Dewa Dan Ibi Hampir Kacau

1230 Kata
Dewa sedang di dalam taksi sekarang. Dia menuju ke hotel terdekat dengan harga yang terjangkau. Usai ribut dengan Elvan tadi, moodnya sudah hancur. Kecewa, kesal bersamaan dia rasakan. Kata-kata yang Elvan ucapkan tadi seolah menjadi tamparan buatnya. Memang benar, tidak ada status yang jelas diantara dia dengan Ibi. Tapi hal itu tidak mengurangi sedikitpun rasa cintanya pada Ibi. Bahkan yang sudah jelas memiliki status saja bisa kalah jauh dibanding rasa cinta yang Dewa miliki untuk Ibi. Tapi malam itu perkara status malah menjadi momok di kepala Dewa. Semua gara-gara provokasi dan hinaan Elvan. Entahlah, aku gak tau harus gimana sekarang dengan Ibi. Aku mencintainya, sungguh mencintainya. Tapi jika kuajak dia menjalin hubungan serius dengan mengikrarkannya, apa dia akan mau? Usianya yang masih labil membuatku ragu. Aku gak mau denger kata-kata penolak dari Ibi. Sumpah, aku gak mau. Sebab aku hanya ingin diterima bukan ditolak. Sepanjang perjalanan menuju hotel Dewa terus berpikir. Bahkan setelah sampai dan masuk ke kamar hotel pun dia masih saja berpikir. Keputusan apa yang harus dia ambil untuk hubungannya dengan Ibi kedepan dia belum juga tahu. Ingin rasanya dia masa bodo dengan status seperti sebelumnya, tapi kemunculan Elvan membuat dia sadar bahwa status itu penting. Status yang mengikat dua insan yang saling memiliki rasa. Dan status pula ‘lah yang bisa melabeli pasangan untuk tidak didekati oleh orang lain. Di lain tempat, di dalam kamar Ibi terus saja memikirkan Dewa. Wajah kesal dan marah Dewa sore tadi tidak bisa ditutupi. Ibi melihatnya jelas saat di taman tadi. Tapi apa salahnya? Apa meladeni teman Dewa sendiri bisa membuat Dewa kecewa? Ibi terus saja bertanya-tanya dalam hati. Sampai akhirnya dia tidak tahan lagi dan memutuskan menelepon lelaki yang dipikirkannya itu. Sayangnya tidak ada jawaban dari Dewa. Lelaki itu sengaja tidak mengangkat ponselnya. Ibi lalu mengirimkan pesan singkat. Dewa marah sama Ibi, ya? Salah Ibi apa? Ibi jadi kepikiran kalau tiba-tiba Dewa cuek begini. Kalau Ibi memang punya salah, Ibi minta maaf. Ibi gak bermaksud bikin Dewa kecewa. Sepuluh menit menunggu balasan yang tak kunjung datang, Ibi kembali mengirimkan pesan singkat. Apa bersikap baik dengan teman Dewa sendiri adalah sebuah kesalahan? Kalau memang yang seperti itu salah, sumpah, Ibi gak paham gimana pemikiran Dewa. Mungkin ini yang membedakan orang dewasa dengan anak kecil seperti Ibi. Sekali lagi Ibi minta maaf. Di kamarnya Dewa membaca dua pesan yang Ibi kirimkan. Dia bukan tidak mau membalas, tapi masih bimbang harus memutuskan apa. Kesal sudah pasti dia rasakan pada Ibi. Kepolosan gadis itu sungguh di luar batas. Terlalu mudah didekati oleh laki-laki yang dianggapnya baik. Tapi justru itu pula yang dulu membuat Dewa terpikat dengannya hingga sekarang. Ibi jujur. Tidak pernah neko-neko. Namun sayangnya dia bodoh dan mudah dibodohi. Tapi perubahan Ibi yang menjadi open minded seperti itu juga dipelopori oleh Dewa sendiri, sebab sebelumnya Ibi sangat tertutup dari siapapun terkecuali keluarga dan sahabatnya, Zara. Sejak mengenal Dewa pelan-pelan Ibi berubah. Mulai bergaul dan senyum pada semua temannya. Namun sekarang sifat itu malah menjadi boomerang dalam hubungan Ibi dengan Dewa. Dewa akhirnya membalas pesan Ibi. Besok kita ketemuan di warung jus jam sepuluh pagi, ya. Bertepatan besok adalah hari Minggu. Ibi libur sekolah, jadi mereka bisa bertemu lebih cepat. Dan besok pula ‘lah Dewa kembali ke Padang dengan pesawat malam. Tepat jam sepuluh pagi, sesuai janji, Dewa dan Ibi bertemu di warung jus. Dari sana mereka menaiki taksi menuju taman kota yang berbeda dari yang kemarin. Kali ini tamannya memiliki danau buatan di tengah-tengah. Tamannya tidak begitu ramai, tapi juga tidak sepi. Membuat Ibi nyaman berada disana. Mereka lantas duduk di bawah pohon pinggir danau. “Kemarin Dewa marah ya sama, Ibi?” Tanya Ibi mengawali pembicaraan. Namun Dewa menggeleng. Dia sudah tidak mau membahas perkara kemarin. “Tapi kok buru-buru ngajak pulang? Terus malamnya Ibi telepon gak diangkat, Ibi kirim pesan juga gak dibalas.” Ibi masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Dewa. “Gak usah kita bahas lagi, ya. Aku gak apa-apa, kok. Maaf soal yang tadi malam karena gak angkat dan balas pesan kamu. Aku ngantuk banget soalnya.” Dewa beralasan. Kening Ibi berkerut. Dia sungguh heran. Tidak mungkin Dewa baik-baik saja kemarin. Wajahnya jelas tampak marah. Tapi percuma jika terus bertanya Dewa tidak akan berkata jujur. Mck! Orang dewasa gak asik! Ditanya baik-baik gak mau jawab, gimana aku bisa ngerti? Ya udah deh, terserah dia aja! Ibi lalu menyimpulkan sendiri lewat pikiran singkatnya. Setahun sudah berlalu sejak saat itu dan hubungan Ibi dengan Dewa pun masih berlanjut tanpa status yang jelas. Ketakutan Dewa atas penolakan membuatnya bertahan dengan keadaan itu. Sekaligus dengan kesakitan yang berkali-kali Ibi torehkan akibat kepolosannya. Tujuannya hanya satu, yakni bertahan hingga ketika waktunya Ibi menamatkan sekolah dia akan mengutarakan seluruh perasaan beserta keinginannya pada Ibi. Ibi sendiri sesungguhnya sudah banyak berubah tanpa sepengetahuan Dewa. Waktu menjadi salah satu alasan yang membuatnya bosan dengan banyak aturan Dewa. Sekarang dia sudah malas terlalu banyak bertanya pada lelaki itu. Dia berpikir Dewa menganggapnya anak kecil, jadi belum pantas memahami apa yang jadi masalah. Ibi juga tidak menutup rapat dirinya lagi dari orang asing seperti janjinya pada Dewa. Selama hatinya berkata tidak apa-apa, dia pasti akan berkenalan dengan orang tersebut. Lagipula hanya sebatas lingkungan sekolah. Terkecuali orang asing yang berasal entah dari mana, tentu Ibi menutup rapat dirinya. Ibi yang sudah berubah itu jadi memiliki banyak teman sekarang. Dia juga mengikuti salah satu ekstrakurikuler sekolah, membuat waktunya menjadi lebih sedikit untuk menanggapi pesan dari Dewa. Dewa yang dasarnya pintar sudah merasakan sedikit perubahan Ibi, tapi dia tidak mau menyelami itu lebih dalam. Dianggapnya itu bagian dari pendewasaan umur Ibi. Yang penting selagi Ibi bisa menjaga diri untuk tidak dekat dengan laki-laki lain, itu sudah cukup bagi Dewa. Dan sampai sejauh ini tidak sekalipun Dewa mendengar ada nama baru disetiap cerita Ibi. Minggu depan adalah jadwal Dewa datang ke kota M. Dari yang sebulan sekali datang, setelah beberapa bulan berlalu intensitasnya berkurang menjadi tiga bulan sekali. Bukan karena Dewa tidak ingin menemui Ibi, tapi dia berpikir lebih baik menabung untuk bekalnya membangun masa depan dengan Ibi. Seperti sebelum-sebelumnya begitu turun dari pesawat, Dewa langsung menaiki taksi menuju sekolah Ibi. Dewa sudah tidak sabar bertemu dengan pujaan hatinya itu. Terakhir kali mereka bersua sudah begitu lama yakni tiga bulan yang lalu dan saat itu Ibi masih kelas dua. Sekarang Ibi sudah kelas tiga SMA. Tubuhnya sudah menunjukkan banyak perubahan. Semakin tinggi, semakin berisi di bagian-bagian tertentu dan semakin manis pastinya. Rambut Ibi tidak lagi berponi selamat datang seperti dulu. Dia sudah memanjangkan poninya setara rambut belakang, membuat penampilannya semakin menarik saja. Tentu banyak teman seangkatan dan bahkan adik kelas yang mengaguminya. Tapi yang ditunggu begitu lama keluar dari gerbang sekolah. Sampai dua puluh menit menunggu pun Ibi tidak kunjung muncul padahal rindu di hati Dewa sudah memuncak. Dewa lantas menghubungi ponselnya. “Ya, halo, Dewa,” saut Ibi di ujung telepon. “Kok lama banget, Bi. Aku udah nunggu di luar dari tadi,” ucap Dewa langsung pada intinya. “Iya-iya, maaf. Tadi Ibi ada urusan sebentar. Ini Ibi keluar sekarang,” jawab Ibi cepat. Bersamaan dengan itu terdengar suara anak laki-laki meneriaki nama Ibi. “Bi, jangan lupa minggu depan, ya,” ucapnya. “Oke,”jawab Ibi. Tanpa dia ketahui kalau sambungan telepon dari Dewa belum dia matikan. Seketika terbesit banyak kecurigaan di benak Dewa mendengar percakapan singkat itu. Suara siapa tadi itu? Ada apa minggu depan? Apa mungkin Ibi janjian dengan cowok itu? Siapa dia?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN