Sekarang saatnya Hanin bisa melakukan rencananya. Dewa sudah tidur nyenyak. Hanin lantas mengambil ponsel Dewa, membuka layar lalu kemudian membuka kotak pesan. Dia urut terus ke bawah, tidak ada yang mencurigakan disana. Yang ada hanyalah pesan dari teman kantor dan banyak pesan dari Adi. Ya, Hanin kenal dengan teman Dewa yang bernama Adi itu. Teman satu kostnya saat di kota M.
Total dari sekian banyak pesan di kotak masuk ponsel Dewa, tidak ada yang aneh sama sekali. Hanin kemudian beralih mengecek daftar panggilan masuk dan keluar. Ada satu nomor yang sering sekali Dewa hubungi. Tidak tersimpan namanya. Hanya nomor yang tertera disitu.
Siapa Dia? Batin Hanin. Apa mungkin ini orang yang menjadi sebab Mas Dewa jadi begitu? Hanin semakin penasaran.
Tapi dari riwayat telepon selanjutnya, nomor tersebut tidak pernah tersambung, terbukti dengan tidak adanya history durasi telepon mereka. Itu artinya hanya Dewa yang selalu menghubungi namun tidak pernah diangkat.
Aneh. Gak pernah diangkat tapi Mas Dewa terus menghubungi dia. Siapa ya kira-kira? Aku jadi penasaran. Keingintahuan Hanin jadi menggebu-gebu. Dia harus mencari cara untuk tahu perkara itu secepatnya.
Sebulan telah berlalu, Hanin belum juga menemukan jawaban atas rasa penasarannya. Sesekali dia memergoki Dewa sedang menghubungi nomor itu, tapi hasilnya nihil. Tidak ada sambutan dari nomor yang dituju. Sesungguhnya ada urusan apa Dewa dengan si pemilik nomor? Kenapa tidak pernah berhenti menghubungi walau tidak pernah direspon? Begitu terus pertanyaan yang muncul di kepala Hanin.
Sampai akhirnya hari ini dia sudah tidak tahan lagi dan nekat bertanya. “Kamu lagi nelepon siapa, Mas?” tanya Hanin sembari dia meletakkan cangkir berisi teh yang memang sengaja dia buat untuk Dewa.
Dewa menoleh. Tidak pernah istri yang terpaksa dia nikahi itu berani menanyakan perkara orang-orang yang dia hubungi, tapi malam ini justru sebaliknya. “Buat apa kamu tanya?” Bukannya menjawab, Dewa malah balik bertanya.
“Gak buat apa-apa, kok. Tapi dari tadi aku perhatiin kamu gak berhenti nelepon, Mas. Kayaknya penting banget ya,” jawab Hanin bijak. Dia memilih kata-kata yang baik agar suaminya tidak tersinggung.
“Jangan ngurusin apa yang bukan urusan kamu, Nin. Aku gak suka urusanku kamu usik.” Tapi respon Dewa sangat tidak mengenakkan. Dia merasa terganggu dengan pertanyaan Hanin hingga keluar ‘lah kata-kata yang tidak enak dari mulutnya.
“Astaga, bukan itu maksudku, Mas. Aku hanya iseng bertanya, sekedar basa-basi biar bisa ngobrol enak sama kamu. Tapi kalau ternyata kamu jadi tersinggung karena pertanyaanku, aku minta maaf. Aku gak akan tanya itu lagi Mas. Aku janji ...” Untuk kesekian kalinya Hanin salah lagi. Dia seolah tidak bisa melakukan hal benar di mata Dewa, membuat wajahnya jadi murung sekarang.
Dewa yang melihat itu, jadi tidak tega. Bukan karena dia sudah luluh pada Hanin, melainkan karena perempuan itu sedang hamil. Walau bagaimanapun yang ada di dalam kandungan Hanin tetaplah anak Dewa, darah dagingnya. Jadi bukan hal baik dia selalu menyakiti hati Hanin yang nanti akan berdampak pada bayinya.
“Udah, gak usah dibahas lagi. Kandungan kamu gimana sekarang, Nin?” Dewa mengganti topik bahasan agar Hanin tidak lagi murung.
Eh, Mas Dewa nanyain anaknya. Setelah satu bulan kandunganku, baru kali ini dia tanya, batin Hanin takjub. Heran dengan kalimat Dewa barusan.
