“Ibi gak pernah bohong sama Dewa. Sumpah, Ibi gak bohong. Dewa salah paham ...” Suara Ibi sedikit bergetar. Untuk ukuran orang yang begitu baik, lalu tiba-tiba marah jelas membuat Ibi jadi takut.
“Huuft ..., aku kecewa sama kamu, Bi. Berkali-kali kamu nyakitin hati aku. Tapi aku berusaha gak marah, aku cuma diam. Aku selalu ngalah dan anggap kamu yang terlampau polos tidak memahami. Dan sekarang, apa kamu masih gak paham? Itu kelewatan namanya!” Dewa menghela napas panjang.
“Apa yang gak aku lakuin buat kamu, Bi. Apapun yang bikin kamu hepi aku turutin. Aku gak pernah absen tanya kabar kamu, aku gak pernah lupa telepon kamu. Apa itu semua gak cukup? Ya, aku akuin sekarang kita terpisah jarak, tapi selalu semampuku untuk datang kesini ketemu kamu. Lantas dimana penghargaan kamu sama aku, Bi? Kamu anggap aku apa selama ini? Jangan bilang jawaban klise kayak yang kamu utarakan ke Elvan setahun yang lalu. Itu udah cukup bikin aku kacau dan galau berhari-hari. Tapi begitupun aku masih coba untuk terima dan memaklumi.”
“Sekarang aku gak mau dengar yang seperti itu lagi! Kamu udah lebih gede, bukan lagi anak kecil yang aku kenal pertama kali dulu. Harusnya kamu paham!” Lepas sudah semua yang ditahan Dewa selama ini.
Walau harus diawali dengan kesalahan pahaman tapi sesungguhnya perasaan yang diutarakan Dewa barusan sudah dia simpan sangat lama. Dan hari ini semuanya diutarakan dengan jelas membuat Ibi terperanjat dan bingung harus berkata apa.
Ibi baru tahu kalau ternyata hubungan kedekatan mereka yang sudah berjalan hampir dua tahun itu banyak meninggalkan sakit di hati Dewa. Dia sendiri bahkan tidak menyangka sudah melakukan hal seperti itu. Ya, Allah ..., apa aja yang udah Ibi lakukan selama ini sampe Ibi ga tau kalau Dewa merasa begitu. Ibi udah nyakitin Dewa berkali-kali, yang Ibi sendiri gak tau itu kapan dan disaat apa? Ibi pikir Dewa bahagia dekat dengan Ibi, tapi nyatanya dia tersiksa ... Sekarang Ibi harus jawab apa, Ibi sendiri bingung.
“Ibi minta maaf, Dewa ... Ibi gak tau kalau Ibi udah nyakitin hati Dewa sampe seperti ini ...” Mata Ibi berkaca-kaca. Dia menyesal, sungguh menyesal. Kalau saja dari awal Dewa mengatakan padanya kesalahan apa yang sudah dia lakukan, pasti dia tidak akan mengulangi. Tapi ini dia sendiri pun bingung sudah berbuat apa.
“Satu hal yang gak aku sangka dari kamu sekarang adalah, kamu bohongi aku, Bi. Itu fatal dalam sebuah hubungan. Walau aku jauh, tapi gak seharusnya kamu giniin aku. Aku bukan orang bodoh, usiaku jauh di atas kamu. Harusnya kamu lebih menghargai aku karena itu,” tambah Dewa lagi.
“Astaghfirullahaladzim, Dewa! Sumpah, Ibi gak bohong! Apa yang Ibi bohongi dari Dewa? Kalau Dewa curiga dengan cowok yang Dewa dengar suaranya di telepon tadi, itu salah paham. Dia itu Dimas, temen satu ekskul Ibi. Dan dia bukan teman dekat, Cuma teman biasa. Ibi terpaksa harus pinjam barangnya kemarin, dan dia minta minggu depan Ibi jangan sampe lupa bawa barang itu. Udah itu aja kok. Gak ada yang lain,” terang Ibi.
Akhirnya dia terpaksa harus menjelaskan siapa Dimas. Tentu ini akan menjadi masalah baru bagi Dewa mengingat kata ekskul yang disebut Ibi barusan.
“Teman satu ekskul? Maksud kamu apa, Bi? Apalagi ini? Kamu nutupin sesuatu dari aku?” Mata Dewa melotot. Dia baru tahu fakta baru tentang ekskul dari mulut Ibi.
Seketika Ibi menunduk lemas. Semua ini memang salahnya. Dia ngotot ikut ekskul tempo hari padahal Dewa sudah jelas-jelas melarang. Tapi mau bagaimana lagi. Dewa sudah terlanjur mendengar, jadi Ibi harus menyelesaikan penjelasannya.
“Oke, Ibi ngaku. Ya, Ibi nutupin sesuatu dari Dewa. Tapi ini bukan masalah fatal dan sama sekali gak mengganggu Ibi, nilai Ibi ataupun kedekatan kita,” ungkap Ibi.
“Apa itu? Ceritain semuanya, aku mau tau.” Dewa memandang Ibi serius. Wajah kecewanya belum hilang.
Ibi lantas mengungkap rahasianya tentang ekskul. Bukan maksud untuk menutupi hal tersebut dari Dewa tapi ketidaksetujuan Dewa terhadap kemauannya membuat Ibi mengambil keputusan diam-diam. Ibi tidak punya maksud lain mengikuti ekskul. Dia sungguh ingin memperluas pertemanannya, menambah ilmu sekaligus belajar tentang organisasi maupun kepemimpinan.
“Cuma itu niat Ibi ikut ekskul. Dan sejauh ini gak ada hal buruk yang Ibi temukan disana. Justru hal baik yang berdampak ke perkembangan diri Ibi sendiri. Ibi jadi lebih percaya diri, Ibi bisa ngomong di depan adik-adik kelas, dan Ibi juga bisa ngambil keputusan yang menurut Ibi baik untuk banyak orang,” jelas Ibi. Tapi semua keterangannya itu tetap membuat Dewa tidak bisa terima. Bahkan dia semakin kecewa karena Ibi tidak menuruti sarannya.
Dewa merasa dibohongi, merasa dicurangi dari belakang. Kalau hal sekecil itu saja Ibi bisa menutupi darinya, bukan tidak mungkin ada hal yang lain yang lebih besar dari itu yang tidak Ibi ceritakan padanya.
“Aku gak tau harus bilang apalagi sama kamu, Bi. Yang jelas aku kecewa, sungguh kecewa. Apapun alasan kamu, itu tetap bentuk kebohongan karena kamu menutupinya dari aku. Kamu bahkan membantah saranku. Kalau aja kamu bicara jujur, mungkin kita bisa diskusikan masalah ini lebih dulu, dan aku bisa pertimbangkan lagi.” Dewa memalingkan wajahnya. Kecewanya pada Ibi tidak main-main. Walau rasa rindu di hati Dewa membuncah terhadap Ibi, tapi sebanding dengan kekecewaan yang dia dapatkan hari ini.
Mulai dari kecurigaan dengan teman laki-laki Ibi, hingga akhirnya terungkap kebohongan perkara ekskul. Sekarang Dewa baru tahu rasanya dicurangi oleh kekasih hati yang sudah dia puja setinggi langit. Dewa baru tahu rasanya dibohongi oleh gadis yang dia cintai sepenuh hati. Persis dengan apa yang dialami Hanin di seberang sana. Bahkan lebih parah yang Hanin rasakan daripada dirinya.
Hanin dibohongi, dicurangi, dibuang dan tidak dipedulikan lagi. Berkali-kali Hanin bertanya lewat telepon maupun pesan singkat tapi jawaban Dewa tidak pernah jelas. Dewa hanya mengatakan dia bukanlah yang terbaik untuk Hanin tanpa disertai alasan apapun. Tentu itu tidak membuat hati Hanin tenang. Gadis itu bertekad akan mencari tahu sampai akhir. Sampai hubungan yang sudah dilaluinya bersama Dewa selama bertahun-tahun itu jelas statusnya.
“Harusnya kamu paham kenapa aku ngelarang kamu ikut ekskul di sekolah. Selain karena aku pencemburu, aku juga gak mau kamu jadi terlalu pintar. Pintar mengambil keputusan yang baik untuk orang banyak tapi nyatanya kamu justru nikam aku diam-diam. Kamu korbankan aku demi keinginan kamu itu. Kamu udah gak mikirin perasaan aku. Kamu lupa dengan janji yang pernah kamu bikin sendiri untuk aku. Kamu keterlaluan, Bi!” Dewa kembali menatap Ibi. Matanya tampak merah.
“Segalanya aku kasih buat kamu! Segalanya aku siapkan untuk masa depan kita, tapi kamu terus aja bikin aku kecewa! Sebenarnya kamu anggap aku apa, Bi? Apa?! Tolong jawab!” Dewa memegang kedua bahu Ibi kanan dan kiri, mendesak jawaban atas pertanyaannya. Sampai Ibi sendiri ketakutan dengan reaksi Dewa yang seperti itu.
Reflek air mata Ibi menetes dari kedua sudut matanya. Dia menangis karena takut, bingung dan merasa bersalah. Ibi jadi tidak paham dengan tujuan kedekatannya dengan Dewa sekarang. Dia sungguh tidak paham. Barusan Dewa bilang telah mempersiapkan masa depan, tapi dia sendiri bingung masa depan seperti apa yang Dewa maksud. Apa sesungguhnya harapan Dewa sama Ibi? Ya, Allah, Ibi sungguh gak ngerti ...