Kesalahan Satu Malam Dewa

1058 Kata
Dewa berniat kembali ke Padang malam itu juga, mempercepat kepulangannya padahal baru saja siang hari dia sampai ke kota M menemui Ibi. Rasa kecewanya pada gadis itu sudah tidak tertahankan lagi hingga dia memutuskan untuk pulang. Sampai setengah jam menunggu jawaban Ibi atas pertanyaan terakhirnya tadi, Dewa tidak kunjung menemukan jawaban. Ibi hanya menangis tidak henti di cafe itu. Meminta maaf atas semua kesalahan yang dia perbuat, tapi tidak sedikitpun dia menjawab pertanyaan Dewa. Pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui dianggap apa dirinya oleh Ibi selama ini. Percuma meminta maaf kalau Ibi tidak kunjung menjawab, itu yang ada di pikiran Dewa. Hingga akhirnya dia menyimpulkan bahwa apa yang dikatakan Elvan setahun yang lalu terbukti benar. Ibi memang tidak pernah menganggapnya lebih, hanya dia seorang diri yang berharap terlalu tinggi bahkan sampai menyiapkan masa depan untuknya bersama dengan Ibi. Setelah mengantar Ibi pulang ke rumah, taksi yang membawa Dewa langsung menuju ke bandara. Tubuhnya bahkan belum diistirahatkan lebih dulu tapi dia sudah akan kembali menaiki pesawat. Dewa tidak bicara sepatah kata pun lagi setelah Ibi tidak kunjung menjawab pertanyaan pentingnya. Dewa hanya diam, merenung, meratapi kebodohannya yang terlampau kelewatan. Bahkan saat di dalam pesawat pun Dewa masih juga merenung. Kecewa dan rasa sakit dihatinya sungguh dalam kali ini. Tidak bisa dia tolerir lagi seperti sebelumnya. Sebab jelas sudah semuanya, tidak ada lagi yang bisa dia harapkan dari seorang Ibi. Gadis manis yang teramat mencuri hatinya hingga dia tergila-gila dan tidak bisa lepas. Sekarang hubungan mereka sudah berantakan. Hati Dewa hancur tidak karuan sampai dia tidak tahu apakah dia bisa memaafkan Ibi atau tidak. Aku memang bodoh! Sangat bodoh! Aku larut dalam cinta yang begitu besar tanpa melibatkan logika sedikit pun. Sampai akhirnya aku tertipu dengan kenyataan. Aku kecewa dengan harapan terlalu tinggi yang sesungguhnya aku bikin sendiri. Ya, Tuhan ..., sakit sekali rasanya hati ini. Bahkan untuk berdarah pun dia tidak sanggup lagi. Berkali-kali aku dibuatnya kecewa tapi aku tidak pernah sadar akan itu. Aku masih terus menggantungkan harapan, bahkan aku tidak berhenti memujanya. Memuja seseorang yang tidak pernah menaruh hatinya untukku. Persis seperti menepuk angin. Kosong tak berbalas, bahkan lolos ke segala arah. Sungguh kebodohan yang hakiki. Masih jauh lebih berarti menepuk nyamuk daripada kelakuanku yang sekarang ini. Dua tahun lebih aku menjalani kebodohan ini. Melukai diri sendiri karena keinginanku pada sesuatu hal yang sesungguhnya tidak bisa kuraih. Bukan karena terlalu tinggi atau terlalu rendah, tapi dia memang tidak ingin kuraih. Sesungguhnya dia sudah memberi batas tapi aku berpura-pura tidak melihat. Astaghfirullahaladzim, apa yang sudah kulakukan? Apa ini yang dinamakan cinta buta? Perasaan terhadap seseorang hingga rela mengorbankan apapun tanpa berpikir lebih dulu. Ibi, seandainya kamu bisa membalas sedikit saja perasaanku, aku akan menjadikanmu ratu. Ratu yang aku letakkan di atas kepalaku. Apapun yang kamu perintahkan aku ikuti. Apapun yang kamu minta aku turuti. Tapi satu hal yang aku inginkan, jangan pernah berpaling dan jangan pernah tinggalkan aku untuk siapapun. Akankah hal itu bisa kudapatkan dari seorang Ibi? Tuhan, kenapa semua ini gak adil? Kenapa semua kebaikanku, perasaanku yang tulus tidak berbalas sedikit pun? Kenapa? Aku tidak bisa terima dengan ini semua! Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Aku juga tidak pernah membuatnya kecewa. Lantas kenapa sekarang aku harus jadi seperti ini? Terpuruk dan terbuang olehnya. Gak bisa! Ini gak adil! Aku gak mau berakhir seperti ini! Aku gak terima! Sejak pulang dari kota M, Dewa terus mengurung diri di kamar. Dia bahkan tidak ingin menghubungi Ibi sama sekali. Nomor kontak Ibi pun sudah dia hapus dari ponselnya, walau otaknya masih menghafal jelas nomor gadis itu. Dewa bertekad ingin mengakhiri semuanya, ingin lepas dan berusaha melupakan. Berdamai dengan diri sendiri lebih dulu agar bisa mengikhlaskan semua. Sekuat tenaga Dewa menekan egonya, mengingatkan diri untuk tidak melanjutkan kebodohan. Menasehati diri untuk sadar akan kenyataan. Apa lagi yang diharap jika memang tidak ada harapan? Percuma kalau dia masih tidak terima toh itu hanya perasaannya sepihak. Untung saja kegalauan itu bertepatan saat weekend, jadi tidak menggangu pekerjaannya. Besok dia sudah harus masuk ke kantor, membawahi begitu banyak karyawan untuk dia bimbing pekerjaannya. Apakah dia sanggup dengan keadaan hati yang kacau begitu? Sanggup dan harus bisa. Hidupnya harus terus berjalan. Tidak dengan Ibi mungkin dengan jodoh di masa depan yang sudah lama menantinya. Sebulan sudah berlalu dengan Dewa yang masih terus berdamai dengan keadaan. Berkali-kali hatinya menjerit ingin menghubungi Ibi, membalas pesan Ibi yang bertubi-tubi masuk, tapi sekuat tenaga dia tahan. Logikanya harus terus membuat dia sadar dan bangkit dari kebodohan. Sampai akhirnya tiba-tiba Dewa sudah merasa tidak kuat lagi. Disatu sisi hatinya terus meronta-ronta memanggil nama Ibi, tapi di sisi lain dia di hadapkan dengan segudang pekerjaan yang membuatnya hampir gila. Jika saja hatinya tenang, seberat apapun pekerjaan pasti bisa Dewa selesaikan. Tapi ini sebaliknya, hati Dewa masih hancur berantakan. Keadaan itu seketika membuat imannya goyah, hingga Dewa memutuskan untuk pergi ke mini market spesial import. Dia membeli beberapa botol minuman beralkohol yang digadang-gadang bisa membuat pikiran tenang. Bisa membuat hati merasa lega dengan segala beban perasaan sekaligus pikiran yang ada. Dewa tidak mau gegabah dalam bertindak. Dia memilih menikmati minuman tersebut di dalam paviliun fasilitas kantor tempatnya tinggal. Sebab dia tidak mau citranya buruk jika terlihat mabuk-mabukan di tempat umum. Dia juga tidak mau terjebak dengan keadaan jika mabuk di tempat umum. Takut terjadi hal buruk lain yang menyertai itu. Biarlah dia menghabiskan semua minuman itu di dalam kamar. Menikmatinya tanpa ada seorangpun yang menggangu. Jika sudah tidak sadar ‘kan diri, letaknya pun aman. Di dalam kamarnya sendiri. Dia bisa tertidur pulas hingga pagi dan besok bisa kembali bekerja seperti biasa. Berangkat ke kantor dengan beban yang sedikit lepas setelah mengguyur tubuh bagian dalamnya dengan alkohol, begitu harapannya. Tapi harapan tidak selalu sama dengan kenyataan. Rupanya pilihan Dewa untuk melampiaskan segala beban lewat minum-minum berakibat fatal. Sesuatu terjadi padanya. Sesuatu yang jelas mengubah rencana hidupnya ke depan. Saat terbangun pagi setelah mabuk berat semalam Dewa melihat fakta yang sungguh sangat mengejutkan baginya. Terlalu dekat bahkan di depan kedua matanya. Ini di luar rencana, bahkan tidak terbayang sedikit pun. Apa dan bagaimananya saja Dewa tidak ingat. Ternyata beralih pada alkohol bukan solusi tapi justru musibah. Astaghfirullahaladzim, kenapa jadi sperti ini? Kenapa???? Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? Dosaku semakin banyak, aku tidak sanggup memikirkannya. Tanpa bisa ditahan lagi air mata Dewa menetes dari sudut sebelah matanya. Dia menangis, menyesali perbuatan haram yang telah dia lakukan malam itu. Tapi perbuatan apa itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN