Sebulan berlalu sampailah di malam sebelum hari pernikahan Ibi dan calon suaminya tiba. Ibi sengaja dijodohkan oleh mamanya dengan kerabat jauh yang semula tinggal di luar negeri. Mamanya tahu, jika tidak dijodohkan selamanya Ibi akan sendiri. Sebab sepengetahuan mamanya kalau Ibi tidak pernah memiliki hubungan spesial dengan siapapun.
Malam ini adalah acara malam berinai di rumah calon mempelai wanita, yakni Ibi. Ditemani oleh para kerabat dekat dan tentu sahabatnya Zara, tangan dan kaki Ibi dilukis dengan sangat cantik oleh si pelukis mempelai.
Sambil dilukis, Ibi diajak bicara oleh Zara yang pada dasarnya memang cerewet.
“Cieee, cieee, yang besok udah nikah. Pasti kamu seneng banget ‘kan, Bi,” goda Zara.
“Alhamdulillah, Ra. Insya Allah aku senang. Kak Zayd orangnya baik banget walo banyak aturan. Persis kayak Babah,” saut Ibi.
“Syukur deh kalo gitu. Kamu jadi dapat pengganti Babah dalam hidup.” Zara tersenyum tulus dengan kebahagiaan sahabatnya.
“Kalau kamu gimana, Ra? Apa rasanya setelah jadi istri? Sikap Adi berubah gak dari waktu pacaran dengan yang sekarang?” tanya Ibi ingin tahu sebab Zara sudah lebih dulu menikah kurang lebih dua tahun.
“Huft, nikahnya udah dua tahun, Bi, ya jelas Adi berubah banget ‘lah. Malesnya makin menjadi-jadi. Dia kira aku pembantunya mungkin. Semua-semua aku yang kerjain. Belom tau aja dia kalau aku ngamuk gimana, bisa-bisa wajahnya pindah ke kaki.” Zara tersungut menceritakan kehidupan pernikahannya.
“Awal-awal nikah dulu aja aku dilayani kayak ratu, tapi udah setahun malah kebalikannya. Dia yang udah kayak raja di rumah. Ih, gemes aku. Ngeletakin pakaian kotor aja gak pernah beres! Selalu berceceran dimana-mana. Terpaksa aku yang ngutipin. Kamu ‘kan tau, Bi, aku paling benci sama yang kotor-kotor. Nah, si Adi ini, biangnya kotor. Nyebelin deh pokoknya!” oceh Zara lagi.
Ibi tertawa terbahak-bahak mendengar curhatan sahabatnya itu. Setelah dua tahun Zara menikah, baru hari ini dia membongkar aib suaminya.
“Semoga nanti setelah aku nikah, Kak Zayd gak kayak gitu deh. Aamiiin,” ucap Ibi.
“Eh, bicara soal nikah. Tiba-tiba aku keinget sama Dewa, Bi. Kamu masih benci sama dia?” Zara berucap pelan. Tidak mau sampai ada yang mendengar pembahasan tentang nama itu.
Ibi terdiam mendengar orang di masa lalunya disebut. Masih benci atau tidak pada Dewa, Ibi pun sudah tidak memikirkannya lagi. Dia sudah ikhlas dengan itu. Sebab jika terus dipikirkan Ibi tidak akan tenang. Makanya dia memilih mengikhlaskan.
“Pasti kamu masih benci, ya?” tanya Zara lagi sebab dia tidak mendengar jawaban apapun dari Ibi.
“Enggak, kok, Ra. Aku udah lupain itu. Gak mau ingat-ingat lagi,” jawab Ibi.
“Syukurlah kalau kamu begitu, Bi. Jadi hidup kamu bisa tenang dan bahagia. Gak kayak dia yang masih stag.” Kalimat terakhir Zara membuat Ibi heran.
Stag? Maksudnya? Tanya batin Ibi.
“Aku gak ngerti maksud kamu, Ra,” ucap Ibi.
“Ya, itu. Si Dewa itu masih stag mikirin kamu,” jawab Zara.
“Ah, ngaco kamu, Ra. Dia ‘kan udah nikah. Lagipula udah berlalu sekian tahun, mana mungkin dia masih mikirin aku.” Ibi geleng-geleng kepala. Tidak percaya dengan kalimat Zara.
“Ih, aku serius, Bi. Sampai detik ini dia masih coba hubungi kamu, tau.” Satu lagi info yang mengejutkan Ibi. Bagaimana mungkin Dewa menghubunginya sementara dia sudah ganti nomor ponsel dan tidak pernah juga mendapat gangguan apapun dari Dewa lewat ponsel.
“Jangan ngarang, Ra. Kasihan dia dituduh yang bukan-bukan.”
“Ya ampun, aku berani sumpah, Bi. Setelah dia menikah, dia itu minta nomor baru kamu ke aku lewat Adi. Tapi sama aku malah aku bohongi dia. Yang aku kasi adalah nomor ponsel adikku, si Vira.” Zara tertawa.
“Sengaja aku kasih nomor itu biar dia gak ganggu kamu, Bi. Tapi aku bilang juga ke Vira kalau nomornya telepon gak usah diangkat sampai kapan pun.” Kembali Zara tertawa.
“Astaga, Zara ... Tega banget sih kamu ngerjain orang.” Ibi melotot pada sahabatnya itu.
“Biarin! Biar dia tau rasa, Bi. Apa yang dia buat sama kamu dulu itu udah keterlaluan banget. Aku belom sempet ninggalin pukulanku ke wajahnya tapi dia udah keburu kabur, makanya aku masih gedek sampe sekarang!” saut Zara gemas. Kesalnya pada Dewa belum terlampiaskan sampai sekarang.
Dari dulu, setiap ada yang mengganggu, mengejek atau menyakiti sahabatnya, Ibi, Zara memang selalu menjadi yang terdepan untuk membalaskan. Dia yang pintar taekwondo dengan mudah memberi pelajaran pada pengganggu-pengganggu itu.
“Udah, Ra, udah. Aku udah gak apa-apa, kok. Lagipula urusannya sama aku waktu itu. Dia juga gak sepenuhnya salah, Ra. Sakit hati bertahun yang udah dia simpan karena aku yang bikin dia jadi seperti itu,” terang Ibi.
“Pada dasarnya Dewa orang baik, kok. Dia gak pernah nyakitin aku, malah dia terus bikin aku bahagia dari kelas satu sampai lulus sekolah. Cuma mungkin aku yang terlalu polos, aku gak paham maksud hatinya sejak awal sampai aku gak nanggapin apa-apa,” sambung Ibi lagi.
“Tetep aja, Bi. Mau apapun alasannya, bukan berarti dia berhak melakukan hal menjijikkan itu sama kamu. Aku gak terima!” saut Zara. Rasa sayangnya pada Ibi ‘lah yang membuat dia seperti itu.
“Iya, ya udah. Makasih ya, Ra. Kamu emang sahabatku yang paling baik.” Ibi menyandarkan kepalanya di bahu Zara. Ingin memeluk tapi tidak bisa, sebab tangannya sedang dilukis.
“Balik ke topik tadi. Jadi, si Dewa itu setiap hari nelepon ke nomornya Vira, loh, Bi. Pasti dalam benaknya dia lagi nunggu kapan kamu angkat teleponnya.” Zara kembali bercerita soal Dewa.
“Kira-kira buat apa, ya, dia masih nyariin aku? Kan dia udah nikah. Gak mungkin dia masih punya rasa sama aku, kasihan istrinya kalau gitu.” Ibi jadi kasihan dengan istri Dewa.
“Aku juga gak ngerti maksudnya apa, Bi. Sampai kemarin dia juga masih telepon kok. Apa mungkin dia Cuma mau minta maaf soal kejadian waktu itu?” Zara menduga-duga.
“Entahlah aku gak tau. Awal dulu sih aku sakit banget digituin. Aku kecewa, aku benci sama dia. Tapi setelah Setahun berlalu aku berangsur lupa. Aku belajar ikhlas biar aku bisa move on. Dan kebetulan juga aku dikenalin mama sama Kak Zayd. Walau hubungan aku sama dia long distance, tapi Kak Zayd rutin telepon. Kak Zayd rutin ngasi tausiah sama aku kayak Babah, hehehe ...” Ibi tertawa kecil mengingat tabiat calon suaminya.
“Syukurlah kalau kamu bahagia, Bi. Aku seneng banget.” Zara memeluk Ibi.
Sementara itu di tempatnya duduk, Dewa gelisah tidak karuan. Seharian ini apa yang dia lakukan semua serba salah. Dewa makin tidak tenang sebab besok adalah hari pernikahan Ibi. Hatinya menjerit. Hatinya tidak ikhlas mengetahui kenyataan itu. Tapi dia bisa apa? Dewa tidak punya hak melarang atau bahkan menghentikan pernikahan Ibi.
Seandainya Dewa masih sendiri, pasti dia sudah menyusul Ibi dan membawa lari gadis itu untuk dia nikahi. Tapi keadaannya sudah berbeda. Dewa sudah lebih dulu menikah. Bahkan sekarang anaknya sudah dua.
“Mas Dewa kenapa? Dari tadi Hanin liat gak tenang banget,” tanya istrinya.
“Mas ..., aduh, Mas benar-benar gak bisa tenang, Nin. Hati Mas gelisah,” jawab Dewa mengusap kasar wajahnya.
“Kenapa?” tanya Hanin lagi.
“Besok Ibi menikah, Nin. Mas gak kuat mikirinnya. Harusnya Mas gak perlu tanya ke Adi tentang kabar dia waktu itu. Jadi Mas gak tau kapan dia menikah atau tidak. Sekarang hasilnya malah seperti ini. Hati Mas rasanya sakit banget,” terang Dewa.
Ya Allah, kasihan Mas Dewa ... Cinta sungguh membuat dia tidak karuan seperti itu. Aku harus lakukan sesuatu biar dia gak fokus ke situ terus.
“Sekarang kita masuk kamar yuk, Mas. Anak-anak juga udah tidur,” ajak Hanin kemudian.
“Mas belum ngantuk, Nin. Pikiran Mas masih belum bisa tenang,” saut Dewa menolak.
“Tapi ada yang mau aku kasih sama Mas di kamar. Yuk, ikut dulu. Nanti kalau Mas gak suka, Mas bisa balik lagi duduk di teras.” Pelan-pelan Hanin menarik tangan Dewa.
Entah apa sesungguhnya yang ingin Hanin berikan pada suaminya itu, tapi yang jelas niatnya pasti baik. Ingin membuat suaminya tenang. Paling tidak beban pikirannya sedikit lepas.
Dewa pun menurut. Setelah mengunci pintu teras, Dewa ikut langkah Hanin menuju kamar mereka. Setelah masuk ke kamar Hanin mengunci pintu. Dimintanya Dewa duduk di pinggir ranjang sementara dia ijin ke kamar mandi lebih dulu.
Tidak sampai lima menit Hanin sudah keluar dari kamar mandi tanpa busana. Badan dan rambutnya sengaja dia bikin sedikit basah agar terlihat menggairahkan. Hanin juga menyemprotkan parfum di sekujur tubuhnya, membuat aroma harum semerbak, menambah daya tarik bagi Dewa yang melihat.
“Kamu mau ngapain begitu, Nin?” Bukannya tergiur Dewa justru bingung dengan tingkah istrinya.
Hanin tidak menjawab. Dia hanya senyum namun mendekat pada Dewa. Diraihnya tangan Dewa agar menyentuh titik pusat di kedua benda kenyal miliknya, sementara tangannya sendiri memegang sesuatu yang ada dibalik celana Dewa.
“Ayo, Mas. Biar pikiran kamu bisa lebih tenang,” ucap Hanin.
“Tapi, Nin, nanti kamu kecewa,” saut Dewa.
“Kenapa? Mas gak mau, ya?” tanya Hanin.
“Bukan soal mau atau enggak. Tapi Mas takut kalau nanti yang Mas bayangin bukan kamu, Nin. Mck!” Dewa mengusap-usap wajahnya, mengingat agar dia tidak bertindak bodoh dengan membayangkan wajah perempuan lain saat sedang bersama istrinya.
“Gak apa-apa, Mas. Aku ikhlas. Ayo,” ajak Hanin lagi dengan pasrah.
“Kamu yakin, Nin?” tanya Dewa lagi memastikan.
Hanin justru menyodorkan dua benda kenyal miliknya ke depan wajah Dewa. Tangan Dewa sengaja dia letakkan di bagian bawah intinya.
“Ayo, Mas. Gak usah pikirin itu lagi. Hanin ikhlas untuk ibadah,” ucap Hanin pelan sembari mencium kening suaminya.
Sungguh Hanin adalah istri yang soleha. Saat suaminya sedang galau tidak karuan karena perempuan lain, dia masih bisa memberikan pelayanan spesial untuk suaminya walau nanti bukan dia yang ada dalam bayangan Dewa.
Hanin tidak keberatan, yang ada di benaknya adalah ingin membahagiakan Dewa. Membuat Dewa bahagia hidup bersamanya.