“Kamu salah Nin. Jujur, awal kita menikah dulu, Mas benci sama kamu. Mas menganggap karena kamu ‘lah hubungan Mas dengan dia hancur dan terpaksa berpisah. Tapi kesabaran kamu dan kelembutan hati kamu, menyentuh hati Mas. Terutama ketika kamu sudah hamil. Timbul rasa sayang yang besar di hati Mas untuk kamu dan calon anak kita. Sejak itu Mas memutuskan untuk menerima, menjaga, dan selalu menyayangi kalian.” Dewa mengusap lembut kepala istrinya.
“Hanin tau, Mas. Hanin sungguh merasakan itu. Setelah hamil sikap dingin Mas berubah. Mas bahkan memanjakan Hanin, menuruti mau Hanin yang mengada-ada sekalipun. Mas begitu sabar. Mas kembali seperti Mas Dewa yang Hanin kenal dulu. Hanin bahagia.” Dari semua tangisan haru tadi, di sini Hanin baru tersenyum.
“Syukurlah kalau kamu bahagia hidup bersama Mas. Tapi untuk yang satu itu Mas minta maaf. Maafin Mas, ya, Nin.” Dewa menatap Hanin serius.
“Selalu Mas. Hanin selalu buka pintu maaf untuk Mas Dewa. Hanin cinta sama Mas Dewa. Apapun rela Hanin korbankan untuk Mas Dewa ....” Mata Hanin kembali mengeluarkan linangannya.
“Makasih banyak, Nin. Tuhan sudah begitu baik karena menjodohkan kita.” Dewa memeluk Hanin dengan erat.
Hanin memang jodoh terbaik pilihan Allah SWT untuknya. Tidak berkekurangan. Cantik, baik, sabar, dan soleha.
Lantas sampai kapan Dewa terus begini? Apakah dia akan melanjutkan lamunannya memikirkan Ibi? Atau dia akan nekat datang menemui Ibi sebelum gadis itu menikah?
“Lalu apa sebenarnya inti masalah yang membuat Mas uring-uringan belakangan ini?” tanya Hanin setelah tangisnya usai.
“Kemarin Adi kasih kabar ke Mas kalau dia akan segera menikah bulan depan,” ucap Dewa lesu.
Dia menikah? Alhamdulillah ... Artinya Mas Dewa gak punya harapan lagi dengan perempuan itu, batin Hanin.
“Mas sulit mendengar kenyataan itu dan terus saja menyalahkan keadaan. Setiap hari pikiran Mas dipenuhi dengan itu. Mas seperti gak ikhlas kehilangan dia,” tambah Dewa lagi.
“Mas ..., coba kamu istighfar.” Hanin mengelus pundak suaminya. Menyadarkan dia agar mohon ampun pada Sang Pemilik Kehidupan.
“Berulang kali Mas istighfar, Nin. Tapi setelah itu pikiran tentang Ibtisam kembali memenuhi otak, Mas,” jawab Dewa.
“Gimana kalau kita bercerita yang lain. Kita bahas kenangan tentang kita yang lalu. Mungkin dengan begitu pikiran Mas bisa gak fokus lagi ke dia,” saran Hanin.
“Bisa aja sih, tapi apa kita terus bercerita tanpa henti? Sebab pikiran itu datang saat Mas sedang sendiri. Dan kamu gak mungkin selalu menemani Mas dua puluh empat jam. Saat Mas di kantor kamu gak ada, Nin,” Yang dikatakan Dewa memang benar. Hanin tidak mungkin terus menemani berbincang agar lupa memikirkan Ibi.
Astaga ya Allah ... Lantas harus bagaimana?
“Mas sungguh-sungguh gak bisa berhenti memikirkan dia. Terutama setelah mengetahui kabar rencana pernikahan dia. Tadinya Mas gak seperti ini, Nin. Mas hanya mengingatnya sesekali. Tapi sekarang beneran makin parah. Hati Mas gak bisa terima dia akan menikah dengan orang lain. Dalam benak Mas, harusnya dia menikah dengan Mas.”
Terlihat sekali kalau kata-kata yang diucapkan Dewa barusan bukanlah cinta. Dia terobsesi memiliki Ibi hingga tidak ikhlas jika ada orang lain yang mau memilikinya.
“Gimana kalau Mas temui dia di sana?” Tak disangka Hanin menyarankan demikian. Pikir Hanin ada hal yang belum selesai diantara Dewa dengan Ibi. Jadi ada baiknya jika mereka bertemu dan menuntaskan masalah yang ada.
