Ibi berlari menuju taksi yang ada di di ujung jalan sekolahnya. Kegiatan ekstrakurikuler yang dia ikuti membuat waktunya tersita sedikit saat pulang sekolah tadi. Itulah alasan kenapa dia terlambat menemui Dewa yang sudah menunggunya di dalam taksi.
“Maaf ya Dewa, aku jadi bikin kamu nunggu lama,” ucap ibu yang sudah masuk ke dalam taksi. Nafasnya terdengar ngos-ngosan sehabis berlari.
Dewa tidak menjawab. Dia hanya mengangguk. Dewa lantas meminta sopir taksi melanjutkan perjalanan. Di dalam taksi untuk beberapa saat Ibi dan Dewa saling diam. Sampai akhirnya Ibi merasa aneh sendiri dan memutuskan untuk membuka pembicaraan.
“Sekarang kita mau kemana, Dewa?” tanya Ibi.
“Lihat aja, ntar kamu juga tahu,” jawab Dewa singkat.
Ibi langsung merasa aneh. Tidak biasanya Dewa bicara sesingkat itu padanya. Apalagi di pertemuan pertama mereka setelah tiga bulan tidak bersua. Aneh, Dewa kenapa ya? Apa aku bikin kesalahan? Tapi apa, aku nggak ngerti deh. Makin lama pemikiran orang dewasa makin susah dipahami, batin Ibi.
Setengah jam menempuh perjalanan dengan taksi, akhirnya mereka sampai di sebuah kafe. Tempatnya tidak besar namun juga tidak kecil dan letaknya di pinggiran kota. Ibi belum pernah ke tempat itu. Ini di mana? Kok dewa bisa ngajak ke sini?
Turun dari taksi Dewa menggandeng tangan Ibi dan menuntunnya menuju salah satu bilik lesehan. Ya, cafe tersebut menyediakan banyak bilik lesehan sebagai tempat duduk tamu. Bertujuan agar setiap tamu memiliki privasi masing-masing.
“Kok kita ke sini, Dewa? Tempat apa ini?” Ibi yang bingung langsung saja bertanya. Sebab baru kali ini dia mengunjungi cafe dengan konsep lesehan tertutup seperti ini.
“Cafe,” jawab Dewa yang lagi-lagi singkat.
Selesai memesan makanan dan pegawai cafe pun pergi, Dewa menatap Ibi serius. Ibu yang polos itu langsung menyunggingkan senyum.
“Sini Bi, duduk di samping aku,” pinta Dewa. Tanpa pikir panjang Ibi segera berpindah tempat. Dari yang sebelumnya berhadapan dengan Dewa, kini dia duduk berdampingan dengan lelaki itu.
“Aku kangen sama kamu, Bi,” ucap Dewa lagi. Matanya tidak lepas memandang Ibi. “Tiga bulan kita gak ketemu, rasanya aku pengen luapin semua rasa rindu ini,” tambahnya lagi.
Lagi-lagi Ibi hanya tersenyum. Apa yang bisa dia lakukan selain itu. Senang sudah pasti Ibi rasakan. Siapa sih yang tidak senang jika dirindukan sampai seperti itu oleh orang terdekatnya, termasuk Ibi. Tapi hanya sebatas itu yang bisa Ibi lakukan. Tidak ada di pikirannya untuk memberikan hadiah kontak fisik terhadap Dewa.
“Oh ya, selama tiga bulan ini, kamu sibuk apa aja, Bi?” Tidak mendapat respon yang diinginkannya dari Ibi, Dewa lantas mengganti topik pembahasan. Lelaki itu tidak mau membuat dirinya terbawa napsu yang nantinya akan membuat hubungan mereka runyam. Padahal tempat mereka sekarang sangat mendukung untuk Dewa melakukan apapun terhadap Ibi. Tapi untungnya logika masih menguasai pikiran Dewa.
“Sibuk sekolah donk, sama tugas-tugas yang makin banyak dan numpuk. Pe’er gak ada abis-abisnya di kelas tiga ini,” jawab Ibi sekaligus keluhnya.
“Kamu masih dekat sama Zara ‘kan?” Pelan-pelan Dewa mulai mengintrogasi.
“Ya, masih ‘lah. Zara ‘kan sahabat Ibi dari kecil. Cuma sekarang kita beda kelas, jadi gak selalu bareng. Zara masuk kelas IPS, Ibi masuk kelas IPA,” jelas Ibi.
Oh, pantas. Jangan-jangan suara cowok yang aku dengar tadi teman dekat Ibi yang baru. Rupanya Dewa masih mengingat suara anak laki-laki di telepon tadi.
“Terus temen deket kamu yang satu kelas siapa?” tanya Dewa.
“Hm ..., ada Via, Windi, sama Miska. Via temen sebangku Ibi. Kalau Windi dan Miska di bangku belakang.” Tidak ada satupun kebohongan dari penjelasan Ibi. Dia mengatakan yang sejujurnya.
“Kok nama-nama cewek semua?”
“Loh, emang mereka semuanya cewek. Mana mungkin Ibi temenan deket sama cowok. Paling juga temen biasa. Dewa ‘kan tau Ibi kayak gimana aslinya.” Sekarang Ibi menatap Dewa heran. Tumben sekali lelaki itu menanyakan hal berbelit-belit seperti ini, pikirnya.
“Kamu bohongi aku, Bi,” saut Dewa kemudian.
“Bohong? Soal apa?” Kening Ibi berkerut.
“Kamu punya temen deket cowok ‘kan sekarang? Dan minggu depan kalian janjian.” Dewa menuduh Ibi sesuai pikirannya.
“Hah? Enggak, perasaan Ibi gak punya janji dengan siapapun. Apalagi temen cowok. Ih, Dewa ngarang banget, deh.” Ibi memajukan bibirnya. Dia mengira Dewa sengaja mencandai dia dengan tuduhan aneh seperti itu.
“Aku gak suka dibohongi loh, Bi. Lebih baik kamu ngaku sebelum aku beneran marah.” Bukannya paham dengan apa yang sudah diakui Ibi, Dewa terus melanjutkan kecurigaannya.
“Astaga, Dewa. Ibi harus ngaku apa sih? Jangan becanda deh, gak asik, tau. Masa Ibi dituduh kayak gitu. Kurang kerjaan banget. Lagian semua hal ‘kan selalu Ibi ceritain ke Dewa di telepon,” bantah Ibi. Moodnya sudah berantakan akibat tuduhan Dewa yang tidak berdasar.
“Aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi, Bi. Aku tau kamu janjian sama teman cowok karena tadi aku denger kalian sempet ngobrol waktu aku telepon kamu di sekolah. Dia bilang, jangan lupa minggu depan, dan kamu jawab, oke,” jelas Dewa. Dia menceritakan apa yang didengarnya tadi.
Hah? Aduh, yang itu maksudnya. Jadi Dewa dengar suara Dimas tadi donk. Wah, gawat. Bakal ketauan, nih. Gimana donk? Ibi gak pengen ribut sama Dewa. Ibi pengen baik-baik aja. Apalagi udah tiga bulan gak ketemu, mestinya ‘kan kangen-kangenan, bukan malah berantem. Terus sekarang Ibi harus jelasin apa donk? Ibi terkejut dengan ucapan Dewa. Tidak dia sangka lelaki itu mendengar sepenggal omongannya dengan Dimas teman satu ekskul.
Tidak ada hal yang mencurigakan sesungguhnya dari pembicaraan Ibi dengan Dimas. Sebab mereka murni hanya teman biasa. Kebetulan mereka tergabung dalam satu ekstrakurikuler yang sama. Kemarin saat jadwal ekskul Ibi lupa membawa syal lambang ekskul mereka. Padahal dia diminta maju ke depan untuk memberikan arahan pada adik kelas yang baru. Untuk itu agar tidak malu, Ibi meminjamnya pada Dimas. Bertepatan Dimas tidak menggunakan syal tersebut. Jadi pantas kalau tadi Dimas mengingatkan pada Ibi untuk tidak lupa membawa syal yang dipinjamkannya minggu depan.
Sekarang yang jadi masalah adalah Dewa. Ibi tidak pernah memberitahukan pada lelaki itu kalau dia ikut ekskul sekolah. Sebab sebelum bercerita Ibi sudah tahu Dewa pasti tidak mengijinkan dengan berbagai macam alasan. Padahal Ibi ingin sekali ikut. Dia tidak mau terus terkungkung dengan lingkungan pertemanan yang itu-itu saja. Ibi ingin pergaulannya sedikit meluas. Walau masih satu sekolah, paling tidak dia bisa mengenal banyak orang. Teman berbeda kelas maupun adik-adik kelas.
“Kenapa kok kamu jadi diam? Gak bisa jawab? Artinya kecurigaan aku bener ‘kan? Kamu emang janjian sama temen cowok minggu depan. Mau kemana kalian?” sambung Dewa lagi.
Ibi menggeleng cepat. Tuduhan Dewa jelas salah. Kejadian sebenarnya jauh dari apa yang dia katakan. “Enggak kayak gitu. Dewa salah paham,” jawab Ibi.
“Salah paham apanya?! Aku dengar sendiri, Bi!” Tiba-tiba suara Dewa sedikit meninggi, membuat Ibi terkejut tak menyangka.
Wajah Ibi berubah takut. Siapa sebenarnya orang yang ada di hadapannya ini? Dewa yang dia kenal tidak ‘lah seperti itu. Dewa yang dia kenal sangat baik, bahkan terlalu baik baginya. Ya, walau dengan banyak aturan, tapi Dewa tetaplah satu-satunya lelaki terbaik di hidup Ibi. Namun saat ini, detik ini, untuk pertama kalinya Dewa meninggikan suaranya di depan Ibi.