“Alhamdulillah sehat, Mas. Aku jaga anak kita baik-baik, kok. Kamu jangan khawatir.” Hanin tersenyum bahagia.
“Syukurlah,” jawab Dewa singkat.
“Oh ya, kemungkinan bulan depan aku akan pindah tugas. Kamu siap-siap dari sekarang ya. Minta tolong Bi Nani bantu kamu berbenah barang. Jangan sampe kecape’an. Jaga kandunganmu.” Dewa memberi kabar baik untuk Hanin. Bulan depan mereka akan pindah.
“Kita pindah kemana, Mas?” tanya Hanin penasaran.
“Bandung.” Dewa menghabiskan teh buatan Hanin lalu dia bangkit hendak ke kamar tanpa berucap sepatah katapun lagi.
Sementara Hanin tersenyum bahagia. Bulan depan dia akan pindah ke Bandung, kota sejuta makanan dan fashion. Pasti seru tinggal disana, pikir Hanin.
Hanin pun ikut bangkit, mengekori Dewa dari belakang. Sudah pukul sembilan malam. Saatnya untuk istirahat.
Pagi menjelang, sehabis shalat subuh Hanin langsung berkutat di dapur. Seperti biasa dia menyiapkan sarapan untuk Dewa di atas meja. Walau sebelumnya Hanin adalah wanita karir, tapi menikah dengan Dewa membuatnya menyudahi karir dan memilih menjadi ibu rumah tangga yang baik. Itu semua berkat rasa cintanya pada Dewa hingga dia rela mengabdi hanya untuk suaminya.
Setelah makanan tersaji tidak berapa lama Dewa keluar dari kamar. Lelaki itu sudah berpakaian rapi hendak ke kantor. Dilihatnya Hanin sedang membuat teh di dapur. Dewa lantas duduk di kursi meja makan. Tapi saat baru sedetik pantatnya mendarat, terdengar bunyi gelas pecah dari dapur.
Prank! Reflek Dewa bangkit dan mengecek keadaan di dapur. Rupanya Hanin hampir saja terpeleset. Tangannya yang memegang cangkir teh otomatis terlempar sebab dia harus menyelamatkan diri dengan berpegangan pada pintu.
Melihat itu Dewa segera bertindak. Dia meraih tubuh Hanin lalu menggendongnya masuk ke kamar tanpa berucap apapun. Selama mereka menikah baru kali ini Dewa menggendong Hanin ke kamar, layaknya pengantin baru yang berbahagia hendak bermesraan.
“Makasih ya, Mas,” ucap Hanin begitu Dewa sudah meletakkannya di atas tempat tidur.
“Ini yang kamu sebut dengan menjaga anak kita baik-baik?” Tidak Hanin sangka Dewa berkata demikian.
“M-maaf, Mas, tadi itu di luar kendaliku. Tiba-tiba saja aku terpeleset dan hampir jatuh. Tapi aku berusaha agar jangan sampai terbanting, kok. Cuma ya itu, gak sengaja aku jadi mecahin cangkir teh kamu. Maaf ya, Mas. Biar sekarang aku bikin yang baru.” Hanin hendak beranjak dari tempat tidur untuk kembali ke dapur, tapi langsung di tahan oleh Dewa.
“Tunggu! Kamu diam disitu! Siapa bilang aku mau dibikinin teh?” Dewa melarang Hanin pergi.
“Tapi Mas, kamu ‘kan mau berangkat kerja dan biasanya setiap pagi kamu selalu minum teh dulu. Aku gak apa-apa kok, Mas. Aku baik-baik aja.” Hanin bersikeras untuk melakukan kewajibannya melayani kebutuhan Dewa. Saking besar rasa cintanya pada Dewa, kejadian yang hampir fatal tadi sampai dia anggap biasa saja.
“Aku bilang kamu diam disitu! Jangan bantah aku, Nin,” tegas Dewa yang pada akhirnya membuat Hanin menurut.
Tapi dibalik itu, Hanin bahagia dengan musibah yang hampir membuat dia terjatuh. Berkat musibah itu Hanin tahu kalau Dewa juga peduli padanya dan tentunya sayang dengan anak yang ada dalam kandungannya.