“Apa? Kamu yakin menyarankan itu? Dan kamu yakin siap menerima resikonya? Cinta Mas ke dia gak main-main, Nin. Mas masih ingin memilikinya sampai detik ini. Belum pernah sebelumnya dalam hidup Mas memiliki niat begitu besar terkecuali tentang Ibtisam,” jelas Dewa yang sudah pasti membuat Hanin terdiam.
Niatnya ingin membuka jalan untuk penyelesaian masalah malah nanti akan menambah masalah baru. Jadi aku harus bagaimana? Harus menyarankan apa?
Hanin geleng-geleng kepala. “Bukan itu maksud Hanin, Mas. Hanin pikir ada masalah diantara kalian yang belum selesai makanya Mas masih memikirkannya terus. Mungkin kalau masalah itu selesai Mas akan berhenti memikirkan dia.” Hanin menjelaskan maksud hatinya.
“Berarti kamu gak paham apa yang Mas utarakan soal Ibtisam. Memang benar yang kamu duga kalau Mas sempat punya masalah yang belum selesai dengannya. Tapi jika kami bertemu dan menyelesaikan masalah itu, bukan hanya sebatas bicara biasa yang Mas inginkan darinya, Nin. Mas ingin memilikinya. Mas ingin membawanya ikut ke sini dan tinggal bersama kita,” terang Dewa membuat Hanin ternganga.
Artinya Mas Dewa mau poligami? Mas Dewa mau punya dua istri?
“Mas mau poligami?” tanya Hanin langsung dan Dewa mengangguk.
“Ya, jika dengan Ibtisam, Mas mau. Tapi hanya dia, bukan orang lain. Sebab Mas sangat mencintainya.” Kepala Hanin seperti dipukul dengan palu. Ucapan Dewa barusan sangat mengejutkannya. Begitu besar rasa cinta Dewa terhadap Ibtisam membuat Hanin menciut.
Ya Allah, suamiku ... Sampai seperti itu keinginannya.
“Mas gak tanya bagaimana pendapatku soal Mas yang ingin poligami?” Hanin mencoba membuka pikiran Dewa.
“Enggak, karena Mas yakin kamu pasti bisa terima. Kamu sangat baik, Nin. Kamu sabar dan kamu mencintai Mas setulus hati. Tentu kamu ingin melihat Mas bahagia ‘kan? Dan kebahagiaan terbesar Mas ada pada Ibtisam.”
Hanin sudah tidak tahu lagi harus bicara apa. Saat ini kepalanya terasa sakit. Dia benci dengan yang namanya Ibtisam. Perempuan yang menghancurkan hubungannya dengan Dewa sejak awal. Dari sejak awal dulu mereka pacaran.
Itu belum semuanya secara detail tentang Ibi yang Dewa ceritakan pada Hanin. Jika ya, dijamin Hanin tidak akan sanggup mendengarnya. Luka hatinya tidak akan bisa terobati sebab goresannya sangat amat dalam. Makanya Dewa tidak bercerita semuanya hanya beberapa point saja. Tapi Hanin bukanlah orang bodoh. Dia bahkan pernah bekerja di kantor keuangan di kotanya. Sudah tentu dia adalah perempuan yang pintar.
Hanin tahu Dewa tidak bercerita dengan jujur semua hal yang terjadi antara dia dan Ibtisam. Tapi Hanin memilih pasrah tidak bertanya, sebab yang begini saja sudah membuatnya menangis dan stres memikirkannya.
“Mas, udah malam. Kita tidur yuk. Besok Mas juga harus kerja. Nanti kita sambung lagi cerita tentang Ibtisam itu. Sebab masih ada hal yang belum Hanin tanyakan tentang kalian.” Hanin mengajak Dewa tidur. Dia menarik Dewa naik ke atas ranjang. Mendekapnya sampai pagi.
Setidaknya walau hati Dewa dipenuhi dengan nama Ibtisam. Tapi raga Dewa ada bersama Hanin. Bisa memeluk, mendekap dan membelai Hanin dengan penuh kasih sayang. Ini yang Hanin harapkan dalam hidupnya.
Aku gak mau hal seperti ini hilang dari hidupku. Aku gak mau raga kamu kemana-mana, Mas. Biarlah hatimu bersamanya, tapi kau tetap milikku. Besok akan kupikirkan lagi aku harus bagaimana.
Hanin menutup mata. Berserah pada ilahi atas segalanya.