Hanin terdiam cukup lama. Dia bingung, heran, terkejut, bahkan gamang mendengar pengakuan Dewa barusan. Walau kecil kemungkinan, Hanin sampai berharap kalau Dewa mencintai dua perempuan sekaligus. Yakni dirinya dan Ibi. Tapi akankah ada yang demikian?
“Kamu pasti tersinggung dan sakit hati ‘kan, Nin. Persis dugaan, Mas. Itulah kenapa Mas gak mau cerita dari awal. Mas beneran gak mau menyakiti hati kamu, Nin. Biarlah Mas tanggung permasalahan ini sendiri. Pelan-pelan juga Mas akan kembali seperti semula. Hanya butuh waktu sedikit bagi Mas.” Melihat istrinya terdiam, Dewa langsung paham kalau dia sudah menyakiti hatinya.
“Maaf, Mas. Hanin cuma bingung dengan keadaan ini. Hanin gak paham dengan isi hati Mas Dewa selama ini. Hanin pikir kita saling mencintai ...” Wajar Hanin menduga demikian. Sebab perlakuan Dewa padanya sudah jauh berubah dibandingkan saat awal menikah dulu.
“Mas sayang sama kamu, Nin. Kamu ibu dari anak-anak kita. Kamu pendamping hidup Mas selama beberapa tahun belakangan ini. Kamu istri yang soleha. Tapi ...” Lagi-lagi Dewa menjeda kalimatnya.
“Tapi Mas gak mencintai aku, benar ‘kan?” Dugaan Hanin langsung tepat sasaran.
Dewa tidak bisa menjawab. Dugaan Hanin memang benar tapi apa bisa dia mengatakan jujur tentang itu di depan Hanin? Sungguh tidak berperasaan sekali kesannya.
“Kita tutup pembahasan ini ya, Nin. Sudah malam. Ayo kita tidur.” Dewa mengganti topik dan mengajak Hanin tidur. Dia menarik tangan Hanin untuk rebahan di sampingnya.
“Selesaikan, Mas. Selesaikan semua ceritanya.” Walau menurut untuk rebahan di samping Dewa tapi Hanin tetap meminta suaminya itu meneruskan ceritanya.
Sudah terlanjur kepalang. Tidak mungkin lagi Dewa menghentikan ceritanya. Dan Dewa pun menurut.
Segalanya dia ceritakan pada Hanin. Termasuk kembalinya dia pada Ibi saat almarhum ayahnya telah tiada. Pada saat itu kebahagiaan Dewa memuncak. Cinta Dewa yang selama tiga tahun dia pupuk untuk Ibi akhirnya terbalaskan juga. Tapi, lagi-lagi tapi, Dewa sudah terikat janji dengan Hanin atas apa yang tidak sengaja mereka lakukan saat di Padang dulu.
Mendengar kisah itu, mata Hanin sudah tidak sanggup lagi menahan bendungannya. Pecah sudah, linangan air mata jatuh membasahi kedua pipi Hanin. Kenyataan yang harus dia dengar memang sungguh-sungguh menyakitkan.
Dengan suara bergetar Hanin paksakan diri untuk bertanya. “Ja-jadi Mas, kejadian saat di Padang waktu itu, sa-saat kita melakukan hal terlarang itu, ka-kamu menganggap kalau aku adalah dia?”
Dan dengan berat hati Dewa harus berkata jujur. Semua sudah dia beritahu pada Hanin. Sudah tidak ada lagi rahasia diantara mereka. Jadi untuk yang satu itu juga dia ungkapkan.
“Iya, Nin. Malam itu Mas mabuk ... Pikiran Mas mengada-ada. Dan kamu tiba-tiba muncul saat Mas sedang patah hati berat dengan dia. Jadi Mas pikir yang datang adalah dia,” jelas Dewa.
Makin Dewa menjelaskan makin tumpah ruah air mata Hanin. Sakitnya tidak terbilang. Laki-laki yang dicintainya, yang dianggapnya masa depan ternyata melakukan itu bersamanya namun memikirkan perempuan lain. Sakit sekali rasanya hati Hanin saat ini.
Dewa paham apa yang Hanin rasakan. Dipeluknya istrinya itu untuk menenangkan. Tapi tidak mampu mengobati luka yang sudah tergores. Malam ini untuk pertama kalinya Hanin tahu kalau sejak mereka putus dulu, tidak sedikitpun Dewa memikirkannya lagi atau bahkan memiliki perasaan lagi padanya.
Semua sudah Dewa tujukan untuk Ibi. Hanya gadis itu yang jadi belahan jiwanya. Hanya gadis itu yang menempati posisi di hatinya hingga saat ini.
“Maafin, Mas, Nin ....” Hanya itu kata yang bisa keluar dari mulut Dewa. Dia sadar akan kesalahan yang telah dia perbuat, namun itulah yang terjadi sesungguhnya.
Sudah terlalu lama Dewa menutupi kenyataan sampai akhirnya malam ini semua terungkap atas permintaan Hanin sendiri. Dewa pasrah sekarang. Seandainya Hanin ingin pergi dari hidupnya Dewa ikhlas. Asal jangan pisahkan dia dari anak-anak. Ijinkan dia untuk selalu berkomunikasi dan bisa bertemu dengan anak-anaknya.
“Sekarang semua terserah kamu. Kalau kamu muak melihat Mas, atau kamu sudah tidak mau lagi hidup bersama Mas. Mas pasrah. Biarlah Mas menanggung semuanya. Sebab Mas tidak bisa memaksakan diri untuk melupakan dia. Sudah pernah Mas coba beberapa tahun ini, tapi tanpa hasil. Dia masih mengelilingi hati dan pikiran Mas walau tidak sesering dulu,” ucap Dewa jujur.
Air mata Hanin sudah seperti air sungai yang tidak ada habisnya saat ini. Keluar tanpa henti, tanpa bisa dibendung. Pikiran Hanin pun sudah tidak karuan. Campur aduk semua jadi satu. Jika ditanya sakit dan benci, tentu saja hal itu dia rasakan pada Dewa saat ini. Namun, Dewa adalah imamnya, ayah dari anak-anaknya dan bahkan pemilik cintanya. Bagaimana mungkin dia meninggalkan lelaki itu sendiri?
Hanin meremas tangan Dewa, kesal bercampur takut dia rasakan sekarang. Tangisnya sampai sesenggukan.
“Ha-hanin ..., gak akan ninggalin Mas Dewa ... Sampai kapanpun Hanin akan terus mendampingi Mas Dewa walau Mas tidak mencintai Hanin ...,” ungkap Hanin pada akhirnya.
“Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan, Nin? Jangan hanya karena kasihan lantas kamu bertahan dengan keadaan ini.” Dewa ingin memastikan pada Hanin lebih dulu sebelum dia benar-benar memilih. Sebab tidak ada batas sampai kapan Dewa masih mencintai Ibi. Entah itu besok, bulan depan, tahun depan atau tidak berbatas waktu.
Hanya hati yang bisa menentukan. Bukan Dewa tidak berjuang. Dia sudah menjalani hidup dan kebahagiaannya bersama Hanin dan anak-anak mereka, namun hatinya tidak pernah menghapus nama Ibi. Sedikit saja nama itu disebut atau disenggol, langsung membangkitkan rasa cinta yang tersimpan sejak dulu.
Terbukti dengan dua minggu belakang ini. Dewa lebih banyak termenung dan diam hanya karena Adi mengabarkan kalau Ibi akan menikah bulan depan. Rasanya hati Dewa menjerit. Bukan dia ingin menghalangi pernikahan itu. Tidak sama sekali. Tapi hatinya terasa sakit.
Berulang kali batinnya menyalahkan atas apa yang dia perbuat. Jika saja dulu begini, jika saja dulu begitu, mungkin dia tidak akan terpisah dengan Ibi. Mungkin dia sudah menikah dan memiliki kebahagiaan yang sempurna bersama Ibi. Tapi nyatanya Tuhan menakdirkan jalan hidupnya yang lain yakni bersama Hanin.
Hanin yang selalu setia, selalu mencintainya dan Hanin yang merupakan janji awal di hidupnya. Perempuan pertama yang membuat Dewa mengikrarkan diri untuk menabung biaya pernikahan. Memang sudah sepantasnya Hanin yang bersama Dewa sekarang. Buah dari kesabaran dan kesetiaannya bertahun-tahun yang lalu.
Tapi keinginan Hanin ini harus dia bayar dengan pengorbanan tanpa henti yang begitu menyakitkan. Memiliki suami yang sejak dulu dia impikan namun hatinya tidak bersama dia.
“Mas tau, Mas sudah menyakiti hati kamu begitu dalam. Jika Mas yang ada di posisi kamu, belum tentu Mas sanggup bertahan. Sebab siapa yang rela memiliki pasangan tapi hatinya tidak bersama dia.” Dewa berkata yang sesungguhnya. Dia membukakan pikiran Hanin sebab tidak ingin membodohi istrinya itu. Tidak ingin membohonginya lagi lebih lama.
“Yakin, Mas. Sebesar apa cinta Mas ke dia, begitu juga cinta yang Hanin punya untuk Mas ...” Hanin terisak berucap.
“Mas orang baik, gak pernah melukai Hanin sebelumnya. Mas sopan, Mas perhatian, bahkan Mas memperlakukan Hanin dengan sangat lembut. Itu semua sudah terjadi sejak dulu. Sejak pertama kali kita kenal sampai pacaran. Walau di tengah-tengah hubungan kita berpisah, tapi Mas masih tetap baik sama Hanin. Bahkan saat sudah menikah pun, Mas menyayangi Hanin,” sambung Hanin lagi.
“Kamu salah Nin. Jujur, awal kita menikah dulu, Mas benci sama kamu. Mas menganggap karena kamu ‘lah hubungan Mas dengan dia hancur dan terpaksa berpisah. Tapi kesabaran kamu dan kelembutan hati kamu, menyentuh hati Mas. Terutama ketika kamu sudah hamil. Timbul rasa sayang yang besar di hati Mas untuk kamu dan calon anak kita. Sejak itu Mas memutuskan untuk menerima, menjaga, dan selalu menyayangi kalian.” Dewa mengusap lembut kepala istrinya.
“Hanin tau, Mas. Hanin sungguh merasakan itu. Setelah hamil sikap dingin Mas berubah. Mas bahkan memanjakan Hanin, menuruti mau Hanin yang mengada-ada sekalipun. Mas begitu sabar. Mas kembali seperti Mas Dewa yang Hanin kenal dulu. Hanin bahagia.” Dari semua tangisan haru tadi, di sini Hanin baru tersenyum.
“Syukurlah kalau kamu bahagia hidup bersama Mas. Tapi untuk yang satu itu Mas minta maaf. Maafin Mas, ya, Nin.” Dewa menatap Hanin serius.
“Selalu Mas. Hanin selalu buka pintu maaf untuk Mas Dewa. Hanin cinta sama Mas Dewa. Apapun rela Hanin korbankan untuk Mas Dewa ....” Mata Hanin kembali mengeluarkan linangannya.
“Makasih banyak, Nin. Tuhan sudah begitu baik karena menjodohkan kita.” Dewa memeluk Hanin dengan erat.
Hanin memang jodoh terbaik pilihan Allah SWT untuknya. Tidak berkekurangan. Cantik, baik, sabar, dan soleha.
Lantas sampai kapan Dewa terus begini? Apakah dia akan melanjutkan lamunannya memikirkan Ibi? Atau dia akan nekat datang menemui Ibi sebelum gadis itu menikah?