Hanin Ngidam Itu

1137 Kata
Agak canggung Dewa memulai apa yang diminta Hanin, sebab sudah lama sekali dia tidak melakukan hal itu dengan istrinya. Selama mereka menikah dan kandungan Hanin mencapai bulan ketujuh Dewa hanya menyentuh Hanin satu kali dan itu justru berhasil membuat Hanin hamil seperti sekarang. Lalu sore ini kegiatan itu akan terjadi lagi. Bagaimana caranya? Kondisi Hanin yang sedang hamil juga membuat Dewa bingung untuk meneruskan. Sekarang Dewa sudah bertelanjang da*da di depan Hanin. Beberapa saat dia diam tidak bergerak, hanya memandang Hanin dengan tatapan bingung. Tapi yang ditatap justru tersenyum dan berhenti menangis. Artinya memang seperti ini yang dia inginkan. Hanin mendekatkan dirinya pada Dewa sembari memejamkan mata. Seolah memberi kode untuk Dewa mengawali dengan ciuman. Dengan menarik napas lebih dulu Dewa sempat berpikir, Apa memang iya ada yang ngidam ingin melakukan ini? Aku takut perutnya kontraksi. Tapi demi memenuhi keinginan Hanin serta anak yang ada dalam kandungannya, Dewa meneruskan apa yang semestinya diteruskan. Sore itu untuk kedua kalinya selama pernikahan mereka melakukan sentuhan intim satu sama lain. Berkat anak yang ada di perut Hanin, Dewa semakin hangat saja. Memang tidak persis seperti saat mereka pacaran dulu. Tapi perubahan yang seperti ini saja sudah membuat Hanin bersyukur tiada henti. Kini Hanin sudah menemukan suaminya dalam pernikahannya yang sempat terasa kosong. Berawal dari tidak peduli pelan-pelan berubah perhatian dan hangat. Tuhan Memang Maha Adil. Kesabaran Hanin yang tanpa batas, serta doa yang tidak putus dia panjatkan pasti menjadi sumber untuk hasil yang dia dapatkan sekarang. Tidak hanya Hanin, sejujurnya sebagai laki-laki normal Dewa juga rindu sentuhan intim di dirinya. Kemana lagi dia labuhkan hasrat itu terkecuali pada istrinya sendiri. Walau hati berulang kali mengingkari dengan mengedepankan obsesi cintanya terhadap Ibi, tapi kini obsesi itu kian luntur. Berganti dengan kebahagiaan atas kehamilan Hanin. Ibarat batu yang terus saja di tetesi oleh air, lambat laun akan luruh juga. Hati yang keras kini berubah lembut atas kehendak Sang Pemilik Kehidupan. Siapa lagi kalau bukan Tuhan Yang Maha Esa. Jodoh yang Dia tetapkan untuk Dewa maupun Hanin tidak pernah salah. Sejak awal Dewa memang sudah digariskan untuk Hanin, bukan yang lain. Maka sekeras apapun dia menjauh dan menghindar, ujungnya akan bertemu dan bersatu dalam ikatan halal yang sesungguhnya. Kini Dewa dan Hanin sudah berbalut cinta berbuah surga. Semula Dewa memang sedikit takut untuk memulai, mengingat kondisi Hanin yang sedang hamil besar. Tapi banyak jalan menuju surga. Hanin memposisikan dirinya dengan baik hingga Dewa tidak perlu khawatir lagi. Intinya adalah ibadah halal yang mereka lakukan sore itu terlaksana dengan hasil yang sempurna bagi keduanya. Baik Hanin maupun Dewa. Tidak hanya satu kali, bahkan sampai dua kali. Lantunan ayat suci yang mengalun dari mesjid di dekat rumah mereka yang menjadi pertanda untuk mereka menyudahinya, tidak berlanjut ke tahap yang ketiga. Masih banyak waktu yang bisa diisi lain kali. Tidak perlu membalas rasa yang sempat kosong berbulan-bulan saat itu juga. Sekarang Dewa dan Hanin berbaring berdampingan dengan saling menatap. “Udah ngaji mesjid, Nin,” ucap Dewa. “Iya, Mas, aku tahu,” jawab Hanin. “Kamu mau mandi lebih dulu, atau aku?” tanya Dewa selanjutnya. “Aku mau bareng.” Singkat, padat tapi memiliki arti yang begitu besar. Jawaban Hanin jelas membuat Dewa terbelalak. Menit berikutnya Dewa tersenyum. Dia mengelus pelan pipi Hanin lalu beralih ke perut besar Hanin. “Sabar ya, Nak. Nanti malam ayah lanjut, tapi gak sekarang. Kita siap-siap sholat magrib dulu. Sebentar lagi adzan,” ucap Dewa seolah berdialog dengan calon anaknya. Nyes! Layaknya embun yang jatuh pagi hari di atas ubun-ubun kepala, sejuk, segar, dan sangat nyaman, begitu yang dirasakan hati Hanin sekarang. Cintanya sudah terbalaskan. Semua berkat buah cinta yang Tuhan titipkan padanya di dalam perut. Berjuta syukur Hanin panjatkan untuk itu. Tuhan menghadiahinya dua hal sekaligus. Calon anak serta rasa cinta suami. Sejak saat itu Dewa konsisten dengan perubahannya. Dia menjadi suami yang baik serta calon ayah yang baik pula. Mendekati hari kelahiran anak mereka, Dewa selalu siaga setiap harinya. Dia bahkan sudah berkali-kali minta ijin pada atasan jika suatu saat istrinya mengabarkan untuk segera diboyong ke rumah sakit. Dewa juga tidak luput mengelus pinggang Hanin yang selalu sakit setiap malam. “Kamu kalau ngantuk duluan tidur aja, Mas. Aku gak apa-apa, kok. Cuma gak nyaman dengan semua posisi karena pinggangku sakit.” Hanin merasa tidak enak hati sudah berhari-hari membuat Dewa ikut terjaga di tengah malam. “Biarin, aku temenin,” saut Dewa singkat sembari tidak henti mengelus pinggang Hanin bagian belakang. Tiba-tiba entah kenapa, mata Hanin berkaca-kaca. Dia terbawa oleh perasaan. Hormon kehamilan kemungkinan besar mengendalikan dirinya saat itu. “Kamu kenapa, Nin? Kok nangis? Udah mau lahir, ya?” Dewa yang tidak paham tentu menduga seperti itu. Tapi Hanin menggelengkan kepalanya. Air matanya terus saja menetes. “Lalu kenapa?” Dewa makin khawatir. “Aku terharu, Mas ... Kamu baik banget sama aku. Kamu jagain aku, peduliin aku, bahkan kamu gak berhenti siaga di hari-hari menuju kelahiran anak kita,” ucap Hanin. Rupanya dia larut dalam perasaan bahagia. “Aku sangat berterimakasih kamu sudah mau seperti ini, Mas. Aku bahagia, demi Tuhan aku bahagia ...” Air matanya Hanin makin deras. Dia bahkan sudah sesenggukan sekarang. Dewa segera menariknya dalam dekapan. Memeluk untuk menenangkan dan membuat Hanin menghentikan tangisnya. “Nin, sudah ya, berhenti menangis. Kasihan anak kita. Di dalam sana dia pasti juga ikut menangis.” Dewa mengusap lembut punggung Hanin. Dia tidak bisa menjawab rasa terima kasih Hanin terhadapnya, sebab apa yang dia lakukan belum ada apa-apanya dibandingkan dengan yang sudah dia lakukan pada Hanin sebelumnya. Tidak peduli, tidak menganggap, bahkan menyesali pernikahan mereka. Sebelum Hanin positif hamil setiap hari dia selalu berkata-kata yang membuat Hanin sakit hati dan kecewa. Sekarang Dewa bertekad untuk berubah. Apalagi yang bisa dia lakukan selain menerima takdir bahwa Hanin adalah jodoh pilihan Tuhan untuknya. Oleh karena itu pelan-pelan Dewa kembali membuka hati untuk istrinya. Walau sampai detik ini belum tersemat nama Hanin disana, tapi paling tidak Hanin bisa sesekali singgah untuk membahagiakannya. Dewa berharap dengan kelahiran anak mereka nanti bisa menjadi sebab untuk dia mengukir nama Hanin kembali di hatinya seperti pertama dulu. Tidak ada yang salah dari Hanin. Dia baik, soleha, pintar, dan manis, jadi sesungguhnya tidak alasan bagi Dewa untuk tidak kembali jatuh cinta padanya. “Tapi air matanya gak bisa berhenti keluar, Mas,” saut Hanin. “Oh iya, aku juga mau maaf, Mas. Maafin semua kesalahan yang pernah aku lakukan sama kamu baik sengaja maupun tidak. Aku janji kedepannya aku akan berubah lebih baik seperti yang kamu mau,” tambah Hanin lagi. Kali ini Dewa tidak menjawab. Dia hanya diam mendengarkan. Harusnya aku yang minta maaf sama kamu, Nin ... Kamu gak punya salah apa-apa. Kamu sungguh istri yang soleha. Kamu memenuhi semua kebutuhanku walau sejak awal aku gak pernah peduli sama kamu. Aku berharap semoga kamu sehat selalu dan bisa mendampingiku terus serta melahirkan anak-anak yang sehat untuk hidup kita ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN