baik aja, kok. Mas jangan khawatir. Lagian ada Bibi yang jagain aku disini.” Hanin masih terus tersenyum.
“Ya udah kalo gitu. Mas berangkat, ya.” Dewa mengelus puncak kepala Hanin sekaligus memberikan tangannya untuk dicium oleh istrinya itu.
Selepas itu Dewa langsung menaiki taksi dan melambaikan tangannya pada Hanin. Berselang lima menit kepergian Dewa, Bibi mengambil tas yang berisikan keperluan Hanin melahirkan lalu dia segera membawa majikannya itu ke bidan.
Ketika sampai dan keadaan Hanin di cek, rupanya dia sudah pembukaan delapan. Tiga tahap lagi pembukaan, bayinya akan lahir ke dunia.
“Masya Allah, Mbak Hanin ...” Bibi berdecak kagum. Untung masih dikasi kesempatan segera membawa majikannya ke bidan sebelum terjadi apa-apa di rumah.
“Makasih ya, Bi. Hanin bersyukur ada Bibi yang nemenin Hanin disini.” Hanin berterimakasih pada pembantunya itu.
“Iya, sama-sama, Mbak Hanin. Bibi berusaha akan selalu ada bersama Mbak Hanin.” Bibi mengusap kepala Hanin seperti perlakuan seorang ibu pada anaknya.
Sementara itu Dewa baru saja sampai di bandara. Begitu dia check in ternyata pengumuman bandara memberitahukan bahwa pesawat yang dia tumpangi delay sampai dua jam ke depan dari jadwal keberangkatan. Itu berarti masih tiga jam lagi Dewa akan berangkat. Bukan waktu yang sebentar menunggu sendirian di bandara.
Dewa lantas menghubungi Hanin untuk memberitahukan kalau pesawatnya delay. Tapi sudah tiga kali dia menelepon, Hanin tidak kunjung mengangkat. Bagaimana mungkin Hanin bisa mengangkat ponselnya sementara dia sedang berjuang melalui tahap pembukaan berikutnya.
Hanin kemana ya? Kenapa dia gak angkat ponselnya? Dewa mulai khawatir.
Dewa lantas memberi jeda lima belas menit, lalu kemudian dia menghubungi Hanin kembali dan hasilnya tetap sama. Tiga kali dia hubungi juga Hanin tidak mengangkat.
Ya Allah, ada apa ini sebenarnya? Hanin kemana? Pikiran Dewa makin tidak karuan. Berusaha tenang tapi justru dia semakin tidak tenang. Berulang kali dia melihat jam tangan, mengira-ngira sempatkah dia kembali ke rumah melihat keadaan Hanin sebentar lalu setelah itu kembali mengejar keberangkatan pesawat.
Apa mungkin? Perjalanan dari bandara ke rumahku lebih kurang empat puluh lima menit. Pulang pergi sudah satu setengah jam. Melihat keadaan Hanin setengah jam. Total menjadi dua jam. Dan sekarang sisa waktu adalah dua setengah jam. Masih ada space setengah jam untukku di bandara. Baiklah, akan aku kejar dia ke rumah.
Dewa berlari keluar dari bandar mencari taksi. Sambil berlari tangannya terus menelepon Hanin, bahkan saat sudah di taksi pun Dewa tidak henti menelepon istrinya itu. Udah gak bener ini. Pasti ada apa-apa. Hanin gak pernah gak mengangkat teleponku berkali-kali begini.
“Pak, lebih cepat, ya,” pinta Dewa pada si supir taksi.
“Baik, Mas. Saya usahakan,” jawab si supir.
Dari bandara Husein Sastranegara taksi melaju kencang melewati jalan tol dan sesuai prediksi Dewa dia sampai tepat waktu di rumah. Yakni empat puluh lima menit perjalanan. Setelah membayar tarif taksi Dewa segera berlari hendak masuk ke dalam, tapi pintu rumahnya terkunci. Dia coba dari pintu belakang juga sama, terkunci.
Astaga, kemana mereka?
Dewa lalu menanyakan pada tetangga sebelah rumahnya, siapa tahu ada yang melihat kemana pergi istrinya. Dan benar, seorang tetangga memberitahukan kalau Hanin dan Bibi sudah berangkat ke bidan lebih kurang dua jam yang lalu.
Bidan? Ngapain mereka kesana? Apa jangan-jangan Hanin ....
Bergegas Dewa menyusul setelah mendapatkan info. Tadinya dia berpikir menaiki mobilnya sendiri, tapi kuncinya ada di dalam rumah. Alhasil Dewa memilih naik ojek. Begitu sampai di klinik bidan yang dimaksud, Dewa segera berlari ke dalam.
Dari pintu terdengar suara teriakan Hanin yang memanggil-manggil namanya.
“Allahuakbar .... Aaargh ... Mas Dewa ....” Jelas sudah kalau Hanin ada di dalam. Tanpa ragu Dewa menerobos masuk ke ruang bersalin.
Brak! Pintu pun terbuka lebar. Semua mata menoleh melihat kedatangan Dewa. Bu Bidan, Bibi dan seorang asisten bidan.
“Mas Tuan,” panggil Bibi pada Dewa. Mata wanita paruh baya itu sudah berkaca-kaca.
Tadinya Bu Bidan ingin marah, tapi setelah mengetahui yang masuk adalah suami dari pasien, dia tidak jadi mengusir Dewa.
Dewa segera menghampiri Hanin, berdiri di sampingnya menemani proses lahiran.
Ya Allah, kenapa harus seperti ini? Harusnya Hanin berkata jujur padaku. Aku gak perlu memutuskan berangkat jika tau dia akan melahirkan. Memang aku akan kecewa karena tidak jadi bertemu dengan Ibi, tapi mau bagaimana lagi? Mungkin bukan takdirku menemuinya sekarang. Kelahiran anakku jauh lebih penting saat ini. Aku gak mungkin setega itu membiarkan Hanin berjuang sendiri. Aku menyayanginya dan aku juga pasti menyayangi anakku. Berbulan-bulan kami menantikan dia lahir.
Dewa menggenggam tangan Hanin. Sesekali dia bantu tenangkan istrinya itu dengan mengusap kepalanya. Tapi Hanin justru menangis melihat kehadiran Dewa di sampingnya.
“Ya Allah, jangan nangis sesenggukan begitu, Mbak ... Nanti gak ada tenaga untuk mengejan,” ucap Bu Bidan.
“Kamu kenapa, Nin? Jangan nangis. Aku udah ada disini temani kamu,” ucap Dewa sembari mengusap air mata Hanin.
“Maafin aku, Mas ... Gara-gara aku, Mas Dewa batal berangkat. Pasti Mas kecewa.” Rupanya itu yang jadi pikiran Hanin.
“Gak apa-apa, Nin. Aku gak kecewa. Yang paling penting adalah kamu dan anak kita. Sekarang kamu jangan sedih, jangan pikirin yang macem-macem. Kamu harus semangat! Bismillah, aku akan terus di samping kamu.” Dewa meyakinkan Hanin. Mengembalikan semangatnya untuk bisa melalui proses lahiran dengan lancar. Hanin pun mengangguk tenang.
“Makasih ya, Mas.” Sekarang Hanin bisa fokus melahirkan anaknya. Tidak ada lagi beban di hatinya seperti tadi.
Setengah jam melalui prosesnya. Tarik napas, buang, mengejan. Begitu terus yang dilakukan. Sampai keringat jagung bercucuran di seluruh tubuh Hanin. Tidak ada bagian yang tersisa tanpa mandi keringat. Dan akhirnya terdengarlah suara tangisan bayi.
Puji syukur dipanjatkan pada Sang Maha Pencipta yang telah mengijinkan anak mereka lahir siang itu. Seorang anak perempuan cantik dengan rambut yang lebat. Matanya besar seperti Dewa.
Genggaman tangan Hanin yang tadinya kencang perlahan menjadi pelan. Habis tenaganya melalui proses itu. Dewa juga tidak lupa bersyukur. Masih di ruang bersalin, dia sujud syukur atas kelahiran anaknya.
Setelah bayi tersebut dibersihkan. Tugas Dewa melantunkan adzan di telinga kanannya serta iqamah ditelinga kirinya. Begitu yang disunnahkan dalam agama yang dianut oleh Dewa.
Sementara itu keadaan Hanin sudah ditindaklanjuti. Selesai lahiran tadi, Hanin di jahit sedikit bagian intinya karena ada yang robek. Sekarang dia dipindahkan ke ruang perawatan.
Ditemani oleh Bibi dan Dewa yang menggendong anaknya, Hanin masuk ke ruang perawatan. Di sana Hanin diminta untuk inisiasi menyusui dini, yakni memberikan asi untuk pertama kali pada bayinya.
Dewa meletakkan anak mereka di atas d**a Hanin dengan posisi telungkup. Dengan naluri bayinya, dia mencari-cari sendiri dimana pusat inti untuknya mendapatkan ASI.
Proses ini sangat menarik dan membuat siapapun takjub dengan Kuasa Allah SWT. Bayi yang baru lahir dan belum bisa melihat dengan sempurna harus mencari sendiri dimana pusat inti susunya. Tapi dengan Kuasa Allah, bayi tersebut bisa melakukan itu tanpa menangis ataupun kebingungan. Masya Allah.
Sekarang tidak terbilang bagaimana kebahagiaan yang Dewa rasakan melihat putri kecilnya hadir. Ditambah lagi wajahnya sangat mirip dengan Dewa.
Melihat kebahagiaan suami istri itu, Bibi memilih keluar. Membiarkan mereka menikmati waktu bersama putri kecilnya.
“Sekali lagi makasih ya, Mas. Kamu udah mau nemenin aku,” ucap Hanin begitu Bibi keluar.
“Harusnya Mas marah sama kamu, Nin. Bisa-bisanya kamu gak kasih tau Mas soal ini. Kamu anggap Mas ini siapa? Kamu lupa Mas ini ayahnya. Siapa yang akan mengadzankan dia kalau Mas gak ada? Apa kamu mikir sampe situ?” Dewa mengeluarkan protes di hatinya sejak tadi namun tanpa nada marah sama sekali.
Hanin menggeleng. Hormon ibu hamilnya kini berubah menjadi hormon ibu menyusui. Mudah menangis untuk banyak hal.
“Maafin Hanin, Mas ... Hanin Cuma gak mau Mas batal berangkat dan gak jadi ketemu teman-teman Mas di sana. Hanin khawatir Mas kecewa,” jawab Hanin jujur dengan air mata yang berlinang.
“Mas lebih kecewa kalau gak lihat dia lahir dan mengadzankannya. Dia anak pertama kita, Nin. Jangan buat jarak dia dengan ayahnya,” ucap Dewa lagi. Tentu membuat tangis Hanin makin deras. Dia merasa bersalah telah mengambil keputusan yang keliru.
“Udah, kamu jangan nangis lagi. Mas gak marah, cuma sedikit kecewa aja. Untung Allah masih kasih waktu untuk Mas bisa balik ke rumah. Jadi Mas bisa temenin kamu dan melihat putri kecil kita lahir.” Dewa mengusap lembut puncak kepala Hanin.
Memang begitu sesungguhnya sikap Dewa. Baik, lembut, penyayang, perhatian dan sabar. Jarang sekali dia marah atau tersulut emosi. Walau hatinya kesal, Dewa lebih memilih diam dan berpikir. Terkecuali untuk hal-hal yang melampaui batas.
Sebenarnya Hanin beruntung menjadi istri Dewa jika lelaki itu telah menghapus penuh nama Ibi di hatinya. Tapi siapa yang bisa menggerakkan hati, jika dirinya sendiri tidak mau menghapus nama tersebut. Sekarang Ibi tidak lagi menjadi prioritas di hidup Dewa tapi siapa yang tahu apa yang terjadi nanti.
Dalam satu menit, satu jam, satu hari, bahkan satu tahun apapun bisa berubah. Hanya dia dan syukur yang bisa selalu Hanin panjatkan untuk keutuhan rumah tangganya. Sebab sampai detik ini Hanin belum tahu permasalahan hati Dewa. Hanin belum tahu kejadian yang sebenarnya. Kejadian yang menyebabkan hubungannya dengan Dewa dulu sempat renggang hingga dua tahun dikarenakan seorang gadis belia yang bahkan usianya jauh di bawah Dewa.