Hanin Ngidam

1092 Kata
Sejak kejadian itu, Dewa menjadi lebih perhatian pada Hanin. Sekali lagi bukan karena perasaannya terhadap Hanin, melainkan karena anak yang ada dalam kandungannya. Dewa sadar betul kalau itu adalah darah dagingnya yang harus dilindungi hingga lahir ke dunia ini dengan sehat dan selamat. Dewa menjaga Hanin layaknya seorang suami yang siaga. Betapa bahagianya Hanin yang sekarang. Ternyata kehamilan serta musibah yang hampir menimpanya membawa berkah atas perubahan Dewa yang sekarang. Sebab tidak ada yang Hanin harapan sebagai seorang istri terkecuali mendapatkan cinta dan kasih sayang suaminya. Ditambah lagi mereka sudah tinggal di kota yang berbeda, yakni Bandung. Kota yang begitu nyaman untuk ditinggali karena hawanya yang masih terasa sejuk. Hari bertambah hari dan bulan pun berganti. Kehamilan Hanin makin besar. Di usia kandungan yang memasuki tujuh bulan ke atas Hanin baru merasakan yang namanya ngidam, yakni sesuatu yang begitu diinginkan oleh perempuan hamil tanpa bisa ditunda perwujudannya. Ngidam Hanin kali ini berbeda dengan perempuan lain. Kalau biasanya keinginan banyak berupa makanan atau barang, tapi keinginan Hanin adalah terus bersama Dewa. Satu kali saat itu masih pukul empat sore, tapi Hanin sudah tidak bisa menahan diri untuk memeluk Dewa sesegara mungkin. Tanpa menunggu lebih lama Hanin memutuskan menelepon Dewa. “Halo, assalamu’alaikum, Mas,” ucap Hanin begitu sambungan teleponnya diangkat oleh Dewa. “Wa’alaikumsalam. Ada apa, Nin?” tanya Dewa. “Mas jam berapa pulang?” Sebelum menjawab Hanin bertanya lebih dulu. “Seperti biasa jam lima sore,” jawab Dewa. “Bisa pulang sekarang gak, Mas? Aku kangen pengen peluk kamu. Entah kenapa rasanya pengen banget, gak bisa ditahan.” Hanin lalu menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini. “Jangan ngaco, Nin. Aku lagi kerja, bukan main-main.” Tidak pernah-pernahnya Hanin mengatakan itu pada Dewa, tapi sore ini dia seolah mendesak Dewa untuk segera pulang dan memeluknya. “Ya, udah kalau Mas gak mau.” Tiba-tiba terdengar isak tangis dari suara Hanin di ujung telepon. Tentu hal itu membuat Dewa bingung. Hanya dengan jawaban yang begitu kenapa Hanin sampai menangis? “Kamu nangis, Nin?” tanya Dewa heran. “Enggak ...” Jawaban Hanin bertolak belakang dengan kenyataannya. Dia tidak bisa berbohong karena isak tangisnya begitu jelas terdengar di telinga Dewa. Dewa jadi makin heran. Apa mungkin itu kemauan anakku yang ada di kandungannya? Batin Dewa menebak seperti itu. Selesai menutup telepon, pikiran Dewa jadi tidak tenang. Memang tidak ada lagi pekerjaan baginya di kantor. Dia hanya tinggal menunggu jam pulang kerja seperti pegawai yang lainnya. Walau sekarang Dewa sudah menjadi orang nomor dua di kantor cabang Bandung, tapi dia juga tidak mau semena-mena bertindak. Termasuk dengan pulang lebih awal daripada bawahannya. Tapi mendengar Hanin yang menangis begitu sedih di telepon tadi membuatnya tidak henti berpikir. Ditambah beberapa bulan belakangan ini Dewa sudah terbiasa mengurusi Hanin. Menjaganya dari pekerjaan berat maupun aktivitas yang menyita banyak tenaga di rumah. Terbukti Dewa menempatkan seorang pembantu untuk meringankan beban Hanin selama dia pergi bekerja. Begitu jam tujuh malam, pembantu itu diijinkan untuk pulang ke rumahnya. Begitu terus setiap hari. Daripada tidak henti kepikiran, Dewa lalu memutuskan untuk pulang. Dia pamit pada sekretarisnya, mengatakan kalau istrinya mengabari hal mendadak hingga dia wajib pulang sekarang juga. Dengan fasilitas mobil dan supir kantor Dewa langsung melaju menuju rumahnya. Tidak sampai setengah jam dia sudah sampai disana. Begitu turun Dewa segera masuk ke dalam. “Assalammua’alaikum, ibu dimana ya, Bi?” tanya Dewa pada pembantu rumah tangganya yang sedang menyiram bunga. “Dari tadi di kamar terus, Pak. Belum ada keluar,” jawab Bibi. Dengan langkah cepat Dewa menuju kamarnya. Ternyata pintunya dikunci dari dalam. Beberapa kali Dewa mengetuk tapi Hanin belum membuka sampai dia jadi khawatir sendiri. “Nin, buka, Nin! Kamu lagi ngapain di dalam? Nin ...” teriaknya kencang setelah panggilannya pada Hanin yang ketiga kalinya. Dari dalam Hanin tersentak bangun. Rupanya dia menangis sampai ketiduran. Hanin melangkah cepat membuka pintu kamar. “Maaf, Mas, aku ketiduran,” ucap Hanin begitu pintu sudah terbuka. “Astaghfirullah al-adzim ..., kamu bikin aku khawatir, Nin! Aku udah mikir kemana-mana!” seru Dewa tegas. Wajar dia khawatir tadi, sebab Hanin tak kunjung menjawab. Rupanya ketiduran. Sungguh alasan yang menyebalkan. Tapi setelah Dewa perhatikan mata Hanin tampak sedikit bengkak dikeduanya, itu menandakan kalau dia memang menangis sejak tadi sampai ketiduran. “Maaf, Mas ...,” ucap Hanin menyesal dengan wajah murung. Tidak ada niat baginya melakukan hal seperti itu. Keinginannya yang menggebu-gebu sejak tadi hanya satu, yakni memeluk Dewa, ayah dari anak yang dia kandung. Tidak disangka Dewa lalu membuka kedua tangannya lebar, memberi ruang untuk Hanin mewujudkan apa yang diinginkannya saat itu juga. “Ayo, sini,” ucap Dewa pelan. Tanpa pikir panjang Hanin segera menghambur ke pelukan Dewa. Dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Rindunya seolah seperti menggunung, ingin memeluk erat laki-laki yang begitu dia cintai sejak dulu. Cukup lama Hanin memeluk Dewa dan setelah lima belas menit pelukannya merenggang. Namun ternyata itu belum cukup mengobati ngidam Hanin saat itu. Dia masih merengek seperti meminta sesuatu. “Mas ..., aku kangen sama kamu ...,” ucapnya. “Iya, ini ‘kan aku udah pulang,” jawab Dewa. “Tapi aku masih kangen, Mas ...,” jelas Hanin lagi. Dan kali ini Dewa tidak mengerti. Apa yang dirindukan Hanin darinya padahal setiap hari mereka bertemu, bahkan sekamar bersama dan tidur berdampingan. Jadi tidak mungkin tiba-tiba merasakan rindu berat sampai merengek begitu. “Terus kamu maunya gimana? Aku gak paham, Nin. Aku udah pulang lebih awal sesuai mau kamu. Terus apa lagi?” tanya Dewa heran. “Aku kangen, Mas ... Aku kangeeeen ....” Tapi Hanin semakin merengek. Matanya sudah berkaca-kaca sekarang hendak mengeluarkan bulir hangat yang deras lagi. “Astaga, Nin, kangen yang seperti apa? Aku bener-bener gak ngerti. Jangan begini donk. Kalau kamu menangis, nanti dia di dalam juga pasti menangis,” saut Dewa sembari menunjuk ke perut besar Hanin. Dinilainya kelakuan Hanin sore ini sungguh aneh. Tak terbendung lagi, air mata Hanin menetes keluar. Tumpah ruah dikedua sudut matanya. “Hiks ..., aku kangen kamu, Mas ... Sumpah, aku kangen kamu,” ucapnya. Ya Tuhan ..., kenapa ini? Keluh Dewa dalam hati. Dia sungguh bingung menghadapi Hanin. “Kamu maunya aku melakukan apa, Nin? Ayo, bilang, biar aku turuti,” ucap Dewa pada akhirnya. Tidak tahan dia melihat Hanin terus menangis. “Aku mau kamu, Mas ... Sekarang ....” Jawaban Hanin membuat Dewa melotot. Apa ini artinya ..., Hanin ingin itu? Dewa mengerutkan dahi. Tebakannya menjurus pada keinginan Hanin untuk melakukan hubungan suami istri. Dewa lantas menggiring Hanin untuk duduk di atas ranjang. Di depan ibu dari calon anaknya itu, Dewa melepas dasi dan kemejanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN