Tinggal beberapa hari lagi kehamilan Hanin menuju harinya. Sebentar lagi Hanin dan Dewa akan bertemu dengan bayi mereka. Perempuan ataupun laki-laki tidak masalah, yang penting bayi tersebut lahir dengan sehat dan selamat. Begitu harapan sepasang suami istri itu.
Sore itu Dewa baru saja selesai dengan pekerjaannya di kantor. Dia ingin segera pulang untuk melihat keadaan Hanin. Tapi saat baru saja menaiki mobil, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dan itu dari Adi.
Adi mengabarkan kalau minggu depan dia dan Zara akan menikah dan berharap Dewa bisa hadir ke acaranya. Dewa turut bahagia mengetahui kabar itu, bibirnya menyunggingkan senyum. Lalu sesaat kemudian dia kembali teringat dengan Ibtisam.
Apa kabarnya dia sekarang? Sudah lama sekali aku tidak tahu tentang dia. Dia juga tidak pernah mengangkat teleponku. Terakhir aku meneleponnya saat Hanin baru saja mengabari kalau dia positif hamil. Sejak saat itu sekalipun aku tidak pernah lagi mencoba meneleponnya. Bahkan aku tidak lagi mengingatnya karena sibuk mengurus Hanin.
Dewa sadar kalau perhatiannya pada Ibi sudah buyar saat tahu kalai Hanin hamil. Tapi mengetahui kabar Adi akan menikah Dewa seperti terpacu kembali untuk tahu soal Ibi.
Apa sebaiknya aku datang ke acara Adi minggu depan? Pasti aku akan bertemu dia disana. Ini kesempatan bagus. Baiklah aku akan membicarakannya pada Hanin. Bergegas Dewa menyalakan mesin mobil untuk menuju pulang.
Sampai di rumah, Dewa melihat Hanin baru saja selesai menyiram bunga di halaman rumah mereka.
“Mas.” Hanin menghampiri mobil suaminya.
“Astaga, Nin. Kamu ngapain repot-repot nyiram bunga?” tegur Dewa begitu dia turun dari mobil.
Sebelum menjawab, Hanin lebih dulu meraih tangan Dewa untuk dia salim. “Aku bosen di kamar terus, Mas. Lagipula dokter bilang aku harus banyak gerak karena sebentar lagi anak kita lahir,” jawab Hanin. Mereka melangkah bersama masuk ke dalam rumah.
“Memang kapan prediksi lahirnya?” Dewa lupa kalau jadwal Hanin melahirkan sudah mendekati.
“Tinggal menghitung hari, Mas. Dalam minggu ini juga,” jawab Hanin. Sekarang mereka berdua sudah di dalam kamar.
Aduh, gimana aku bisa ke pernikahan Adi? Apa mungkin aku meninggalkan Hanin? Nanti kalau dia tiba-tiba lahir dan aku gak ada di sampingnya bagaimana? Jujur aku khawatir. Tapi aku juga sangat ingin menghadiri acara Adi agar bisa berteman dengan dia. Tapi ...
Dewa duduk di tepi ranjang. Dia bingung memikirkan hal yang mana yang harus dia pilih.
“Mas, kok kamu duduk disitu? Mandi dulu, gih. Biar badannya segar. Aku siapin teh buat kamu, ya.” Kalimat Hanin menyadarkan lamunan Dewa.
Dilihatnya Hanin yang tersenyum dengan perut yang begitu besar. Wajahnya sembab, kakinya juga mulai bengkak. Tampak wajahnya yang letih karena belakangan sulit tidur malam dikarenakan pinggang yang sakit. Semua posisi tidur tidak ada yang membuat Hanin nyaman.
Kasihan Hanin, dia begitu berjuang menjaga anak kami dalam perutnya. Sementara aku hanya bisa melihat dari luar dan membantunya sedikit saja. Aku jadi tidak tega meninggalkannya minggu depan.
Dewa akhirnya bangkit dan segera menuju kamar mandi. Sambil mandi lelaki itu masih belum berhenti berpikir. Kebimbangan melandanya. Memang jika ada hal yang berhubungan dengan Ibi pasti jiwa Dewa terusik karena itu.
Selesai mandi, teh hangat sudah tersedia di atas nakas berikut dengan cemilan roti bakar buatan Hanin. Walau dengan keadaan hamil besar begitu, Hanin masih tetap melayaniku. Enggak, aku gak bisa berkhianat dan meninggalkannya di saat-saat penting begini.
Dewa berubah pikiran. Dia sudah memutuskan untuk tidak hadir di acara Adi. Diraihnya ponsel untuk mengabari Adi saat itu juga.
“Halo, assalamu’alaikum, Di,” ucap Dewa ketika ponselnya sudah tersambung.
“Wa’alaikumsalam, Wa. Ape kabar lu?” saut Adi.
“Alhamdulillah sehat. Semoga kamu dan Zara juga sehat selalu ya, Di,” jawab Dewa.
“Alhamdulillah, thanks, Wa. Oh ya, lu dateng pan yak ke acara meried gua.” Adi langsung menanyakan itu.
“Nah itu yang mau aku bahas, Di. Kayaknya aku gak bisa. Gimana kalau aku kirim kadonya aja buat kamu. Gak apa-apa ‘kan?” Dewa mengatakan kalau dia tidak bisa hadir.
“Ya, kagak ape-ape, sih, Wa. Cuma lu yakin, nih, kagak mau ketemu sama Ibi?” Sambil cengengesan Adi mengatakan soal Ibtisam.
“Jujur aku mau banget, Di. Tapi ada hal penting yang gak bisa aku tinggal,” jawab Dewa.
Di saat yang sama Hanin muncul ke dalam kamar. Dia memilih posisi duduk di samping Dewa sembari memegang tangan suaminya itu.
“Oh, gitu. Ya udeh ‘lah, Wa. Ape bole buat. Kagak jodoh waktunye. Yang penting elu dan keluarga lu disana sehat-sehat, ye. Doain acara gua lancar dan bisa jadi lakik yang soleh, hahaha ....” Adi tertawa di ujung kalimatnya.
“Insya Allah aku doain, Di. Oke, kalau gitu udahan ya. Salam buat calon istri kamu.” Dewa lalu mengakhiri telepon.
Hanin yang tidak pernah mau mengurusi urusan Dewa tidak mau bertanya perkara dengan siapa suaminya bicara di telepon. Dia duduk santai menikmati genggaman tangan suaminya.
“Kamu gak tanya aku tadi abis teleponan sama siapa?” Dewa heran dengan sikap cuek Hanin perjarat yang satu ini.
“Ha? Enggak, Mas. Buat apa? Aku gak mau mencampuri urusan kamu. Buatku yang penting adalah kamu selalu sayang sama aku dan anak kita.” Hanin mengusap perut besarnya.
Sebaik itu kamu, Nin. Tidak pernah buruk sangka denganku. Apalagi menanyakan urusanku yang lain di luar pekerjaan.
“Tadi itu aku abis bicara dengan Adi, temen satu kostku dulu waktu di kota M. Kamu ingat ‘kan?” Dewa memilih menjelaskan dan Hanin mengangguk.
“Iya, aku ingat, Mas,” jawab Hanin.
“Nah, minggu depan dia menikah dan dia ngundang aku,” sambung Dewa.
“Oh ya, Alhamdulillah. Dia menikah sama orang mana, Mas?” tanya Hanin.
“Kota M. Kebetulan mereka udah pacaran hampir setahun lebih. Calonnya masih muda banget, Nin. Jarak sepuluh tahun di bawah usianya.” Dewa menjelaskan lagi.
“Oh ya, masih muda banget donk. Pasti cantik,” puji Hanin.
“Buat Adi calon istrinya pasti sangat cantik.” Hanin tersenyum mendengar jawaban bijak dari suaminya.
“Terus kamu mau datang kesana ya, Mas? Seingatku waktu kita menikah dia juga datang ‘kan?” Rupanya Hanin hapal wajah Adi saat dia datang ke acara pernikahan mereka tahun lalu.
“Jujur aku mau datang kesana, tapi apa mungkin aku ninggalin kamu yang lagi hamil besar begini? Apalagi sudah mendekati harinya.” Dewa mengelus perut Hanin.
“Kalau kamu udah niat, kamu pergi aja, Mas. Gak apa-apa, kok. Insya Allah nanti dia lahir nunggu kamu balik dari sana,” jawab Hanin enteng.
“Kamu yakin, Nin?” Hanin mengangguk mantap. Sejujurnya dia juga tidak mau ditinggal saat-saat seperti ini. Tapi demi membahagiakan Dewa, membiarkannya pergi adalah pilihan yang tepat, pikir Hanin.
Terbukti saat ini Dewa tersenyum lebar. Apalagi yang menjadi tujuan hidup Hanin terkecuali menyenangkan suaminya. Begitu yang selalu Hanin terapkan di benaknya. Jika Dewa bahagia pasti dia juga akan bahagia.
“Ya udah, lusa aku pesan tiketnya,” saut Dewa. Lelaki itu langsung menyeruput tehnya lalu memakan roti bakar buatan Hanin.
Beres sudah masalah yang menyangkut di pikiran Dewa sore itu. Hanin sama sekali tidak keberatan. Ditambah lagi dengan keyakinan Hanin kalau anak mereka akan lahir setelah Dewa kembali ke Bandung.
Memiliki istri soleha seperti Hanin sunggung keberuntungan bagi Dewa. Tapi akankah dia sadar perkara itu? Sebab detik ini yang membuat dia bahagia bisa hadir di acara Adi bukanlah tentang pernikahan melainkan berharap bertemu dengan Ibi.
Masih juga Dewa tersangkut pada satu nama itu. Pikiran dan hatinya belum bisa menghapus memori tentang gadis itu. Entah sampai kapan, yang pasti secara tidak langsung Dewa sudah mengkhianati Hanin sekali lagi. Akankah Dewa sungguh-sungguh berangkat? Lantas apakah kelahiran Hanin memang menunggu saat Dewa kembali dari kota M? Bagaimana jika tidak?